Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Acara Utama


__ADS_3

Silvi kini telah kembali ke gerombolan Bu Teti dengan wajah cemberut


Bu Teti berbisik "Tadi ponakan Bu Alina hampir saja ditabrak pramusaji yang membawa senampan besar makanan dan minuman? Apa Nak Silvi tahu hal ini?" Bu Teti memperhatikan wajah Silvi


"Ooo..Pantas saja orang-orang jadi ramai bergunjing di belakang sana, tadi saya sempat mencuri dengar obrolan mereka. Apa dia baik-baik saja?" Wajah Silvi berubah khawatir berbanding terbalik dengan apa yang ada di dalam benaknya.


"Dia selamat, termasuk beruntung ya. Kalau yang ditabrak orang lain pasti beda jadinya"


Silvi tersenyum tipis


"Pasti Nak Silvi berharap sebaliknya, ya kannn?" Bisik Bu Teti sembari tersenyum menggoda Silvi


"Bisa saja Bu Teti" jawab Silvi menyunggingkan senyuman


Bu Teti kemudian kembali memalingkan wajahnya ke arah lain


Di pintu masuk nampak Sugi baru saja tiba bersama dengan pak Doni. Satu persatu mata tamu memandang ke arahnya, suasana tiba-tiba senyap secara perlahan. Ia terlihat begitu percaya diri dengan hentakan langkah yang tegas, wajahnya datar tanpa senyum.


Hampir semua tamu mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dan mulai mengambil foto Sugi


"Itu anak pak Danu kan? Astaga... Gantengnya" bisik seorang perempuan pada temannya


"Bagaimana caranya agar aku bisa dekat dengannya ya? Dia begitu mempesona.."


"Ya Tuhan kharismanya luar biasa, dia masih single kan? Aku mau jadi pacarnya!"


"Sungguh beruntung wanita yang bisa dekat dengannya..."


"Oh ini Dirut baru itu ya? Seperti gosipnya dia memang luar biasa menarik!"


"Aku dengar dia jarang sekali tersenyum, tapi tetap saja terlihat menarik!"


Bisik-bisik mulai terdengar samar-samar dari tamu yang hadir terutama tamu wanita.


Sugi terlihat memeluk ayah dan ibunya. blitz kamera DSLR wartawan dan kamera ponsel tak henti-hentinya menyambar.


Bu Alina tersenyum sambil menyenggol Riri disebelahnya. Pak Arya yang baru saja menyusul datang nampak duduk dengan tenang disebelah Bu Alina.


"Ck! Bu Ina ahhh" bisik Riri sambil tersenyum, wajahnya terasa menghangat sembari menyapa Pak Arya "Hi paman!"


"Riri.." sapa Pak Arya ikut tersenyum geli karena melihat wajah Riri yang mulai merah padam. Dia sudah menduga kalau Bu Alina tengah menggodanya


"Sudah lama loh kalian nggak main kerumah. Kalian baik-baik aja kan?" tanya Bu Alina berbisik


"Baik bu, tadi aja sebelum kemari aku nemenin dia dulu di villa sea view"


"Terus kenapa datangnya nggak barengan?" Dahi Bu Alina berkerut


"Akunya yang nggak mau. Aku kan belum siap dengan sorotan orang-orang. Untuk sementara ini aku masih ingin bergerak bebas bu"


Bu Alina tersenyum, ia paham dengan kekhawatiran Riri "Iyah sih keputusan yang tepat, ibu saja malas kalau jadi sorotan"


"Mendingan begini, aman hehehe" Riri memperlihatkan giginya yang putih dan rapi


"Hahahaha dasar... tapi orang-orang jadinya mengira nak Sugi itu belum punya pacar. Awas loh nanti direbut yang lain..." Goda Bu Alina sambil tertawa

__ADS_1


Belum usai gelak tawanya, matanya memperhatikan sosok Silvi yang melangkah cepat menuju ke depan. Ia sepertinya akan menghampiri keluarga Wijaya.


"Tuh lihat, itu Silvi bukan??!" Bu Alina menunjuk dengan dagunya, dahinya lagi-lagi berkerut


"Iyah itu Silvi"


"Benar-benar tidak tahu malu yah. Kenapa dia jadi ikut ke depan sih? Dia kan bukan bagian dari keluarga Wijaya"


"Biasa, mau mencuri spotlight Bu, biar di kira calon mantu pak Danu" jawab Riri enteng sambil tersenyum


"Ihh kamu kok santai banget sih, malah Bu Ina yang jadi gregetan" wajahnya cemberut


Riri terkekeh melihat reaksi Bu Alina "Hahahaha udahlah Bu, aku nggak masalah kok. Lagian Suginya kan cintanya sama aku bukan sama dia" Riri memeluk Bu Alina sambil menyandarkan kepala diatas bahunya.


Bu Alina menghela napas "ck! Riri... Riri.."ia mengelus kepala Riri karena kehabisan kata-kata


Tepat ketika Silvi berada dekat dengan pak Danu, dua orang laki-laki tergesa-gesa memasuki tempat acara sambil membawa sebuah paket dengan packing kayu berbentuk kotak memanjang.


"Selamat ulang tahun Om, ini hadiah titipan dari papa untuk Om" Silvi menyalami pak Danu


Dua orang laki-laki yang membawa paket tersebut menyerahkannya pada pak Danu. Dengan sigap dua orang asisten pak Danu membantu menerima hadiah tersebut.


Blitz kamera DSLR dan kamera ponsel makin liar menyambar kejadian tersebut. Hampir semua tamu yang hadir merasa yakin kalau wanita bergaun merah ini adalah calon nyonya muda di keluarga Wijaya.


"Hiks... Aku patah hati. Ternyata pak Dirut telah memiliki pasangan" bisik seorang wanita yang duduk di sebelah Riri


"Cantik sekali wanita pilihannya ini, siapa namanya sih?, pasti dari keluarga yang selevel"


"Cantik tapi tidak berkharisma apa bagusnya?! Ada yang aneh dari wajah wanita bergaun merah itu"


"Di dekati oleh kekasihnya, tapi kenapa malah wajah pak Dirut masih datar begitu? Apa jangan-jangan mereka dijodohkan? Kalau benar kasihan sekali dia"


"Mereka cocok, sepertinya selevel. Wanita ini terlihat cerdas dan anggun"


"Kalau orang tuaku sekaya pak Danu mungkin saja aku bisa lebih menarik dari wanita itu. Senyumnya saja terlihat palsu"


"Kalau sudah di perkenalkan pada publik artinya sudah resmi. Wah...kalau begini putriku jadi tidak punya kesempatan sama sekali"


Tamu-tamu mulai kembali terlihat sibuk berbisik-bisik.


"Letakkan saja di belakang" perintah pak Danu pada asistennya


"Terimakasih yah Silvi salam buat papamu, katakan padanya Om sudah menerimanya dengan baik"


"Iyah nanti aku sampaikan pada papa. Tapi Om, sebaiknya hadiah itu diletakkan di sini saja, lebih aman. Kata papa, kadonya guci peninggalan dinasti Qing"


Pak Danu kemudian memerintahkan asistennya untuk meletakkan guci tersebut di tempat yang lebih aman


Wartawan dan tamu yang berada di dekat mereka cukup kaget mendengar hadiah yang dibawa Silvi untuk pak Danu.


"Kamu dengar kan tadi, hadiah wanita bergaun merah ini Guci peninggalan dinasti Qing" Bisik seorang wartawan yang diundang ke acara ini pada temannya


"Wah dia tahu sekali kesukaan pak Danu. Benar-benar calon mantu yang hebat"


"Calon mantunya membawakan hadiah Guci peninggalan dinasti Qing"

__ADS_1


Berita itu kemudian dengan cepat tersebar sampai ke belakang. Bahkan sampai juga ke telinga Bu Alina


"Gila, dia bahkan memberikan kado benda antik kesukaannya pak Danu. Guci kuno harganya luar biasa mahal loh Riri"


Riri hanya tersenyum menanggapi ucapan Bu Alina. Sama sekali tidak nampak kegelisahan di raut wajahnya.


Bu Teti tersenyum lebar "boleh juga kamu Silvi" gumamnya sendiri sambil melirik kearah Riri. Senyumannya seketika hilang


"Kok dia malah santai banget sih! Jangan-jangan hubungan mereka sudah benar-benar kandas atau malah ternyata sudah semakin lekat" Gumamnya lagi sambil berpikir


"Selamat malam bapak-bapak dan ibu-ibu. Untuk mempersingkat waktu kita mulai saja acara malam hari ini. Terimakasih kami ucapkan karena sudah berkenan hadir memenuhi undangan dari kami" Ujar pak Danu dengan lantang


Silvi masih terlihat berdiri dengan tenang disebelah pak Danu.


Pak Danu memang sengaja tidak menggunakan MC untuk acara ini, karena tamu yang ia undang tidak sebanyak biasanya. Hanya kerabat dekat, relasi, beberapa wartawan dan kawan dekat pak Danu dan Bu Rita saja.


Di tengah sambutan pak Danu, Sugi terlihat menjauh dan duduk pada kursi yang telah disediakan untuk keluarga Wijaya.


Orang-orang menunggu Silvi juga ikut serta duduk di sebelah Sugi. Namun lima menit berlalu tidak ada tanda-tanda Silvi beranjak dari tempatnya berdiri. Bahkan Sugi tidak memanggil untuk ikut duduk bersamanya.


"Apa mereka dijodohkan? Kenapa pak Dirut seperti tidak peduli dengan wanita bergaun merah itu?"


"Aku yakin ini cinta bertepuk sebelah tangan, kasihan sekali wanita itu"


"Ia bahkan tidak memanggilnya untuk ikut duduk, kalau mereka memiliki hubungan spesial masa seperti itu"


Semua tamu yang hadir memiliki penilaiannya sendiri saat ini.


Bu Alina nampak menahan tawanya "kasihan dicuekin"


"Salah sendiri" jawab Riri berbisik


Bu Teti memasang wajah tegang, dahinya berkerut "Dia tidak peduli dengan Silvi, pantas saja ponakan Bu Alina terlihat tenang" gumamnya dalam hati sambil melirik ke arah Riri yang sedang berbisik-bisik dengan Bu Alina


Silvi dari kejauhan nampak kikuk setelah mengetahui kalau Sugi telah pergi dari sana. Ia nampak menoleh beberapa kali ke arah Sugi berharap ia memanggilnya. Namun harapannya sia-sia, Sugi nampak asyik dengan ponselnya.


Setelah acara perayaan utama usai, makan malam pun dimulai. Wartawan nampak mengerubungi pak Danu. Seorang wartawan akhirnya berkesempatan melemparkan pertanyaan padanya


"Apa wanita cantik di sebelah anda ini calon nyonya muda di keluarga Wijaya pak?"


"Saya tidak akan menjawab pertanyaan anda, karena tidak sesuai dengan tema acara malam ini"


Wartawan itu hanya terdiam mendengar jawaban pak Danu


Mendengar respon pak Danu, Wajah Silvi berubah masam


"Pak saya hanya penasaran, hadiah yang bapak terima malam ini sudah pasti banyak dan beragam. Diantara hadiah-hadiah tersebut yang mana yang paling spesial pak?"


Mendengar pertanyaan wartawan tersebut senyuman Silvi kembali mengembang, ia sangat yakin hadiah Gucinya yang paling spesial.


"Mmm.. sebenarnya semua hadiah yang saya terima hari ini sangat spesial. Saya berterimakasih dan sangat menghargai pemberian dalam bentuk apapun. Namun kalau saya harus menyebutkan hadiah favorit, mmm... ada satu kiriman hadiah yang langsung dikirim ke rumah hari ini. Sebuah pajangan batu kristal berwarna biru turquoise, nama batu kristal itu Larimar, cantik sekali. Itu salah satu batu kristal yang tidak mudah ditemukan di pasaran" jawabnya antusias


"Wah yang mengirimkan itu sudah tentu sangat mengetahui kegemaran pak Danu. Boleh dong pak sekali-kali kita diijinkan untuk melihat koleksi pak Danu. Pasti akan sangat menyenangkan"


"Hahahaha nanti yah kawan-kawan, kalau saya memutuskan untuk membuka galeri, kalian pasti saya undang kembali. Ok cukup yah semua, silahkan menikmati hidangan yang telah kami siapkan. Terimakasih" kata pak Danu mengakhiri wawancaranya sambil mencakupkan tangannya di depan dada ke arah wartawan yang berkumpul

__ADS_1


Wajah Silvi berubah cemberut, dengan langkah yang terburu-buru ia pergi menjauh dari sana. Bu Rita yang melihatnya hanya bisa tersenyum menahan rasa geli yang ada di dalam hatinya.


__ADS_2