Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Bookingan


__ADS_3

Gemuruh tepuk tangan tamu undangan menyertai Riri usai memberikan sambutannya di atas panggung. Bu Alina langsung menghampiri dan memeluk Riri dengan erat.


"Aaaa... selamat Riri....Bu Ina bangga sekali sama kamu, sayang" tak terasa air matanya jatuh berlinang karena merasa terharu dengan pencapaian Riri


Riri pun ikut merasa terharu melihat Bu Ina meneteskan air matanya


"Terimakasih Bu, doakan aku yah Bu semoga semua berjalan lancar, semoga tingkat hunian villa ini selalu penuh"


Bu Alina meregangkan pelukannya sambil menghapus sisa-sisa air matanya di pipi


"Iyah aku selalu mendoakan kamu dan Damar, agar bisa terus sukses. Kalian berdua memang keponakanku yang paling hebat"


"Tentu saja, siapa dulu bibinya" Riri tersenyum, matanya lalu mencari-cari disekitar Bu Alina "Ibu Ina datang sendiri? Paman mana?"


"Sayang sekali pamanmu tidak bisa datang, dia dapat undangan dari bapak Walikota. Kata paman, Sam juga ada disana ya? Sabar ya Riri" ujar Bu Alina sambil sedikit tersenyum


"Dia sudah memberitahuku tentang undangan itu, ya mau bagaimana lagi"


"Semua hal ada prioritasnya Riri, apa dia mengirimkan sesuatu untukmu sebagai ucapan selamat?" Telisik Bu Alina


Riri menggeleng "aku yang melarangnya"


"Oh gitu" jawabnya sambil berpikir


"Ibu kenapa sih? Apa ada sesuatu yang aku nggak tahu Bu?" Tanya Riri curiga


Bu Alina menghela napasnya "nggak kok, mungkin ibu Ina aja yang overthinking. Semangat ya sayang" ia merangkul Riri


Gia terlihat melangkah dengan cepat menghampiri Riri


"Riri...kerennn!!!!" Ujar Gia sambil memeluknya erat


"Makasi Yak, Hahahaha aku sempat gugup tadi, tapi untungnya tidak terlalu kentara kan???"


"Nggak kok, eh ini kakakmu mau bicara" ia menyodorkan ponselnya pada Riri


Wajah Damar nampak tersenyum manis di sana


"Duh si yang paling owner hahahaha" kelakarnya sambil terbahak-bahak


"Hahahaha Keren kan kak?"


"Keren-keren, aku fans barumu sist! Selamat yah kamu berhasil!!! Tinggal strategi marketingnya aja nih nanti"


"Tenang aja aku siap kok!"


"Nah gitu, manteppp!!"


Riri tertawa kecil "Iyah dong Hehehe..."


Dari kejauhan ia melihat teman-teman dari media mendekat


"Kak nanti aku telepon balik ya. Ada orang media mau ngobrol sama aku"


"Ok Tari, see you" katanya

__ADS_1


"Ok kak" Riri menyerahkan kembali ponsel itu pada Gia


Riri pun bersiap untuk kembali berbaur sepanjang acara malam hari ini


Tanpa ia sadari pak Yuda merekam Riri tadi saat berada di atas panggung dan beberapa potongan video ia sedang mengobrol dengan beberapa tamu undangan. Kemudian ia mengirimkannya pada Sugi satu persatu.


Di sela-sela acara makan malam, Sugi berkali-kali memeriksa ponselnya untuk mendapatkan laporan dari pak Yuda mengenai acara di Villa Lembayung. Ia nampak tersenyum puas dengan rekaman yang dikirimkan oleh pak Yuda.


Di sebelahnya duduk seorang gadis berparas cantik yang sedari tadi mencuri-curi pandang ke arahnya. Ia takjub melihat seulas senyuman dari bibir Sugi saat ini, karena sedari tadi ia terlihat tidak peduli dengan orang-orang disekitarnya selain pak Walikota, yaitu ayahnya sendiri. Beberapa kali ia mencoba menarik perhatiannya dengan obrolan ringan, namun sambutannya tetap saja singkat dan dingin.


Makan malam pun usai, diakhiri dengan foto bersama. Sugi hendak pergi mendahului ayahnya yang sedang asyik melakukan sesi foto. Kepergiannya ditahan oleh ayahnya


"Sabarlah dulu sebentar lagi rasanya kurang sopan kalau kamu mendahului pulang" bisik ayahnya lalu beranjak menuju ke titik sesi foto. Sementara Sugi menunggu di sudut ruangan dengan perasaan tidak sabar.


Setelah dua kali take, pak Wisnu melirik ke barisan sebelah kanan dan kirinya.


"Loh Sammy kemana pak? Kenapa tidak ikut berfoto bersama" ujar Pak Wisnu tiba-tiba dengan wajah kecewa


"Maaf pak anak saya memang sejak kecil tidak terlalu suka di foto pak, mungkin takut wajahnya jadi menipis hahaha" canda pak Danu untuk mencairkan suasana


"Hahahaha ada-ada saja pak, sekali saja tentu tidak masalah kan?!" Ujarnya lagi sedikit memaksa


"Sam!!! Kemarilah sebentar" panggil ayahnya dengan tatapan khasnya. Ia sudah paham dengan arti tatapan itu, menyiratkan keharusan yang tidak boleh dibantah sama sekali.


Dengan enggan Sugi pun beranjak dari tempatnya berdiri dan ikut masuk ke barisan itu untuk berfoto. Ia merasa sangat tidak nyaman dengan situasi ini.


"Anita, kemari sayang. Berdirilah disebelah Sammy" panggil pak Wisnu kemudian pada putrinya.


Wanita cantik yang tadi duduk disebelah Sugi pun mendekat. Seperti perintah ayahnya ia pun berdiri disebelah Sugi dengan hati senang. Dengan sengaja pula ia memepet Sugi agar dekat dengannya dan berpose seolah-olah mereka memiliki hubungan yang akrab.


"Ayah lihat tadi pak Wisnu mencoba mengakrabkan putrinya padamu. Kamu boleh tidak menyukainya tapi selagi kamu masih lajang itu hal yang sangat wajar terjadi. Kamu harusnya sudah mengetahui hal ini" Bisik pak Danu saat mereka telah sampai di depan mobilnya


"Belajarlah bersikap lebih luwes di depan orang-orang penting itu, Sam. Kamu harus ingat perusahaan kita pasti akan bersinggungan dengan kebijakan mereka di masa depan" lanjutnya lalu menepuk pundak Sugi kemudian masuk ke dalam mobilnya.


Beberapa kali Pak Doni terlihat melirik dari arah spion atas. Ia mengenal atasannya cukup lama, sedikit tidaknya ia mengerti kekesalannya saat ini.


"Kita langsung kembali pak?" tanyanya mencoba memecah kesunyian


"Mmm" jawabnya singkat lalu kembali membisu.


"Apa bapak tidak ingin menghubungi Bu Riri? Sepertinya acara disana sudah selesai"


Sugi melirik ke arloji yang melingkar dipergelangan tangan kanannya. Ia lalu mengambil ponsel dari saku kemejanya. Beberapa kali nada dering terdengar, dengan sabar ia menunggu Riri mengangkat ponselnya.


"Hi...!!" Suara Riri terdengar riang


Sugi tanpa sadar tersenyum mendengarnya. Seketika ia merasa moodnya jadi jauh lebih baik.


"Hi sayang, acaranya sudah selesai?"


"Sudah, mau melihat rekamannya nggak?"


"Aku sudah melihatnya tadi, rekamannya sudah dikirim oleh pak Yuda. You look great! Congratulations my love, Aku bangga sama kamu"


"Thanks babe...Makan malamnya gimana?"

__ADS_1


"Biasalah membosankan"


"Ahh jangan begitu, itu kan penting untukmu"


Sugi menghela napasnya "yah.. kamu tahulah sendiri"


"I miss you" ujar Riri dengan suara manjanya


"I miss you too, tadi aku mau langsung kesana. Tapi ternyata besok aku ada jadwal breakfast meeting. Maaf ya sayang"


"Iyah nggak apa-apa"


"Sabar ya"


"Iyah kamu juga, yang semangat. Kayaknya aku ngerasa mood kamu lagi kurang baik. Benar apa nggak?"


"Ya begitulah"


"Sayang, nanti kalau sudah sampai di rumah kita video call-an lagi ya?! Nih tiba-tiba Ada staf yang sedang menuju kemari, sepertinya ada sesuatu"


"Ok sayang, nanti aku telepon lagi"


"Ok" Riri memutus sambungan teleponnya


Tanpa terasa beberapa hari telah terlewati. Bookingan di Villa Lembayung nampaknya kian hari kian bertambah. Bahkan terlihat dari sistem reservasi, bookingan untuk high season di bulan Juli yang akan datang sudah mulai penuh. Riri nampak tersenyum lebar saat membaca laporan hari ini.


Matanya kemudian tidak sengaja membaca nama Bu Rita di antara nama-nama yang telah melakukan reservasi untuk minggu depan. Ia kemudian memeriksa ke bagian Reservasi untuk menanyakan apakah ini Bu Rita Wijaya.


Setelah mendapatkan jawaban dari bagian reservasi ia mengambil ponselnya dan memencet nama Bu Alina disana


"Selamat siang cantik, wah ada apa yah kok owner villa sampai nelepon Bu Ina siang-siang, begini" godanya pada Riri


"Hahahaha aaaahhh Bu Ina" ujar Riri sambil tergelak


"Hahahaha aku serius, ada apa sayang?"


"Ibu Rita booking beberapa Villa untuk minggu depan, Bu Ina tahu informasi ini nggak?"


"Ngga, masa sih?!... Tapi biasanya kalau ada suatu berita yang lagi heboh atau happening pasti ibu-ibu arisan tahu lebih dulu. Biasaaaaa.. bigos semua CK!. Tapi ini pertanda bagus kan, nama Villa Lembayung sudah mulai dibicarakan di level mereka"


"Iyah sih, Aku tadi mikirnya pasti Bu Ina pasti nggak tahu, kalau tahu kan bisa langsung ngomong ke aku duluan sebelum ke reservasi"


"Kapan hari yah, ada sih dia sempat mengajak ibu-ibu arisan retreat sekali-kali. Tapi Bu Rita maunya di tempat yang nggak biasa. Yah nggak tahu juga kalau ternyata dia memilih disana"


"Bu Ina ikut?"


"Sayangnya Bu Ina nggak bisa ikut Riri, kalau nggak salah tanggal 20 yah? Ada pertemuan orang tua murid di sekolahnya adikmu"


"Aku sebaiknya bilang nggak sih Bu kalau villa ini punyaku sama Bu Rita"


"Jangan, anggap saja kamu nggak tahu apa-apa. Perlakukan mereka seperti tamu VIP pada umumnya saja untuk menjaga image Wijaya yang di sandang oleh Bu Rita"


"Ok aku mengerti Bu"


"Biarkan mereka menilai dengan objektif. Ibu nggak mau aja service excellent kalian disana dinilai tak sesuai hanya karena kamu pemiliknya. Kamu kan tahu mulut-mulut racun ibu-ibu itu. Nanti kalau mereka sudah puas dan mulai membicarakan villa Lembayung baru deh Bu Ina nyombong dikit lah ya, kalau itu punya keponakan Bu Ina hahaha"

__ADS_1


"Hahahaha Iyah deh Bu" jawabku sambil tergelak


__ADS_2