
Saat tiba di rumah ponselku berbunyi, Sugi sedang melakukan panggilan.
"Hi sayang" sapaku
"Hi baby, sudah dirumah ya?" Suaranya terdengar bersemangat
"Iyah baru aja sampai"
"Kok baru sampai? Bukannya kamu pulang jam sembilan ya, tadi aku sempat menghubungi Ibuku"
"Iyah aku pulang kurang lebih jam sembilan, tapi tadi sempat mampir membeli perlengkapan kantor"
"Ohh sudah dapat semua?"
"Sudah" Jawabku sambil melepaskan high heels dan merebahkan tubuhku di atas ranjang
"Gimana makan malamnya? Kata Ibuku makan malamnya menyenangkan. Aku penasaran kalian cerita apa saja?"
"Lebih banyak tentang masa kecilmu hahahaha seru deh" aku terbahak-bahak
"Ck! Pasti hal-hal yang memalukan. Aku waktu kecil nakal Riri. Orang tuaku hampir setiap hari menerima komplain dari tetangga sekitar"
"Hehehehe sekarang juga masih 'nakal' kok, masa badanku di tandai semua. Tadi sore aku sampai kebingungan memilih pakaian ke rumah orang tuamu. Bahan kaos pun kalau aku menunduk tandanya masih bisa dilihat orang lain"
"Hahahaha biarin. Biar kamu pakai pakaian tertutup terus"
"kan sudah kubilang jangan di bagian yang kelihatan, aku harus mengancing kemejaku sampai atas" gerutuku
Ia kembali terkekeh "hehehehe yah bagus, lagian waktu itu kamu sendiri menikmatinya juga kan?"
"Ck! Ih sebel..."
"Hahahaha sebel apa doyan? Ya deh maaf yah sayang. Lain kali aku hanya akan menandai mu di bagian yang sangat tersembunyi. Ini aku menawarkan solusi loh ya hahahaha" ia kembali tergelak
"Pak Dirut mes*m!" ejekku sambil menahan tawa
"Hahahaha"
Aku melihat jam di dinding kamar, waktu sudah menunjukkan pukul 22:43
"Hei ini jam sibuk disana loh, kenapa malah ngobrol sama aku sih. Kamu nggak ada jadwal meeting atau apa gitu?"
"Aku lagi break, ada meeting kok sebentar lagi. Aku rindu sekali padamu Riri" suaranya terdengar sedih
"Aku juga sama sayang"
__ADS_1
"Jadwalku pulang sepertinya bisa di percepat"
"Jangan memaksakan pulang kalau memang belum waktunya"
"Iyah Aku mengerti, I love you baby"
"I love you too, take care yah jangan lupa makan. Jangan begadang, jangan mabuk" jawabku khawatir
"Iyah cintaku... Aku meeting dulu yah. Kamu langsung tidur sja. Sweet dream yah sayang besok aku telepon lagi"
"Ok sayang"
Ia menutup sambungan teleponnya. Kemudian aku bergegas membersihkan diri dan mengganti pakaianku.
Aku kembali rebah diatas ranjang sambil menatap plafon yang ada di atasku, entah kenapa perasaanku menjadi tidak tenang setelah berbicara dengannya. Aku mencoba mengalihkan perhatianku pada cerita novel yang ada di ponselku, ternyata cara ini cukup berhasil dan aku mulai mengantuk. Tanpa sadar aku pun tertidur lelap.
Keesokan harinya rutinitas dikantor mulai terasa lebih sibuk dari hari kemarin. Tanpa sadar waktu sudah menunjukkan jam makan siang. Ponselku berbunyi, kulihat Gia melakukan panggilan.
"Hi Gia" jawabku sambil memperhatikan layar laptop di depanku
"Riri, lagi sibuk ya?" tanyanya dengan nada khawatir
"Lumayan, ada apa yak?"
"Kamu pasti belum melihat headline berita hari ini"
"Bentar aku kasih link beritanya. Baca dulu, nanti hubungi aku ya. Tapi kamu harus janji nggak panik atau sedih sendiri"
"Ok" jawabku singkat karena penasaran dengan berita yang disebutkan oleh Gia
Kulihat Gia mengirimkan satu link tautan di ponselku, dengan rasa khawatir aku membukanya. Mataku terbelalak melihat judul berita di media online yang cukup terkenal ini.
"Skandal pengusaha muda dan sukses berinisial S menelantarkan kekasih dan anaknya"
Aku membaca judulnya dengan tangan gemetar. Jantungku kemudian berdebar kencang saat membaca isi beritanya.
Berita tersebut mengatakan kalau wanita yang berinisial M seorang mantan pramugari sedang kebingungan mencari seorang laki-laki yang disinyalir pengusaha berinisial S untuk dimintai pertanggungjawabannya. Ia merasa ditelantarkan bersama anaknya yang saat ini berusia lima tahun. Media ini juga menyebutkan nama-nama beberapa hotel yang berada di bawah kekuasaannya. Aku membaca nama-nama tersebut, kulihat Hotel Z dan Villa padi juga disebut didalamnya.
Seketika dadaku terasa sesak luar biasa setelah membaca berita tersebut. Aku beberapa kali harus menarik napasku panjang-panjang berusaha tetap tenang dan berpikir jernih.
Aku mencoba mengetikkan judul berita tersebut pada pencarian di internet, ternyata bukan hanya satu media online saja yang memberitakan hal ini. Beberapa media online terkenal lainnya juga memberitakan dengan judul yang hampir sama. Judul-judul ini berbaris dari atas sampai kebawah di portal pencarian tersebut.
Kepalaku pening seketika "apa yang harus aku lakukan sekarang??!!" Gumamku mulai berpikir
Kulihat Gia kembali melakukan panggilan di ponselku
__ADS_1
"Gia" kataku lemah
"Aku kesana sebentar lagi ri, sekarang aku masih ada janji bertemu orang hotel"
"Kalau kamu masih sibuk, mendingan nggak usah kemari yak. Aku baik-baik aja kok"
"Atau gimana kalau kamu menghubungi Damar, mereka kan teman dekat di luar negeri. Siapa tahu Damar punya cerita dengan versi berbeda"
"Kak Damar pasti masih tidur nyenyak jam segini, kan bedanya kayak 15 jam. Aku kasihan harus mengganggunya dengan masalah ini. Belum lagi pekerjaannya sedang banyak, aku tidak mau menambah beban pikirannya"
"Terus gimana?"
"Biar kupikirkan dulu, sambil melihat perkembangannya"
"Kamu nggak menghubungi Sugi?"
"Mungkin nanti. Aku nggak tahu Gia"
"Sabar ya RI, aku yakin ini hanya gosip belaka"
"Mudah-mudahan saja begitu, tapi masa lalu orang siapa yang tahu"
"Aku jadi sedih Riri, nanti pokoknya pulang dari kantor aku menginap dirumahmu"
"Iyah, terimakasih ya Gia. Kamu lanjut dulu deh"
"Iyah ri" ia memutuskan sambungan teleponnya.
Seharian Riri berusaha keras untuk tetap fokus dengan pekerjaannya. Tapi tetap saja selalu terselip rasa khawatir dan sedih di setiap waktu yang ia lewati hari ini.
Sementara itu di kantor pusat Wijaya Grup telepon tak henti-hentinya berdering menanyakan kabar yang tersiar. Staf kantor depan sampai panik menghadapi semua media yang menginginkan klarifikasi langsung dari pihak Wijaya Grup. Semua staf nampak berbisik-bisik membahas berita yang beredar dengan perasaan khawatir. Kecuali Dewi, hanya dia sendiri yang tidak terpengaruh oleh pemberitaan ini. Ia sama sekali tidak mau bergabung untuk membahasnya bersama yang lain.
Berita tersebut akhirnya sampai juga di telinga orang tua Sugi melalui asisten-asistennya. Bu Rita terlihat khawatir luar biasa mendengar berita itu. Ia yakin sekali ini hanya satu diantara ribuan gosip murahan yang selalu mendera keluarga mereka. Yang membuat ia lebih khawatir adalah karena berita ini sudah sampai naik ke media pemberitaan online, artinya seluruh negeri ini juga mengetahui berita tersebut. Hal itu tentu akan sangat berpengaruh pada kepercayaan partner bisnis dan image Wijaya Grup selama ini.
Bu Rita dengan tergesa-gesa menemui suaminya di kantor pusat. Ia nampak gelisah menunggu di ruang kerja suaminya yang saat ini sedang mengadakan rapat dadakan dengan beberapa komisaris perusahaan, terkait berita yang beredar.
Ketika pak Danu telah kembali, Bu Rita berdiri menghampiri.
"Apa kata komisaris?"
"Mereka menyetujui usulku. Untuk sekarang kita harus melakukan klarifikasi secepatnya. Tadi sudah aku perintahkan staf mengatur press conference untuk besok pagi"
"Nanti biar aku yang menghubungi Sammy untuk langkah selanjutnya" lanjut pak Danu.
"Sayang, anak kita tidak mungkin melakukan hal itu. Aku yakin, senakal-nakalnya dia di masa lalu takkan sampai sejauh ini" ujar Bu Rita sambil menghela napas
__ADS_1
"Aku juga yakin begitu, pasti ada seseorang yang benar-benar ingin menjatuhkan nama baiknya dan perusahaan ini"