
"Pak rekaman CCTVnya Sudah beres" bisiknya pada Sugi
Sugi mengangguk, "antar kami pulang pak dan suruh seseorang mengambil mobil Riri malam ini" katanya dengan wajah dingin.
"Baik pak" Pak Doni dengan langkah cepat masuk kedalam mobil dan menghubungi salah satu anak buahnya.
Riri yang sedari tadi hanya diam tiba-tiba terlihat berjalan melewati Sugi. Tangannya menarik tas yang ada di tangan Sugi tanpa mengatakan apapun. Sugi yang kesabarannya mulai habis menangkap Riri lalu memanggulnya seperti seseorang yang sedang membawa satu karung beras di bahunya.
"Hei lepaskan aku!!! Turunkan aku disini pak Dirut. Aku tidak mau digendong olehmu!!!" Jerit Riri sambil meronta
Sugi hampir kewalahan memegang erat tubuh Riri yang tidak bisa diam di bahunya. Ketika mereka sampai, ia menurunkan Riri di samping mobilnya.
"Masuk sendiri atau perlu kupaksa??!!" Kata Sugi sambil berkacak pinggang, matanya tajam menatap Riri
Riri pun masuk dengan sendirinya karena merasa tidak punya pilihan lain. Sugi menyusulnya dan mobil ini pun mulai bergerak.
Sugi nampak menekan satu tombol, Sekat partisi di dalam mobilnya bergerak menutup. Ia lalu menghubungi Damar
"Dia sudah bersamaku"
"dia baik-baik saja ..mmm"
"Iyah, ok" Sugi menutup sambungan teleponnya
Sugi menatap Riri yang masih terdiam di sebelahnya "Katakan padaku apa ini sepadan dengan luka dan memar yang kamu peroleh di wajah cantikmu ini??" Katanya dengan nada emosi bercampur khawatir
"Kalau kamu marah padaku lampiaskan saja padaku, jangan seperti ini Riri"....
Riri masih diam memalingkan wajahnya "Heii!!! Nona Mentari jawab pertanyaanku!!" teriaknya kesal
Pinggangku ditarik dengan kasar sampai aku tersentak menempel padanya. Secara tidak sengaja aku jadi menengadah. Wajah kami sangat dekat, mata kami bertemu. Kurasakan sakit yang tak bisa ku tahan saat tangannya meremas gemas pinggangku
"Ouch!! Ahhh!! Sakittt!!!" Aku meringis
__ADS_1
"Ahh sialan, kenapa saat ini aku baru bisa merasakan sakit di sekujur tubuhku sih?. Untuk duduk seperti ini saja rasanya sangat tersiksa" aku memalingkan wajahku dari tatapan dinginnya
Ia meregangkan cengkeramanya. Tatapannya menjadi semakin dingin "Pak Doni kita ke tempat Dokter Dewa"
"Baik pak" Sahut pak Doni singkat
"Gimana?? Sakit??!! Kok bisa sakit?? Bukannya badanmu terbuat dari baja?!" Nada suara Sugi terdengar mengejek
Sugi menghela napasnya "Kalau sampai terjadi apa-apa denganmu hari ini bukan hanya aku yang akan menyesalinya Riri. Kamu pikir bagaimana perasaan kakakmu??!!! Dia tadi panik luar biasa saat memberitahuku, kalau kamu bertemu dengan wanita itu!!"
Riri mengigit bibirnya, ada perasaan bersalah muncul dihatinya
"Kamu itu egois!! tidak memikirkan perasaan aku dan kakakmu Riri?!" Ujarnya lagi
"Kalau saja orang-orang tadi sekuat orang yang terakhir mengejarmu di Sentral Parkir tempo hari, aku yakin selain babak belur, saat ini kamu sudah dalam cengkraman pamanmu. Itu yang kamu mau?!"
Riri menggeleng, ia tiba-tiba ingin menangis mendengar omelannnya. Walaupun sudah ditahan-tahan agar air matanya tidak tumpah, nyatanya setetes dua tetes air mata bergantian turun dari matanya yang jelita.
Tetesan Air matanya mengenai lengan Sugi. Ia yang mulai kehabisan kata-kata lalu merengkuh Riri dalam pelukannya perlahan.
Riri balas memeluknya erat "I'm sorry" bisiknya lirih. Dalam hatinya Riri berjanji untuk tidak membiarkan kemarahan menguasai dirinya lagi.
"Aku menyesal sudah dikuasai oleh amarah seperti ini. Tadi aku sama sekali tidak berpikir panjang. Aku pikir setelah selesai aku bisa merasa puas dan pulang dengan kelegaan yang luar biasa. Aku tidak terbiasa dengan pemikiran bahwa ada orang-orang yang akan khawatir dengan keadaanku. Aku lupa kini ada Sugi dan Kak Damar di hidupku, seharusnya aku sudah mulai memikirkan mereka saat akan memutuskan sesuatu. Aku berjanji tidak akan mengulangi hal ini lagi di masa depan"
Dokter Dewa nampak sedang menunggu, saat mereka sampai. Riri dengan perlahan turun dari mobil, tangannya memegang sebungkus plastik es yang tadi diberikan Sugi untuk mengompres beberapa bagian wajahnya yang mulai merah membengkak.
Dokter Dewa terlihat kaget dengan memar dan lebam yang ada diwajah Riri. Belum lagi kakinya tidak menggunakan alas kaki, Roknya pun sobek.
"Ini wanita yang sama kan dengan yang dulu pernah pingsan dan dicekoki obat?" Bisiknya pada pak Doni yang berada di sebelahnya
"Iyah Dok" jawabnya dengan senyum sumringah
"Kenapa wajahnya sekarang bisa memar-memar begitu? Apa dia habis dianiaya oleh Pak Sugi? Tapi rasanya itu tak mungkin terjadi?" Bisiknya dengan ragu, berhati-hati takut terdengar yang lain
__ADS_1
"Tenang Dok, dia hanya habis berkelahi dengan gerombolan penjahat hehehe" pak Doni nampak menahan tawa lalu pergi mendahuluinya
"Hah??!!" Wajah Dokter Dewa nampak kaget, buru-buru mendekati Riri
Setelah memeriksa keadaan Riri, Dokter Dewa memberikan resep "yang bengkak di kompres saja, saya juga sudah meresepkan salep untuk dioleskan di area yang bengkak untuk membantu mengurangi bengkak dan nyerinya"
"Baik dok" Riri mengangguk
Ia kemudian mendekat ke arah Sugi "Pak, keadaannya sementara baik-baik saja. Hanya memar dan lebam akibat hantaman benda tumpul. Yang di area pinggang kemungkinan juga sama. Kalau nanti ada keluhan pusing atau sakit terus menerus di area tertentu mohon hubungi saya kembali"
"Ok, Terimakasih dok" kata Sugi sambil bersiap untuk pergi
Setengah jam kemudian mereka telah kembali ke rumah. Damar nampak menunggu di depan garasi dengan wajah khawatir.
Ketika Riri turun Damar dengan tergesa-gesa mendekat "Astaga!!! Riri!!" Wajah Damar terlihat kaget luar biasa melihat lebam dan memar yang mulai membengkak diwajahku.
"Maaf kak aku terbawa emosi. Kakak jangan marah yah" suara Riri terdengar lemah
Damar menutup matanya dengan satu tangan, ia lalu memeluk adiknya lebih erat "pasti kamu nggak baca pesanku tadi sore ya? Ini salah kakak Riri, nggak langsung menelpon. Harusnya aku yang menerima kesulitan ini, bukan kamu" suara Damar bergetar. Tangisnya pecah.
Riri pun ikut menangis mendengar ucapan kakaknya
"Sudah bertahun-tahun aku pergi dari tanggungjawab ini, aku yang salah Riri. Aku harusnya yang menanggung beban ini" Damar menghapus air matanya
"Yuk, sekarang kita masuk dulu. Aku bantu mengganti pakaianmu. Tangan Damar menghapus air mata Riri. Ia membopongnya dengan hati-hati lalu menoleh pada Sugi dan pak Doni "thanks Sam, Pak Doni" katanya kemudian berjalan masuk kedalam rumah
Sugi dan pak Doni mengangguk, mereka berdua hanya mampu terdiam melihat interaksi dua kakak beradik yang saling menyayangi ini. Sugi menyadari betapa kuatnya rasa persaudaraan mereka berdua.
"Pak Doni, tahu sesuatu tentang Erika? selain dia sepupu Riri?"
"Yang saya dengar dia sedang mengusahakan dirinya untuk bekerja atau setidaknya magang di perusahaan besar termasuk rekanan kita di luar negeri pak"
"Sebarkan informasi kepada rekanan kita kalau dia tidak memiliki kualitas untuk itu"
__ADS_1
"Baik pak saya mengerti. Mengenai Mobil Bu Riri katanya sebentar lagi sampai. saya pamit pulang dulu" kata Pak Doni
"Ok, thanks pak" jawabnya singkat lalu pergi masuk ke dalam rumah.