Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Pindah Rumah


__ADS_3

Hari ini saat mengepak barang aku baru menyadari, barang-barang yang aku miliki ternyata lebih banyak dari yang aku duga. Belum lagi ditambah sejumlah barang yang aku titip dan tinggalkan di tempat kos lama.


Truk yang akan membantu kami pindahan telah sampai siang hari ini. Dengan dibantu oleh Kak Damar , Bu Widi dan dua orang bawahan pak Doni, kami mengangkut semua barang-barang yang ada di kamarku. Katanya nanti sore mereka akan ke tempat kos ku untuk mengambil sisa barang yang ada disana termasuk satu sepeda motor yang akhirnya lunas ku bayar sebulan yang lalu.


Sugi menyuruhku membawa serta mobil putihnya sementara waktu sampai kami membeli kendaraan sendiri. Kulihat Bu Widi berdiri di ambang pintu memperhatikan aku yang telah siap meninggalkan rumah.


Aku mendekatinya, ternyata ia sedang menangis. "Loh kenapa Bu Widi jadi sedih begini Bu?"


"Saya sedih Bu, rumah ini jadi sepi lagi" ujar Bu Widi sambil menghapus air matanya


"Nanti juga saya bisa mampir kemari sesekali kan Bu"


"Saya kasihan sama pak Sugi jadi kesepian lagi, Bu Riri masih dekat kan sama beliau... Maksud saya kalian baik-baik saja kan?" Tanyanya khawatir


"Hubungan kami baik-baik saja Bu"


"Dulu sebelum Bu Riri tinggal disini wajahnya jarang tersenyum selalu saja dingin, jarang sekali berkomunikasi sama saya Bu. Tapi Semenjak ada ibu rasanya rumah ini jadi lebih hidup, pak Sugi juga jadi kelihatan lebih sehat dan teratur hidupnya"


Aku memeluknya "saya mengerti maksud Bu Widi, tapi jangan khawatir pak Sugi akan baik-baik saja tanpa saya di rumah ini"


"Iyah bu, saya harap juga begitu. Pak Sugi orang baik Bu, Bu Riri juga baik jadi mudah-mudahan... Mmm... Mudah-mudahan berjodoh" katanya dengan suara lemah nyaris tidak terdengar


"Terimakasih doa nya Bu tapi kan kami hanya sebatas atasan dan bawahan di kantor" aku membohonginya, aku tidak mau dia mendapat masalah kalau Bu Rita atau siapa pun datang kemari menanyainya tentang hubungan kami.


"Tapi maaf kalau saya lancang... Ibu cocok sama pak Sugi hehehe... " Katanya sambil tersenyum


"Gitu yah Bu?" Jawabku sekedarnya


"Iya Bu, nanti sering-sering main kemari ya Bu"


"Iya Bu Widi, saya mau berterimakasih juga atas bantuan Bu Widi selama saya berada disini"


"Ahhh itu kewajiban saya juga bu karena saya bekerja disini"

__ADS_1


"Ya sudah Bu saya pergi dulu yah"


"Iyah Bu selamat untuk rumah barunya"


"Terimakasih kasih Bu" jawabku kemudian berlalu keluar dari rumah menuju garasi.


Aku dan kak Damar akhirnya pergi meninggalkan rumah Sugi menuju ke rumah baru kami.


"Kak, kapan kita beli mobil?"


"Terserah kamu aja maunya kapan, nanti kita lihat sama-sama di internet mau pilih yang mana"


"Secepatnya aja, aku nggak enak sama Sugi"


"Iya aku setuju, eh kamu tahu nggak semalam aku sama Sam kan sempat ngobrol. Dia sebenarnya mau membelikan kamu mobil, tapi dia nanya ke aku dulu takut kamu tersinggung. Katanya kamu jarang sekali meminta sesuatu, jangankan minta sesuatu minta bantuan karena ada masalah aja nggak pernah"


"Yah mungkin karena kita berdua terbiasa mandiri kali kak, jadi kebawa-bawa sampai sekarang. Awal-awal aku tinggal disini, dia yang membelikan pakaian yang aku pakai ke kantor dan itu satu lemari isinya lengkap kak. Dari kemeja, bawahan rok, celana panjang, sepatu sampai tas. Mana semuanya bermerk, aku aja sampai bengong"


"Wah segitunya yah, tapi kalau dipikir-pikir dia kan luar biasa kaya. Kalau cewek lain mungkin sudah memanfaatkan dia, karena bisa minta di fasilitasi macam-macam. Rugi loh, kalau kamu nggak kayak gitu juga hahahaha" Damar terbahak


"Dasar! hahahaha tanpa warisan dari ayah kita pun, aku mampu kok membelikan kamu mobil, tenang saja"


"Kita beli satu dulu aja"


"Iyah terserah kamu aja Tari. Ngomong -ngomong Sam sayang banget yah sama kamu. Aku jadi lebih tenang kalau mau meninggalkan kamu disini, sementara aku kembali mengurus perusahaanku di luar negeri"


"Kapan kakak akan kembali kesana?"


"Setelah urusan saham kita selesai. Aku benar-benar akan melepaskan saham itu Tari" suara Damar terdengar serius


"Aku setuju kak, daripada menjadi pikiran terus menerus. Aku yakin orang tua kita pun setuju di atas sana dengan keputusan ini"


"Semoga kita berdua bisa mengembangkan usaha yang kakak rintis ini dengan baik"

__ADS_1


"Semoga kak, aku akan bekerja keras untuk mewujudkan itu"


"Iyah demi masa depan kita"


"Gia apa kabar kak?" Aku menoleh ke arah Damar dengan pandangan curiga


"Ahhh kamu mau tahu aja hahahaha"


"Hahahaha kakak suka juga ya sama dia... Hayo ngaku"


"Yah aku tertarik. Aku pikir dengan penampilan dia yang glamor itu, orangnya sombong dan pemilih. Ternyata seru yah"


"Penampilan bisa menipu kak, orangnya asyik kok. Karena dia terbiasa di lingkungan berada dari kecil jadi memang terlihat angkuh di awal-awal kenal. Padahal aslinya baik banget kak dan easy going"


"Iyah aku jadi pengin mengenalnya lebih jauh... Ah itu urusanku Tari. Kamu nggak usah ikut campur ya hahahaha awas kalau ngadu yang nggak-nggak ke dia"


"Ihh enak aja aku nggak gitu kok. Paling Kalau dia mau tahu sesuatu tentang kakak baru deh aku ngomong hahahaha"


"Ck! Awas yah jangan cerita yang aneh-aneh ke dia" ancam Damar sambil tersenyum geli


"Kita lihat saja nanti hahahaha"


"Hahahaha Dihh anak ini...." Sungut Damar sambil tertawa


Obrolan seru kami berlanjut sampai di rumah baru kami.


Sesampainya kami dirumah baru, truk yang membawa barang kami nampak sudah sampai terlebih dahulu. Kami dibantu sopir dan dua orang bawahan Pak Doni, menurunkan satu persatu barang yang ada di dalam bak truk dan membawanya ke dalam. Sepanjang siang kami berdua sibuk mengatur satu persatu letak barang di dalam kamar kami masing-masing.


Akhirnya kamar yang akan aku tempati nampak rapi dan bersih. Semua pakaian sudah aku masukkan ke dalam lemari yang telah disiapkan lebih dahulu oleh Damar sebelum urusan jual beli selesai dilakukan. Begitu juga tempat tidur dan beberapa barang penting lainnya. Damar selalu mampu merencanakan sesuatu dengan sangat baik, cepat dan rapih.


Di sebelah lemari baju tersisa beberapa box berisi make up dan perlengkapan pribadiku terlihat masih teronggok diatas lantai, sementara aku sudah merasa sangat lelah saat ini.


Ku dengar suara kak Damar mempersilahkan seseorang untuk masuk ke kamar di sebelahku. Kamar itu aku berikan pada Sugi sesuai janjiku padanya. Sepertinya orang suruhan Sugi sudah datang. Kata kak Damar tadi, Sugi sendiri yang akan mengisi perlengkapan didalamnya termasuk tempat tidur, lemari, meja nakas dan barang-barang perlengkapan dia lainnya.

__ADS_1


Menjelang malam aku merasa terlalu lelah untuk bangun dari tempat tidur. Untung saja tadi ia telah mandi dan mengganti bajunya sebelum rebahan. Kantuknya benar-benar tidak bisa ditahan, sedetik kemudian ia sudah tertidur dengan lelap.


__ADS_2