Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Hubungan terbuka


__ADS_3

Ketika mereka masuk, Dion pun langsung memilih untuk merebahkan badannya diatas ranjang. Sementara Riri dan Damar memutuskan untuk duduk mengobrol di gazebo yang berada di ujung kolam renang.


"Itu siapa tadi dibawah, badannya besar. Anak buahnya Sammy yang ditugaskan untuk menjagamu disini ya??" tanya Damar keheranan


"Iyah kak, tapi semenjak villa ini ramai tugasnya jadi lebih mudah. Dia sudah tidak terlalu ketat mengawasiku seperti awal-awal aku disini"


"Kamu jadi tidak bisa macam-macam lagi hahahaha" ia tergelak


"Aku jadi susah kabur kak hahahaha, untungnya aku menyukainya. Kalau tidak aku pasti akan merasa terkekang"


"Mmm..Calon mertuamu juga sepertinya sudah sangat merestui hubungan kalian. Jadi kayaknya tinggal menunggu waktu aja ya? Tadi kamu sadar nggak? beliau sengaja membicarakan keakrabanmu dengan Sammy secara terbuka. Yahh.. mungkin biar orang-orang tahu kalian sudah sedekat itu" ujar Damar dengan nada serius, ia menatap Riri dengan perasaan bercampur aduk.


"Aku tidak menyangka Adikku yang dulu kecil dan suka membuat onar sekarang sudah berubah menjadi wanita dewasa yang bisa diandalkan" ia mengucek lembut rambutku sambil tersenyum tipis


Aku pun ikut tersenyum mendengar perkataannya. Aku sengaja tidak menjawab pertanyaannya.


"Kalau kakak sendiri gimana sama Gia? Aku yakin kakak memutuskan kembali dan menetap pasti ada hubungannya dengan itu. Ya kan?!" Aku balik bertanya padanya


Damar tersenyum geli "kita sedang membahas hubunganmu. Kok jadinya malah bahas kakak sama Gia?!"


Dahiku berkerut "Aku maunya biar kakak duluan yang menikah, baru aku bisa tenang. Jadi kapan kak? Keburu Gia di samber orang loh. Aku juga nggak rela kak" ujarku bersungut-sungut


"Hahahaha ok gini, aku memang ada niatan kesana, tapi kayaknya Gia masih sibuk sama karirnya. Dia juga sedang bingung harus gimana?"


"Aaaaa... Kakak sudah melamar Gia ya? Cieee... Kok aku nggak dikabarin Gia sih? Awas ya dia!!"


Damar mencubit kecil pipiku "Ihhh belum! Maunya Minggu depan. Aku lagi menyiapkan segalanya. Stttt... Diam-diam yah awas kalau kamu bocorin ke Gia"


"Hahahaha asyikkk... Iya tenang aja kak. Aku akan menutup mulutku rapat-rapat" aku menaikkan tangan didepan bibirku dan membuat gerakan seolah-olah sedang menutup resleting.


Ia lagi-lagi menggeleng sembari tersenyum lebar "Aku yakin dia bersedia, tapi seperti yang aku bilang tadi dia masih asyik dengan pekerjaannya. Aku harus gimana ya?" Damar terlihat bingung


"Biar dia nggak punya pilihan, hamilin aja kak!!" Bisikku sambil menahan tawa


"Hahahaha...dasar!!! Ia menoyor pelan kepalaku "Nggak bisa gitu dong hahaha" ia tergelak


"Hahahaha abis mau gimana lagi? Yah kalian bicarakan saja maunya seperti apa setelah menikah. Kayaknya bisa deh sama-sama jalan. Kakak kan orang yang paling bisa diandalkan, pasti lancar"


"Bisanya nasehatin aku, kamu sendiri juga pasti lagi bingung kan?! Hahaha aku tahu kamu juga sedang seru dengan duniamu yang baru. Kurasa Sammy posisinya sama sepertiku ingin segera melangkah ke jenjang itu, tapi kami juga tidak ingin memaksa kalian. Mengerti kan maksudku?!" Ia menghela napasnya


"Hahahaha yaaaa... Aku mengerti kok"


Ponsel Riri bergetar, nama Sugi sedang melakukan panggilan


"Sudah dimana sayang?" tanyaku padanya


"Sudah di lobby. Kamu dimana? Jemput ya!" Ujarnya dengan nada manja


"Ok, tunggu ya. Aku kesana sekarang"

__ADS_1


"Ok"


Sambungan teleponnya terputus


"Kak, aku mau menjemput Sugi di lobby"


"Kenapa dia nggak langsung kemari aja sendiri, dasar manja hehehe" Damar menggeleng


"Biasanya juga apa-apa sendiri. Sama kamu aja dia jadi begitu. Aku heran sama pak Dirut kesayanganmu itu"


"Hahahaha aku juga heran kak. Dia di kerjaan sama di rumah kayak beda orang"


"Aku ke sana dulu ya, sekalian mau booking massage buat Kakak dan Dion. Mau nggak?"


"Mau dong!" Jawabnya bersemangat


"Sip" Riri pun berlari kecil keluar dari villanya


Di Lobby pak Kanis sedang diajak bergosip oleh staf yang bertugas


"Pak, teman-teman Bu Riri ganteng-ganteng seperti artis ya pak, saya sampai bengong melihatnya. Yang sekarang sedang menunggu juga tidak kalah ganteng dengan yang tadi, bahkan yang ini kharismanya kok luar biasa sekali pak. Saya kayaknya ngefans deh hehehe" ujarnya sambil berbisik


"Saya sukanya yang tadi sih pak, kulitnya coklat, gagah sekali" ujar yang lain sambil menutup mulutnya menahan gemas


"Aku malah suka yang satunya lagi baby face hehehe. Eh Bukannya yang sedang menunggu ini pernah datang beberapa hari lalu ya? Masih ingat kan kalian?" kata seorang lagi


Pak Kanis menggeleng "Sudah-sudah, kalian kalau kerja itu yang fokus. Kalau nanti ada kesalahan, saya tidak akan segan-segan untuk memberikan surat peringatan loh ya. Kalau sampai Bu Riri tahu kalian bergosip di jam kerja pasti kalian akan mendapatkan masalah" sahut pak Kanis tegas kemudian berlalu dari hadapan mereka


Mereka nampak tersenyum kecut mendengar ucapan pak Kanis. Dalam hatinya pak Kanis masih penasaran tentang siapa laki-laki yang sedang menunggu Riri saat ini. Ia masih yakin pernah melihatnya entah dimana.


Riri pun tiba di lobby, ia melihat Sugi telah duduk di sofa menunggu dengan nyaman sambil menatapnya dari kejauhan.


"Selamat siang pak, ada yang bisa saya bantu?" Ujarku sambil duduk disebelahnya


"kok lama?" tanyanya dengan wajah cemberut


"Hehehehe baru juga lima menit, tunggu sebentar ya aku mau booking massage untuk Damar dan Dion. Sayang mau ikut juga?" tanyaku padanya dengan suara pelan saat berada di dekatnya


Ia menggeleng "maunya di pijat sama kamu" Jawabnya dengan wajah penuh harap


"Ok, aku booking buat mereka aja kalau gitu"


Ia mengangguk pelan


Setelah melakukan bookingan melalui kantor depan, Riri pun bergegas mengajak Sugi ke villanya. Mereka berjalan beriringan menuju buggy yang sedang terparkir dibawah.


Tiba-tiba tangan Sugi terselip di pinggangnya


"Hei tanganmu. Aku merasa tidak enak kalau dilihat oleh staf disini" aku berbisik padanya

__ADS_1


"Memangnya kenapa kalau mereka tahu?"


Aku menghentikan langkahku dan menoleh padanya


"Yah maksudku ini kan tempat umum, dan aku sebagai owner rasanya kurang pantas saja untuk dilihat" ucapku pelan


"Owner memangnya nggak boleh punya pacar? Aturan darimana itu? Atau jangan-jangan kamu punya fans ya disini? Siapa? Yang mana orangnya?!" Ia menatapku tajam, ia nampak mulai kesal


Aku balik menatapnya dengan lembut lalu menggeleng


"Kalau tahu begini, aku harusnya tidak datang kemari" ia melepaskan tangannya dari pinggangku dan berbalik badan


Dengan refleks aku menarik kencang lengannya "Hei!!... Mau kemana?"


Langkahnya terhenti "Aku mau pulang!"


"Astaga sayang, kamu kenapa sih?" tanyaku dengan rasa frustasi sembari menghadangnya dari depan. Jarak kami cukup dekat sehingga aku perlu sedikit menengadah untuk melihat wajahnya


"Kenapa pula disini kita juga harus menyembunyikan hubungan kita berdua?!! Aku terus terang kecewa Riri. Kita kan tidak sedang melakukan hubungan terlarang, aku single kamu juga. Terus salahnya dimana?" Ia hampir saja menaikkan volume suaranya


Aku mengusap-usap dadanya berharap bisa mengurangi kekesalannya "Ok, Aku mengerti maksudmu. Baiklah sayang maafkan aku. Aku hanya tidak mau kita menjadi bahan pembicaraan disini"


Ia sedikit menunduk demi melihat wajahku secara jelas "Aku tidak peduli. Dengar ya... mulai sekarang aku tidak akan menahan diri, akan aku biarkan semua orang tahu kau milikku"


Tiba-tiba ia menyentuh hidungku dengan telunjuknya sembari tersenyumm. Aku cukup terkesiap dengan aksinya ini


Ia kemudian membalikkan badanku ke arah tujuan lalu merangkul ku dengan erat sambil sesekali mengelus lembut kepalaku.


"Ini akan menjadi gosip besar di Villa ini... Bersiaplah Riri!!!" aku bergumam dalam hati


Semua staf yang saat ini ada di kantor depan beserta pak Kanis yang sedang berada tidak jauh dari sana terlihat kaget. Mereka terkejut dengan adegan yang baru saja terjadi di depan mata mereka. Mereka tidak menyangka laki-laki yang menunggu tadi ternyata memang benar-benar kekasih Bu Riri.


Pak Kanis akhirnya ingat tentang acara yang pernah ia datangi bersama pak Gilang setahun lalu. Acara gathering Wijaya Grup.


"Iyah benar acara itu!!!..astaga!! dia Dirut Wijaya Grup, putra Bu Rita satu-satunya" teriaknya dalam hati. Ia bergegas kembali menyambangi Kantor depan.


Seperti perkiraannya, mereka memang sedang membicarakan Riri dan putra Bu Rita


"Sttt!!! Ribut-ribut apa sih ini?!! Ini tempat bekerja bukan tempat bergosip. Kalau kalian masih mengobrol, saya berhak untuk menghentikan kontrak kerja kalian"


Mereka langsung terdiam tidak ada yang berani berbicara.


"Hormati tempat kerja kalian, jangan mengotori tempat ini dengan gosip yang tidak penting. Apa yang kalian lihat tadi sebaiknya tidak diperpanjang. Kita hormati kehidupan pribadi Bu Riri. Paham?!" Ujar pak Kanis dengan nada tegas


"Paham pak!" Jawab mereka serempak


"Ok, lanjutkan pekerjaan kalian"


"Iyah pak" sahut mereka lagi secara serempak

__ADS_1


__ADS_2