
Aku meletakkan ponsel diatas meja setelah menghubungi pihak marketing untuk informasi harga sisa unit ruko yang ada di kompleks ini. Mereka ternyata memberikan penawaran harga yang cukup terjangkau. Pikiranku sekarang sedang dipenuhi oleh rencana baru yang membuatku lebih bersemangat.
"Kalau unit disekitar sini terisi, artinya kompleks ini akan lebih ramai. Kalau sudah ramai biasanya orang berpikir dua kali untuk melakukan kejahatan" aku bergumam sendiri
Ponselku berbunyi, kulihat Sugi melakukan panggilan
"Sayang lagi sibuk?" tanyanya dengan suara pelan
"Nggak juga" jawabku sambil bersandar pada sandaran kursi kerjaku
"Orang itu datang lagi nggak?"
"Siapa? Dion atau dua orang laki-laki yang seram itu. Dua-duanya nggak, memangnya pak Jon nggak melapor?" tanyaku balik. Pak Jon yang ku maksud adalah sekuriti yang ditugaskan oleh pak Doni berjaga disini.
"Dia belum melapor, siapa tahu kamu mengancamnya agar tidak jadi melapor hehehe" suara tawanya terdengar nyaring Ditelingaku
"Apa sih? Kayak kurang kerjaan aja!!" sahutku ketus
Tawanya semakin kencang saat mendengar suaraku yang ketus "hahahaha ya sudah aku hanya senang mengganggumu. I love you"
"Eh bentar dulu, nanti kerumah apa nggak?"
"Kenapa? Mau dihujani kasih sayang lagi kayak semalam? Aku siap" ujarnya menggodaku
Pipiku tiba-tiba terasa panas teringat kejadian semalam, ia menc*mbuiku habis-habisan'"
"Ck! Kamu sih, aku takut kalau kita kebablasan. Mana dadaku jadi pegal banget" gerutuku padanya
"Kenapa bisa sampai pegal? Diapain sih semalam ? Hahahaha" tawanya kembali terdengar
"Nggak tahu ah" sahutku kesal
Pak Doni yang sedang menyetir hanya bisa bergidik mendengar ucapan Sugi ini
"Iya Iyah.. maaf sayang, nanti deh aku periksa lagi. Siapa tahu perlu penanganan lebih khusus" ia terdengar seperti sedang menahan tawa
"Idihhhh... Jadi mau kerumah atau nggak?"
"ehm...Aku mungkin pulang malam. Atau bisa saja aku langsung ke rumahmu seperti biasa"
"Kalau begitu aku saja yang kerumahmu. Aku mau membahas sesuatu"
"Membahas apa, Sayang?" Kali ini ia terdengar serius
"Jadi tadi pagi tiba-tiba saja terlintas dipikiranku mengenai keadaan unit Ruko yang sepi di sekitar kompleks ini. Berbeda dengan kompleks Ruko di seberang, padahal kan jaraknya dekat. Semua unit terisi dan hampir semuanya digunakan untuk perkantoran"
"Dan Aku sempat memperhatikan di sekitar sini nggak banyak tempat makan dan cafe. Aku mau menyewa ruko disebelah untuk dijadikan warung makan atau mungkin kedai kopi kekinian. Bagaimana menurutmu?"
__ADS_1
"Hmm..Ide yang cukup bagus, nanti kita bahas ya"
"Ok, sampai nanti sayang"
Aku menutup teleponnya dan meletakkan kembali ponselku di atas meja
Kulihat pak Jon mendekat kearahku
"Bu Riri, saya tinggal sebentar yah untuk makan siang" ujarnya terlihat canggung
"Iyah pak silahkan" jawabku
"Saya sebentar saja kok Bu" katanya lagi seperti merasa tidak enak
"Iyah pak, kan memang sudah waktunya makan siang. Bapak makan siangnya pelan-pelan saja. Tidak usah terburu-buru"
"Terimakasih Bu" ia mundur satu langkah dan berbalik badan, lalu melangkah tergesa-gesa
Dari kejauhan dua orang laki-laki sedang memperhatikan kantor Riri semenjak sejam yang lalu.
"Kita disuruh memperhatikan perempuan itu dan keadaan di sekeliling selama beberapa hari sebelum hari eksekusi" ujar satu laki-laki yang bertubuh besar
"Kita ikuti saja kemauannya. Sepertinya ada Sekuriti baru yang bertugas disini " jawab laki-laki yang lain. Ia bertubuh lebih pendek dengan tato bercorak tribal di lehernya
"Dia baru saja pergi, kemungkinan untuk makan siang. Itu berarti kita memiliki waktu sekitar jam makan siang"
"Tugas ini cukup mudah dilakukan. Tapi kita harus berhati-hati karena perempuan ini kesayangan dari Dirut Wijaya Group"
Dua laki-laki garang tersebut masih melanjutkan pengamatan mereka tanpa sepengetahuan Riri atau pun pak Jon.
Ada sebuah paket baru saja datang. Pak Jon menerima paket tersebut dan langsung menyerahkannya pada Riri
"Bu Riri, ada paket datang"
"Taruh saja di meja pak, terimakasih" jawab Riri menoleh sekilas lalu kembali sibuk dengan pekerjaannya
Pak Jon nampak mengeluarkan ponselnya dan menginformasikannya pada pak Doni
"Pak ada paket baru saja datang dari bapak Dion. Saya belum melihat isinya"
Pak Doni mengernyitkan dahinya saat menerima pesan dari Jon
"Ada apa pak?" tanya Sugi dengan wajah penasaran
"Katanya ada kiriman paket dari pak Dion untuk Bu Riri. Tapi belum tahu apa isinya pak"
"Biarkan saja dulu pak, nanti saya tunggu saja cerita dari Bu Riri" ujarnya Dingin
__ADS_1
"Baik pak"
Pak Doni nampak memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku kemejanya
Sedangkan Riri masih terlihat sibuk dengan teleponnya, ia harus mengecek ulang beberapa item furniture yang belum selesai pengerjaannya. Padahal pengiriman akan dilakukan beberapa hari lagi.
"Pak Maman, pesanan saya gimana ini pak? Kenapa tidak sesuai janji??? Katanya hari ini selesai??" ujar Riri sambil memijit keningnya
"Iyah Bu saya minta maaf. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, bahan yang sesuai permintaan ibu susah sekali dicari. Ini saja kita namanya beruntung Bu, masih bisa menemukannya walaupun waktunya mepet"
"Kalau begitu, kenapa pak Maman tidak mengabarkannya pada saya. Kan saya bisa atur ulang jauh-jauh hari. Kalau begini saya yang repot pak"
"Iyah Bu, saya benar-benar minta maaf. Saya akan memprioritaskan pengerjaan pesanan Ibu. Dua hari saya pastikan selesai"
"Yakin pak itu akan selesai dalam dua hari'? Kalau meleset lagi kantor pusat pasti evaluasi pak. Gara-gara pesanan satu ini saya mungkin harus menunda pengiriman barang-barang saya yang lain juga loh" kataku khawatir
"Saya tahu Bu. Saya berbisnis dengan pak Damar sudah cukup lama jadi saya tahu betul kekhawatiran Bu Riri. Ibu bisa pegang kata-kata saya kali ini. Yakin nggak akan meleset lagi"
"Baik pak, semoga saja begitu. Saya tunggu update-nya besok. Terimakasih pak Maman" ujarnya tegas
"Iyah Bu, besok saya kabarkan lagi. Terimakasih"
Iya memutuskan sambungan teleponnya
Aku menghela napasku. Mataku tertuju pada paket yang diletakkan oleh pak Jon diatas meja beberapa jam yang lalu
"Ini apa sih?" Aku mengambil paket tersebut, kulihat nama Dion tertulis sebagai pengirim
"Ck! Ngapain sih pake ngirim paket segala?" Gumamku malas
Dengan perlahan aku membukanya, ternyata isi paket tersebut adalah Kopi. Dion mengirimkan beberapa bungkus kopi. Ada yang sudah berbentuk bubuk ada juga yang masih dalam bentuk bijian. Di masing-masing bungkusan berisi label nama kopi dan cara menyeduhnya
Ada sebuah kartu yang terselip diantara bungkusan tersebut. Aku membacanya
"Hidup bisa di ibaratkan dengan secangkir kopi. Pahit, namun saat diolah dengan benar ternyata kita masih bisa menikmatinya"
"Thank you Riri for everything"
Aku meletakkan kembali kartu tersebut di tempatnya semula. Aku memutuskan untuk membawa paket ini pada Sugi nanti malam.
Karena hari sudah mulai gelap aku bergegas membereskan meja kerjaku bersiap untuk pulang. Terus terang aku merasa lebih tenang karena kehadiran pak Jon disini.
"Pak saya pulang" ujarku pada pak Jon yang masih menungguku pulang terlebih dahulu.
"Baik Bu, hati-hati dijalan" jawabnya sambil tersenyum
Aku melajukan kendaraanku langsung menuju rumah Sugi.
__ADS_1