Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Makan Siang


__ADS_3

Aku mematikan aplikasi peta di ponselku "saya berhenti di depan pohon besar itu saja Pak. Tempat tinggal saya ada di gang sempit sebelahnya.


"Mmm" Katanya Pak Sugi singkat menuruti ucapanku. Mobil berhenti tepat disebelah pohon besar yang aku arahkan tadi. Kulihat Pak Doni yang mengekor kami sedari tadi menggunakan sepeda motorku juga telah sampai.


"Terimakasih Pak Sugi dan Pak Doni untuk bantuannya malam ini" Kataku cepat. Lalu menggunakan helm dan naik ke atas motorku.


"Baik bu Silahkan" Kata Pak Doni. Pak Sugi hanya mengangguk kearahku tanpa ucapan apa-apa.


Motor melaju dan mulai memasuki gang sempit disebelah pohon besar ini. Tentu saja gang ini bukan tempat tinggalnya sekarang. Tempatnya indekos masih sejauh kurang lebih satu kilometer dari sini. Riri sengaja menyuruh Sugi menurunkan ia disini, agar mereka tidak mengetahui dimana ia tinggal. Riri nampak berhenti di sebuah sudut di dalam gang sempit tersebut dan menunggu sekitar 10 menit sebelum ia kembali ke jalan besar.


"Pak, diam sebentar di sebelah pepohonan ini. Matikan mobilnya setelah kita sampai"


Pak Doni yang menyetir menuruti arahan Sugi. Benar saja beberapa saat, nampak motor Riri keluar dari gang sempit tadi dan berbelok kekanan lalu mengebut dengan kencang.


"Ikuti Pak" Sugi memandang sepeda motor Riri yang melaju dari kejauhan.


Kemampuan Pak Doni menyetir tidak bisa diragukan lagi, apalagi berhubungan dengan urusan membuntuti orang, Pak Doni lah yang paling jago. Sugi memang sengaja diberikan orang berpengalaman hebat seperti Pak Doni oleh ayahnya untuk meringankan segala urusan.


Mata Pak Doni fokus pada motor Riri, ia memberi jarak sekitar beberapa puluh meter dibelakang agar tidak menimbulkan kecurigaan. Motor Riri akhirnya berhenti di suatu Gang yang lebih besar, tapi mobil tidak bisa masuk gang tersebut. Dengan cepat ia turun lalu lari mengikuti motor Riri yang baru saja masuk. Beberapa saat kemudian Pak Doni kembali dan masuk kedalam mobil.


"Kita pulang saja Pak" sugi berkata sambil memperhatikan lingkungan sekitar. Mobil melaju dengan perlahan di kesunyian malam.


"Kenapa dia menyembunyikan tempat tinggalnya padaku?! Kenapa dia memilih tinggal di tempat jauh dan sunyi seperti ini?" Sugi masih penasaran dengan ini semua.


"Rupanya Pak Sugi memang mulai menyukai Bu Riri, lihat saja wajahnya sekarang dipenuhi dengan banyak pertanyaan mengenai Bu Riri" Pak Doni melirik sekilas dari arah spion tengah kearah Sugi yang sedang termenung memandangi jalanan.


"Tadi di restauran ketika aku sampaikan bu Riri sedang pusing, seketika wajahnya berubah khawatir dan memutuskan untuk mengantar bu Riri pulang. Hal itu diluar dugaanku sama sekali" Pak Doni bergumam dalam hatinya, ujung bibirnya menyunggingkan senyuman.


______________


Hari berlalu dengan cepat, aku yang sedang sibuk dikagetkan oleh Gia yang berbisik di telingaku "makan yuk say, biar nggak cepet mati!!"


Tentu saja aku terperanjat sampai badanku menegang "duh Gia!!" Aku berteriak tertahan.


Gia yang melihatku terkejut hanya terkekeh "hehehehe! Yuk,..." Ajaknya lagi sambil menarik tanganku


"Iyhaaa!! " dengan malas aku merapikan mejaku dan mengikuti Gia keluar dari kantor.


"Eh kita coba restaurant didepan yuk, tempat kerja keduamu itu loh" Gia berbisik menyenggol lenganku


"Yakin?! Aku sih ada voucher makan tapi kamu gimana? Lumayan loh harganya" Aku menoleh kearahnya dengan wajah khawatir

__ADS_1


"Ahhh gampang itu" Gia tersenyum mendorongku menuju restauran Eat and love


Mereka berdua mencari tempat dibelakang, dengan pemandangan pantai nya yang indah dan suasana yang sepi. Pak Doni sedang lewat ketika melihat bu Riri dan seorang temannya masuk ke dalam Restauran.


"Pak Sugi, ada bu Riri dan temannya makan di belakang" Bisik pak Doni pada Sugi yang sedang berada di kitchen.


"Mmm" Jawabnya kemudian keluar dari kitchen dengan langkah santai menuju meja di belakang.


Wajah Gia nampak terpana seperti melihat seseorang yang terkenal dari arah belakang dimana aku duduk. Aku ikut menoleh kearah pandangan Gia, aku melihat pak Sugi menuju. Meja kami. "Itu manager di sini Gia, namanya pak Sugi' bisikku


"Ganteng banget Ri, masih muda, kok kamu nggak pernah bilang dia seganteng ini. Single nggak? " Bisiknya dengan cepat


"Aku nggak tahu" Jawabku santai


"Hah?!" Wajah Gia seperti tidak percaya ucapanku


"Selamat siang bu Riri" Sapa pak Sugi ketika telah sampai dimeja kami


"Siang Pak" Aku berdiri "Saya mau makan siang disini pak, perkenalkan ini teman sekantor saya namanya Gia" Aku memperkenalkan Gia pada Sugi


"Saya Gia" Ujar Gia Ikut berdiri sembari mengulurkan tangan pada Sugi dengan senyuman lebar.


"Bu Riri bisa bicara sebentar" Kata Sugi padaku "sebentar yah Bu Gia" Lanjutnya lagi sambil menoleh pada Gia


"Oh ya silahkan Pak" Senyuman Gia masih selebar tadi.


Aku mengekor pada Sugi sampai di suatu sudut restauran


"Bu Riri sudah baikan? " Tanyanya dengan mata tajam


Aku menghindari tatapan matanya "Sudah Pak, semalam saya minum obat pusing dan hari ini sudah lebih baik"


"Bagus, sebentar lagi saya akan bertemu dengan Ibu Denise dari majalah Best Taste. Yang saya dengar, katanya susah sekali untuk masuk majalahnya yah?! "


"Benar Pak, mereka memiliki standar tertentu. Tidak semua bisa beriklan di majalah mereka. Sekalipun orang mau bayar mahal"


"Kenapa mereka akhirnya mau datang kemari?!"


"Saya punya hubungan lumayan baik dengan editornya Pak, saya hanya bilang silahkan berkunjung kalau sedang berada disini. Selain itu mungkin saja mereka sudah mendengar reputasi restauran ini. Biasanya informasi tentang hotel, villa,restauran yang bagus itu dari mulut ke mulut diantara orang media pak, cepat sekali pertukaran informasinya. Kalau satu orang mengatakan tempatnya bagus, sudah pasti akan tersebar pada yang lain" Aku berkata dengan nada meyakinkan


"Terimakasih yah Bu Riri, sudah membantu saya lumayan banyak"

__ADS_1


"Dengan senang hati pak, sudah kewajiban staf yang di kontrak pak hehehe" Aku terkekeh mendengar ucapan iseng ku sendiri dan kemudian terdiam, aku seperti sadar salah bicara.


Melihat aku yang tiba-tiba diam setelah tertawa kecil tadi Sugi jadi tersenyum "ok" Katanya kemudian.


"Ehmm" Aku berdehem menghilangkan rasa kikuk ku sendiri "ada lagi pak?! Saya mau makan siang dulu"


Sugi menggeleng, "silahkan" Katanya, matanya masih melekat padaku. Aku memalingkan wajahku "kenapa jantungku jadi berdebar begini?!" Tanganku meremas celana panjang yang aku pakai.


Aku kembali kemeja dengan perasaan aneh.


"Cie yang diajakin mojok sama pak bos" Goda Gia padaku yang baru saja kembali


Aku hanya tersenyum sambil mencubit kecil lengannya


"Dia manager apa owner sih? Kok kayak owner?" Tanya Gia, satu tangan menopang dagunya diatas meja.


"Entahlah, dia bilang manager. Masa aku harus nanya lagi"


"Ihh kamu ri apa-apa nggak tahu. Tapi yah aku kayak pernah ngeliat dia dimana gitu. Di acara teman, atau foto di majalah ya? Dimana yah? Wajahnya kayak nggak asing buat aku"


Aku menaikkan bahuku "Perasaanmu aja kali, atau mungkin ada kenalan yang mirip sama dia"


"Bisa jadi"


Aku memperhatikan lengannya yang nampak biru "itu kenapa?" Aku menunjuk ke arah lengannya


Gia terkejut dan menutup lengannya dengan ujung baju "kesenggol gagang pintu dirumah" Katanya dengan gelisah.


"Gia aku cuek- cuek gini, sering memperhatikan sekitarku loh. Beberapa hari lalu aku juga ngeliat warna biru itu di pipi kamu. Kamu tutupin pake make up kan? Tapi aku masih diem karena takut kamu tersinggung. Tapi ini di lengan begini aku yakin yang melakukan orang terdekat" Mataku menatap Gia yang menunduk didepanku


"Kalau kamu belum mau bilang sekarang, aku nggak masalah. Tapi kalau kamu merasa perlu bantuan, beri tahu aku. Kita selesaikan bareng-bareng. Aku nggak mau orang baik yang aku kenal disia-siakan begini. Kamu berhak mendapat orang yang lebih baik Gia"


"Aku ngerti Ri, sori aku belum bisa cerita. Orangnya sih katanya mau berubah, dia nggak sengaja ri, yah karena emosi aja"


Aku menghela napasku "kalau dia memang sayang, dia nggak akan nyakitin kamu kayak gini. Ini sudah keterlaluan" Aku menatap Gia tajam


"Aku tau ri" Gia bangun dari tempat duduknya dan memeluk Riri dengan erat "makasih yah ri, kalau aku sudah nggak mampu aku kasih tahu kamu deh"


Aku hanya bisa melengos melihat Gia seperti ini. Makanan pun datang, Gia kembali ke tempat duduknya, kami menikmati makan siang dalam diam.


"Wah..wah..wahh!!! Pegawai biasa bisa makan disini juga rupanya!!" Suara cempreng Suci tiba-tiba terdengar dibelakangku

__ADS_1


__ADS_2