Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Terharu


__ADS_3

"hmm Tan eh Bu...mmm...saya panggil Bu saja boleh?" Tanya Damar dengan ragu sambil meminggirkan piring dan mangkoknya usai makan.


"Hahahaha apa sih Damar kok bingung begitu. Iya panggil Bu Ina saja. Tidak usah formal begitu" ia terkekeh melihat wajah Damar yang bingung


"Eee.. Aku benar-benar kaget waktu melihat wajah Bu Ina tadi di video Tari. Kok seperti pernah melihat Ibu tapi aku lupa dimana" Damar mengernyit dahinya


"Iyah kita pernah bertemu, kalau tidak salah saat kamu masih kelas lima atau kelas empat di sekolah dasar. Waktu itu aku pengin sekali bertemu dengan mba Lily. Aku dengar kamu bersekolah di sekolah itu, jadi aku berkunjung kesana beberapa kali. Dengan harapan bisa bertemu dengannya. Kamu pasti lupa, aku memberikanmu banyak oleh-oleh setiap kali datang berkunjung" Ia terdiam cukup lama seperti menahan diri agar tidak menangis


Riri dan Damar nampak mendengarkan dengan serius


"Kakek kalian memiliki dua istri, kalian tahu siapa kakek kalian?"


Kami berdua menggeleng pelan


"Ibu tidak pernah bercerita banyak tentang kakek dan daerah kelahirannya. Yang aku ingat itu sedikit tentang nenek. Nenek meninggal saat aku masih berumur 5 tahun kalau tidak salah" ujar Damar sambil mengingat-ingat


"Kakek kalian adalah wakil walikota kota ini, Bapak Wiratama"


Riri dan Damar saling memandang dengan wajah kaget luar biasa.


"Beliau juga telah meninggal setahun lalu dengan penyesalan luar biasa pada istri pertamanya yaitu nenek kalian Ibu Saskara. Kakek sepanjang hidupnya sebenarnya hanya mencintai nenek kalian. Hanya karena nafsu sesaat semuanya jadi berakhir kacau"


"Kakek kalian sudah melakukan kesalahan besar yang seumur hidup tidak termaafkan oleh nenek. karena sudah berbagi cinta dengan Ibuku. Karena Kakek pejabat pemerintah jadi hal ini di sembunyikan, tidak ada status untuk ibuku waktu itu. Tapi ibuku cukup tahu diri, tidak menuntut apa-apa"


"Dulu Kami sempat tinggal bersama dan hubunganku dengan Ibu kalian sangat baik seperti saudara kandung. Walaupun usia kami terpaut dua belas tahun tapi Ia sangat menyayangiku seperti adik kandungnya sendiri.


Ibu Alina memandang keluar balkon sambil mengerjapkan mata dan menghela napas kembali.


"Satu waktu terjadi pertengkaran hebat antara nenek dan kakek kalian. Nenek kalian memutuskan pergi dari rumah membawa serta mba Lily dan tinggal jauh dari kami. Semenjak itulah hubunganku dengan Ibu kalian putus sama sekali. Aku sangat sayang padanya, aku mengingatnya sebagai kakak yang baik hati dan penyabar. Setiap kali aku berkunjung ke sekolah Damar, ia pasti akan buru-buru pergi tanpa mau berbicara denganku. Aku cukup sedih dengan perubahannya itu, tapi aku mengerti dengan sikapnya. Ia mungkin lebih memilih memihak dan menjaga perasaan ibunya. Pasti berat untuk nenek kalian menjalani hari dengan ingatan kalau suaminya mencintai perempuan lain"


Bu Alina menghela napasnya


"Kakek kalian juga sudah pernah berkali-kali datang kerumah kalian untuk berkunjung menjenguk cucu yang tidak pernah beliau temui tapi di tolak oleh ibu kalian. Sampai di akhir hidupnya, beliau tetap menunggu kunjungan mba Lily dan kalian berdua sebagai cucunya. Tapi itu tidak pernah terjadi"


Riri mengelus punggung Bu Alina yang tiba-tiba terisak, air matanya deras mengalir di kedua pipinya. Riri kemudian menyerahkan sehelai tisu pada Bu Alina. Dengan perlahan ia menghapus air matanya. Setelah agak tenang ia mulai kembali bercerita.

__ADS_1


"Kemudian aku mendengar ibu dan ayah kalian meninggal karena kecelakaan, aku benar-benar terpukul saat itu. Padahal aku masih berharap waktu akan memberikan kami kesempatan untuk rukun seperti dulu kala, tapi kenyataan berkata lain. Waktu itu aku sempat datang kesana berniat untuk menemui kalian, tapi paman dan bibimu tidak mengijinkan. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi setelah itu"


"Apa Bu Ina sempat mendengar berita kalau aku hilang di pendakian?" Tanya Damar


"Iyah aku sempat membaca beritanya di media masa, tapi entah kenapa aku yakin kamu masih hidup Damar" Bu Alina tersenyum


"Aku juga yakin, penyebab meninggalnya orang tua kalian itu tidak murni kecelakaan. Aku sudah mendengar banyak gosip buruk tentang kelakuan paman dan bibi kalian. Sekarang pun aku masih mengikuti informasi tentang mereka. Usaha yang dulu didirikan oleh kakek dan diteruskan oleh ayah kalian hingga sukses, ternyata di tangan mereka jadi kacau balau" lanjut Bu Alina dengan senyuman sinis menghiasi sudut bibirnya


"Kami berniat melelang saham yang diwariskan orang tua kami Bu"


"Langkah yang bagus, karena dari informasi yang beredar sebentar lagi perusahaan itu akan jatuh"


"Tapi mungkin harga jual saham itu nanti sudah tidak akan tinggi lagi" Kata Damar


"Sudah pasti begitu, tidak apa-apa daripada semakin merugi Damar"


Damar menganggukkan kepalanya


"Bu Ina senang akhirnya bisa bertemu kalian hari ini. Mungkin pertemuan ini sudah takdir" tangannya mengembang bersiap memeluk kami


"Aku senang Bu, ternyata kami masih memiliki keluarga dekat dan baik seperti Bu Ina" ujar Riri terharu


"Iyah ternyata ponakanku dua-duanya baik dan sopan. Bu Ina sangat bersyukur, orang tua kalian mendidik kalian dengan sangat baik"


Bu Alina meregangkan pelukannya


"Kapan kalian senggang main-mainlah kerumah, ini alamatnya" Bu Alina menulis alamat rumahnya pada secarik kertas yang ia ambil dari dalam tasnya


"Iyah kami pasti akan berkunjung kesana" sahut Damar sambil menoleh pada Riri terlihat senang


"Tapi telepon dulu yah, Bu Ina kan nggak selalu ada dirumah. Pamanmu pasti akan senang sekali mendengar kabar ini"


"Baik Bu" sahut Damar dan Riri hampir berbarengan


"Sepertinya aku akan sering-sering berkunjung untuk mengobrol dengan paman. Aku ingin sekali mendengar masukannya dalam berbisnis. Paman orang yang sangat hebat yah Bu, aku sempat membaca kisah bisnisnya di majalah elit"

__ADS_1


"Ah jangan berlebihan, berbisnis itu sudah pasti ada untung ruginya. Kita harus selalu bisa memahami bahwa sesuatu bisa terjadi karena ada proses. Dan prosesnya menuju berhasil itu duhh!!! Perjuangannya berat. Aku yakin pamanmu pasti akan sangat bersemangat untuk menceritakannya padamu"


"Mungkin ini yang dinamakan senang dan susah itu berdampingan. Ada kalanya kita mendapatkan kesusahan dan cobaan dalam hidup tapi kita juga harus yakin pasti ada hal-hal baik menanti di kemudian hari. Tak henti-hentinya aku bersyukur untuk kebahagiaanku kini" gumam Riri dalam hatinya


"Oh iya untuk pesanan mobil kalian tadi, tidak usah dibayar. Bu Ina kasih ke kalian sebagai hadiah. DPnya nanti dikembalikan" sahut Bu Alina sambil tersenyum


"Yang benar Bu?" kami jadi tidak enak" sahutku pelan


"Iyah kami bayar seperti biasa saja Bu. Namanya bisnis kalau begini kan paman bisa rugi. Apalagi sama saudara sendiri justru harus lebih profesional" Damar menimpali


"Nggak enak gimana? dikasih hadiah kok nggak enak. Udah terima saja, nggak usah menolak. Anggap saja ini hadiah dari kakek kalian yang tidak pernah kalian terima sedari kecil sampai sekarang"


Riri dan Damar mengangguk pertanda setuju setelah mendengar ucapan Bu Alina


"Terus siang sampai sore ini kalian ada rencana apa?" Bu Alina terlihat mengambil tasnya dan berdiri bersiap untuk pulang


"Aku ada janji bertemu supplier baru Bu"


"Oh gitu, kalau Riri?"


"Aku sebenarnya hari ini nggak ada acara apa-apa Bu, memang berniat jalan-jalan"


"Kalau begitu ikut aku aja, jemput adikmu di sekolah. Yang kamu sempat selamatkan waktu itu loh namanya Arya, sekarang kelas satu di sekolah menengah. Kakaknya laki-laki juga sedang kuliah di luar negeri namanya Bagas"


"Wah iya, aku jadi punya adik" kataku sambil nyengir merasa senang


"Palingan juga kamu jadi yang paling kecil diantara kami hahahaha" ujar Damar mengejekku karena ukuran tubuhku yang mungil


"Ihhh biarin, tetap aja umurku diatas mereka. Akhirnya ada yang memanggilku kakak Yayy!!" aku menjulurkan lidahku pada Damar


"Kamu anak tetangga yah?! kok tingginya beda sendiri?" ledeknya lagi pada Riri


"Tuh dengar Bu Ina, kak Damar gitu tuh" sungutku


Bu Alina hanya menggeleng sambil tersenyum melihat keakraban kakak adik di hadapannya ini

__ADS_1


__ADS_2