Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Perdebatan aneh


__ADS_3

"Loh Silvi sudah disini, kok nggak ikutan kelas Yoganya?" ujar Bu Rita saat melihat Silvi duduk termangu sendirian di Restauran. Di depannya nampak semangkuk bubur ayam yang masih utuh dengan kuahnya yang masih panas mengeluarkan asap


Mendengar suara Bu Rita wajah Silvi terlihat kaget tersadar dari lamunannya


"Eh pagi Tante Rita. Iyah Tan, tadi waktu bangun tidur kepalaku pusing, jadi batal deh ikut kelas Yoganya. Tante sudah sarapan?" tanyanya pada Bu Rita


"Sudah tadi di restauran bawah sama ibu-ibu yang lain. Tante kan memang nggak begitu banyak sarapannya. Paling jus sama sedikit roti. Eh wajahmu kok pucat? kamu baik-baik aja kan?" kata Bu Rita sambil memperhatikan wajah Silvi, ia sempat mencuri pandang ke arah mejanya. Ia melihat ada beberapa potong jeruk nipis yang hanya tinggal kulit dan ampasnya saja di samping mangkuk bubur pesanan Silvi.


"Masa Tan? Cuacanya dingin semalam, mungkin karena kondisiku juga lagi nggak fit aku jadi kayak masuk angin"


"Itu kuah bubur pakai jeruk nipis? Nggak asem ya? Mana banyak lagi. Awas loh pagi-pagi begini makan yang asem-asem lambungmu bisa kaget malah jadi naik asam lambungnya" ujar Bu Rita khawatir


Silvi terlihat gelisah "Hehehe Iyah Tan, kebiasaan. Untungnya masih aman sih sampai sekarang"


"Ya sudah Tante mau ke kamar dulu. Tadi iseng keliling eh sampai disini malah melihat kamu lagi bengong"


"Aku lagi menikmati ketenangan alam disini, bagus yah Tan tempatnya. Nyaman"


"Iyah enak banget disini, serasa tinggal di rumah sendiri. Kamu tahu kan perasaan ketika kita pulang kampung ke pedesaan yang asri, sejuk dan tenang. Itu yang Tante rasakan sekarang"


Silvi hanya tersenyum mendengar ucapan Bu Rita


"Habis sarapan sebaiknya berisitirahat dulu di villamu, siapa tahu nanti bisa pulih seperti biasa"


"Iyah Tan, abis ini aku balik deh ke kamar"


"Ok Silvi Tante pergi dulu"


"Iyah Tan"


Silvi memandangi punggung Bu Rita yang kian menjauh. Ia cepat-cepat mengeluarkan ponselnya dari kantong celana panjangnya. Ia mengetik pesan singkat untuk Hadi


"Aku sepertinya tahu dimana wanita kesayanganmu berada selama ini"


Ia segera menekan tanda kirim dan meletakkan kembali ponselnya di atas meja. Kemudian mulai menyantap buburnya dengan bersemangat. Dua suapan meluncur sempurna turun melewati tenggorokannya.


"Bubur ini rasanya begitu sempurna, aku memang tidak salah pilih" gumamnya dalam hati


Namun tiba-tiba saja rasa mual itu muncul kembali. Bubur yang sudah berhasil masuk rupanya kini sudah berada di uluhatinya mendesak untuk di muntahkan kembali. Dengan terburu-buru ia berlari ke toilet. Beruntung Bu Rita sudah pergi sejak tadi, kalau tidak mungkin ia harus menghadapi berbagai macam pertanyaan mengenai hal ini.


Sementara itu Riri saat ini sedang berada di meja makan. Ia sarapan sambil memeriksa email yang masuk ke akunnya. Sesekali ia nampak menyesap kopi yang sudah tinggal separuh di cangkir putihnya, roti panggangnya pun hanya tinggal dua gigitan saja.


"Wuihhh pagi-pagi owner villa udah sibuk banget kayaknya nih!! Suara Damar terdengar nyaring dibelakangku


"CK! Rutinitas setiap hari kak. Kan kerjaanku memang begini tiap pagi. Ngecek laporan penjualan warung, laporan kantor DnW terus baru urusan villa" jawabku tanpa menoleh kearahnya


"Cepat kaya nih kita hahahaha" canda Damar sambil terbahak. Ia pun duduk di sebelahku lalu menyambar sisa roti panggang di piring


"Hahahaha oh pasti itu hahahaha... " Ujar Riri ikut tergelak


"Kok aku nggak dibuatin roti sama kopi sih? Aku juga mau sarapan Tari" Ia memasang wajah cemberut


"Aku kan nggak tahu kamu bangun jam berapa? Buat sendiri aja sana" aku masih belum menoleh ke arahnya


Ia melempar gumpalan tisu ke arahku "pluk!" Tisunya mengenai kepalaku


"Tari......" Ujarnya manja, kini kepalanya rebah diatas meja.


"Aku merasa lemas, kayak nggak punya tenaga. Tolong aku Tari...aku lemahh..." ia kembali mendramatisir keadaannya


Aku menggeleng "Duh... ganggu kerjaan aku aja" Gerutuku sambil beranjak untuk membuatkannya sarapan.


"Hehehehe horeee Bu owner kita memang hebat dan baik hati" Damar tertawa geli


Saat sedang sibuk di dapur kudengar seseorang membuka gerbang di depan dan memasukkan mobilnya dengan suara knalpot yang keras. Tadi pagi Riri sengaja membuka kunci pintu gerbangnya pagi-pagi setelah bangun tidur karena kemungkinan besar Sugi akan datang untuk sarapan disini seperti kebiasaannya setiap ia pulang kemari.


"Itu siapa kak?" Aku menoleh ke arah Damar


"Entahlah, coba kulihat" ia berdiri dan mengintip dari jendela "mobil merah... sepertinya aku tahu mobil ini" ujarnya


Dahiku berkerut mendengar jawaban Damar "Merah mengkilat ya? Ck!! Kamu suruh dia datang jam berapa sih!!? Kenapa dia malah datangnya pagi-pagi!! Kayak kurang kerjaan aja!!!" Aku mengomel menahan kesal karena sudah mengetahui siapa yang datang.


"Cieee... segitu hapalnya sama pacar kedua hahahaha... tetep yah usahanya luar biasa. Disuruh datang sore eh!! nongolnya pagi. Luar biasa!!!" Damar tergelak sambil melangkah keluar rumah menyambut kedatangan Dion

__ADS_1


"Dion!!!" Terdengar teriakan Damar di depan


"Hahahaha" aku kemudian mendengar suara tawa menyebalkan itu lagi. Tawa khas seorang Dion yang sudah lama sekali tidak pernah mengganggunya lagi.


Mereka tertawa-tawa bersenda gurau di depan, suaranya terdengar semakin mendekat. Aku berkacak pinggang sambil memperhatikan pintu masuk dengan wajah dingin.


Senyum Dion mengembang "Hi Riri, am back!!!" Ia tersenyum lebar


"Kenapa kemari pagi-pagi sekali?" tanyaku dengan ketus lalu membelakanginya melanjutkan kesibukanku


Di belakang Dion menahan tawanya bersama Damar


"Oh aku salah waktu ya? Malahan aku pikir ini sudah terlambat. Di pesannya kak Damar menyebut jam empat, ini kan sudah hampir setengah delapan" ujarnya masih sambil menahan tawa


"Terserah deh!" jawabku malas menanggapinya


"Masih judes aja ya?!" Bisiknya pada Damar sambil tersenyum lebar


"Masih lah"


Mereka pun kemudian duduk di meja makan.


"Oh iya aku membawa oleh-oleh loh buat Riri yang paling manis" Dion berkata lalu berdiri menghampiri Riri


"Nih kopi buat kamu, produk terbaik yang aku punya" ia meletakkan tiga bungkusan kertas besar berwarna coklat di sebelah mesin pembuat kopi yang letaknya tak jauh dari Riri berdiri


"Ok, thank you ya" jawabku datar "kamu duduk disana aja dulu sama kakak"


"Tapi aku dibuatkan kopi dan roti juga kan?" Ujarnya penuh harap


"Iyah, duduk aja disana" sahutku malas


"Yesss!!! terimakasih say... Eh Riri hahahaha" ia lari terbirit-birit kembali ke meja makan. Damar hanya menggeleng dan tertawa geli melihat kelakuan Dion


"Awas loh di omelin Riri, jangan aneh-aneh Dion" bisik Damar


"Hehehehe" Dion cengengesan


Suara hentakan keras khas kaki Sugi terdengar sampai ke dalam rumah. Pak Doni seperti biasa mengekor padanya


"Pagi!" Sapa Sugi ketika masuk ke dalam rumah "Mobil norak siapa itu parkir di depan?" ujarnya dengan wajah datar


Riri melambai padanya "pagi sayang" sapa Riri kemudian melanjutkan kembali kesibukannya


Sugi tersenyum lalu mengalihkan pandangannya ke arah meja makan, dilihatnya Wajah Dion yang sedang cemberut, dan sedangkan Damar nampak tertawa kencang "hahahahaha"


"Pagi Sam!" Jawabnya disela-sela tawanya


"Oh ada tamu, kapan kembali Dion?" tanyanya lalu ikut duduk disebelahnya.


"Sudah seminggu pak"


"Ada apa kemari?" tanyanya tanpa basa basi


"Mmmm...saya.."


"Dia numpang sarapan disini, aku yang mengundangnya Sam" potong Damar dengan cepat, karena merasa Dion kebingungan menjawab pertanyaan itu


"Ohh" Sugi mengangguk-angguk


"Hahahaha kalian berdua kenapa sih masih aja kaku kayak kanebo kering" canda Damar


Sugi melirik tajam pada Damar lalu memalingkan wajahnya ke arah Riri. Riri terlihat sedang sibuk mempersiapkan sarapan untuk mereka semua, dibantu oleh pak Doni.


"Tolong bawa Roti ini aja dulu pak" Ujar Riri kemudian menata beberapa cangkir kopi ke atas nampan kayunya. Riri pun bergegas membawanya ke meja makan.


"Terimakasih Tari", "Terimakasih Riri", Terimakasih Bu Riri", Thanks honey" ujar mereka bergantian saat cangkir kopi kusuguhkan di hadapan mereka masing-masing


Riri tiba-tiba dengan sengaja mengecup pipi Sugi di depan semua orang. Seperti memberikan isyarat pada Dion kalau dia hanya milik Sugi seorang dan hal itu otomatis akan membuat Sugi menjadi lebih tenang. Ia lalu ikut duduk disebelahnya dengan posisi duduk yang agak rapat dengannya. Sesekali Riri mengusap-usap paha Sugi di bawah meja dengan lembut.


Sugi tanpa sadar tersenyum lembut pada Riri, senyum itu membuat Damar dan pak Doni saling pandang. Mereka menggeleng keheranan melihat tingkahnya yang kekanakan di depan Riri


"Krek!!" Bisik Dion pada Damar

__ADS_1


Damar menurunkan cangkir kopinya usai menghirupnya sesekali "apaan krek!"


"Bunyi hatiku yang patah kak" bisiknya lagi dengan wajah sedih


"Kasihan hehehehe" ia menutup mulutnya sendiri dengan tangan


"Dion, Ku dengar bisnis ekspor kopinya sukses besar ya?" tanya Sugi sambil mengambil sepotong kecil roti panggang dengan selai cokelat dari atas piring


"Iyah pak, lumayanlah untuk pendatang baru" jawabnya tiba-tiba merendah


"Ck! Keren Dion! Saya salut. Semoga makin besar dan berjaya" Ia mengacungkan ibu jarinya pada Dion


"Terimakasih pak" ujarnya lalu tersenyum malu-malu. Ada perasaan bangga dan hangat menyelimuti dadanya karena mendapatkan pengakuan yang ia tidak sangka-sangka dari pentolan keluarga Wijaya.


Setelah pergi menjauh dan bertemu banyak orang untuk bisnisnya ia mendapatkan begitu banyak pengalaman. Dion juga baru menyadari betapa besar dan baiknya image keluarga Wijaya diluaran sana. Menurut informasi yang ia dengar selain kesusksesan bisnis perhotelannya, diam-diam keluarga Wijaya ternyata juga memiliki beberapa sekolah dasar di daerah-daerah terpencil untuk menampung anak-anak yang tidak mampu agar bisa bersekolah dengan layak. Namun mereka tidak pernah mempublikasikan hal tersebut di media masa, sehingga tidak pernah ada pemberitaan mengenai hal tersebut. Semenjak saat itu ia menyimpan perasaan kagum pada keluarga Wijaya.


Selama beberapa bulan saat ia melakukan perjalanan dari pelosok ke pelosok negeri, ia pun akhirnya bisa melihat sendiri bagaimana kopi-kopi terbaik yang ia ekspor di budidayakan dan dipanen. Hatinya pun merasa terenyuh dan malu pada dirinya sendiri saat melihat kehidupan sederhana para petani di desa-desa kecil. Dari perjalanannya itu ia juga secara tidak sengaja menemukan salah satu sekolah dasar yang didirikan oleh keluarga Wijaya. Sekolah itu ternyata menjadi harapan besar bagi warga desa di sekitarnya untuk kehidupan yang lebih baik untuk anak-anak mereka. Hal inilah yang kemudian membuat pola pikirnya selama ini berubah sedikit demi sedikit.


"Kok kamu tahu, Sam?" tanya Damar keheranan "Jangan-jangan kamu menyewa informan untuk membuntuti Dion ya? Hahahaha"


"Kamu pasti nggak pernah baca berita tentang pengusaha lokal ya? Profilnya kan masuk media besar sebulan lalu"


" Oh yah?!" Damar terlihat kaget begitu pula dengan Dion


"Masa pak? Kok saya nggak tahu" Dion tersenyum penasaran, ia tiba-tiba merasa bersemangat


"Nanti saya kasih link beritanya"


"Thanks pak" jawab Dion dengan wajah bersinar


"Berita tentang aku nggak ada ya?" tanya Damar iseng


"Ada... kalau tidak salah yang aku baca katanya Rio pengusaha muda ternyata memiliki groupies laki-laki di luar negeri. Dia kan dulu beberapa kali dikejar-kejar penyuka sesama jenis waktu kuliah. Sampai harus lapor polisi" ungkap Sugi dengan wajah datarnya


Semua orang nampak saling pandang, sedetik kemudian semua lalu heboh tertawa mendengar cerita Sugi


Wajah Damar berubah kesal "Groupies apaan!!!??" Protesnya sambil menggulung tisu dan melemparkannya pada Sugi


"Hahahaha Masa sih? Kok Kakak nggak pernah cerita?" Ujar Riri sambil tergelak


"Haduh itu cerita horor, nggak usah dibahas!" Ia menggerutu sembari mengunyah rotinya


"Iyah dia nggak pernah cerita, katanya biar menjadi kenangan indah untuk dirinya sendiri" sahut Sugi menahan tawa


"Eh yang benar dong!! Awas loh ya.. padahal dia yang sering iseng nyapa-nyapa transgender disana" sahut Damar tak mau kalah


"Grrrrrrr.." tawa yang lainnya semakin tak terkendali. Suara tawa tak ada habisnya terdengar dari meja makan.


"Tapi yang ngajak ngobrol lama kan kamu" jawab Sugi dengan wajah tak bersalah


Makin lama perdebatan tidak penting dua orang laki-laki ini makin seru dan tambah lucu untuk di dengar. Sungguh sarapan yang menyenangkan pagi ini.


Usai sarapan perdebatan aneh ini akhirnya berakhir.


"Aku ke kantor dulu ya sayang. Nanti sore mudah-mudahan aku bisa datang lebih awal" Sugi mengecup pipi Riri


"Ok" jawab Riri sambil tersenyum


"Eh kita ke kantor bareng kan kak? Nanti pulangnya kita belanja bareng ya!" Tanya Riri pada Damar


"Iyah pokoknya ke kantor dulu, aku ada urusan siang ini"


"Siap kak"


"Aku boleh ikut ke kantor kalian nggak? Sekalian bantuin belanja" kata Dion


Damar bangkit dari duduknya "Boleh, mobilmu tinggal aja di sini"


Dion mengangguk


"Jaga jarak" bisik Sugi pada Riri


"Aku tahu" jawab Riri sambil mengantarnya ke depan

__ADS_1


__ADS_2