
Gatot berdiri dihadapan Pak Doni dengan berkacak pinggang
"Sudah lama sekali kita tidak pernah bertemu, pak Tua. Apa kabarmu? kelihatannya atasanmu disana memperlakukanmu dengan baik" ia memandangi pak Doni dengan senyumnya yang lebar. Ada kelegaan di sorot matanya saat melihat pak Doni saat ini masih gagah. Bahkan jadi lebih perlente dari ingatan masa lalunya.
"Aku baik, setelah apa yang terjadi waktu itu. Aku sangat bersyukur diberi kesempatan kedua dan bisa hidup dengan layak" pak Doni menyunggingkan senyuman
"Aku senang mendengarnya. Beruntung sekali nasibmu kawan" ia memeluknya dengan erat
Pak Doni menepuk-nepuk punggung kawan lamanya ini "Aku ikut senang kamu tak lagi melakukan hal-hal berbahaya itu"
Mereka melepaskan diri dan duduk di kursi yang ada di sudut tempat itu.
"Hahahahaha semenjak kejadian kita yang hampir mati itu, aku juga memiliki semacam janji terakhir. Saat itu aku berjanji, kalau aku selamat aku akan berhenti menjadi pembunuh dan tukang pukul bayaran. Dan benarlah aku diberikan kesempatan lagi, ya... aku pergunakan saja walaupun masih melakukan sedikit kegiatan ilegal Hahahahaha" tawanya menggelegar
Pak Doni ikut tertawa sambil menggeleng
"Kamu pasti sangat setia pada atasanmu itu ya? Aku nggak heran Don. Seharusnya kita membunuhnya, tapi ternyata demi uang rencana kita di bocorkan oleh si Ali beg* itu. Alhasil semuanya jadi kacau"
Pak Doni terlihat merenung "Aku tidak akan pernah melupakan kejadian itu. Tapi lucunya kejadian itulah yang mengubah kita jadi sekarang ini"
Gatot mengangguk-angguk "kamu benar. Hei!! kamu bilang tadi anak buahku yang menyerang seorang wanita dan anak buahmu?"
"Iyah, menurut anak buahku ia memiliki tato seperti lambang kelompok kalian pada lehernya. Aku pikir kamu mendapat tugas dari seseorang untuk melakukannya"
"Siapa wanita itu Don? Pacar atau istrimu?"
"Dia calon istri Dirut, atasanku yang sekarang"
__ADS_1
Wajah Gatot terlihat kaget "pantas saja kamu datang mengamuk kemari. Aku akan mencari tahu tentang ini, tenang saja Don. Sepertinya aku tahu siapa orangnya, dan aku pastikan akan memberi pelajaran berat untuknya
"Yang aku butuhkan sekarang adalah informasi orang yang memberi tugas padanya"
"Ok, aku akan menghubungimu secepatnya"
Pak Doni berdiri "Baiklah kalau begitu aku pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik kawan" Pak Doni menepuk bahu Gatot dan berlalu sambil mengangkat tangannya memberi kode anak buahnya agar ikut pergi dari sana
Sementara itu keadaan IGD rumah sakit Sempurna nampak tegang. Selain karena pasien yang masuk hari ini lumayan banyak, juga karena mereka baru mengetahui ternyata wanita yang nyaris kehabisan darah bernama Riri ini adalah calon istri dari pewaris tunggal Wijaya Grup. Tanpa diminta lagi, petugas jaga IGD dan staf yang berjaga di depan secara otomatis menutup informasi mengenai ini agar tidak tersebar luas.
Riri baru saja dipindahkan ke kamar perawatan VVIP. Menurut informasi dari dokter yang menangani, ia termasuk beruntung karena organ dalamnya masih berfungsi dengan baik. Kondisinya kini sudah mulai stabil walaupun masih dalam keadaan belum sadar.
Dion nampak duduk bersandar di salah satu sofa, dengan mata terpejam. Wajahnya terlihat lelah. Ia baru saja mengganti pakaiannya yang berlumuran darah, dengan kemeja dan celana panjang yang dibawakan oleh salah satu anak buah pak Doni tadi atas perintah dari Sugi.
Sedangkan Sugi saat ini sedang berdiri di sebelah ranjang Riri. Ia mengelus wajah Riri yang nampak bengkak dan biru dibeberapa bagian. Ia menghela napasnya beberapa kali untuk menahan amarahnya saat melihat keadaan Riri.
"Maafkan aku sayang, aku merasa gagal untuk melindungi mu, Aku berjanji akan menghancurkan siapapun yang menjadi dalang dari semua ini. Aku akan tetap disini sampai kamu siuman. I love you Riri" bisiknya di telinga Riri
Riri merasa badannya kini terasa enteng tanpa rasa sakit yang teramat sangat di pinggangnya. Ia merasa bingung karena seingatnya tadi, luka tusuk dibagian pinggangnya ini cukup dalam. Beberapa kali ia memperhatikan bagian pinggangnya itu, namun tak dilihatnya bekas luka menganga disana.
"Loh kok nggak ada sih?" Batinnya saat mencari bagian pinggangnya yang terluka di sisi kanan dan kiri bergantian
"Perasaan tadi di sebelah kanan. Kenapa sekarang hilang?" Gumamnya sendiri dalam hati
Tiba-tiba ia tersadar "Apa aku... Apa aku sudah ..???" Ia kaget luar biasa saat melihat kesekelilingnya.
Nampak semua yang dilihatnya berwarna putih tanpa ujung. Ia merasa seperti di tempat yang luas, sendiri, tak ada seorangpun disana menemaninya. Ia kemudian berlari sekencang-kencangnya, namun tetap saja ia tidak bisa menemukan ujung dari tempat itu. Ia seketika ingin berteriak meminta pertolongan, namun bibirnya tercekat tidak mampu mengeluarkan suara sedikitpun. Berapa kali pun ia mencoba tapi tetap saja usahanya sia-sia. Ia tidak bisa menggerakkan bibirnya saat ini.
__ADS_1
Ia lalu duduk memeluk lututnya dan mulai menangis karena merasa lelah dan ketakutan "apa aku akan berakhir disini selamanya?? apa yang harus aku lakukan sekarang??!" Ia bergumam
"Mungil..." Riri mendengar sebuah suara yang sangat ia kenal di belakangnya. Perasaannya menjadi campur aduk antara gembira dan takut. Gembira karena suara inilah yang ia rindukan selama ini dan takut kalau ternyata itu hanya halusinasinya sendiri
"Mungil, lihatlah kemari nak..." Suara lembut dan penuh sayang itu memanggilnya kembali
Dengan gemetar dan ragu ia menoleh, dilihatnya samar-samar seorang wanita memakai gaun putih panjang berdiri tak jauh dari tempatnya duduk. Disebelahnya juga berdiri seorang laki-laki yang juga berwajah samar terlihat seperti tersenyum padanya.
"Mungil anakku..." Kali ini berganti suara laki-laki yang sangat ia rindukan memanggilnya dengan lembut
Wajah mereka terlihat lebih jelas dalam hitungan detik. Ia tertegun karena kini bisa melihat wajah ibu dan ayahnya dengan sangat jelas. Isak tangisnya semakin kencang kala bisa melihat senyuman mereka kembali setelah sekian tahun berlalu. Air matanya nampak tak henti-hentinya mengalir dipipinya.
"Ibu...Ayah... Aku rinduuu..." Gumamnya sambil terisak
"Iya sayang, Kami tahu" jawab ayahnya juga tanpa mengucapkan sepatah kata pun dari bibirnya
"Kami selalu ada bersamamu dan Damar dimana pun kalian berada. Kalian anak-anak kami yang baik dan membanggakan. Kamu harus selalu ingat bahwa kami berdua sangat menyayangi mu dan Damar" lanjut ayahnya
"Apa pun yang terjadi sudah menjadi kehendak sang pencipta nak. Tidak usah disesali, Jalani saja hari-hari mu dengan baik, kami akan tetap menuntun kalian dari sini" kali ini suara Ibunya yang terdengar
Riri mengangguk masih sambil terisak "Aku ingin memeluk Ibu dan Ayah, aku ingin ikut bersama kalian" ia merangkak, tangannya terulur mencoba menyentuh mereka. Tapi ia hanya bisa merasakan hawa dingin ditangannya
"Dunia kita sudah berbeda nak, jalanmu masih panjang. Ibu sekarang sudah merasa lega karena banyak yang menyayangimu termasuk laki-laki baik hati itu kan?" Ibunya tersenyum lebar
"Hadapi semua rintangan, rayakan kehidupan dengan semangat. Semua sudah memiliki takdir masing-masing mungilku, sayang. Kami selalu menyayangimu" suara Ayahnya mulai terdengar samar-samar
Tiba-tiba saja bayangan kedua orangtuanya menjadi buram dan hilang perlahan dari hadapannya
__ADS_1
Riri menjerit sejadi-jadinya dalam hatinya "Ibuuuu!!!.... Ayahh!!!!.. jangan pergi lagiii!!!!" Tangisnya semakin kencang....
Ia merasa sebuah tangan mengusap air matanya. Kesadarannya mulai kembali.