
Riri membuka salah satu situs berita online, ternyata berita Sugi melakukan test DNA menjadi topik nomor satu saat ini. Aku memutuskan untuk melihat tayangan ulangnya yang beredar di beberapa situs. Ia ternyata sempat menemui pihak wartawan yang sedang menunggunya diluar rumah sakit.
Riri tersenyum memandang wajah Sugi di rekaman liputan tersebut. Ia nampak begitu berwibawa dan kharismatik. Aku mengambil ponselku berniat mengirimkan pesan untuknya.
Tapi belum sempat mengetik pesan, nama Sugi tiba-tiba muncul sedang melakukan panggilan.
"Hi sayang" jawabku di deringan pertama
"Hi baby, sudah makan siang?"
"Sudah, baru saja selesai"
"Mmm... Hari ini wartawan sepertinya sudah tidak mengejarku lagi jadi aku rasa hari ini aman. Aku mau membawa makan siangku kesana. Temani aku makan siang ya sayang"
Aku cukup panik mendengar permintaannya, karena Dion masih berada disini " ehh...Iyah kesini aja. Jam berapa mau kemari?"
"Ini lagi di jalan, sebentar lagi sampai"
"Ok aku tunggu ya, aku mau menyelesaikan urusanku dulu biar enak menemanimu nanti makan siang" ujarku dengan maksud agar ia cepat-cepat menutup teleponnya dan aku bisa mengusir Dion pergi dari sini secepatnya
"Ok sayang tunggu ya"
"Iyah"
Sugi menutup sambungan teleponnya
Secepat kilat aku berlari kebelakang
"Dion, kamu harus pulang sekarang juga. Sugi mau makan siang disini. Aku nggak mau muncul masalah baru hanya gara-gara ini"
"Ok... Tenang. Sekarang aku pulang. Kayak aku selingkuhanmu aja hahahaha" ia tergelak
"Udah sana pulang. Nggak usah banyak ngobrol lagi. Waktunya sudah mepet Dion!!!" Kataku sambil menariknya kemudian mendorong tubuhnya keluar
"Hahahaha Iyah deh iya" ia terbahak sambil mengikuti doronganku
"Tunggu sebentar, ini aku bawa coklat untukmu. Terimakasih untuk hari ini. Nanti aku kemari lagi, terimakasih juga untuk....."
"Pidatonya besok-besok aja, udah kamu pulang pokoknya... " Aku memotong ucapannya dan kembali mendorong punggungnya sampai keluar dari kantor.
Ia meletakkan coklat yang ada ditangannya di atas meja lalu pasrah mengikuti dorongan Riri. Dengan langkah panjang ia kemudian masuk kedalam mobil dan sempat-sempatnya melambai dan memberi ciuman jauh pada Riri.
__ADS_1
Riri hanya membalasnya dengan anggukan, kini ia bisa bernapas lega karena Dion telah pergi dari sana. Belum ada beberapa detik nampak Mobil Sugi telah sampai.
"Duh hampir saja" gumam Riri dalam hatinya. Ia mengelap keringat yang tiba-tiba muncul di didahinya dengan punggung tangan
Sugi nampak turun dari dalam mobil bersama pak Doni.
"Selamat siang pak Sugi, pak Doni silahkan masuk" ujarku sambil tersenyum
Sugi nampak tersenyum dan duduk dengan santai di sofa diikuti oleh pak Doni. Ia meletakkan bungkusan makanan diatas meja di depannya. Wajah Sugi berubah curiga saat melihat ada sekotak coklat premium diatas meja.
"Siapa yang memberikanmu cokelat? Supplier? Mencurigakan sekali, kenapa dia memberimu cokelat?"
"Oh hanya sekedar pemberian Sayang. Tidak usah terlalu berlebihan"
"Kenapa harus cokelat? Kamu menyukainya? Kenapa tidak bilang, aku bisa membelikan yang lebih premium daripada cokelat ini"
Ia beralih pada pak Doni di seberangnya "Pak Doni nanti pesankan cokelat satu container untuk Bu Riri ya. Mereknya saya lupa, nanti saya coba cek mereknya di internet. Ingatkan saya ya"
"Baik pak" kata pak Doni tanpa ekspresi
Riri tahu pak Doni sedang kesal saat ini, entah karena apa itu yang ia tidak tahu.
"Tidak usah sayang, aku tidak perlu cokelat sebanyak itu. ini juga aku mau berikan pada orang lain" jawabku gelisah disebelahnya
Ia seperti mengendus sesuatu di rambutku
"Wangi parfummu berbeda sayang, apa kamu sempat bersentuhan dengan seseorang hari ini? Siapa? Kenapa sampai ada kontak fisik dengannya?" Ia kembali menatapku curiga
Aku menghela napasku "apa aku harus mengatakan kalau Dion sempat kemari? Atau bagaimana ya? Aku khawatir dia akan mengamuk dan mencari Dion untuk membuat perhitungan"
Aku melihat ke arah pak Doni berharap mendapat bantuan. Sama dengan atasannya dia pun menatapku dengan tatapan curiga.
"Ada beberapa tamu dari cargo juga dari supplier. Mungkin karena beberapa kali bersalaman makanya parfum mereka menempel padaku. Boleh nggak kurangi sedikit posesifnya. Aku merasa kurang nyaman sayang" aku ganti menatapnya tajam
"Ya sudah, aku hanya nggak mau terjadi sesuatu padamu. Aku lihat kompleks pertokoan disini sepi aku jadi khawatir"
"Pak Doni, tolong carikan satu orang bagian sekuriti untuk berjaga disini" kata Sugi dengan nada suara yang lebih santai
"Baik pak, nanti akan saya carikan"
"Alright sekarang aku mau makan"
__ADS_1
"Eits tunggu dulu, biar aku siapkan makananmu dibelakang. Nanti aku panggil kalau sudah siap" aku teringat akan piring dan mangkok tadi yang masih belum kucuci dibelakang.
"Ok" jawabnya sambil tersenyum
Aku berlari kecil sambil membawa bungkusan makanan yang dibawa Sugi dan bergegas membereskan meja dibelakang.
Pak Doni nampak berdiri "Saya mau membantu Bu Riri pak"
Sugi mengangguk
Pak Doni melihat Riri yang sedang sibuk membereskan dua buah piring dan mangkok yang kotor untuk dibersihkan di bak cuci piring.
Ia mendekati Riri "perlu saya bantu Bu?"
"Tolong keluarkan dua buah piring yang kering di rak atas sebelah sana" Riri menunjuk kearah yang ia dimaksud
Pak Doni nampak mengikuti arahan Riri. Ia mengeluarkan dua set sendok dan garpu beserta gelas dan piringnya.
Ketika piringnya sudah berada diatas meja ia berbisik pada Riri yang sedang membuka bungkusan makanan
"Bu Riri tadi saya lihat mobil merah mencolok itu baru saja keluar dari sini. Kalau saya tidak salah itu mobil Dion bukan? Saya sarankan agar Bu Riri tidak bermain-main dibelakang bapak" ujarnya dengan wajah mengintimidasi
Aku terkejut dengan ucapannya, baru kali ini aku merasa terintimidasi oleh pertanyaan pak Doni "oh begini ya rasanya korban-korban intimidasi dari pak Doni. Sungguh mengerikan auranya. Sebelas dua belas lah sama bosnya di depan itu" batinku
"Iyah itu mobil Dion. Dan dia memang datang kemari tadi bahkan sempat makan siang disini" jawabku santai karena merasa tidak melakukan apa-apa
"Bu Riri menyukai Dion?"
"Tidak sama sekali pak, tenang saja pak Doni. Saya tahu batasan pribadi saya sendiri. Tadi itu tidak sengaja, kalau saya jelaskan akan panjang lebar. Tidak mungkin saya jelaskan sekarang apalagi pada atasan bapak di depan. Bisa gawat pak"
"Sekarang saya masih percaya sama Bu Riri. Saya tunggu penjelasannya. Untuk masalah ini memang baiknya jangan dibicarakan dulu sama bapak. Cari waktu lain yang tepat Bu"
"Nah itu maksud saya. Bukannya saya nggak mau cerita. Saya lagi menunggu waktu yang tepat saja"
Pak Doni mengangguk
"Pak Doni, saya mencintai Sugi sepenuh hati. Mana mungkin saya menduakan laki-laki sebaik dia" aku berkata dengan pelan
"Kok lama? Udah belum!?" Teriak Sugi dari luar
"Sudah siap kok sayang, kemarilah" jawabku sambil menyembulkan kepalaku dibalik partisi.
__ADS_1
Ia berdiri dan melangkah dengan santai. Tangannya mengucek gemas kepalaku