
Sepanjang perjalanan pulang aku hanya terdiam, karena masih merasa malu dengan apa yang baru saja kami lakukan tadi di kantor.
"Kok diem?" Tanyanya sambil menyetir
Aku menoleh kearahnya "terus aku harus ngomongin apa?"
"Apa ya? Gimana kalau kita ngomongin betapa seksinya kamu tadi di kantor hahahahah" Sugi terbahak melihat wajahku berubah menjadi merah padam
Aku mencubit pinggangnya gemas
"Aw! sakit sayang, jangan dong hahahaha" ia kembali tertawa
"Jangan dibahas lagi, tadi kan aku sudah mengingatkan kalau kita masih ada dikantor" aku bersungut-sungut
"Kalau sudah dirumah artinya boleh ya? Hahaha" ia kembali terbahak dengan jawabannya sendiri
Aku menoleh kesal kearahnya
"Baik Bu Riri, ampun saya bersalah. Saya berjanji akan mengulanginya kembali hehehehe" lagi-lagi ia terkekeh
"CK!" Aku memalingkan wajahku
"Aku bercanda sayang, duh makin hari aku makin gemas sama kamu" ia mencubit kecil pipiku
"Kalau tadi kita sampai kebablasan, aku mungkin akan merasa bersalah pada diri ku sendiri" Ujarku sambil melihat ke arah jalan raya
"Kalau tadi kita kebablasan yah aku akan menikahi mu secepatnya" jawabnya enteng
Aku terdiam karena tiba-tiba teringat ucapan Bu Rita padaku tadi.
"Kok diem, kamu nggak mau kita menikah?"
"Keluargamu pasti tidak akan setuju"
"Yang menikah kan kita, kenapa mereka harus ikut campur urusan pribadiku?"
"Karena kamu adalah penerus Wijaya Grup, Sayang" sahutku serius, aku memandang wajahnya
"Memangnya siapa yang mengharuskan aku menikahi wanita idaman ibuku?"
__ADS_1
"Keluargamu, kamu ngerti nggak sih kalau ibumu lebih menyukai Silvi daripada aku yang tidak jelas latar belakangnya ini"
"Latar belakang tidak jelas bagaimana? Kamu kan anak dari keluarga Wirama"
"Yah maksudku aku bukan berasal dari keluarga yang selevel dengan kalian. Sugi, hubungan kita bisa jadi hanya sesaat!!" Aku setengah berteriak
Sugi tiba-tiba menghentikan mobilnya di tengah jalanan yang sepi, yang tentu saja membuatku kaget luar biasa
"Sayang, kalau sampai ada mobil dibelakang bagaimana?" Kataku khawatir "ini sudah kedua kalinya loh kita begini. Dan aku selalu takut setiap kali kamu melakukan hal ini"
"Kamu bilang apa tadi? Sesaat? Kamu pikir aku laki-laki brengsek yang tidak memiliki komitmen? Riri, apa kamu masih ragu padaku?" Sugi menatapku
Aku menghela napasku "kita minggir dulu yuk, aku takut ada yang menabrak kita dari belakang"
"Jawab dulu pertanyaannku?!" Sugi menatapku tajam
"Iyah, aku mulai ragu setelah bicara dengan ibumu tadi. Aku merasa tidak pantas seujung kuku pun bersanding denganmu Sugi" aku menjawab pertanyaannya dengan jujur
Ia kembali melajukan mobilnya mengarah pada tempat yang sepi di pinggir jalan kemudian berhenti disana.
Sugi menghadap kearahku "Coba katakan padaku apa saja yang ia sampaikan padamu. Aku ingin tahu semuanya. Jangan menyembunyikannya dariku. Kalau kamu nggak mau bilang, aku akan memaksa ibu memberitahu ku malam ini juga. Aku orang yang persisten Riri"
Wajah Sugi berubah iba padaku, ia tak menyangka kalau ibunya bisa berkata seperti itu.
".... dan kamu tahu Sayang tadi sewaktu kita bermesraan di kantor ada timbul perasaan jangan-jangan aku memang hanya menjadi pelampiasanmu saat ini. Tapi jujur kalau pun itu benar aku tidak akan menyesalinya sama sekali. Karena aku memilih untuk mencintaimu dengan tulus" lanjutku sambil tersenyum
Sugi melepaskan sabuk pengamannya dan memelukku erat " jangan berkata seperti itu sayang. Maafkan ibuku ya, dia belum mengenalmu dengan baik. Aku yakin suatu saat nanti dia akan melihatmu dengan cara yang berbeda. Aku mencintaimu sepenuh hatiku . Jadi aku mohon jangan menyerah dengan hubungan ini hanya karena kata-kata dari ibuku" ujar Sugi khawatir
"Iyah aku tidak akan menyerah selagi kamu masih mencintaiku"
"Pokoknya kamu fokus sama aku aja titik"
"Iyah aku tahu"
"Kamu besok jadi pindah?"
Aku mengangguk "jadi"
"Ingat siapkan kamar untukku juga ya aku juga mau ikut tinggal disana"
__ADS_1
"Iyah, aku juga sudah bilang sama kak Damar"
Aku tersenyum "Aku tidak bisa kabur kemanapun yah, sekarang?"
"Coba saja kalau berani, aku akan memburumu seperti buronan kelas kakap" ujarnya serius ditelingaku
"Sayang jangan marah yah, aku mungkin akan resign dalam waktu dekat. Aku diajak kak Damar membantu usahanya dikantor baru"
Sugi terdiam lalu meregangkan pelukannya "aku akan jujur padamu. Satu sisi aku sedih karena tidak bisa melihatmu lagi setiap saat tapi di sisi lain aku gembira karena kamu akhirnya bisa lebih bebas menjalani hari-harimu sesuai dengan keinginanmu saat ini"
"Jadi kamu nggak marah kan?"
"Nggak, aku nggak marah. Yang penting kamu bahagia"
"Terimakasih yah sayang, kamu yang terbaik" aku mengecup bibirnya
Sugi tersenyum sambil menghidupkan kembali mesin mobilnya "yuk pulang, besok ambil libur lagi sehari untuk pindahan" katanya lalu melanjukan mobilnya perlahan
"Ok aku setelah ini akan hanya fokus pada pindahan rumah baru, mulai bekerja di perusahaan kak Damar dan mencintai laki-laki disebelahku. Aku merasa sangat beruntung memilikinya sebagai kekasih. Ia kekasih ideal untukku saat ini" Gumamku dalam hati
Sementara itu di dalam rumahnya Erika sedang termenung karena tadi mendapatkan kabar melalui telepon kalau ia tidak jadi diterima ditempat magang yang ia idam-idamkan di luar negeri tanpa alasan yang jelas. Padahal beberapa waktu lalu ia sudah akan diterima hanya menunggu surat resmi dari bagian personalia.
"Ini tidak mungkin terjadi, beberapa temanku padahal sudah diterima secara resmi dua hari yang lalu. Tapi kenapa aku saja yang dibatalkan. Apa ini ada hubungannya dengan Tari dan Wijaya Grup? Aku kurang yakin tapi kalau benar karena mereka, ini sangat mengerikan. Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan sekarang??!! Kemana aku harus pergi??!! Seharusnya aku tidak mengganggu kehidupan Tari" gumam Erika dalam hatinya penuh penyesalan
"Er, kenapa melamun disana sendiri" ujar ibunya saat melihat Erika duduk di sofa sendiri dalam gelap. Ia menghidupkan lampu utama diruang tamu.
"Bu, apa Wijaya Grup sehebat itu? Sampai bisa mengurus hal-hal diluar urusan perusahaan mereka dengan mudah" Jawab Erika dengan wajah bingung
"Kenapa dengan Wijaya Grup? Yang Ibu dengar sih kalau ada yang sampai berani mencari masalah dengan mereka pasti akan mendapatkan ganjaran"
"Kalau begitu aku gagal magang di perusahaan impianku pasti ada campur tangan mereka ya Bu?" ujarnya lemah
"Jadi benar apa yang dikatakan oleh asisten ayahmu itu Er? Duh Er!!! Ibu kan sudah pernah bilang jangan pernah mengganggu mereka. Kalau sudah begini kan kamu juga yang rugi"
Erika menangis terisak dalam pelukan ibunya.
"Usaha yang susah payah aku lakukan selama dua tahun ini jadi sia-sia Bu. Hanya karena masalah sepele... Hiks aku tidak terima Bu hiks... Aku nggak terima..."
"Sudah-sudah jangan terlalu larut dalam kesedihanmu. Kamu mulai saja bantu ayahmu mengelola perusahaan"
__ADS_1
Erika tidak menjawab ujaran ibunya. Yang terdengar hanya Isak tangisnya saja di pelukan ibunya.