
Beruntung pertemuan pertama dengan dokter Yanuar di rumah Bu Siska berjalan dengan baik. Dengan dalih mereka di undang makan malam oleh Bu Siska, Riri sama sekali tidak curiga tentang ini. Bu Siska terlihat gembira dengan kunjungan mereka kerumahnya. Sudah sejak lama ia memang ingin sekali mengundang Damar dan Riri kerumahnya untuk sekedar makan malam. Karena Bu Siska merasa sangat bersyukur Dion bergaul dengan mereka. Banyak perubahan positif yang terjadi pada Dion semenjak mengenal Damar dan Riri.
Pendekatan dokter Yanuar yang dilakukannya usai makan malam pun berlangsung lancar. Walaupun diawal Riri sedikit kesal dan merasa dijebak untuk bertemu seorang psikiater namun karena pembawaan dokter Yanuar yang santai dan kekeluargaan akhirnya Riri sedikit demi sedikit merasa nyaman.
Awalnya Riri enggan mengobrol dengan siapa pun hari itu, dokter Yanuar berinisiatif untuk memperkenalkan dirinya sebagai paman dari Dion. Saat itu beliau mengenakan kemeja biru muda dan dan kacamata berbingkai tebal berwarna cokelat. Apa yang dikenakan oleh Dokter Yanuar mengingatkan ia pada ayahnya sendiri. Ayahnya kerap memakai kemeja biru muda saat bekerja, dan kacamata ayahnya pun sama persis dengan kacamata yang dipakai oleh dokter Yanuar. Mungkin karena itu ia jadi lebih nyaman dan terbuka dengan dokter Yanuar.
Senyuman Damar yang sedang menyetir mengembang sepanjang perjalanan pulang. Dion yang berada di sebelahnya juga ikut merasa lega, karena rencana mereka ternyata berhasil.
Sugi yang menyusul beberapa saat sebelum mereka kembali juga turut lega dengan pertemuan ini. Ia terlihat lebih tenang duduk disebelah Riri. Dengan Ragu ia meraih tangan Riri dan meremasnya lembut.
Dengan sedikit terkejut Riri menatapnya sambil tersenyum. Sugi perlahan mendekatkan wajahnya dan berbisik "i missed you so much Sayang"
Riri mengangguk, dengan wajah menyesal ia berbisik "I'm sorry....aku..."
Ucapannya tertahan oleh selaan Sugi "No, don't be...aku yang harusnya minta maaf sama kamu, sudah tidak usah berpikir macam-macam".
"Kalau nanti kamu sudah merasa lebih baik, kita bicara ya!?" Ujarnya pelan
Riri lagi-lagi mengangguk, ia hanya ingin cepat-cepat pulang dan bergelung di bawah selimutnya yang nyaman dan tenang. Ia merasa sangat penat dan butuh ketenangan.
Beberapa waktu kemudian, keadaan Riri berangsur membaik. Ia pun sudah sibuk bekerja kembali walaupun hanya dari rumah. Damar juga sudah kembali bekerja ke kantor seperti biasa.
Sejak seminggu yang lalu Sugi sedang berada di luar negeri untuk perjalanan bisnis. Komunikasi Riri dan Sugi belakangan tidak terlalu intens, dan ia merasa baik-baik saja. Kesendirian ini menjadi kebiasaan baru untuk Riri, justru bisa dibilang ia menikmatinya. Ia merasa tidak ada hal yang kurang di hidupnya seperti beberapa waktu lalu.
Ia tak sempat memikirkan hubungannya dengan Sugi, malah sibuk dengan pekerjaan dan laporan-laporannya yang tidak pernah ada habisnya. Tanpa sadar hari pun beranjak petang. Usai mandi ia turun berniat untuk memasak makan malam yang praktis.
"Riri sayangku!!!!" Gia berseru saat ia melihat Riri menuruni anak tangga
"Lohh Gia, kapan sampai?!" Ujar Riri dengan wajah terkejut
"Baru saja" jawab Gia lantas memeluk Riri dengan erat
Karena kasus Riri di culik kemarin, Damar memutuskan untuk memasang pengamanan ekstra di rumah ini. Termasuk memasang kode berupa nomor di pintu pagar untuk masuk kerumah ini. Selain mereka berdua yang mengetahui nomornya hanya orang-orang terdekat termasuk Sugi dan Gia.
"Maaf ya say aku nggak bisa sering-sering kemari menemanimu... Ya kamu tahu kan bulan ini sedang musim puncaknya turis berlibur" ucapnya dengan wajah sedih usai memeluk Riri
"Ya sudah tidak apa-apa Gia, aku juga sudah merasa lebih baik. Mungkin sehari dua hari ke depan aku sudah bisa menengok warung dan villa Lembayung".
"Tapi di antar kan? Bukan nyetir sendiri?!" Nampak kekhawatiran dari wajah Gia
"Iyah, Aku di larang kak Damar bepergian sendiri" sahut Riri sembari mengeluarkan beberapa bahan makanan dari kulkas
Gia mengangguk "Baguslah kalau begitu. Eh hubunganmu sama pak Dirut gimana? Kok malah kalian kayak renggang gitu?" Ujarnya sembari duduk di kursi tinggi dekat dapur
Riri menoleh sedetik kearahnya dan kembali sibuk membuka satu persatu kotak kemasan berbahan plastik di hadapannya.
"Yah gitu deh Gia" jawabnya singkat
Gia menghela napasnya "Kasihan dia ri. Aku mungkin nggak tahu apa yang kamu rasakan sekarang. Tapi kalian perlu membicarakan ini baik-baik. Sejauh ini aku merasa dia juga sengaja menjaga jaraknya denganmu, aku yakin dia pasti sedang kebingungan sekarang"
Tangan Riri terhenti mencincang bawang putih, ia meletakkan pisaunya pelan-pelan di atas talenan kayu lalu menatap Gia beberapa saat.
"Entahlah Gia, aku hanya sedang ingin sendiri sementara waktu. Kamu juga tahu kan, aku mengalami banyak hal belakangan ini. Aku merasa babak belur, aku takut kalau aku sekarang bicara dari hati ke hati dengannya justru membuatku impulsif memutuskan sesuatu. Aku nggak mau menyesal Gia"
Gia mengangguk pelan lalu perlahan mendekat dan memeluk Riri sekali lagi "aku mengerti Riri"
"Kamu dan Kak Damar mau makan malam diluar?" tanya Riri
Gia melepaskan pelukannya "rencananya begitu, tapi kayaknya dia lagi ada urusan mendadak dikantor. Bentar lagi mungkin"
"Ya sudah aku masak dulu" Riri melanjutkan mengiris bawang merah
"Ikut kita makan malam yuk Ri!?"
__ADS_1
"Aku pengin makan dirumah aja, kalian mending pergi berdua. Kan sudah lama juga kalian nggak ngedate"
Gia tersenyum kecut, ia merasa kasihan dengan sahabatnya ini. Belum pernah ia melihat Riri sekalem dan sependiam seperti sekarang. Biasanya kalau ada sesuatu yang aneh, dalam diam pun gesturnya saja sudah cukup kocak untuk menggambarkan situasi tersebut.
"Arghh aku kangen sekali Riri yang itu" bisiknya dalam hati
Tak lama Damar pun pulang. Karena sudah cukup larut tanpa mengganti pakaian ia pun memutuskan agar mereka langsung berangkat untuk makan malam.
"Sayang, aku merasa sedikit asing dengan Riri yang sekarang" ujar Gia dalam perjalanan
"Yup, dia berbeda. Tapi aku tetap senang, dia tidak lagi gelisah dan mengigau. Mungkin kita hanya butuh waktu lebih lama untuk mengembalikan keadaan psikisnya. Dia sedang butuh ketenangan ekstra untuk saat ini"
"Iya, Riri juga sempat mengatakan hal yang sama tadi. Tapi aku Kasihan sama Pak Dirut"
"Hahahaha itu hukuman untuknya yang teledor menjaga adikku. Kalau dia memang mencintai Tari, dia harus bersabar"
Gia tersenyum "Melihatmu santai begini, perasaanku jadi jauh lebih tenang"
"Oh tenang saja sayang, temanku yang satu itu sangat persisten kok. Mereka akan baik-baik saja, kecuali kalau adikku yang berubah pikiran. Jadi yah ..kita serahkan saja hal ini pada mereka"
"Ok" sahut Gia sambil tersenyum lebar
Ponsel Damar berdering, Bu Alina melakukan panggilan. Damar mengambil head set wireless dan memasangkannya di telinga.
"Damar, lagi dimana?" tanya Bu Alina dengan suara pelan
"Ya halo Bu, ini lagi di jalan sama Gia mau makan malam"
"Damar, .... Ibu nggak berani jenguk Riri sering-sering. Takut dia nggak nyaman. Tapi ibu khawatir"
"Iyah Damar mengerti. Ibu Ina nggak perlu jenguk. Kan Damar sudah bilang, dia lebih nyaman sendiri Bu"
"Terus keadaannya gimana sekarang?"
"Serius?!"
"Iyah Bu, tadi aja dia sudah mulai nyanyi-nyanyi sendiri"
"Oh bagus kalau begitu. Eh Damar besok pagi ke dealer ya. Bu Ina mau ngasih mobil ke kamu"
"Ahhh yang benar Bu?! Damar kan jadi enak dong inih hahahaha" Damar terkekeh
"Hahahaha Dasar kamu, Ibu serius. Mobilnya kan nanti mau dibawa Riri. Kamu ambil yang baru aja besok kemari"
"Aduhhh pilih yang mana ya?! Hahaha" tawa Damar semakin menjadi
"Hahahaha Yah terserah kamu mau yang mana. Pamanmu besok ada di sana, nanti ngobrol sama pamanmu aja. Bu Ina sudah info kamu datang besok"
"Ya deh Bu, aku datang sekitar jam 10 yah!. Terimakasih yah Bu. Bu Ina sama Paman baik banget"
"Iyah, nanti ibu kabarin paman jam kedatanganmu. Baik-baik sama Gia ya, salam dari Ibu"
"Iyah Bu nanti aku salamin"
Wajah Damar terlihat berbinar
"Siapa? Bu Alina ya?" tanya Gia penasaran
"Yup,ada salam dari Bu Ina. Eh aku mau dikasih mobil baru loh! hahahaha. Rejeki anak baik" jawabnya sambil tertawa renyah
"Oh ya?! hahahaha pantas wajahmu cerah begitu"
"Sebenarnya aku memang ada rencana mau beli mobil satu lagi. Eh malah dikasih gratis. Aku sih nggak nolak, namanya rejeki ya! Hahaha"
__ADS_1
Gia hanya menggeleng sambil ikut tertawa mendengar celotehan Damar.
Beberapa hari kemudian, Riri benar-benar telah kembali bekerja. Seorang asisten laki-laki bernama Ridwan di tugaskan Damar untuk mengantar dan membantu pekerjaannya di kantor. Riri tidak mengetahui kalau Ridwan adalah anak buah dari pak Doni.
Dari informasi Damar, semua staff warung Priboemi dan Villa Lembayung sudah mengetahui kabar Riri yang sempat sakit dan harus dirawat. Namun mereka merasa bingung dengan perubahan sikap Riri yang menjadikan lebih pendiam dan serius.
Pagi ini usai bertemu dan melakukan rapat kecil dengan staf warung Priboemi di pagi hari, Riri melanjutkan perjalanannya ke Villa Lembayung.
Pak Kanis yang sudah mengetahui kedatangan Riri nampak terburu-buru menyambutnya di lobby villa. Ia merasa sangat khawatir dengan keadaan kesehatan Riri.
"Selamat siang pak Kanis, apa kabar?!" sapa Riri sambil berjalan menuju ruang kerjanya
"Siang Bu Riri, saya baik. Semoga Bu Riri juga dalam keadaan baik" jawabnya sambil berjalan beriringan
Beberapa staff villa di kantor depan nampak tersenyum dan menyapanya satu persatu. Riri menjawab sapaan mereka sepintas lalu. Tidak seperti biasanya yang hangat dan penuh canda. Mereka pun kembali pada urusannya dengan perasaan sedih.
"Aku dengar keadaan Bu Riri belum pulih benar, mungkin karena itu moodnya sedikit kurang baik" ujar salah satu staf pada yang lain
"Kamu tahu Bu Riri sakit apa?"
"Nggak tahu"
"Aku juga nggak tahu"
Mereka terlihat bingung
"Yah kita doakan saja semoga kesehatan Bu Riri kembali pulih seperti sedia kala"
Semua mengangguk dan membubarkan diri melanjutkan pekerjaannya masing-masing.
"Pak Kanis, ini pak Ridwan. Asisten saya, bapak bisa berkomunikasi dengan Pak Ridwan kalau saya tidak bisa dihubungi" ujar Riri memperkenalkan Ridwan pada pak Kanis
"Saya Ridwan" ujarnya pak Pak Kanis, mereka bersalaman
"Saya Kanis, Manager disini pak"
"Ada kendala apa pak? Selama saya tidak kemari?" tanya Riri kemudian
"Untungnya belum ada kendala yang serius Bu. Untuk hal-hal kecil sementara masih bisa saya tangani dibantu oleh staff disini"
"Terimakasih ya pak, bapak sudah bekerja keras untuk Villa ini selama saya tidak ada"
"Itu sudah menjadi kewajiban saya Bu"
Riri tersenyum kemudian membaca laporan rancangan beberapa event yang akan diadakan untuk high season akhir tahun ini.
"Bu Riri, maaf saya menyela. Pak Gilang akan menginap disini. Beliau minta bertemu dengan Bu Riri saat check in"
"Ok dijadwalkan saja pak. Pak Yuda masih bekerja disini kan pak? Saya sampai lupa"
"Masih Bu, perintah dari pak Damar, pak Yuda sekarang sudah jadi staf sekuriti disini"
Riri nampak berpikir sejenak. Ia teringat kembali tentang peristiwa waktu itu. Ia merasa lega ketika mengetahui pak Yuda dalam keadaan selamat. Riri menghela napasnya dan kembali memusatkan pikirannya pada meeting ini.
Usai membahas beberapa hal dengan pak Kanis, Riri memanggil Ridwan yang nampak sedang mengetik sesuatu di ponselnya
"Pak Ridwan, tolong panggil pak Yuda kemari"
"Baik Bu" jawabnya kemudian menghubungi pos sekuriti di depan
Beberapa saat lamanya pak Yuda nampak mengetuk pintu dan memasuki ruang kerjanya.
Ia menoleh pada pak Ridwan, bermaksud untuk menyuruhnya keluar sebentar dari ruangan ini. Namun wajahnya yang dingin dan mematung seperti batu membuat ia urung melakukannya.
__ADS_1