Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Pulang kerumah


__ADS_3

"Terus keadaan Riri sekarang bagaimana, Sam?" tanya ibu Rita khawatir setelah mendengar cerita dari Sugi


"Beruntung belati tersebut mengenai organ dalamnya. Jadi kondisinya bisa dikatakan baik, walaupun masih harus bed rest. Untuk sementara dia jadi tidak bisa bergerak dengan bebas"


"Syukurlah, besok ibu mau menengoknya kerumah sakit. Tapi Sam, kenapa kamu baru bilang sekarang?"


"Aku tidak mau membuat kegaduhan Bu, lagipula waktu itu pikiranku sedang kalut jadi tidak sempat menghubungi siapa-siapa selain keluarganya Riri"


"Ya sudah, yang terpenting keadaan Riri baik-baik saja. Menurutmu siapa yang tega melakukan hal seperti ini padanya?"


"Aku yakin sekali ini perbuatan Silvi"


"Masa? Kamu ada buktinya? Jangan menuduh sembarangan Sam"


"Dua orang laki-laki yang menyerang Riri sudah ditemukan, mereka mengaku hanya mendapat perintah melalui telepon dengan imbalan sejumlah uang. Rencana awal, mereka berdua disuruh menculik Riri kemudian menunggu langkah-langkah selanjutnya dari orang tersebut"


"Tapi kan yang menghubungi mereka belum tentu Silvi, kan bisa siapa saja" ujar Bu Rita seolah tak percaya dengan kesimpulan Sugi


"Nomor yang digunakan untuk menghubungi mereka berasal dari luar negeri Bu, lokasinya kurang lebih sama persis dengan orang yang merancang skandalku waktu itu"


"Terus apa yang harus kita lakukan sekarang? Kalau memang itu benar kita harus segera menghentikan langkahnya sebelum terjadi hal-hal lain yang lebih buruk lagi" Bu Rita terlihat khawatir.


"Itu dia hal yang menjadi pikiranku sekarang"


"Kenapa Silvi jadi berubah mengerikan begini ya? Seingat ibu dulu dia anak yang manis dan sopan"


Sugi nampak melipat tangannya di depan dada "Karena itu yang ingin dia tunjukkan pada kita, karakter aslinya bisa saja dia sembunyikan"


"Apa rencanamu Sam?"


"Aku harus bisa membawanya kembali pulang. Itu akan memudahkan kita untuk memantau pergerakannya. Dan untuk memuluskan rencana ini aku perlu bantuan ibu"


Bu Rita terdiam, ia nampak berpikir cukup lama


"Ok, sepertinya ibu mengerti maksudmu. Kita tunggu beberapa hari, paling tidak seminggu atau dua minggu agar dia tidak terlalu curiga"


"Aku sudah memiliki bukti pengakuan dari Dewi dan isi pesan pembicaraan pada ponselnya. Tapi itu masih kurang kuat untuk menjeratnya"


"Seandainya kecurigaanmu itu benar, Ibu pasti akan menyerahkan semuanya pada pihak berwajib tanpa intervensi dari Ibu, karena dia sudah keterlaluan. Biarlah hubungan kita dan keluarga Silvi menjadi buruk, tidak ada pengaruhnya bagi keluarga kita. Lagipula Ibu mendengar gosip baru, bisnis keluarga Silvi sedang dalam kondisi kurang baik, Sam"


"Pantas saja Ibu langsung setuju untuk membantuku"


"Bisnis is bisnis, hubungan seperti itu memang sifatnya tidak permanen. Kamu kan tahu hubungan bisnis hanya dilandasi oleh kepentingan semata. Dan satu hal, ibu juga sudah kesal sama Silvi, sebagai perempuan kayak nggak punya harga diri Sam"


"Baru sadar ya bu? hehehe" Sugi menggeleng sambil tertawa kecil

__ADS_1


"Ih kamu malah ngeledek ibu" Bu Rita menepuk pelan lengan Sugi


Hari-hari cepat berlalu dan Riri pun sudah diperbolehkan untuk pulang kerumah.


Dion dan pak Doni nampak membantu Damar berkemas-kemas. Sedangkan Sugi membantu Riri untuk mengganti pakaiannya dan bersiap untuk pulang


"Aku pulang kerumahku aja ya sayang?"


"Kenapa nggak kerumahku aja?"


"Aku tidak mau merepotkanmu, pekerjaanmu sudah banyak yang tertunda gara-gara aku"


"Gara-gara kamu?! Bukan ah, tepatnya gara-gara si perempuan gila itu"


"Tetap aja aku jadi menyusahkan semua orang"


"Terus yang mengurusmu nanti siapa? Kan Damar besok sudah kembali keluar negeri"


"Kalau pun aku tinggal dirumahmu, kamu kan juga harus kerja seharian. Sama aja aku jadi sendirian di rumah"


"Tapi kan ada Bu Widi?"


"Iyah sih, tapi aku merasa lebih nyaman dirumahku sendiri. Aku akan baik-baik saja"


"Ok, fine. Aku akan mengirimkan anak Bu Widi yang paling besar untuk tinggal sementara disana menjagamu. Gimana?"


"Kan sudah masuk liburan kenaikan kelas, ibunya seminggu lalu sempat menanyakan pekerjaan paruh waktu untuknya"


"Yessss!!! Aku mau" ujarku bersemangat


"Tapi di akhir pekan, aku yang akan menjagamu" ia menatapku penuh arti


Aku agak kaget saat melihat sebersit hasrat di matanya saat ini "Aku kan masih sakit, nih lihat" ujarku pelan sambil menunjuk kearah pinggang kananku


"Kamu mikirin apa sih?! Hahaha" Ia mengucek gemas kepalaku sambil terbahak dan berlalu keluar


"Ck!" Aku hanya menghela napasku melihat kelakuannya


Kini giliran Dion yang masuk menghampiriku


"Yay! Akhirnya kamu bisa pulang" ujarnya sambil tersenyum


"Yup, akhirnya. Bosen banget disini. Eh iya, jok mobilnya gimana? Noda darahnya bisa dibersihkan? Atau harus ganti cover? Nanti billnya info yah Dion"


"Nggak usah dipikirin, sisa nodanya aku sengaja biarkan"

__ADS_1


"Kenapa gitu?"


"Biar aku selalu ingat sama kamu, juga buat pengingat untuk diriku sendiri karena pernah seniat itu berbuat baik untuk orang lain"


"Kan jadi kotor"


"Biarin, suka-sukaku. Kan itu mobilku" ia mengerutkan keningnya


"Terserahlah" ujarku tak mau ambil pusing dengan keputusannya


Tanpa disadari oleh Riri tiba-tiba ia mendekat dan mengecup pipinya dengan cepat. Tangannya menyambar dengan gerakan refleks yang hampir saja mengenai kemeja Dion


"Dion!!!" Hardiknya kesal


Dion nampak meletakkan telunjuk di depan bibirnya sendiri agar Riri tidak berteriak.


"am sorry" bisiknya lalu mengigit bibirnya sendiri merasa bersalah


"Kamu ngapain sih?!!" Riri terlihat kesal


Ia menarik napas panjang "Itu tadi tanda sayangku Riri, maaf aku lancang. Itu tadi juga salam perpisahan dariku, karena aku akan pergi besok pagi sesuai janjiku padamu"


Riri mengusap wajahnya sambil mengambil napas panjang untuk menenangkan diri "ya sudah, jaga dirimu baik-baik"


"Ingat pesanku, kalau dia sampai menyakitimu hubungi aku secepatnya" ia nampak tersenyum lebar dan berlalu keluar tanpa menunggu reaksi dari Riri. Wajahnya terlihat datar seperti tidak sempat terjadi apa-apa sebelumnya


Riri terlihat memutar bola matanya mendengar ucapan Dion "no!!! Apapun yang terjadi nanti, aku hanya akan bersama diriku sendiri. Titik!" Gumamnya dalam hati


Dalam perjalanan kembali ke rumah, di dalam mobil Riri nampak sedang menyandarkan kepalanya pada dada Sugi. Pikirannya saat ini sedang mengembara kesana kemari. Ia teringat akan pekerjaannya dikantor dan warung yang sedang ia buat.


Damar saat ini sedang bersama dengan Gia mengikuti mobil Sugi dari belakang. Sedangkan Dion sudah lebih dulu pergi setelah berpamitan dengan Damar sekitar setengah jam yang lalu


"Sayang.." panggil Sugi


"Mmm"


"Mikirin apa sih? daritadi nggak ada suaranya" ia mengangkat pelan dagu Riri agar mendongak kearahnya


"Biasa, inget kerjaan di kantor sama warung. Tadi aku lihat foto yang mereka kirim. Renovasinya ternyata sudah hampir selesai. Keren banget jadinya"


"Iyah aku juga sudah melihat fotonya. Keren, sesuai dengan keinginanmu kan?"


"Iyah, aku suka. Makasi ya sayang sudah merekomendasikan orang-orang hebat itu"


Sugi nampak tersenyum, ia menurunkan wajahnya lalu mengecup lembut bibir Riri yang sedari tadi terbuka, seperti menantang untuk dikecup

__ADS_1


"Anything for your happiness, honey" bisiknya sambil mengusap-usap pelan lengan Riri


"Ya ampun. Diusap -usap begini saja rasanya nyaman sekali" gumam Riri dalam hati sembari menggerak-gerakkan kepalanya dengan nyaman di dada Sugi.


__ADS_2