
"aku baru sampai rumah, mau makan dulu terus mandi. tunggu ya, I Iove you 😘"
Riri membaca pesan dari Sugi yang baru saja masuk ke ponselnya. Tiba-tiba terbersit ide cemerlang di pikirannya. Dengan bergegas ia mengganti celana pendeknya dengan celana panjang lalu memakai jaketnya. Ia siap untuk pergi ke rumah Sugi malam ini.
Riri pergi kesana dengan mengendarai sepeda motornya agar mudah masuk ke jalan-jalan kecil. Rencananya ia akan kerumah Sugi melalui jalur belakang dimana rumah Bu Widi berada. Saat ini ia mengambil rute agak berbeda dari biasanya. Beruntung dulu ia pernah meminjam sepeda motor Bu Widi, sehingga ia tahu beberapa jalan tikus di sekitar rumahnya.
Karena saat ini kemungkinan besar ada wartawan yang menunggu di depan rumah Sugi, Ia berniat meminta tolong pada suami Bu Widi untuk membantunya masuk melalui tembok belakang rumah Sugi. Ia teringat tembok tersebut tidaklah terlalu tinggi, seharusnya dengan tangga ia sudah bisa naik kesana.
Seperti perkiraannya, Bu Widi dan suaminya sedang berada dirumah. Mereka nampak antusias sekali membantu Riri dengan rencananya.
"Maaf yah Bu, pak saya merepotkan kalian. Kalian tidak usah khawatir nanti kalau pak Sugi marah bilang saja saya yang minta kalian untuk membantu saya" ujar Riri merasa tidak enak
"Baik Bu, Tidak apa-apa. kami malah senang bisa membantu. Pak Doni tadi siang tidak ada mengabarkan pada saya mengenai kedatangan pak Sugi hari ini"
"Mungkin karena mereka sedang sibuk Bu, jadi lebih fokus ke urusan yang lebih penting"
"Pak tangganya ada di belakang, nempel di tembok dekat rak perkakas" ujar Bu Widi pada suaminya
Nampak suaminya mengikuti arahan Bu Widi masuk melalui jalan samping menuju ke balakang rumah
Wajah Bu Widi terlihat sedih "Saya sempat membaca beritanya juga loh kemarin, sepertinya beliau bukan orang yang seperti itu ya bu. Pasti beritanya bohong"
"Kita doakan saja Bu Widi, semoga kebenaran akan selalu menang. Biasanya yang baik-baik selalu saja ada jalannya"
"Iyah Bu, betul itu" ia tersenyum
"Mari Bu, kita berangkat ke sana" ajak suami Bu Widi mendahuluiku
"Ya pak, Bu Widi saya kesana dulu. Saya titip sepeda motor saya sebentar ya bu"
"Iyah, hati-hati ya Bu Riri, temboknya lumayan tinggi, gelap lagi"
"Saya tahu Bu, terimakasih ya" jawabku sambil mengekor pada suaminya
"Sama-sama Bu" ujar Bu Widi sambil tetap menatap mereka berjalan menjauh
Ketika sampai, suami Bu Widi menyandarkan tangga yang ia bawa pada tembok belakang rumah Sugi. Kebetulan malam ini jalanan nampak sepi. Sehingga mereka tidak perlu membuat alasan kalau-kalau ada yang bertanya.
__ADS_1
"Silahkan Bu, saya yang pegang dibawah"
"Terimakasih pak, permisi yah pak saya naik dulu. Nanti saya nggak usah di tunggu. Kemungkinan saya menginap disini. Saya titip motor saya ya pak, besok pagi saya pasti ambil"
"Iyah Bu" jawabnya tersenyum
Aku mulai menaiaki anak tangga dengan berhati-hati. Ketika sampai diatas tembok awalnya aku berniat melompat ke bawah tapi ternyata tembok ini lumayan tinggi. Lebih tinggi dari yang ia perkirakan tadi
"Sudah Bu? Bisa turunnya?"
"Temboknya Kok jadi tinggi ya pak? Saya mau telepon pak Doni aja pak hehehehe" aku terkekeh
"Iyah, saya tunggu saja disini sampai ibu turun dengan selamat" ujarnya khawatir
"Sip pak" kataku sambil menghubungi pak Doni
Beberapa kali deringan, akhirnya pak Doni menjawab teleponnya
"Selamat malam Bu Riri, pak Sugi sudah berada dirumah. Sekarang lagi mandi, mungkin saja sekarang sudah selesai" ujar pak Doni tanpa ditanya
"Astaga Bu... Tunggu sebentar disana" ia mematikan sambungan teleponnya dan berlari menaiki anak tangga untuk memberitahu Sugi
"Tok!tok!tok!" Ia mengetuk kamar Sugi
"Pak, bisa keluar sebentar? Bu Riri sedang berada di atas tembok belakang!!"
"Hah?!!!" Sugi terdengar kaget, ia membuka pintu kamarnya dengan terburu-buru
"Di tembok belakang rumah ini?" tanyanya dengan wajah tak percaya
"Iyah pak" jawab pak Doni sambil berlari menuruni anak tangga diikuti oleh Sugi
Mereka berdua terlihat kaget luar biasa saat melihat Riri sedang duduk santai diatas tembok sambil bersenandung memandangi bulan yang bersinar terang benderang malam ini, bentuknya hampir bulat sempurna.
Sugi nampak berkacak pinggang menahan kesal, ia merasa takut sekaligus gemas dengan kelakuannya saat ini. "Kok bisa-bisanya dia naik keatas sana dengan santai" Batinnya sambil menggeleng
Mereka menghampiri dengan perasaan was-was.
__ADS_1
"Bu Riri!!!" Panggil pak Doni dari bawah
Riri menoleh kearah suara "hi pak..."ia tersenyum namun senyumnya langsung musnah ketika melihat wajah masam Sugi yang sedang berdiri dibelakang pak Doni
"Duh nanti pasti diomeli lagi deh" gumamnya dengan wajah kecewa
"Bu Riri, bisa maju sedikit? Dibawah sana ada pijakan tempat pot bunga. Nah dari sana Bu Riri bisa melompat, nanti saya tangkap Bu biar tidak terlalu tinggi" ujar pak Doni, telunjuknya menunjuk ke arah yang ia maksud
"Ok pak, siap!" Jawabnya lalu sambil duduk ia bergerak maju, mengangkat pantatnya pelan-pelan sambil bertumpu pada tembok dibawah tangannya.
Pak Doni dan Sugi nampak menahan napas melihat Riri bergerak ke depan dengan menyeret pantatnya.
"Hati-hati Bu!!!" teriak pak Doni sambil menunggu di titik yang ia maksud. ia menurunkan satu Pot bunga dari tempatnya, agar Riri bisa berpijak disebelah sana
Akhirnya Riri sampai juga di titik yang dimaksud, ia menoleh pada suami Bu Widi di seberang tembok
"Terimakasih yah pak, saya turun dulu!" Ia berteriak
"Iyah Bu sama-sama" jawabnya dibawah sana
Tangan Riri erat memegang pinggiran tembok, ia terlihat mulai memijakkan kakinya pada tempat pot bunga, kemudian menoleh ke bawah. Nampak Sugi merentangkan tangan, siap untuk menangkapnya dibawah
Ia tiba-tiba merasa bergidik melihat wajah Sugi yang muram "Sayang.... Senyum dong, kalau nggak senyum aku nggak jadi turun nih" kata Riri merajuk
Sugi nampak menggeleng "ayo cepat turun!" perintahnya dengan suara tegas
Pak Doni memperhatikan mereka sambil menahan tawanya
"CK! Iya deh, aku hitung yah. Aku melompat di hitungan ke-tiga. Satu ...dua..tiga!!!"
Riri melompat kearahnya, dengan sigap Sugi menangkapnya dengan baik. Ia nampak membopong Riri yang sekarang telah berada di tangannya masuk kedalam rumah.
Riri hanya terdiam, ia tahu Sugi sedang kesal padanya saat ini. Diam-diam matanya melirik kearah pak Doni dibelakang mereka. Ia menyunggingkan sedikit senyuman sambil menaikkan ibu jarinya untuk mengatakan terimakasih padanya.
Masih sambil menahan tawa pak Doni membalas menaikkan jari jempolnya lalu mengepalkan tangannya untuk menyemangati Riri. Pak Doni akhirnya membiarkan mereka berdua dan mengalihkan langkahnya ke arah kamarnya sendiri.
Riri yang nampak pasrah memeluk erat leher Sugi sambil menyandarkan kepala pada dadanya
__ADS_1