Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Cerita Dion


__ADS_3

"Sebentar ya aku harus memeriksa sesuatu" kataku dengan mata yang fokus ke arah layar laptop


"Ok" jawabnya kembali duduk tenang di sofa


Tepat tiga puluh menit pesanan makan siang kami akhirnya datang.


Setelah membayar makanannya aku meletakkannya diatas meja makan yang ada di belakang. "Aku memesan nasi goreng kambing, sama es cendol" kataku padanya


"Menu yang tepat, mendengarnya saja sudah membuatku ngiler" ia mengikutiku ke balakang menuju pantry


Aku mengeluarkan peralatan makan untuk kami "nih piringnya, buka nasinya sendiri ya" aku menyodorkan sebuah piring keramik padanya


"Thank you Riri" ia membuka bungkusannya dengan terburu-buru.


Suapan besar nampaknya telah masuk ke mulutnya dengan cepat. Matanya terpejam sambil mengunyah dengan cepat. Ia kembali menyuapkan makanan ke mulutnya tanpa jeda.


Sedangkan aku makan dengan santai sambil memperhatikannya tanpa berkomentar.


Dalam hitungan detik, nasi porsi besar tersebut tandas tak bersisa. Ia tersenyum lebar, tangannya memegang sendok sedang mengaduk-aduk es cendolnya.


"Sudah berapa lama nggak makan? Duitnya orang kaya dipake buat apaan aja sih? Celetukku


"Aku belum makan dari semalam. Nafsu makanku tiba-tiba saja musnah" ujarnya kali ini tanpa senyum, ia seperti sedang memikirkan sesuatu


"Kalau aku lagi hilang nafsu makan biasanya aku memaksakan diri untuk makan. Paling tidak 1-2 suapan biar tidak sakit dan menyusahkan diri sendiri. Belum tentu ada orang yang mau membantu saat kita sedang membutuhkan"


"Riri... bagaimana rasanya hidup teratur di keluarga yang akur dan bahagia? Pasti menyenangkan ya?" tanyanya tiba-tiba dengan wajah muram


"Ya menyenangkan, kenapa? Keluargamu nggak akur ya?"


"Aku yakin kamu pernah mendengar rumor tentang ayahku yang suka main perempuan. Aku tidak akan membantah rumor itu, karena ayahku memang seperti yang dibicarakan orang-orang itu. Terus terang aku sudah muak dengan kelakuan ayah"


Ia menghela napasnya "Semalam orangtuaku bertengkar hebat. Ia menyiksa ibuku hanya karena hal sepele. Aku benar-benar marah melihatnya, jadi tanpa sadar aku memukul ayahku"


Aku menatapnya merasa kasihan"ibumu baik-baik saja? Apa kamu sudah membawanya ke rumah sakit?"

__ADS_1


Ia menggeleng "ibuku hanya memanggil dokter pribadi kami. Ia tidak mau berita seperti ini menyebar kemana-mana. Sekarang kondisinya mungkin tidak lebih buruk dari semalam, tapi dia akan baik-baik saja"


"Kenapa ibumu memilih bertahan?"


"Keluarga Ibu memiliki hutang Budi yang cukup besar pada ayah. Aku juga sudah menyarankan untuk berpisah saja dengannya Tapi beliau menolak, ia yakin ayah akan berubah suatu saat nanti"


"Setiap kali mereka bertengkar, ibuku selalu saja menghubungiku meminta untuk ditemani. Kadang-kadang ia akan datang sendiri kerumahku dan menginap selama beberapa hari disana. Semalam juga ia menginap dirumahku"


"Karena kepikiran yah jadi nggak bisa tidur nyenyak?"


Ia mengangguk "Dulu aku masih bisa menghibur diri dengan pergi ke bar atau ke tempat hiburan malam, tapi belakangan aku bosan dengan itu semua. Aku hanya menginginkan kehidupan yang tenang saat ini"


"Ahh kenapa aku jadi menceritakan ini semua padamu" ujarnya dengan wajah menyesal


"Tidak apa-apa, mungkin dengan begini perasaanmu jadi lebih baik dan kamu tidak perlu numpang tidur dan makan disini lagi" jawabku dengan senyuman


"Hehehehe..." Dia terkekeh sembari menyantap es cendolnya


"Ku dengar kamu sempat bekerja sebagai asisten pacarmu ya?, kenapa akhirnya berhenti dan malah bekerja di perusahaan sepi ini?"


"Ohh.... Terus kakakmu sekarang diluar negeri?"


"Awalnya dia membangun usahanya disana, karena berkembang baik jadi dia perlu orang yang membantunya mengurus supplier dan pengiriman dari sini"


"Luar biasa sekali kakakmu. Namanya Damar ya kalau aku tidak salah dengar tadi. Namanya mirip seperti nama salah satu kakak pembina pencak silat alumni sekolahku dulu. Tapi sayangnya ia sudah lama meninggal. Padahal orangnya baik, aku sangat menghormatinya"


"Aku yakin yang kamu maksud Damar Laksana, dia kakakku Dion"


"Hah?!! Kakakmu?? Dia masih hidup?? Aku dengar dia meninggal karena terpeleset saat naik gunung, apa berita itu bohong?"


"Ceritanya panjang Dion. Tapi syukurnya dia masih sehat" aku mengambil ponselku dari atas meja dan memperlihatkan foto Damar saat bersamaku padanya


"Ini kan Damar yang kamu maksud?"


Wajahnya terlihat senang "Iyah benar dia orangnya. Dia benar-benar panutan bagiku, Riri. Aku dan teman-teman sering mengobrol dengannya usai latihan di sekolah. Saat aku mendengar berita itu terus terang aku benar-benar merasa kehilangan. Rasanya tidak ada lagi tempat untukku mengadu"

__ADS_1


"Nanti coba aku tanyakan padanya, apa boleh aku berikan nomornya padamu. Aku takut dia merasa kurang nyaman karena kesibukannya saat ini"


"Aku mengerti, tapi aku tidak menyangkanya sama sekali ternyata kamu adiknya Damar. Pantas saja tamparanmu begitu kencang tadi. Aku pernah mendengar dari beberapa temanku katanya Damar memiliki adik yang cantik dan galak. Ternyata mereka tidak salah, malah aku sekarang menyesal karena tidak ikut tertarik untuk mengenalmu waktu itu"


"Di umur segitu aku sangat Badung Dion. Jadi jangan berharap untuk dekat denganku"


"Pastinya hahahahaha sekarang saja sisa-sisa judesnya masih ada kok"


"Hmm maaf apa benar orang tua kalian sudah tiada?"


"Iyah benar"


"Maaf Riri"


"Tidak masalah Dion, itu sudah lama sekali berlalu. Kamu beruntung masih memiliki orang tua yang sehat. Walaupun mereka tidak sempurna tapi masih ada yang bisa diandalkan ketika menemui masalah. Setidaknya Ibumu masih sangat sayang dan peduli padamu"


Ia menatapku dengan wajah sedih "ternyata kehidupanmu masih lebih pelik Riri"


"Semua orang punya masalah Dion, beda porsi saja. Aku merasa beruntung karena aku masih baik-baik saja setelah banyak hal buruk yang menimpaku bertahun-tahun"


"Aku merasa malu dengan diriku sendiri"


"Nggak usah merasa begitu, sekarang lebih baik kamu membangun masa depanmu sendiri. Tidak usah terlalu memikirkan ayahmu. Cukup lindungi ibumu dengan baik. Aku juga yakin suatu saat nanti, disaat ayahmu sudah benar-benar habis dalam artian uang ataupun sudah impot*n barulah kemungkinan dia akan bertobat"


Dion tersenyum geli mendengar kata impot*n yang kuucapkan dengan santai


"Iyah kan?, di saat itulah dia akan mencari ibumu. Memang kurang ajar sih tapi biasanya memang begitu. Mana ada wanita muda, cantik, mata duitan yang rela merawat pria tua dan bangkrut??"


"Iya kata-katamu benar Riri, masuk akal"


"Mumpung harta warisan keluargamu masih banyak, lebih baik kamu gunakan untuk membuat usaha serius yang menghasilkan. Buktikan pada orang-orang yang merendahkanmu kalau kamu lebih baik dari ayahmu dan penilaian mereka salah"


"Aku memang tidak salah datang kemari Riri, kamu seperti motivator handal, aku salut padamu. Pantas saja pak Dirut sangat menyukaimu bahkan posesif terhadapmu"


"Aduh aku baru ingat belum melihat berita hari ini. Dia melakukan test DNA dirumah sakit. Kalau kamu sudah selesai taruh saja piringnya di bak cuci piring. Aku mau melihat beritanya dulu" aku berlari kecil menuju meja kerjaku kembali.

__ADS_1


Dion memandang Riri yang sedang tergesa-gesa dengan wajah cerah.


__ADS_2