
Dengan terburu-buru Hadi masuk kembali ke dalam mobilnya. Ia baru saja ingat betapa berbahayanya kalau sampai ia ketahuan sedang memperhatikan Riri dari kejauhan. Mengingat akhir dari kejadian waktu itu ia yakin sekali Sugi pasti sudah menempatkan bawahannya disana untuk melindungi Riri. Atau bisa jadi menempatkan beberapa orang lagi di sekitar tempat ini tanpa ia sadari.
Sopirnya nampak telah kembali membawa pesanan untuknya
"Saya mau diam disini sendirian, nanti saya hubungi kembali" ujarnya pada sopir yang baru saja masuk kembali ke dalam mobil
"Baik pak" jawab sopir itu kemudian keluar dari dalam mobil dengan wajah bingung
Sambil menikmati makan siangnya, matanya sesekali melihat ke arah kantor Riri. Tadi ia melihat Riri masuk ke kantor itu setelah beberapa saat mengobrol dengan seseorang di depan warung makan yang berada disebelah kantor tersebut
"Jadi kantor ini tempatmu bekerja sekarang, Tari. Aku rindu setengah mati padamu. Wangimu yang menempel pada pakaianku waktu itu masih kuingat sampai detik ini" gumamnya dalam hati
"Sampai-sampai aku membawa pakaianku itu ke semua gerai parfum terkenal hanya untuk mencari parfum apa yang kamu pakai saat itu. Dengan menghirup wanginya aku berharap selalu bisa merasakan kehadiranmu di sisiku, Tari. Namun ternyata aku gagal menemukan parfum itu bahkan sampai sekarang" ia menghela napasnya
Ponsel di kantongnya bergetar, dengan perlahan ia merogohnya
"Selamat siang pak Bambang"
"..."
"Ok, setengah jam lagi saya sampai"
"..."
"Ok pak"
Ia kemudian menghubungi sopirnya agar kembali, untuk mengantarnya pada jadwal meeting selanjutnya hari ini
"Besok aku akan kembali lagi kemari Tari" ia nampak tersenyum
Sementara itu Riri baru saja kembali ke kantornya setelah tadi ia membantu kesibukan di warung sebelah yang sedang ramai-ramainya di jam makan siang.
"Warungnya ramai banget ya Bu?!" Ujar Lisa padanya
"Iyah Lis, anak-anak kewalahan tadi. Kasihan mereka"
"Tapi luar biasa ya Bu, belakangan jadi makin ramai" Lisa tersenyum hingga menampakkan dua buah lesung pipi yang menambah manis wajahnya
"Iyah sepertinya begitu, makanya saya sedang mempertimbangkan untuk menambah satu karyawan lagi"
Lisa mengangguk mendengar ucapan Riri
__ADS_1
Hari ini berlalu dengan cepat tanpa disadari oleh Riri. Lisa sudah mendahuluinya pulang sejak sejam yang lalu.
Pak Jon seperti biasa nampak setia berjaga di depan. Jam berapapun Riri pulang, ia tetap menunggu dengan sabar. Bukan hanya karena tugasnya yang mengharuskan ia seperti itu namun lebih kepada rasa hormatnya pada Riri. Ia merasa berhutang nyawa padanya, saat dua orang laki-laki melakukan penyerangan pada mereka waktu itu.
"Pak Jon, saya pulang dulu ya" kataku pada pak Jon yang nampak melamun kemungkinan karena merasa lelah berjaga sedari pagi
"Baik bu, hati-hati dijalan" jawabnya sembari berdiri bersiap untuk mengunci pintu depan utama kantor ini
"Terimakasih pak, sampai besok" kataku lalu bergegas menuju mobilku yang berada tepat di depan kantor
"Sampai besok juga Bu Riri" ujarnya bersemangat di belakangku
Karena lalu lintas tidak terlalu padat aku sampai dirumah dalam waktu yang cukup singkat
Ponselku bergetar kulihat ada pesan yang masuk dari Sugi
"Baby, aku masih ada urusan. Mungkin aku tidak bisa menginap malam ini, tidak usah menungguku. I love you 😘"
"Dari Ketikannya yang singkat dan tidak kekanakan seperti biasanya kemungkinan besar ia sedang berada di sebuah pertemuan penting. Mungkin saja ada makan malam dengan klien" batinku
"Ok babe, I love you too 😘"
Jawabku singkat, karena tidak mau mengganggu konsentrasinya saat ini.
Seluruh badanku rasanya pegal luar biasa. Aku memandangi langit-langit kamar dan tanpa sadar aku pun terlelap
Aku terbangun, sayup-sayup ku dengar suara anjing-anjing di sekitar kompleks ini menggonggong ribut dan sekali dua kali suara teriakan seseorang di depan rumah. Aku merasa khawatir dan turun dari ranjang kemudian memantau keadaan di luar dari jendela kamarku.
Ku lihat seorang laki-laki dengan penutup wajah sedang di tangkap oleh dua orang laki-laki berbadan tegap juga sedang memakai penutup wajah. Entah apa yang sedang mereka ributkan di depan rumah ini.
Beberapa lama kemudian, laki-laki yang tertangkap tersebut dibawa masuk ke dalam mobil dan dibawa pergi menjauh oleh dua orang yang menangkapnya.
Melihat kejadian itu tiba-tiba saja membuat perasaanku menjadi tidak enak. Aku masih duduk di depan jendela kamar masih memantau keadaan sekitar. Sesaat kemudian kulihat ada sebuah mobil hitam yang berjalan pelan di depan rumah. Mobil itu lalu berputar dan kembali berjalan pelan saat sampai di depan rumah ini lagi dan akhirnya tidak kembali. Kulihat jam diatas nakas menunjukkan pukul 23 lewat 15 menit.
Ponselku yang kuletakkan di atas nakas pun berbunyi, kulihat Sugi sedang melakukan panggilan. Dengan cepat aku mengangkatnya
"Sayang, kamu belum tidur?" tanyanya dengan nada khawatir
"Tadi sudah tidur tapi kebangun gara-gara suara anjing menggonggong dan suara orang teriak-teriak di depan" ujarku
"Aku kesana ya, ini bentar lagi nyampe"
__ADS_1
"Iyah" aku meletakkan ponselku kembali lalu turun ke lantai satu untuk menunggu Sugi
Tak berapa lama kulihat pak Doni membuka pintu gerbang kemudian memasukkan mobilnya ke dalam. Sugi turun dari mobil dan bergegas melangkah masuk ke dalam rumah
"Sayang..." Ia berlari dan memelukku erat
"Ada apa sih?" tanyaku saat berada dalam pelukannya
"Nggak ada apa-apa, aku hanya khawatir padamu" ada kelegaan pada nada suara dan helaan napasnya
"Tapi tadi aku lihat dari kamar, ada orang yang sedang di tangkap dua orang laki-laki. Mereka membawanya masuk ke dalam mobil dan pergi"
"Kamu melihatnya dari awal?"
Aku menggeleng "nggak, aku kebangun gara-gara suara ribut di depan itu"
"Mungkin polisi sedang menangkap penjahat" ujarnya masih memelukku
"Aku juga melihat ada mobil hitam yang berjalan pelan di depan rumah ini, bolak balik terus pergi"
Ia melepaskan pelukannya "oh ya? Ada hal yang mencurigakan lainnya?" Wajahnya terlihat tegang
"Nggak, ada apa sih sayang?"
"Aku juga nggak tahu, tapi sepertinya kita harus meninggikan tembok rumahmu dan kita juga perlu memasang kamera CCTV dan alarm"
Aku menatapnya bingung
"Sayang, aku takut terjadi hal-hal yang membahayakan untukmu. Kita harus selalu waspada kan?"
"Iya sih, tapi kenapa mendadak. Bukannya selama ini kompleks perumahan ini aman-aman saja?"
"Iyah itu sebelum Silvi datang"
"Oo ya sudah kalau begitu" aku mulai mengerti kekhawatirannya
"Pak Doni nggak ikut menginap?"
"Nggak" Sugi tersenyum tapi sorot matanya mengatakan ada sesuatu yang sedang terjadi tadi
"Naik yuk, aku mau beristirahat. Aku lelah sekali sayang" ia menarik tanganku dengan lembut
__ADS_1
Tanpa menjawab aku pun mengikutinya