
Waktu pun berlalu dengan cepat. Sudah seminggu lebih Riri tinggal di salah satu kamar Lembayung villa retreat. Ia sengaja tidak mengubah nama Villa ini, karena menurutnya nama itu sudah mewakili perasaan tenang dan nyaman ketika berasa disini. Pemilik sebelumnya pun merasa sangat bahagia begitu tahu Riri tidak mengubah nama Villa ini.
Riri baru saja bangun ketika telepon di kamarnya berbunyi. Sambil turun dari ranjang, ia melihat ke arah jam yang ada di atas nakas. Ia sedikit kaget karena waktu telah menunjukkan pukul 8.
"Selamat pagi, dengan Riri" jawabnya dengan suara agak parau, hasil begadang semalaman menyeleksi data pelamar yang akan dipekerjakan di sini.
"Selamat pagi Bu Riri, saya Kanis. Maaf saya mengganggu. Ibu mau sarapan di kamar atau si restauran?" tanya pak Kanis, ia merupakan manager villa semasa kepemilikan pak Gilang.
Menurut pak Gilang, pak Kanis bersikukuh untuk tetap bekerja di villa ini walaupun pemiliknya sudah berganti. Beliau juga mengatakan semua staff yang bekerja di villa ini adalah orang-orang yang berdedikasi dan memiliki semangat bekerja serta tanggung jawab yang tinggi. Sehingga tim mereka cukup solid.
"Di restauran saja pak, sekitar tiga puluh menit lagi saya turun. Terimakasih ya pak"
"Baik Bu, dengan senang hati Bu" jawab pak Kanis bersemangat.
Aku tersenyum mendengar nada suaranya "Dari suaranya yang bersemangat saja aku jadi ikut ketularan memiliki energi positif pagi ini" gumamku sendiri kemudian bergegas bangkit menuju kamar mandi.
Kurang lebih setengah jam kemudian aku telah sampai di restauran villa ini. Kulihat senyum pak Kanis mengembang, ia melangkah menghampiriku. Pak Kanis memiliki postur tubuh yang sedang, tidak terlalu tinggi dengan kulit agak gelap. Rambutnya hitam keriting dan berkacamata. Langkahnya tegas dengan postur badan tegap, langkahnya itu mengingatkan aku pada Sugi.
"Silahkan Bu Riri" ia mempersilahkan aku duduk di satu kursi yang sudah ia persiapkan dengan baik.
Aku hanya tersenyum sambil mengangguk mengikuti arahannya.
Sambil melangkah aku melihat sekeliling restauran ini. Ada 10 meja disana masing-masing memiliki empat kursi yang terbuat dari kayu jati. Restauran ini menyerupai rumah adat dengan bentuk persegi memiliki empat tiang penyangga yang terbuat dari kayu jati. Ada sebuah kolam ikan mas kecil yang terletak di sisi kiri restauran, dan di sekelilingnya di tumbuhi dengan tanaman perdu dipenuhi bunga kecil berwarna ungu dan putih. Sungguh menyenangkan berada di tempat setenang dan seteduh ini.
Aku pun duduk di kursi tersebut dengan tenang sambil menikmati sarapan berupa nasi goreng buatan tukang masak junior yang bernama Rudi. Ia salah satu staff yang kembali bekerja di villa ini atas informasi dari pak Kanis.
"Pak Kanis sudah sarapan?" tanyaku padanya yang nampak ikut duduk di depanku. Ini aku lakukan setiap pagi sambil membahas beberapa hal penting terkait renovasi dan hal-hal penting seputar villa ini.
"Sudah Bu, saya sarapan dirumah tadi"
"Oh iya pak, kenapa staff yang bekerja disini tidak kelihatan saat saya berkunjung kemari untuk pertama kalinya?"
"Sebelum ibu membeli villa ini semua staff sudah dirumahkan selama kurang lebih sebulan. Tingkat hunian villa ini tiba-tiba saja menurun drastis beberapa bulan belakangan. Dan pada akhirnya berhenti beroperasi sepenuhnya"
Aku mengangguk "oh begitu, dari catatan kemarin kenapa tidak semua staff yang lama bisa kembali bekerja disini pak?"
"Iyah Bu, beberapa dari mereka ternyata sudah bekerja di tempat lain"
__ADS_1
"Srrrrrrr...."
Serentak kami menoleh ke arah suara. Dari kejauhan kami mulai mendengar suara gaduh gerinda dan palu beradu dengan keramik, beton dan kayu. Pertanda renovasi hari ini sudah mulai kembali dilakukan
"Semalam saya sudah mensortir beberapa calon staf dan supervisor yang baru. Saya tidak akan mencari manager di tiap divisi untuk sementara waktu. Sambil jalan kita lihat hasil kerja mereka, biasanya anak-anak muda cepat beradaptasi. Kalau nanti performa mereka bagus kita akan memberikan kesempatan jenjang karir untuk mereka"
Aku menyerahkan data dan list orang-orang yang masuk penilaianku pada pak Kanis. Pak Kanis membaca list tersebut dengan teliti.
"Ini data dari sisa kandidat yang belum masuk kriteria saya pak. Kalau menurut pak Kanis kurang cocok silahkan sampaikan, kita bisa diskusikan lagi" aku menyerahkan data ke dua
Ia menggaguk "sebentar Bu saya cek dulu"
"Nanti pak Kanis yang interview mereka di sesi pertama dengan tes-tes seperti biasanyalah pak. Saya akan masuk di sesi interview kedua setelah mereka lolos dari sesi tes. Bapak atur saja kapan mereka harus datang, dan lakukan secepatnya"
"Iyah Bu" jawab pak Kanis sambil melihat sedetik ke arahku dan kemudian kembali memeriksa data di tangannya
"Oh iya pak Yuda sudah ambil sarapan kemari pak?" Aku tiba-tiba teringat dengan anak buah pak Doni yang ditugaskan oleh Sugi menjagaku selama berada disini.
"Sudah Bu, sekarang pak Yuda sedang berada di depan. Tapi maaf saya hanya ingin tahu, apa dia yang nanti akan menjadi salah satu sekuriti disini Bu?"
Aku menggeleng "kita cari orang baru saja pak"
"Hehehehe" aku terkekeh mendengar ucapan pak Kanis "aslinya tidak seseram itu kok pak, dia saya ajak kemari untuk menemani saya selama saya disini" ujarku tanpa menyebut kata pengawal atau tukang pukul dihadapannya
"Ohhh begitu" ujarnya pura-pura mengerti padahal wajahnya terlihat bingung, masih belum paham hubunganku dengan pak Yuda. Ia telah beberapa kali memergoki pak Yuda berkeliling di sekitar tempat aku berada, sewaktu aku berkeliling meninjau renovasi.
"Ok pak, saya turun dulu melihat renovasi di bawah. Nanti kita bahas-bahas lagi masalah ini"
"Iyah Bu, silahkan" ia ikut berdiri saat aku bangkit bersiap-siap untuk meninggalkan restauran ini
Ketika aku sampai di villa yang sedang direnovasi, pak Yuda seperti biasa juga sudah berada disana
"Cepat banget sih nih orang sudah ada disini" batinku setelah sempat bertukar pandang dengannya sedetik dua detik
Tukang bekerja sesuai dengan harapanku. Beberapa renovasi nampaknya sudah dalam proses finishing. Tidak salah memang aku memutuskan masih menggunakan jasa tim yang sama. Mereka bekerja dengan cepat dan Rapi. Seorang laki-laki berbadan kurus berkulit hitam legam berlari menghampiriku. Keringatnya nampak mengucur deras di pelipisnya
"Selamat pagi Bu" sapa pak Mega, ia yang menjadi mandor proyek ini
__ADS_1
"Selamat pagi pak Mega"
"Dua villa di belakang ibu sudah mulai selesai di renovasi, ibu bisa cek detailnya. Nanti kalau ada yang kurang bisa info ke saya. Sementara semua masih sesuai dengan perkiraan waktu yang sempat saya informasikan kepada Bu Riri"
"Iyah saya sudah lihat sekilas, nanti saya cek detailnya pak. Terimakasih pak Mega"
"Sama-sama Bu, saya mau melanjutkan pekerjaan saya"
"Silahkan pak" kataku sambil memotret beberapa bagian renovasi ini
Aku ingin mengirimkan perubahannya pada kak Damar dan Sugi
"kak Damar dan Sugi pasti senang dengan kemajuan ini" ujarku sendiri setelah selesai mengirimkan foto tersebut pada mereka
Ponselku berbunyi, kulihat nama Rista sedang melakukan panggilan
"Pagi Ris, ada apa?" jawabku dengan perasaan was was
"Pagi Bu Riri. ini Bu, bapak-bapak langganan bubur yang datang tiap pagi hampir setiap hari menanyakan keberadaan Bu Riri. Malah tadi wajahnya kayak yang sedih Bu"
"Duh saya kira ada apa. Bilang saja saya ada tugas keluar kota Ris"
"Sudah Bu, tapi orangnya seperti nggak percaya Bu"
"Biarlah Ris, Kemarin-kemarin tiap disapa dan diajak ngobrol kadang balas kadang nggak. Eh kenapa malah sekarang saya dicariin terus?"
"Entahlah bu, saya juga nggak tahu. Tapi biar dia nggak nanya terus, boleh saya bilang kalau ibu setahun lagi baru balik?"
"Hahahaha ah kamu Ris, bilang saja tetap seperti tadi. Kapan balik? Bilang saja tidak tahu"
"Iyah Bu, tapi kita semua disini juga kangen sama Bu Riri"
"Masa? Bukannya tiap saya ke warung kalian jadi harus pura-pura sibuk? Hahahaha"
"Ah ibu, hahahaha nggak gitu Bu" terdengar suara gelak tawa Rista
"Hahaha ya nanti saya pasti sesekali kembali ke sana. Kalian semangat bekerja ya, bilang juga ke yang lain"
__ADS_1
"Iyah Bu nanti saya sampaikan"
"Ok Ris" aku menutup sambungan teleponnya