
Riri merasa tubuhnya terombang-ambing sesaat setelah mesin kapal laut ini di matikan. Ia mendengar suara percakapan diatas sana, entah dimana. Yang pasti ia tidak mampu untuk berteriak meminta pertolongan.
Diatas dek, Damar dan Dion beserta beberapa orang bawahan pak Doni baru saja ikut naik ke kapal laut yang besar ini. Sejak mereka menghubungi Ridwan bantuan pun datang. Dengan menggunakan speedboat mereka berpencar mencari ke semua perahu dan kapal laut yang melintas di sekitar kawasan pantai.
Sejak tadi tak satupun dari mereka yang bisa menemukan petunjuk atas keberadaan Riri. Dari semua kapal dan perahu yang melintas, kapal besar ini adalah kapal terakhir yang mereka sidak. Besar harapan mereka untuk menemukan Riri di kapal ini.
Nakhoda kapal ini pasrah menghentikan mesin kapalnya setelah dikepung banyak orang di sekitar kapal. Ia pun keluar berniat untuk berkomunikasi.
"Ada apa ini?" Tanyanya dengan raut wajah tidak suka. Nakhoda kapal laut ini bertubuh tinggi besar dengan kulit cokelat tua dan rambut yang berwarna kekuningan. Ia berkacak pinggang dihadapan Damar dan yang lainnya.
"Maaf mengganggu pekerjaan anda pak, tapi kami sedang mencari adik saya yang baru saja diculik. Terakhir mereka membawa adik saya menggunakan perahu kecil" jawab Damar berhati-hati
"Anda lihat ini kapal besar bukan perahu kecil"
"Iyah saya tahu, kami sudah menyisir hampir semua perahu dan kapal yang melintas disini tapi kami tidak menemukannya. Bisa jadi adik saya sudah dipindahkan ke perahu atau ke kapal lainnya untuk menghilangkan jejak"
"Mmm...kalau boleh saya mau memeriksa kapal ini, siapa tahu adik saya ada disini" ujar Damar dengan wajah penuh harap
Nakhoda tersebut menatap Damar selama beberapa detik, kemudian ia mengangguk pelan
"Kalian boleh memeriksa penumpang disini, tapi lakukan dengan cepat. Waktu saya tidak banyak" ia memutar tubuhnya sambil mengusap wajahnya yang berkeringat menggunakan handuk yang melilit di leher.
"Terimakasih pak" sahut Damar
Tanpa menunggu lagi mereka berpencar memeriksa semua penumpang termasuk semua ruangan yang dimiliki oleh kapal tersebut. Namun pencarian mereka disini juga sia-sia.
"Kita kembali saja dulu kak, hari sudah semakin sore" Ujar Dion dengan wajah sedih
Damar mengalihkan pandangannya, ia tak menjawab hanya bergegas turun dari kapal tersebut untuk kembali ke speedboat.
"Beberapa orang sebaiknya tetap berjaga disekitar tempat ini, saya yakin orang yang membawanya akan kembali kemari" perintah Damar pada anak buah pak Doni sesaat setelah mereka kembali ke dermaga.
"Kami mengerti pak" jawabnya kemudian segera berembug dengan teman-temannya untuk berkoordinasi.
Suara mobil berdecit dari kejauhan membuat semua orang kaget dan otomatis menoleh kearah suara. Mobil tersebut berhenti tepat disebelah mobil Damar. Sugi kemudian nampak turun terburu-buru dari mobilnya dan berlari menghampiri Damar.
Damar yang sedang emosi ikut berlari mendekat kearah Sugi dan menarik kerah bajunya
__ADS_1
"BR*NGS*K!!! KENAPA KAU BARU DATANG!!!! KALAU SAMPAI TARI CELAKA, AKU AKAN MEMBUAT PERHITUNGAN DENGANMU!!!" Teriak Damar di depan wajahnya. Dadanya terlihat naik turun menahan amarah.
Dion pun ikut berlari terburu-buru untuk melerai mereka "Sabar kak...sabar!!! Jangan begini kak... Ini bisa menambah masalah baru untuk kita" ujarnya sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan Damar dari kerah baju Sugi
Bawahan pak Doni pun ikut mendekat, namun mereka tidak berani bertindak apa-apa. Mereka tahu betapa putus asanya Damar berusaha menemukan Riri di setiap perahu dan kapal yang mereka temui sore ini.
Sugi menunduk lemah "Lampiaskan saja kekesalanmu padaku. Aku pun saat ini sedang merasa tidak berguna dan sangat layak untuk diberikan pelajaran. Ini salahku Rio" jawabnya pelan
"SIAL!!!" Damar melepaskan cengkraman tangannya dan meninju batang pohon yang ada disebelah mereka dengan kencang.
"BHUG!!!" Batang pohon itu koyak seketika
Sugi mengalihkan pandangannya, ponselnya kemudian berbunyi
"Iyah Ridwan gimana" jawabnya
"...."
"Ok kirimkan nomor dan profilnya terbarunya"
Sugi memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku kemejanya.
"Maafkan aku Rio, seharusnya aku lebih memperketat pengawalanku pada Riri. Ini diluar dari rencanaku"
"Terus apa yang bisa kamu lakukan sekarang?" tanya Damar sambil melipat tangannya di depan dada
Ponselnya kembali bergetar, ia memeriksa pesan yang dikirimkan oleh Ridwan
"Ternyata orang ini"
"Siapa?" Damar menatap sugi tak berkedip
"Hadi" ia menyerahkan ponselnya pada Damar
"Aku tidak mengetahui kalau ternyata mereka berdua saling mengenal dan bekerjasama. Dan saat ini aku sedang menunggu informasi dari seseorang mengenai Hadi K*parat ini"
"Dimana perempuan sinting itu? Aku akan pergi menemuinya" Kata Damar
__ADS_1
"Dia kini sudah berada di tangan pihak berwajib karena berusaha menjebakku. Aku yakin dia tidak akan mau membuka mulutnya mengenai keberadaan Riri"
Mereka lalu sama-sama terdiam memikirkan semua ini
Pak Doni sedang berjalan tertatih-tatih, kakinya terasa kebas karena efek obat penenang yang disuntikkan padanya. Sudah dua jam lamanya ia berjalan sambil menunggu ada kendaraan yang melewati kawasan ini, namun tak ada satupun yang lewat. Ia pun sadar kalau kawasan ini memang kawasan terpencil dan jauh dari pemukiman. Ketika ia hampir putus asa, sebuah mobil pick up bermuatan sayur mayur melintas. Ia mengacungkan ibu jarinya untuk memberi tanda meminta ikut menumpang. Beruntung mobil itu berhenti dan mau mengangkutnya ke kota.
Waktu berjalan dengan cepat, perahu yang mengangkut Riri akhirnya berlabuh di suatu dermaga. Tubuhnya berguncang saat box tempat ia disembunyikan diangkat oleh seseorang. Kali ini ia mendengar lagi percakapan beberapa orang dan kembali merasa bergerak. Namun kali ini pergerakannya sangat mulus seperti berada di dalam sebuah mobil.
Perjalanannya terhenti, ia mendengar suara pintu mobil di buka dan ditutup. Ada suara Langkah kaki seseorang mendekat ke arahnya lalu terdengar suara mendecit seperti pintu bak pick up yang baru saja dibuka. Boxnya kembali terangkat, ia dibawa ke suatu tempat.
Ia merasa diturunkan dengan perlahan. Lalu berganti suara gemerincing kunci, seseorang sedang membuka kunci boxnya. Ia kemudian bisa melihat seberkas sinar terang terselip diantara penutup matanya.
Sebuah tangan dingin tiba-tiba menyentuh lengannya
"Mmmm!!!" Riri tersentak kaget, tubuhnya mengejang
Ia dikeluarkan dari box tersebut perlahan dan dibaringkan diatas tempat tidur yang empuk
"Luruskan kaki dan tangannya, kemungkinan dia sedang kram" kata seorang laki-laki
Ia merasa kakinya yang terikat dan sedang kesemutan diluruskan perlahan, begitu juga tangannya yang juga masih terikat.
"Tugas kita selesai dengan sukses, sebentar lagi orang itu akan datang"
"Semoga saja dia membayar sebesar yang telah kita tetapkan padanya, kalau tidak akan ku patahkan batang lehernya"
"Kalau dia berani macam-macam aku akan mengambil wanita ini kembali lalu meminta tebusan pada bos Wijaya Grup. Jadi pekerjaan kita tak akan sia-sia"
Riri mendengarkan pembicaraan mereka dalam diam. Ia sebenarnya sedang bersiap kalau nanti mereka tiba-tiba melakukan hal yang buruk padanya.
"Hahahahaha... Kalian memang benar-benar hebattt!!!" Suara tawa menggelegar terdengar dari balik pintu
Riri terkejut, karena merasa sangat mengenali suara laki-laki ini.
"Suara itu suara Hadi, aku yakin tidak salah mengenali suara tawa itu. Oh jadi dia merencanakan ini semua bersama-sama dengan Silvi. Aku tidak menyangka mereka bisa saling mengenal" ujar Riri dalam benaknya
"Ahhh sayangku Tari... akhirnya kita bertemu lagi. Malang sekali nasibmu harus terikat seperti ini demi menemuiku" ujar Hadi sambil mengusap lembut kepalanya
__ADS_1