
Ketika acara usai, beberapa orang nampak telah beranjak dari sana. Sedangkan Bu Alina masih sibuk menyimpan satu persatu perhiasannya ke dalam kota dengan hati-hati
"Bu, maaf saya boleh minta waktunya sebentar sebelum pulang. Saya mau bicara sedikit" kata Bu Rita yang sedang duduk di hadapannya
"Oh iya, sebentar yah Bu. Saya mau membereskan ini dulu"
"Ok kalau begitu saya mau mengantarkan yang lain dulu ke depan" ujar Bu Rita sambil berdiri bersiap untuk pergi
"Silahkan Bu" jawab Bu Alina sambil mengangguk
Semua Ibu-ibu anggota arisan nampaknya sudah pergi saat Bu Alina selesai membereskan perhiasannya. Ia terlihat duduk dengan tenang menunggu Bu Rita kembali.
"Maaf agak lama Bu, tadi malah diajak ngobrol lagi sama Bu Ineke di depan" seru Bu Rita sambil melangkah mendekat
"Bu Ineke kan memang suka mengobrol Bu, ceritanya nggak pernah habis ada saja yang ia katakan"
"Iyah loh" jawab Bu Rita sambil mengambil tempat lalu duduk di depan Bu Alina
"Maaf ya Bu Alina, waktunya saya minta sebentar"
"Nggak apa-apa Bu, saya juga tidak ada kegiatan yang mendesak setelah ini"
"Saya mau menanyakan tentang apa yang dikatakan oleh Bu Siska"
"Oh itu, saya juga baru tahu sewaktu tidak sengaja bertemu di acara Ibu Rita itu loh. Keponakan saya malah nggak pernah cerita"
Wajah Bu Rita terlihat kaget "Jadi Riri benar keponakan Ibu?"
"Iyah Bu, keponakan saya. Sudah sempat bertemu Bu Rita rupanya hehehe saya saja baru tahu. Duh anak itu, kenapa malah dia nggak pernah cerita kalau ternyata sudah diperkenalkan pada Bu Rita"
Wajah Bu Rita tiba-tiba berubah gelisah "Belum sih Bu, Riri belum diperkenalkan secara resmi pada saya. Karena Riri keponakan ibu, Artinya ia cucu dari mendiang bapak Wiratama? Kan?"
"Benar Bu, mungkin Bu Rita pernah mendengar gosip kalau bapak memiliki dua istri. Itu benar Bu, saya anak dari istri keduanya. Dan ibunya Riri anak dari istri pertama beliau"
Wajah Bu Rita semakin muram setelah mendengar cerita dari Bu Alina tadi
"Bu Rita kenapa? Apa ada masalah?" tanyanya khawatir
"Saya minta maaf yah Bu, kalau saja saya tahu Riri keponakan ibu sedari awal mungkin sikap saya terhadap Riri bisa lebih baik. Saya sempat menentang hubungan mereka, karena saya pikir Riri dari keluarga yang tidak jelas latar belakangnya. Saya benar-benar salah menilainya"
Bu Alina nampak terdiam sejenak dan akhirnya menjawab "tidak apa-apa Bu, saya mengerti. Sebagai sesama seorang ibu, kita memang hanya menginginkan yang terbaik untuk masa depan anak-anak kita. Namun kadang tanpa sadar ternyata kitalah yang menjadi penghambat mereka"
"Saya benar-benar ceroboh kali ini. Harusnya saya mencari tahu lebih banyak lagi tentang Riri. Saya bahkan sempat mengatakan hal buruk padanya Bu. Saya menyesal" Bu Rita meghela napasnya
Bu Alina tersenyum "Tapi tenang saja Bu, Riri anak yang baik dan pengertian. Ia pasti mengerti kenapa Ibu bersikap seperti itu padanya. Tapi saya ingin tahu bu, apa setelah ini Bu Rita menyetujui hubungan mereka?"
"Saya rasa begitu"
"Wahh bagus kalau begitu Bu, saya juga senang kalau ternyata nak Sugi yang menjadi pilihan hati keponakan saya. Dia sudah cukup banyak menderita selama ditinggal pergi oleh orang tuanya. Ini berita yang sangat menggembirakan untuk saya" senyum Bu Alina semakin mengembang
"Saya juga Bu, akhirnya saya bisa tenang tidak memikirkan masalah ini terus menerus" senyuman Bu Rita terlihat sumringah
"Ya sudah Bu kalau begitu, kita lanjutkan pembicaraan ini lain waktu saja. Seingat saya dari cerita saat arisan tadi, Bu Rita kan masih ada janji lain sore ini"
"Astaga, saya lupa hahahaha. Iyah setengah jam lagi saya sudah harus berada di hotel Kahyangan"
"Tuh kan benar hahahaha" Bu Alina tergelak sambil berdiri bersiap untuk beranjak dari sana
"Terimakasih ya Bu sudah mengingatkan, mana itu asisten saya, kenapa malah saya nggak diingatkan sih" gerutu Bu Rita sambil memeluk Bu Alina dan memberikan ciuman pada pipi kiri dan kanannya
"Saya pamit ya Bu, terimakasih atas jamuan dan pesanan perhiasannya" kata Bu Alina sambil tersenyum
__ADS_1
"Iyah sama-sama Bu nanti kita telpon-telponan yah habis ini, maaf saya tidak bisa mengantar"
"Iyah tidak apa-apa, saya tunggu teleponnya, mari Bu Rita" Bu Alina akhirnya beranjak dari sana
"Mari Bu, hati-hati dijalan"
"Iya terimakasih" jawab Bu Alina sambil melangkahkan kakinya perlahan
Hati Bu Alina sedang senang bukan kepalang. Ia mendengar secara langsung kalau Bu Rita merestui hubungan Riri dengan Sugi
"Akhirnya aku bisa tenang dengan hubungan mereka. Mereka berdua memang pasangan yang serasi, aku gembira sekali hari ini. Ayah dan kak Lily lihatlah akhirnya Riri dan Damar bisa menemukan kembali kebahagiaan mereka" Bu Alina bergumam, Hatinya terasa hangat sejak mendengar pengakuan restu dari Bu Rita tadi.
Sementara itu sejak pembicaraannya tadi dengan Bu Alina, tak henti-hentinya nama Riri muncul dalam benak bu Rita. Kali ini ia berniat untuk memperbaiki hubungannya dengan Riri. Setelah pertemuan sore ini dengan seorang teman bisnis ia nampak bergegas untuk pulang karena merasa lelah dengan aktivitasnya yang padat. Tangannya mengambil ponsel dari dalam tas dan nampak menekan layar ponselnya beberapa kali.
Sugi dan Riri masih dalam perjalanan pulang dari villa tempat mereka menginap.
"Hari ini menyenangkan sekali yah sayang" kata Sugi sambil mengucek rambut Riri
"Iyah, tapi aku rasanya cape banget. Pengin cepat-cepat sampai dirumah dan tidur"
"Hahahaha gimana nggak cape, abis keliling naik perahu kamunya kesana kemari nggak diam-diam"
"Pemandangan yang bagus sayang kalau harus di lewatkan begitu saja. Besok-besok sudah sibuk mana sempat kemari lagi"
"Nanti kita kemari lagi kalau ada waktu senggang"
Tiba-tiba ponsel Sugi berbunyi, wajahnya terlihat cemberut. Dari nada deringnya ia tahu yang menelpon adalah ibunya
"Sore Bu" jawab Sugi memakai head set wireless
"...."
"...."
"Iyah, kenapa?" Suara Sugi terdengar ketus
Riri menoleh padanya saat mendengar nada ketus itu
"...."
"Hah? Aku Nggak salah dengar Bu?"
"...."
"Serius??"
"...."
"Tapi besok aku kan sudah harus berangkat"
"..."
"Ya ibu saja yang menghubunginya langsung, lebih enak begitu" jawabnya kali ini dengan senyuman lebar
"..."
"Ya Bu, ok"
Sugi melepas headset wirelessnya dan meletakkannya kembali di dalam kantong kaos polonya
"Siapa sayang? ibumu ya?"
__ADS_1
"Iyah, katanya sudah nggak sabar mau punya menantu kamu hahaha" ia tergelak
"Ihhh apa sih" aku memukul pundaknya pelan
"Aku serius, baru saja dia menyuruhku mengajakmu datang kerumah untuk makan malam besok. Aku kan besok sudah berangkat pagi-pagi jadi nggak bisa" "Kok mendadak, dalam rangka apa?"
"Entahlah"
"Jangan-jangan aku mau diracun, biar gampang menyingkirkan aku"
"Halah, kebanyakan nonton film thriller pembunuhan sih" ia mencubit pipiku
"Hahahaha terus kenapa tiba-tiba baik? Mencurigakan"
"Hahahaha nanti juga kamu di telepon ibuku, tunggu saja"
Benar saja, ponsel Riri berbunyi. Nomor Bu Rita yang ia masih simpan saat bekerja di kantor Sugi tertera dilayar ponselnya sedang melakukan panggilan
"Tuh kan benar, ayo diangkat sayang. Calon mertuamu menelpon" Sugi berkata sambil mengulum senyumnya menahan tawa
Riri menarik napasnya panjang dan mengangkat telepon dari Bu Rita
"Selamat sore Bu Rita"
"Selamat sore Riri, lagi dijalan sama Sam yah?" suara Bu Rita terdengar ramah
"Iya...Bu" jawabnya ragu
"Riri, besok kalau ada waktu datang kerumah yah. Kita makan malam bersama"
"Tapi Sugi kan..."
Bu Rita memotong pembicaraan Riri "Iyah tadi dia juga sudah bilang. Riri datang kemari sendiri saja, tidak apa-apa kan? Kita makan malam biasa saja. Ibu mau bicara sama Riri" ujarnya lembut
"Baik Bu, besok malam saya bisa"
"Ok kalau begitu Riri, sampai jumpa besok ya"
"Iya Bu"
Sambungan teleponnya terputus
"Ini aneh sekali" aku menoleh kearah Sugi yang nampak bersemangat
"Aneh kenapa?"
"Kok tiba-tiba baik sih?"
"Yah bagus kan? Besok pasti ibuku cerita. Sudahlah berpikir yang baik-baik saja. Nggak mungkin ibuku melakukan sesuatu yang tidak baik dirumahnya sendiri. Lagipula ibu jarang sekali mengundang orang untuk ikut makan malam keluarga. Kecuali tamunya spesial"
"Ok aku akan datang besok malam"
"Cie yang sudah akur sama calon mertua hahahaha" Sugi tergelak
Aku mencubit kecil pinggangnya
"Ahh jangan dong sayang, masa calon mantu kesayangan keluarga Wijaya main tangan begini hahahaha" ia kembali tergelak
Aku menutup telingaku tidak mau mendengar lagi kata-kata yang keluar dari mulutnya "Diem ah!"
Sugi kembali tertawa "hahahaha duh sayangku" ia mengucek rambutku gemas
__ADS_1