Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Pengakuan


__ADS_3

Sampai dirumah aku membersihkan diri dan mengganti bajuku. Ku dengar Sugi memanggilku


"Riri!"


"Ya, sebentar" aku keluar dari kamar mendekatinya


"Kemarilah" tangannya menepuk sofa disebelahnya agar aku duduk di sana


Kulihat diatas meja ada dua buah gelas dan sebotol sparkling wine yang dibeli Sugi tadi. Aku duduk di sebelah Sugi


"kita mau minum wine?"


"Iyah, aku pengin ngobrol. Kamu bisa minum alkohol kan?"


"Bisa, tapi sedikit aja ya"


"Kenapa?"


"Kalau aku mabuk, aku yakin kamu takkan nyaman. Bicaraku akan ngelantur dan penuh makian. Aku juga bisa tiba-tiba berubah perilaku tanpa sebab, atau mendadak mengantuk lebih cepat lalu tertidur dimana saja" aku menggigit bibirku, teringat video yang direkam oleh kak Damar sewaktu ia tidak sengaja mabuk saat pesta ulang tahun dirumahnya.


Sugi tersenyum geli "tidak masalah, aku akan menjagamu tenang saja"


"Pokoknya sedikit saja ya, besok kan kita sudah kembali bekerja" ujarku khawatir


"Iyahh" jawab Sugi lembut sambil membuka botol wine dengan cara yang sangat elegan.


"Gimana kalau kita sambil nonton?" ujarku sambil menghidupkan televisi dan memilih film pada layanan streaming.


"Film apa ya?"


Sugi yang sedang berkonsentrasi menuangkan wine ke dalam gelas menyahut "Apa aja boleh"


"Thriller aja ya, ada film serial killer bagus lagi tayang. Ratingnya tinggi"


Sugi menoleh ke arahku dengan wajah penasaran


"Kenapa?" Tanyaku padanya


Dia menggeleng "selera kita sama, aku terkadang juga menyukai film action dan peperangan" tangannya menyodorkan segelas wine ke arahku


Aku mengambil wine tersebut dari tangannya "Terimakasih" ucapku kemudian mematikan lampu utama.


"Biar lebih seru nontonnya" ujarku lagi dengan semangat. Aku baru menyesal setelah duduk dengan tenang saat mulai menonton film yang tadi ku pilih.

__ADS_1


Sugi terlihat tenang menyesap wine ditangannya. Duduknya pun terlihat nyaman, badannya bersandar pada sandaran sofa dengan satu kaki bertumpu pada kaki yang lain.


"Suasananya sih memang mirip bioskop tapi suasana seperti inilah akan memicu hal-hal lanjutan yang sering terjadi di bioskop saat ngedate. Kamu lupa yah ciuman pertamamu dan Andi terjadi di dalam bioskop" aku menghela napasku, ingatan itu memicu detak jantungku yang semakin berdebar. Aku menyesap wine yang ada di tanganku beberapa kali untuk menurunkan keteganganku sendiri.


"Ini bahkan bukan kencan, kenapa juga aku harus risau. Sudah yah kita nonton aja dengan tenang" tanganku membelai rambutku yang tergerai


Wangi rambut Riri membelai lembut Indra penciuman Sugi, ia menoleh ke arah Riri yang nampak berkonsentrasi menonton film.


"Ah sial, konsentrasiku sendiri buyar hanya karena wangi aroma rambutnya. Jujur aku ingin sekali memeluknya" Sugi mengelus lehernya sendiri mencoba menenangkan pikirannya.


Setengah jam berlalu, adegan film sedang menayangkan si pembunuh menjalankan aksi untuk ke sekian kalinya kepada calon korbannya. Si Korban seharusnya bisa lepas dari cengkraman si pembunuh tapi karena kebodohannya sendiri akhirnya terjadilah pembunuhan itu. TIba-tiba Riri berteriak "anj*ng banget, ih b*go!! Ngapain sih ke rumah kosong begitu, ke tempat ramai kan bisa nj*ng. M*ti ajalah sana!!!" Umpat Riri tanpa sadar


Sugi yang kaget hanya bisa menahan tawanya melihat reaksi Riri. Dia memperhatikan gelas Riri yang ada di atas meja telah kosong. Riri menaikan kedua kakinya ke atas sofa, lalu ia duduk memeluk lututnya. Matanya tak sekalipun lepas dari layar televisi, ia nampak tegang menonton adegan film berikutnya.


Tadinya tangan Sugi berniat menahan Riri yang meraih botol wine. Tapi urung ia lakukan karena terdengar kembali umpatan lain dari bibir mungilnya "arghh!! Orang gila!!"


Riri lalu menuangkan wine tersebut ke dalam gelas kemudian menyesapnya dengan santai tanpa beban. "Ah Bab*!! Itu polisi kenapa sih!!" Umpatnya kembali


Sugi hanya tersenyum geli lalu menjauhkan botol wine itu dari hadapan Riri.


Riri menoleh ke arahnya "kenapa di pindah? Takut aku mabuk yah?" Katanya dengan suara ketus


"Nggak kok, biar nggak kesenggol" Sugi beralasan


"Benar-benar seperti yang dia katakan, dia mengumpat dan tidak peduli saat sedang mabuk. Menggemaskan sekali melihat dia memaki dengan bibir manisnya itu"


Sugi mendekatkan dirinya "Riri, kita istirahat saja ya kamu sepertinya ngantuk"


Dia menggeleng "belum ngantuk"


Sugi hanya bisa mengucek kepala Riri dengan perasaan gemas kemudian beranjak dari duduknya untuk mengambil segelas air mineral.


"Sugi Mau kemana?" Suara Riri terdengar lembut dan manja


Sugi terkejut mendengar suara manja yang dikeluarkan oleh Riri "aku mau mengambil air"


"Ikut, aku takut... " Tangannya menarik kain celana Sugi


"Kan aku ambilnya di dapur deket sini"


"Ikuuuutttttt" katanya merajuk sambil berdiri diatas sofa dan meraih punggung Sugi meminta untuk digendong


Sugi menggeleng sambil tersenyum "Ck ya sudah" ujarnya sambil mengangkat tubuh Riri di punggungnya

__ADS_1


Saat mengambil air minum ia mendengar Riri mulai mengoceh di samping telinganya. Kepala Riri bersandar pada bahunya. Tangan dan kakinya erat membelit tubuh Sugi


"Kenapa semua orang yang aku sayang pergi meninggalkan aku. Kamu jangan yah! Aku nyamannnn sama kamu, kamu baik, hangat, wangi, aku suka.... Apalagi yah oh Iyah kamu itu super... pokoknya super..hahahaha aku ngomong apa sih hmmmm?!" Riri tergelak lalu terdiam, kurasakan napasnya sudah teratur dibelakangku.


Sugi merasa senang sekaligus sedih mendengar apa yang baru saja dia katakan.


Dengan perlahan Sugi menurunkan tubuh Riri keatas tempat tidurnya. Riri nampak tertidur dengan pulas. Tangannya mengelus wajah dan rambut Riri dengan lembut.


Sugi berbisik "Riri Sayang, aku berjanji akan tetap bersamamu selamanya" kemudian mengecup lembut kening, mata dan bibir Riri


"Tidur yang nyenyak ya" Sugi menutup pintu kamar dan naik ke kamarnya sendiri


Di pagi hari, jam alarm di ponsel Riri berbunyi seperti biasa. Ketika bangun ia merasa sedikit mual dan kepalanya agak pening.


Setelah mandi ia keluar dari kamarnya dan menuju dapur untuk membuat segelas teh hangat. Ia sama sekali tidak ingat apa yang telah terjadi semalam. Terakhir ingatannya adalah saat ia menonton film dan beberapa potong ingatan seperti mengambil botol wine, punggung Sugi, dapur.


"Apa yang terjadi semalam? Kenapa aku malah ingat dengan punggung Sugi?" Aku memijiit keningku


Setelah sarapan dan minum segelas teh hangat aku memutuskan untuk minum obat pusing, karena pening di kepalaku semakin menjadi.


Kulihat Sugi turun menuju dapur dengan wajah penuh senyum. "Selamat pagi" ujar Sugi


"Kenapa wajahnya terlihat senang pagi ini? Pasti ada hal yang terjadi semalam, apa kami sudah melakukan hal yang tidak-tidak? ahh tidak mungkin! dia tidak akan melakukan hal semacam itu"


"Pagi, Mau kubuatkan secangkir kopi? Tanyaku


"Tidak usah, aku buat sendiri saja. Kepalamu pasti sedang pening" jawabnya dengan senyuman geli


Aku merasa gelisah "Hmm Sugi apa aku mabuk semalam? Aku benar-benar tidak ingat"


"Iyah kamu mabuk"


"Apa aku melakukan hal-hal memalukan?"


"Hmm menurutku sih nggak, lucu aja liat kamu memaki karakter di film"


"Beneran cuma itu aja?"


"Iyah" wajahnya nampak memikirkan sesuatu "Hmm Riri... .."


Aku menunggu lanjutan dari ucapannya yang menggantung


"Hari ini jadwal saya ada apa saja?" Katanya kemudian dengan nada serius, seperti mengalihkan pembicaraan

__ADS_1


Dengan perasaan kecewa aku menjawab "Sebentar lagi aku kirim informasinya. Aku siap-siap dulu yah" aku berlalu dan masuk ke dalam kamar.


"Hampir saja aku mengatakan pengakuannya semalam, Ck!" Sugi menggaruk kepalanya


__ADS_2