Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Menagih janji


__ADS_3

Keluar dari toilet dengan perlahan aku mendekat kearah Sugi yang masih berada di posisinya semula. Ku akui malam ini ia terlihat berbeda, lebih berkharisma.


Mataku melihat ke sekeliling ruangan. Kusadari pak Doni sudah tidak ada lagi di dalam ruangan. "Artinya kami hanya berdua disini, gawat! Kenapa aku jadi nervous begini sih" gumamku dalam hati. Aku mengatur napasku yang mulai terasa berat, jantungku mulai berdebar kembali. "Apa sih, bisa pelan sedikit nggak!? Yang tenang, kita hanya mau mengobrol biasa kan!" Aku menghardik debaran jantungku sendiri


"Loh pak Doni kemana?" Tanyaku untuk menghilangkan perasaan grogi ku ketika berhadapan dengannya seperti ini


"Baru saja keluar" kata Sugi menatapku, kedua tangannya masuk kedalam saku celananya.


"Sugi atau saya harus panggil pak lagi? Rasanya kurang pantas kalau saya hanya memanggil nama"


Tangan kanan Sugi mengelus lehernya sendiri "Kenapa? Karena sekarang jabatan saya berubah?"


Aku mengangguk pelan, bisa kurasakan mood Sugi berubah kecewa


"Panggil Sugi saja, seperti sebelumnya. Tapi jangan di depan yang lain. Sebenarnya boleh juga memanggil nama kecil saya Sam"


"Saya lebih suka Sugi, lebih Indonesia" jawabku canggung, mataku menghindari tatapannya


"Kaget yah dengan pengumuman tadi?" Tanyanya


"Lumayan" jawabku tersenyum padanya


Dia pun ikut tersenyum geli


'Maaf saya tidak bermaksud bohong atau menyembunyikan identitas saya Riri. Saya terkadang hanya ingin orang mengenal saya karena apa yang telah saya capai sendiri, bukan karena latar belakang saya"


Aku mengangguk "saya tahu" jawabku singkat


"Kenapa tidak pernah menghubungi saya lagi?"


Aku menunduk "karena tidak ada hal yang penting untuk di bicarakan. Sugi juga nggak bilang kalau sudah tidak bekerja lagi di Eat and Love. Jadi saya merasa aneh saja kalau tiba-tiba menelpon"


"Lain kali, jangan merasa sungkan kalau mau menghubungi saya. Saya sudah menganggap Riri sebagai orang kepercayaan saya"


"Hmm saya dipindahkan ke Kantor pusat"


"Saya tahu"


"Jangan-jangan ini..."


"Saya hanya merekomendasikan beberapa orang yang saya anggap kompeten di bidangnya. Yang menilai bukan saya Riri. Ada tim seleksi di Perusahaan ini. Kalau lolos artinya memang sesuai" Sugi memotong ucapanku


"Sugi tahu saya bekerja di Villa Padi?"


"Tahu" Sugi tersenyum samar


"Tahu darimana?"


Sugi mengangkat bahunya "yah tahu saja"

__ADS_1


Kali ini aku menatapnya curiga


"Kelihatan dari kuku saya hehehe" canda Sugi sambil tertawa geli "nggak lucu ya? Sori" katanya kemudian


"Hehehehehe" Aku terkekeh dengan wajah tidak percaya kalau dia mengeluarkan candaan khas anak-anak.


"Saya mau menagih janji" katanya tiba-tiba


"Janji?"


"Janji membalas hutang Budi seperti yang Riri bilang waktu itu" Sugi mendekat ke arahku


Aku mundur perlahan dengan pandangan waspada "Se..se..se.. sebentar Sugi" aku mulai merasa takut


Langkah Sugi terhenti, ada semburat kekecewaan diwajahnya . Ia kemudian berkacak pinggang sambil menggigit bibirnya


"Saya tidak akan minta yang aneh-aneh Riri" ujarnya pelan


"Terus Sugi mau apa?" Tanyaku khawatir


Ia mendekatiku kembali dan menarik pelan lenganku untuk duduk di Sofa hitam yang ada di ruangan itu.


"Saya mau mengobrol sambil minta tolong pijat disini" katanya sambil menunjuk kearah bahunya


"Belakangan saya lelah sekali Riri, boleh nggak? Sebentar saja"


Ia memutar badannya memunggungiku yang sedang keheranan dengan permintaannya.


Sugi kemudian membuka jasnya dan di letakkan di atas sandaran sofa.


"Sebentar" dia memutar badannya kembali kearahku, tangannya mencopot masker yang aku kenakan, aku hanya bisa pasrah dengan perlakuan Sugi


"Disini aman dan bebas debu" katanya lagi sambil memperhatikan wajahku sebentar lalu memutar badannya lagi kedepan.


Ada perasaan aneh terselip ketika dia membuka masker ku tadi. Aku mengatur napasku lalu menggosokkan kedua tanganku supaya sedikit hangat dan mulai memijat bahunya perlahan dengan sedikit tekanan. Aku bisa merasakan betapa kerasnya bahu Sugi.


Aku jadi teringat dengan kak Damar. Kalau dia sedang banyak tugas dia pasti memintaku memijat bahunya seperti ini. Sama dengan Sugi bahunya juga sekeras ini sebelum di pijat. Aku tenggelam dengan kenanganku sendiri


"Kenapa Riri? Kok diam?" Suara Sugi mengejutkanku


"Saya hanya sedang berkonsentrai" aku mengelak "Kenapa tidak ke spa saja? kan lebih profesional"


"Hmm sebenarnya saya tidak suka disentuh oleh sembarangan orang. Rasanya risih, hanya orang-orang tertentu yang biasa melakukannya, termasuk Orang tua saya dan pak Doni"


"Terus kenapa saya boleh?" Tanyaku tanpa niatan tertentu


"Mungkin karena terbiasa setelah kejadian-kejadian waktu itu" Sugi menoleh kebelakang


Aku lalu teringat kembali saat aku diculik oleh Hadi, ketika diselamatkan oleh Sugi aku menyentuh badan Sugi seenaknya. Wajah ku seketika terasa panas. Beruntung posisi Sugi memunggungiku, kalau tidak aku yakin dia akan melihat wajahku yang merah padam ini.

__ADS_1


"Itu kenapa saya minta bantuan begini. Sebulan ini saya benar-benar sibuk, kurang tidur juga. Rasanya ingin istirahat sejenak seperti ini" Sugi menghela napasnya


"Riri, kalau berdua begini saya harap kita bisa benar-benar meletakkan formalitas. Aku mulai yah?" Ujarnya lagi


"Pakai sebutan aku kamu?" Tanyaku


"Iyah, tidak masalah kan?"


"Iyah boleh. Ah iya aku lupa, Selamat yah Sugi sudah menjadi Direktur Utama perusahaan. Aku ikut bangga, aku yakin Sugi pasti mampu memberikan usaha yang terbaik" kataku dengan penuh semangat


"Terimakasih Riri, sebenarnya buatku ini hanya sebuah bentuk tanggungjawab yang lebih besar saja. Tidak ada yang spesial Riri"


"Yang benar-benar akan melakukan tugasnya dengan baik akan melihat sebuah jabatan itu bentuk dari tanggungjawab yang lebih besar. Kalau yang hanya mengincar jabatan pasti hanya melihat prestige-nya saja" ujarku pelan


Sugi tersenyum mendengar apa yang diucapkan oleh Riri.


"Suka dipijatnya yang lebih keras apa segini aja?" Aku merasa daritadi dia tidak bereaksi apa-apa


"Boleh minta keras?"


"Baiklah!!" Kataku semangat, tanganku menekan lebih keras lagi


"Shhh!! Enak" ujar Sugi. Matanya terpejam menikmati pijatan Riri


Ponsel Sugi berbunyi, tapi dia diamkan. Karena tahu siapa yang menghubungi


"Kenapa tidak dijawab?"


"Itu Pak Doni, pasti untuk meminta saya turun" kata Sugi dengan nada kesal


Aku menghentikan pijatanku. Lagi-lagi ponselnya berbunyi, akhirnya diangkat oleh Sugi


"5 menit!" Sugi menjawab lalu memutuskan sambungan teleponnya, tanpa mau mendengar tujuan pak Doni menelpon


Sugi mendengus, lalu memutar badannya kearahku "Kita turun sekarang, pasti aku sudah ditunggu orang-orang dibawah" katanya kemudian berdiri


"Sugi turun duluan saja, aku menyusul" ujarku sambil tersenyum agar ia tahu aku mengerti posisinya diluar sana sangat berbeda level denganku.


Sugi mengangguk, tangannya meraih Jas yang ia letakkan tadi dan memakainya dengan cepat. Aku melihat ada bagian leher yang sedikit terselip di depan. Tanganku menjangkau bagian tersebut untuk memperbaiki. Sugi melihat tanganku yang terulur tiba-tiba saja menangkapnya dengan lembut. Hangat tangan Sugi membuat jantungku kembali berdebar-debar.


"Ehm, bagian lehernya" kataku berusaha menyembunyikan debar-debar ini


Sugi melepaskan tanganku, agar aku bisa memperbaikinya. Saat itu ia seperti menatapku dalam-dalam. "Kenapa dia memandangku seperti ini, bikin aku nambah deg-degan aja" aku membantin.


"Tunggu aku yah, pulang nanti aku antar" bisiknya


Mata kami bertemu, aku memalingkan wajahku "ok" kataku dengan cepat, agar tidak perlu lagi melihat ke dalam matanya. Terus terang Aku takut tenggelam diantara tatapan kedua bola mata tajam itu.


Sugi tersenyum kemudian bergegas turun tanpa menoleh kembali.

__ADS_1


__ADS_2