
Orang tua Sugi sudah mendahului kami kembali menuju tempat acara. Sedangkan Silvi langsung di ajak pulang oleh orang tuanya. Sesuai dengan syarat yang diajukan Sugi, Silvi akan kembali menetap di luar negeri secepatnya dan berjanji tidak akan menggangu kehidupan Sugi maupun Riri di masa depan.
Manager yang bertugas hari ini juga telah mengambil alih pelaporan keempat pelaku ke kantor polisi.
Dengan menggunakan Buggy Car, Sugi, Riri dan pak Doni kembali ke tempat acara. Sugi harus kembali karena saat ini acara telah selesai, para tamu undangan akan berpamitan pada tuan rumah. Dan ia diharuskan untuk hadir.
"Saya masih sebal dengan kelakuan Silvi pak, minta maaf ke Bu Riri saja masih ketus dan tidak ikhlas. Kalau saja Bu Riri tidak mengingatkan kita tentang image dan hubungan jangka panjang antara keluarga bapak dan keluarga pak Karta saya mungkin akan tetap melaporkannya ke Polisi" dengusnya kesal
"Sudah pak Doni, tidak apa-apa. Yang penting kan saya masih selamat. Saya percaya karma pak, semua akan ada timbal balik yang setimpal untuk dia" kata Riri tersenyum
Sugi juga tersenyum mendengar penuturan Riri, ia menggenggam tangannya erat-erat. Tiba-tiba saja wajahnya berubah. Dahinya terlihat berkerut seperti sedang memikirkan sesuatu.
Riri yang memperhatikannya menjadi khawatir
"Kenapa sayang?" Bisiknya
"Aku nggak habis pikir sama kenekatanmu hari ini. Kok bisa-bisanya kamu pergi sendirian tadi kekamar itu" omel Sugi padanya
"Iyah Bu, kenapa tidak menghubungi saya dahulu. Kan saya bisa bantu dari awal. Jangan lakukan lagi ya Bu itu sangat berbahaya" ujar pak Doni cemas
Riri menggaruk kepala sambil memalingkan wajahnya "aduh aku bakal kena omelan lagi deh ini. Belum lagi nanti dimarahin kak Damar. Sugi dan pak Doni pasti akan mengadu juga padanya"
"Kenapa tidak menjawab? Janji harus ditepati Riri. Kamu lupa ya? terakhir kali kamu nekat wajahmu jadi tidak berbentuk berhari-hari. Kamu juga berjanji untuk tidak mengulanginya kembali. Tapi ini apa? Kamu memangnya sehebat itu yah?? Kamu punya ilmu kebal bacok?!" Omelan Sugi bertambah panjang
Riri menghela napasnya mendengar omelannya. Telinganya terasa panas.
Buggy car berhenti di pintu masuk area ballroom.
"Pak sepertinya kita sudah ditunggu oleh orangtua anda" ujar Pak Doni sambil buru-buru turun karena merasa tidak nyaman mendengar Omelan Sugi untuk Riri. Ia merasa kasihan dengannya. Itu kenapa ia mencoba mengalihkan perhatian Sugi dari Riri.
"Urusan kita belum selesai, kamu harus mendapatkan hukuman untuk kenekatanmu hari ini" bisik Sugi di telinganya. Rasanya sungguh mengintimidasi, aku sampai bergidik mendengarnya
Kami lalu ikut turun, ia menggenggamku lebih erat. Seperti takut aku akan kabur dan melakukan sesuatu yang lebih berbahaya lagi.
Ketika kami sampai, para tamu undangan nampak sudah mulai berpamitan satu persatu. Aku kembali duduk di kursi karena mulai merasa lelah karena habis tenaga. Perutku mendadak berontak dan baru sadar belum mengisinya semenjak sampai disini.
"Mau ikut aku menemui para tamu undangan?" Tanyanya
"Aku mau disini saja" jawabku lemah
"Ok, jangan kemana-mana, sebentar lagi aku selesai" ia berbisik dan berlalu mendekati kerumunan
"Sial aku lapar sekali..." Gumamku sendiri sambil melihat sekeliling
Beberapa saat kemudian seorang pramusaji mendekatinya, ia membawa nampan berisi seporsi salmon panggang dan kentang wedges. Dengan perlahan makanan itu diturunkan ke hadapanku.
"Silahkan dinikmati Bu" kata pramusaji itu dengan senyuman mengembang
"Siapa yang memesan ini mba?" Tanyaku curiga
__ADS_1
"Bapak Sugi Bu"
"Ok terimakasih mba" kataku
"Sama-sama Bu" jawabnya lalu pergi
Ponselku bergetar, rupanya Sugi mengirimkan pesan untukku
"Makan yang lahap ya sayang ♥️"
Aku termangu membaca pesannya.
"Tanpa aku memberitahu pun, dia tahu aku sedang lapar. Dalam keadaan marah ia masih saja menunjukkan perhatiannya padaku. Perhatiannya sangat luar biasa, aku sungguh beruntung dicintai oleh laki-laki sebaik dia. Nggak apa-apa deh nanti kalau di omelin lagi, aku juga tahu kalau dia sangat khawatir dengan keselamatanku" aku tersenyum dan mulai menikmati makanan kesukaanku ini.
Seperti biasa kalau sedang lapar berat, makanan apapun yang ada di depan Riri tidak akan bertahan lebih dari lima menit. Kali ini juga tidak jauh berbeda, hanya saja Riri berusaha makan dengan cara seelegan mungkin agar tidak dicap rakus oleh orang yang melihat.
"Riri!!!" Suara seorang wanita yang rasanya kukenal memanggilku
Aku menoleh kearah suara, aku melihat Ibu Alina berdiri melambai padaku. Ia terlihat bersama seorang wanita seumuran dengannya.
Aku mendekatinya
"Kenapa nggak bilang kalau kamu diundang juga Riri. Bu Ina kan jadi ada temannya. Pamanmu ada urusan di luar kota, adikmu mana mau ikut-ikut acara kayak begini" Bu Alina memelukku
"Hahahaha aku lupa kalau Ibu juga pasti diundang kemari"
"CK! Lain kali kabarin ya Riri kalau dapat undangan lagi dari Wijaya Grup"
"Siapa yang cantik ini jeng?" Tanya temannya dengan wajah penasaran
Bu Alina tersenyum "Eh iya kenalin Bu, keponakan saya namanya Riri"
"Saya Siska" ia tersenyum lebar kearah Riri sambil menyalami Riri
"Saya Riri, Bu Siska"
"Panggil tante aja ya sayang" ujarnya lagi
"Kok aku nggak pernah tahu kamu punya keponakan cantik begini sih jeng. Apa kemarin-kemarin nggak dikasih keluar yah? Tahu gitu kan aku bisa kenalin ke Dion" cercanya pada Bu Alina
Bu Alina tertawa kencang "Hahahaha bukan nggak dikasih keluar, ini jaman apa sih jeng. Masa kayak gitu?! Namanya anak muda mana mau sering-sering ikut acara yang tua-tua kayak kita"
"Aku kenalin Dion ya" kata Bu Siska sambil menekan-nekan ponselnya
Dion, Cari mama ya dekat panggung utama. Kemari sebentar" Ibu Siska tersenyum senang dan memasukkan ponselnya kembali kedalam tas
"Nanti Riri kenalan sama anaknya Tante ya. Pengusaha Ganteng loh, masih muda. Mungkin kalian seumuran. Kalau ternyata Riri lebih tua nggak apa-apa tante nggak masalah kok hahahaha. Yang lebih matang itu lebih dewasa kan" ujarnya sambil terkekeh
"Ampun, bisa gawat nih kalau sampai Sugi melihatku berkenalan dengan laki-laki muda" batinku
__ADS_1
"Baik tante" aku tersenyum kearahnya
Benar saja seorang laki-laki tinggi agak kurus mendekat kearah kami. Persis seperti cerita Bu Siska tadi laki-laki ini memang ganteng, senyumnya menawan dengan lesung pipi yang selalu muncul dikedua sisi pipinya saat tersenyum dan tentu saja masih sangat muda.
"Malam Tante Alina" sapanya pada Bu Alina
"Hi Dion, ganteng banget sih nak" ujar Bu Alina menjawab sapaannya
Bu Siska memegang lengan Dion "Nih Dion anak Tante satu-satunya, Riri"
Aku mengulurkan tangan "Saya Riri"
Senyuman Dion mengembang saat melihat wajah Riri yang jelita "Saya Dion, Dion Mahendra" ia mengulurkan tangannya dan menyalamiku. Tangannya Dion terasa sangat lembut, bisa dibilang lebih lembut dari tangannya sendiri.
"Kalian ngobrol-ngobrol lah dulu" Bu Siska nampak senang luar biasa
Bu Alina hanya tersenyum dan mengikuti apa saja yang dikatakan oleh Bu Siska
"Jeng aku kayaknya jadi beli berlian yang kemarin deh" Bu Siska berpura-pura tidak menghiraukan kami berdua
"Hi" kata Dion agak canggung menyapaku
"Iyah, kata Tante Siska kamu pengusaha sukses. Hebat masih muda sudah jadi pengusaha" pujiku berbasa-basi
"Ahh mama terlalu berlebihan, aku juga baru mulai kok" jawabnya sambil menyibakkan rambut lurusnya kebelakang
"Pengusaha dibidang apa kalau boleh tahu?!"
"Usaha kecil, ada bisnis Restauran dan beberapa waralaba coffee shop. Pernah dengar nama Kopipeak??"
Aku lumayan terkejut mendengar nama coffe shop yang ia sebutkan. Karena seingatku saat ini nama brand itu sedang digemari sebagai tempat anak-anak muda penggemar kopi artisan"
"Ahhh keren, aku tahu brand itu. Artisan Coffee shop. Sedang happening ya" aku tersenyum padanya
"Penggemar kopi artisan juga?"
"Biasa saja, aku hanya tahu sedikit"
"Mampir-mampir yah kalau sedang tidak sibuk. Ini nomorku" katanya sambil menyerahkan selembar kartu nama padaku
"Maaf Dion, saat ini aku sedang tidak membawa kartu nama" ujarku sambil mengambil kartu nama itu dari tangannya sambil berharap ia tidak meminta nomor ponselku
"Nomor ponsel ada dong?!" Katanya tanpa basa basi sembari menatap langsung ke mataku
"Tuh kan!?" batinku. Dengan ragu aku mengiyakan "ada"
Ia menyerahkan ponselnya padaku agar menyimpannya sendiri. Dengan perasaan was-was aku mengetik nomorku pada ponselnya.
"Mudah-mudahan Sugi tidak sedang melihat adegan ini" harapku dalam hati
__ADS_1
Tapi ternyata aku salah, wajahku tiba-tiba terasa berat disisi sebelah kanan. Saat menoleh ke arah kanan aku melihat wajah dingin Sugi dari kejauhan menatapku tajam.
"I'm dead!!!" Gumamku