
Aku sedang merapikan baju saat suara ketukan di pintu kamarku yang terbuka membuyarkan konsentrasiku. Kulihat Sugi masuk dengan wajah datar. "Biasanya kalau wajahnya sudah begini pasti ada sesuatu yang sedang dia pikirkan"
Dia terlihat menawan seperti biasa dengan kaos berwarna putih dipadukan blazer kasual berwarna biru navy dengan bawahan celana panjang berbahan jeans.
"Mmmm Aku harus keluar sebentar. Seperti yang kamu dengar kemarin, ada undangan makan siang dengan keluarga Silvi" ucapnya ragu
"Iyah, apa aku harus mengantarmu kesana?"
"Tidak usah, aku kesana sendiri saja. Lagipula tidak akan lama, setelah makan siang aku akan kembali secepatnya"
Sugi tampak merenung "Riri aku sebenarnya malas sekali bertemu mereka"
"Jangan begitu, hubungan keluargamu dan keluarga Silvi kan dekat. Mereka juga baru kembali sudah seharusnya kalian bertemu. Nanti mengobrollah lebih lama. Pasti mereka akan senang. Menjaga hubungan baik dengan mereka mungkin akan berguna untuk bisnismu di masa depan"
Sugi tersenyum "begitu ya" katanya lalu terdiam "... Kamu nggak apa-apa sendiri dirumah kan?"
"Memangnya selama ini aku kenapa? Belakangan saat jadwalmu padat sampai hari minggu pun aku juga selalu sendiri kan disini. Aku akan baik-baik saja, kalau aku bosan mungkin aku akan berjalan-jalan keluar sebentar"
"Kemana?" wajahnya tiba-tiba menjadi cemberut seperti anak kecil yang tidak suka mainannya direbut
"Yah nggak tahu, kan belum ada rencana Mungkin juga aku akan tetap dirumah tidur siang dengan puas" aku menatapnya dengan senyuman
Dia sepertinya gusar, berjalan mondar-mandir di depanku "Pokoknya jangan kemana-mana, tunggu aku yah. Nanti kita makan malam bersama diluar" katanya lagi dengan wajah serius
"Ck! Sudah sana, kalau masih mengobrol denganku disini kapan kau akan berangkat? Ini sudah siang" aku memutar tubuhnya menghadap pintu lalu mendorongnya perlahan untuk keluar dari kamar sampai ke garasi.
Bu Widi yang sedang membersihkan jendela hanya tersenyum geli melihat kami berdua.
Sugi dengan pasrah mengikuti doronganku
"Kamu mengusirku yah, pasti ada janji dengan seseorang? Siapa? Mencurigakan sekali. Awas aja nanti tiba-tiba ada yang menculikmu lagi. Aku takkan bisa menyelamatkanmu dengan cepat .... "
Rentetan kata-kata panjang keluar dari bibirnya saat masuk ke dalam mobil. Dengan wajah yang masih cemberut Sugi akhirnya berangkat. Aku hanya bisa menggeleng melihat sikapnya yang aneh ini.
_____________________________________
Sugi masuk kedalam sebuah rumah yang besar dan megah. Terdengar suara riuh tawa dari dalam rumah, rupanya semua orang sudah berkumpul.
"Wahhh akhirnya yang ditunggu datang juga" kata pak Karta menyapanya dengan suaranya yang khas menggelegar
"Selamat siang om selamat datang kembali ke tanah air" kata Sugi menghampiri pak Karta lalu menyalami dan memeluknya erat "Apa kabar om?, Sehat? sekian tahun tidak bertemu om masih kelihatan tetap gagah. Saya hampir saja mengira om kakaknya Silvi" canda Sugi sambil tersenyum
__ADS_1
Tawa pak Karta pecah "Ahh bisa saja kamu saya sudah uzur begini hahahaha, Kabar saya baik Sam. Lihat nih ma si Sam sudah jadi laki-laki macho begini" pak Karta memanggil istrinya
Nyonya Karta mendekat "Duh tante sampai shock loh melihat nak Sam datang. Tante pikir ada yang mengundang aktor pendatang baru kemari hahahaha"
Tawa Nyonyah Karta terdengar renyah
Sugi pun ikut tergelak mendengar candaan dari Nyonyah Karta "Sehat Tan?" Tanya Sugi sambil juga memeluknya erat
"Puji Syukur Tante sehat"
"Mbak, coba tanya Sam, apa dia sekarang mau mengaku kalau dia yang menggigit semua mangga di tabulampot belakang rumah kalian dulu itu? hahaha" celentuk Ibunda Sugi dari tempatnya berdiri
"Ck! Duh Ibu, sudah sekian lama masih saja inget yang itu"
Semua orang tergelak mendengar jawaban Sugi
"Kamu sewaktu kecil nakal sekali Sam, ayah saja sampai heran. Untung nakalnya tidak terbawa sampai besar" pak Danu ayahanda Sugi hanya menggeleng mengingat masa kecil Sugi
"Sam, masih ingat Silvi kan?" Pak Karta menoleh ke arah anaknya
Silvi tersenyum dan menaikkan tangannya menyapa Sam dari jauh "Hai Sam!"
"Silvi sekarang sedang asyik menekuni bidang interior design , rencananya dia akan membuka konsultan di sini"
"Wah keren itu om" jawab Sugi dengan senyum yang tidak pernah hilang dari wajahnya
Dalam benaknya nampaknya berbeda dari yang terlihat "Ayolah cepat, mulai saja acara makannya, basa basi banget sih ini"
Suara Riuh bersahutan penanda keakraban mereka terdengar sampai keluar rumah. Silvi yang sedari tadi hanya ikut tersenyum dan tertawa nampak mendekati Sugi yang sedang mengambil minuman.
"Apa kabar Sam?" Tanya Silvi, tangannya menyelipkan helaian rambutnya yang tergerai ke belakang telinga. Silvi menatapnya lekat.
Wangi parfum Silvi menguar di udara, menggelitik hidung Sugi yang sensitif. Hampir saja ia bersin. "Aku baik, kamu sendiri gimana?"
"Aku juga baik, sekarang sedang menjalani hidup sesuai impian" jawabnya penuh percaya diri
"Kata ayahmu tadi, kamu mau membuka konsultan interior design"
"Benar, waktu di luar negeri aku magang di satu konsultan besar. Pernah dengar G art and home?"
"Iyah, aku tahu. Aku juga mendengar mereka salah satu konsultan yang bonafid saat ini"
__ADS_1
"Oh iya selamat yah atas pengangkatanmu menjadi Direktur Utama Wijaya Grup, aku senang mendengar kabar itu dari ayahmu. Kamu pantas menduduki jabatan itu"
"Terimakasih Silvi, jabatan tinggi sesuai dengan tanggungjawabnya. Aku masih perlu belajar banyak dari Ayah"
Ketika mereka berbincang, dari kejauhan nampak kedua orang tua dari Silvi dan Sugi berbisik-bisik mengenai anak mereka. Mereka berharap Silvi dan Sugi berjodoh dan merencanakan langkah selanjutnya.
Usai makan siang, Sugi melihat jam pada ponselnya. Waktu menunjukkan pukul 14:35.
"Sam, ajaklah Silvi jalan-jalan hari ini. Dia sudah tidak sabar melihat kota ini seperti apa setelah sekian tahun, ya kan Silvi? ujar Ibu pada Sugi
Sugi memandang ke arah Ibunya ".... hari ini aku..."
Bu Rita memotong perkataan Sugi "Kata Riri jadwalmu kosong, besok-besok kan belum tentu kamu bisa mengantar Silvi"
"Duh! aku juga pengin istirahat Bu. Aku rindu pada Riri" batinnya
"Mungkin Sam sedang lelah hari ini, tidak apa-apa Tante. Aku bisa menunggu kapan saja Sam bisa mengantarku" sahut Silvi
"Nih lagi, memangnya aku supir!!" Gerutu Sugi dalam hati
"Antar bentar aja Sam" ujar ayahnya yang menambah rasa kesal dalam hati Sugi
"Ok, tapi hanya sebentar ya. Seperti katamu aku memang sedang lelah" jawabku tanpa ragu
Ibu menyenggol lenganku di bawah meja makan
Aku berpura-pura tidak mengerti arti senggolan dari ibuku.
"Tenang saja Silvi, setelah berkeliling nanti pasti lelah Sam berkurang. Dia juga jarang bisa santai seperti ini"
"Iyah Tan heh heh heh heh" Silvi tertawa dengan suara yang cukup aneh, Sugi sampai bergidik mendengarnya
Sementara itu Riri sedang bersiap untuk mandi. Ponselnya bergetar diatas nakas. Ada pesan baru dari Sugi yang baru saja masuk
"Maaf yah ri, aku mungkin akan terlambat sampai dirumah. Acara makan malamnya kita lakukan lain waktu yah. Ada acara tambahan mendadak"
Riri membaca pesan yang dikirimkan olehnya dengan perasaan kecewa.
"Apa mungkin Silvi secantik itu sampai dia rela membatalkan janji makan malamnya denganku? Ck! Semua laki-laki sama saja!!" Gumamnya sambil mendengus
Riri meletakkan kembali ponselnya tanpa menjawab pesan dari Sugi
__ADS_1