
"Kak kita langsung ke supermarket yang dekat perempatan di ujung jalan, aku mau beli perlengkapan makan buat di kantor besok sama belanja bulanan. Besok Kita duduk lesehan aja kali ya pakai tikar atau karpet. Yang kita undang juga hanya orang-orang terdekat kan?! Biar kekeluargaan" kataku pada Damar
"Iyah seru juga kayaknya begitu"
"Tapi apa Bu Ina nggak marahin kita kak?! Kesannya kayak nggak bisa nyewa meja ma kursi hahahaha" aku tergelak
"Coba tanya beliau, minta opininya siapa tahu ada masukan. Kalau Bu Ina nggak berkenan kan bisa telepon orang dekorasi" jawab Damar bijaksana
"Iyah deh nanti aku telepon"
Aku mulai membuat daftar belanjaan apa saja yang akan aku butuhkan untuk besok
Kami akhirnya sampai di supermarket yang dituju. Damar pun tanpa diminta ikut turun untuk membantuku.
Setelah berbelanja kami memutuskan untuk mampir sebentar di satu kedai bakmie untuk makan siang yang cukup terlambat.
Sambil menyantap bakmie pesanan kami, aku menghubungi Bu Ina.
"Riri, lagi dimana? Tumben telepon Bu Ina jam segini" sapa Bu Ina senang di ujung sana
"Aku lagi di supermarket abis beli perlengkapan acara peresmian kecil-kecilan kantor baru Bu"
"Wah Bu Ina sama pamanmu juga di undang dong?!"
"Diundang Bu, tapi aku maunya lesehan aja. Biar kekeluargaan kan seru Bu. Menurut ibu Ina gimana?"
"Yah nggak masalah Riri, acaranya kapan?"
"Maunya besok sore Bu, ibu Ina sama paman bisa datang nggak?"
"Kalau besok bisa kok, mau dibawain makanan apa?"
"Nggak usah bawa apa-apa bu, nanti aku yang siapin semuanya"
"Iyah deh, nanti kirim alamatnya"
"Siap Bu, aku kirim sebentar lagi"
"Siapa aja yang datang Riri?"
"Aku ngundang Bu Ina, paman, Sugi sama asistennya terus pacar barunya kak Damar"
"Wahh hahahaha bagus aku nggak sabar ketemu calonnya Damar, pasti cantik" Bu Alina terkekeh
Damar melotot kearahku sambil mencubit kencang lenganku
"Shhh sakit Gorim!!" Hardikku padanya
"Bu aku dicubit Damar" aku mengadu
"Hahahaha dasar Damar" tawa Bu Ina terdengar makin kencang
"Ya udah Bu, nanti aku kirim alamatnya. Sampai bertemu besok sore"
"Ok Riri, sampai bertemu besok" Bu Alina menutup sambungan teleponnya
"Sakit kak" ujarku sambil mengusap lenganku yang berdenyut karena cubitan Damar
Damar menjulurkan lidahnya mengejek Riri
"Apa kata Bu Ina?" tanya Damar
"Bu Ina sama paman bisa datang, kita jadi lesehan"
__ADS_1
"Ok, Sebentar lagi kita beli karpetnya"
"Ayo kak kita berangkat sekarang saja. Pulangnya kita langsung beli makan malam. Sugi sama Pak Doni mau makan malam dirumah kita"
"Sip" jawab Damar singkat sambil berdiri dan bersiap-siap untuk pergi dari tempat itu
Setelah kami sampai dirumah, kulihat mobil Sugi sudah parkir di halaman ini.
"Eh kok mereka bisa masuk kemari? Bukannya tadi pagi rumah kita terkunci?" Tanyaku pada Damar
Senyum Damar mengembang "Sugi kan punya satu kunci rumah ini"
"Hah? Kok bisa?? Kok aku nggak tahu!?"
"Dia sih nggak minta, aku yang memberikan. Aku kasihan aja kalau dia mau kemari tapi kitanya sedang ketiduran atau masih berada diluar"
"Ini beneran sudah kayak rumahnya sendiri" aku menghela napasku
"Memang, hahahaha baru nyadar?? Kamu sudah terjebak seumur hidup sama Sammy" Kata Damar sambil tergelak lalu turun dari mobil
Aku pun ikut turun dan mengambil belanjaanku tadi dibantu oleh Damar. Beberapa perlengkapan untuk besok sudah kami tinggalkan di kantor sebelum pulang kerumah.
Pak Doni nampak bergegas mendekati kami dan ikut membantu.
"Terimakasih pak" kata Damar
"Sama-sama, belanjaannya banyak sekali" ujarnya
"Iyah belanja bulanan pak. Besok kita mau ada perayaan kecil-kecilan di kantor baru. Bapak datang ya bareng pak Sugi" kataku pada pak Doni
"Siap Bu Riri saya pasti datang" jawabnya sambil tersenyum
Ketika masuk ke dalam rumah, kulihat Sugi sedang menelpon seseorang. Ia nampak memunggungi kami bersandar pada kusen pintu geser di belakang.
"Tadi harusnya ada meeting terakhir, orangnya minta di tunda"
"Tadi bapak makan siang dimana?" Lanjutku mengobrol dengan pak Doni sambil mengatur belanjaanku di dalam kulkas
"Di kantor Bu, pak Sugi kayaknya lagi nggak nafsu makan. Tadi hanya beberapa suap terus lanjut sibuk lagi. Urusannya lagi banyak-banyaknya di kantor" bisiknya seperti mengadu padaku
Aku menoleh padanya dengan wajah khawatir "dari kapan makannya nggak enak pak?"
"Sudah tiga hari ini Bu"
"Kenapa pak Doni tidak pernah cerita?"
"Saya pikir pak Sugi sudah bilang sama Ibu"
Aku menggeleng "belum pak"
"Apanya yang belum?" Tanya Damar ketika ia kembali meletakkan beberapa barang terakhir di atas meja
"Sugi katanya lagi nggak nafsu makan kak" ujarku sambil melanjutkan pekerjaan mengatur barang belanjaan ini
"Mungkin dia lagi cacingan!!! Hahahaha" Seloroh Damar sambil tergelak lalu menuju kamarnya
Aku dan pak Doni saling pandang kemudian ikut menyemburkan tawa kami
"Hahahaha kok bisa-bisanya jadi cacingan??!!" Kataku disela-sela tawaku yang tak kunjung habis Sampai-sampai air mataku pun ikut-ikutan keluar.
"Orang kaya mana yang sampai cacingan Bu? Hahahaha" celentuk pak Doni lagi masih nampak tergelak
Setelah tawa kami mereda aku kembali sibuk dengan belanjaanku. Usai mencuci tangan ku lihat pak Doni sedang bersantai di sofa. Sedangkan Sugi masih sibuk dengan teleponnya.
__ADS_1
Aku mendekati Sugi yang terlihat sedang duduk di atas day bed pada pinggir plunge pool. Caranya duduk pun terlihat elegan, satu kakinya bertumpu pada kaki yang lain. Tangan kirinya yang bebas Sedang menopang badannya yang miring ke kiri. Dengan perlahan aku duduk di samping dan memeluknya.
Masih sedang berbicara di ponselnya ia menoleh padaku, lalu menukar posisi ponselnya ke telinga kiri. Sebelah tangannya merangkul lalu mengelus kepalaku dengan lembut.
"Baik pak, kita lanjutkan pembicaraan ini kembali besok. Sebaiknya memang kita bertemu saja pak"
"..."
"Ok boleh, besok jam makan siang pak"
"..."
"Ok" jawabnya singkat lalu menutup ponselnya.
Sugi menoleh ke arahku "hi baby" katanya sambil tersenyum
"Hi babe, itu siapa lama banget ngobrolnya"
"Partner bisnis biasalah, tadi mau meeting sama orangnya. Tapi dia tiba-tiba ada urusan mendadak , anaknya masuk UGD karena demam. Jadilah meetingnya dipindah besok"
"Family man"
"Aku juga bakalan gitu kok?" Ujarnya dengan wajah yakin
"Masa? tanyaku iseng
"Kalau mau membuktikan omonganku, kita harus bikin anak dulu, sayang" bisiknya lembut, yang membuat sekujur tubuhku tiba-tiba saja merinding dibuatnya
Aku menggigit bibirku sambil menatapnya
"Aku aja yang gigit bibirmu, boleh yah?" ia balas menatapku. Ada rasa nyeri mulai merambat berputar di dalam perutku.
Ketika wajahnya mulai mendekat, tiba-tiba saja Damar berteriak dibelakang kami
"Kalian mandi dulu sana!!! biar nggak cacingan!!! Hahahaha" Damar tergelak lalu berlari menjauh, disambut dengan gelak tawa susulan dari Pak Doni di dalam
Aku jadi ikut tergelak karenanya
Wajah Sugi bingung melihatku "apanya yang lucu sayang? Ku dengar sedari tadi kalian tertawa di dalam"
Aku pun menceritakan tentang celetukan Damar saat aku sedang mengkhawatirkan nafsu makannya yang mulai berkurang.
Sugi nampak menggeleng heran "kok bisa-bisanya aku dibilang cacingan, Rio dasar! Laki-laki tidak benar!!!" Gerutunya sambil menahan tawa
"Hahahaha" aku lagi-lagi tergelak
"Aku terlantar, pokoknya mau disuapin Bu Riri, biar nggak dibilang cacingan" jawabnya dengan wajah memelas
"Iyah sebentar aku suapin, tapi benar kata Damar sebaiknya kita mandi dulu"
"Iyah hayuk" wajahnya terlihat bersemangat
"Nggak usah mikir kita bisa mandi bareng yah?!"
"Yah hehehehe" wajahnya berubah kecewa, dan berganti dengan tawa. Ia lalu menarik tanganku mengajak naik ke lantai dua
Belum sempat naik, langkahnya terhenti ia tiba-tiba melihat Damar sedang duduk sendiri di meja makan sedang memainkan ponselnya. Sugi nampak berlari dan menyentil telinga Damar dengan keras
"Anjrittt!!!" Teriak Damar terkesiap sambil memegang telinganya "Sam, monyet!!!" Teriaknya kencang
"Hahahahaha" Sugi pun kabur berlari ke lantai dua
Aku hanya sanggup menggeleng sambil tertawa melihat kelakuan dua orang laki-laki kesayanganku ini.
__ADS_1