
Pagi ini sekitar pukul 08.00 pagi seperti biasa Riri sedang memeriksa ulasan Villa Lembayung di salah satu website booking online yang cukup terkenal saat ini. Ulasan-ulasan oleh pengguna di website tersebut masih dianggap asli dan orisinil langsung dari konsumen tanpa adanya campur tangan dari pihak penyedia jasa. Oleh karena itu website tersebut tetap menjadi acuan bagi para traveler lain untuk melakukan bookingan kamar hotel dan villa.
Ulasan-ulasan yang di unggah beberapa orang hari ini cukup positif, walaupun masih ada satu dua kritikan yang menurutnya masih wajar untuk diutarakan. Riri pun merasa senang dengan adanya kritikan tersebut. Jadi ia bisa memperbaiki pelayanan Villa inu secepat mungkin.
Sedang sibuk mencari-cari ulasan yang lain di berbagai website yang serupa, secara tidak sengaja matanya menangkap sebuah foto yang di posting oleh satu kanal berita. Ia melihat Sugi sedang berfoto bersama bapak Walikota ditemani oleh seorang wanita cantik disebelahnya. Walaupun terlihat ada beberapa orang yang ikut difoto tersebut, namun dari posenya ia bisa menangkap keakraban dari mereka berdua. Di tiga slide berikutnya ia melihat foto Sugi hanya berdua dengan wanita yang sama berpose cukup dekat. Riri pun akhirnya membaca beritanya. Ia juga membaca caption dari unggahan dari beberapa foto tersebut.
"Bapak Walikota ditemani putrinya Anita bersama dengan para pengusaha"
"Anita bersama Sammy Wijaya, Dirut Wijaya Grup"
Beritanya pun menyebutkan kalau mereka sangat akrab di sepanjang acara. Media ini menyebutkan kalau mereka mungkin saja bisa menjadi pasangan serasi.
"Oh namanya Anita, ok" ia membathin sambil menutup kembali kanal berita tersebut. Seketika moodnya berubah buruk hari ini. Ia memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar Villa untuk mendapatkan udara pagi yang bersih.
Kelas Yoga nampaknya baru saja usai. Beberapa tamu terlihat juga sedang berjalan-jalan di sekitar tempat ini. Kebanyakan dari mereka sedang menuju ke atas untuk melakukan sarapan di restauran usai melakukan kelas Yoga. Yoga hari ini menurut jadwal yang ia baca tadi dilakukan di dalam ruangan, karena kabut tebal yang memenuhi areal terbuka sejak pagi buta.
Riri menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya kembali secara perlahan. Pikirannya dipenuhi oleh berita yang tadi ia baca.
"Kenapa dia tidak mengatakannya padaku usai acara? Apa dia sengaja ya? Kalau sengaja kemungkinan dia juga menyukai wanita cantik itu. Iya wanita cantik itu memang pilihan yang sesuai dengan levelnya saat ini" Riri bergumam dalam hatinya
"Tapi kan dia bukan tipe laki-laki yang mudah tergoda dengan wanita lain. ....Ingat Riri semua laki-laki itu pada dasarnya sama, menyukai kekuasaan dan wanita cantik. Ya siapa tahu kan?" Ia lagi-lagi berbicara dengan dirinya sendiri.
Di ujung sana kabut tebal terlihat mulai menipis, angin dingin pun masih berhembus pagi ini. Riri mengusap-usap punggung tangannya yang mulai dingin lalu memasukkannya ke dalam saku celana. Seingatnya udara disini memang sejuk tapi tidak sedingin ini.
"Pantas saja kata pak Kanis khusus bulan ini dan Bulan depan memang akan lebih dingin dari biasanya. Karena memang sedingin itu" ia bergidik menahan dingin
"Selamat pagi Bu Riri!" Suara pak Kanis terdengar memanggilnya
Riri menoleh ke arah suara "Selamat pagi pak Kanis"
"Ternyata Ibu ada disini. Saya tadi sempat ke kantor Bu Riri namun kosong. Ini Masih dingin Bu jam segini, Sebaiknya ibu masuk ke dalam" Sahutnya khawatir
"Iyah tidak apa-apa pak, saya sengaja mencari udara segar. Pikiran saya lagi penat"
"Oh begitu, saya mengganggu ya Bu?"
"Tidak sama sekali, gimana pak?"
"Maaf bu ini sudah pukul 09.00 sudah saatnya meeting internal"
"Ahhh astaga saya sampai lupa waktu. Ok sebentar lagi saya menyusul" jawabnya sambil tersenyum
"Baik Bu, saya tunggu di ruang meeting" sahut pak Kanis lalu beranjak dari sana
Riri pun kemudian menyusul pak Kanis
Usai meeting Riri tiba-tiba teringat pak Gilang
"Pak Kanis, gimana kesan pak Gilang dan istrinya kemarin, sayang sekali saya tidak sempat bertemu langsung dengan istrinya. Istri beliau kan baru sembuh ya?"
"Benar Bu istrinya baru saja sembuh. Kata pak Gilang mereka sangat puas dengan pelayanan disini. Apalagi layanan Spa disini kata istrinya excellent" pak Kanis mengacungkan dua jempolnya
__ADS_1
Riri tersenyum puas mendengar jawaban pak Kanis "Oh ya, baguslah pak saya lega mendengarnya"
"Pak Gilang bilang beliau salut dengan Bu Riri karena mampu meningkatkan pelayanan disini. Beliau tidak menyangka akan sebaik ini jadinya, dan kemungkinan besar akan di rekomendasikan pada teman-teman bisnisnya"
"Wahhh ini baru berita pak hahaha" ia tergelak
"Nanti kalau memang benar teman-temannya kemari apa kita bisa kasih complimentary ke pak Gilang ya pak? Saya takut beliau tersinggung dengan tawaran itu"
"Wah sebaiknya jangan Bu, cukup jaga kualitas villa ini saja. Saya sangat mengenal pak Gilang jadi kemungkinan besar beliau akan menolaknya"
"Ohh begitu, ya sudah kita lakukan upgrade benefit saja, saat pak Gilang dan istrinya kembali booking disini"
"Ide yang bagus bu" kata Pak Kanis tersenyum lebar
Sementara itu pak Doni terlihat gelisah di dalam mobil menunggu Sugi yang masih sedang bersiap-siap di dalam.
Ia semalam sudah membaca berita tentang makan malam Sugi dengan Bapak Walikota waktu itu. Ia juga sudah melihat foto-foto yang diunggah bersamaan dengan berita itu.
Semalam karena sudah terlalu larut ia memutuskan untuk mengabarkan berita itu pagi-pagi. Dan sekarang ia disini menunggu dengan wajah muram.
Lamunannya terhenti saat ia mendengar hentakan keras kaki atasannya saat melangkah. Sugi pun masuk ke dalam mobil
"Selamat pagi pak Doni" sapanya seperti biasa
"Selamat pagi pak Sugi" Jawabnya lalu terdiam beberapa saat
"Pak semalam foto anda bersama Anak pak Walikota diunggah semua. Padahal sebelumnya waktu berita itu muncul pertama kali hanya ada satu foto bersama biasa. Kenapa tiba-tiba foto yang lain juga diunggah semua semalam? Apa itu di sengaja oleh Bapak Walikota ya pak?"
"Sayang lagi sibuk ya? Kenapa teleponnya tidak diangkat?"
Lagi-lagi pesan itu tidak dibaca oleh Riri sama sekali.
"Biasanya di jam-jam ini dia sedang sibuk meeting internal, walaupun sibuk biasanya ia selalu sempat menjawab pesannya "bentar ya, lagi meeting" atau "tunggu sebentar". Namun kali ini ia sama sekali tidak merespon" gumamnya dalam hati
"Pak Doni, Bu Riri sepertinya sudah melihat foto itu. Seharusnya saya menolak keras sewaktu di minta berfoto hanya berdua dengan anak Bapak Walikota itu" ujarnya pada pak Doni
"Situasinya sulit pak, saya juga mengerti posisi bapak waktu itu. Sekarang ada baiknya kita menunggu Bu Riri menjawab pesannya, mungkin beliau benar-benar sedang sibuk. Dan sekarang kita harus segera ke kantor pak Ridwan sesuai jadwal pak" jawab pak Doni
"Ok kita berangkat sekarang sesuai jadwal pak"
Mobil mereka pun melaju dengan kecepatan penuh.
Riri melihat ponselnya sebentar lalu menutupnya kembali. Ia sedang merasa malas untuk menjawab pesan Sugi hari ini. Hari pun telah menjelang sore, ia masih sedang sibuk menjawab email di kantornya.
"Kring..!..kring...!" Telepon di atas mejanya berdering, ia melihat nomor internal dari Lobby yang melakukan panggilan
"Selamat sore" jawabnya
"Selamat sore Bu Riri, saya Dewa bu di front office. Ada seseorang bernama pak Doni di lobby sedang menunggu Ibu"
"Hah?! dia tidak sedang salah dengar kan?" Gumamnya dalam hati dengan wajah kaget
__ADS_1
"Dewa, tolong sambungkan saya dengan pak Doni" jawabnya kemudian
"Selamat sore Bu Riri, ini pak Doni" suara pak Doni terdengar jelas di telinganya
"Loh kenapa pak Doni kemari?"
"Bapak yang minta diantarkan kemari Bu" bisiknya perlahan takut di dengar oleh staf kantor depan
"Hah?!! Bapak sekarang ada di depan?! Masih di dalam mobil atau ikut turun?" tanyanya dengan wajah panik
"Iyah Bu masih di mobil"
Riri menghela napasnya lega "Tunggu sebentar pak, Saya sekarang ke sana. Jangan sampai bapak turun dari mobil ya"
"Baik Bu" jawabnya lalu menyerahkan kembali telepon dalam genggamannya pada staf kantor depan.
"Ibu Riri sebentar lagi kemari" ujar pak Doni pada Dewa
"Baik, bapak silahkan menunggu disini atau bisa di sofa sebelah sana" sahutnya sambil menunjukan sofa yang ia maksud dengan tangan terbuka
"Ok, Terimakasih" jawab pak Doni lalu beranjak menuju sofa yang berada agak jauh dari sana
Belum sempat pak Doni duduk, Sugi yang tidak sabar menunggu pun keluar dari dalam mobil. Pak Doni kaget luar biasa dengan suara debam pintu mobil yang baru saja ditutup, ia melihat Sugi keluar sendiri menuju lobby.
Pak Kanis yang kebetulan ada di sana kaget melihat sesosok laki-laki tinggi, tampan yang berkharisma luar biasa berjalan mendekat dengan langkah tegap. Suara langkah kakinya terdengar jelas, menyiratkan ketegasan dan kekuatan fisik yang dimilikinya
Ia berbisik pada Dewa "mereka siapa?"
"Tamunya Bu Riri pak. Sudah saya informasikan, katanya sebentar lagi Bu Riri kemari"
Pak Kanis mengangguk. Matanya masih menatap Sugi dengan tatapan bertanya-tanya. Ia Sepertinya pernah melihat tamu ini, tapi entah dimana. Pak Kanis mencoba mengingat-ingat dalam benaknya.
Pak Doni pun buru-buru menghampirinya
"Silahkan duduk di sebelah sini pak" ujarnya sambil menunjukkan sofa yang ia maksud
"Kenapa lama sekali!" tanyanya dengan suara ketus lalu duduk di sofa yang letaknya jauh dari kantor depan
"Bu Riri masih dalam perjalanan kemari pak" jawab pak Doni setengah berbisik
Riri pun sampai di lobby, ia tidak melihat pak Doni disana.
"Dewa, dimana tamu saya?"
"Di ujung sana Bu" jawabnya sambil menunjukkan tempat dimana mereka menunggu
"DHEG!!" Riri terperanjat saat melihat Sugi duduk membelakanginya di kejauhan "Astaga... Kenapa dia ikut turun sih?!" Gerutunya dalam hati
"Ok Terimakasih" jawabnya pada Dewa
Ia melirik ke arah Pak Kanis yang masih memasang wajah penasaran, Riri tersenyum lebar sambil berharap kalau pak Kanis tidak bisa mengenali wajah Dirut Wijaya Grup.
__ADS_1
"Mereka teman saya baru datang dari luar negeri pak" ujarnya seolah-olah mengerti arti tatapan mata pak Kanis, ia lalu memutar badannya dan bergegas menghampiri Sugi.