Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Pemilik baru


__ADS_3

Ketika sampai, Riri dibantu oleh Sugi masuk ke dalam rumah menggunakan kursi roda, sedangkan Pak Doni sibuk menurunkan beberapa barang pribadi milik Riri dari rumah sakit. Untuk sementara waktu ia harus menempati kamar Damar agar tidak perlu naik ke lantai dua. Beberapa pakaiannya nampak dibawa turun oleh Sugi dari kamarnya dan ia letakkan di kamar Damar. Tak terkecuali pakaian dalam yang akan ia kenakan sehari-hari


Riri melemparkan pandangannya ke arah lain saat Sugi melintas dihadapannya dengan sengaja menenteng pakaian dalam itu tinggi-tinggi sambil menahan tawanya.


Riri memutar bola matanya "Kenapa sih nggak anaknya Bu Widi aja nanti yang bantu membawa turun semuanya?"


"Aku kan calon suami yang baik" jawabnya sambil berlalu ke kamar Damar


Riri nampak mengulum senyumnya


Terdengar dari kejauhan mobil Gia dan Damar memasuki pekarangan rumah.


"Yuk pak masuk dulu, kita makan bareng, saya baru beli makanan untuk kita semua" kata Damar ketika ia turun dari mobil.


Pak Doni terlihat sedang bersiap membawa barang-barang Riri masuk ke dalam rumah


"Wah boleh pak, kebetulan juga perut saya dari tadi sudah protes minta diisi hehehehe" ia tergelak dan bergegas melangkah sembari membawa banyak barang ditangannya


Damar ikut tertawa mendengar jawaban pak Doni "hahahah jelas protes pak, ini sudah hampir waktunya makan malam" sahut Damar sambil membantu pak Doni membawa sisa barang yang tertinggal. Sementara Gia sudah terlebih dahulu masuk ke dalam rumah


"Barang- barangnya taruh di bawah aja pak dekat sofa, nanti saya yang urus. Makasi yah pak Doni" ujar Riri ketika melihat pak Doni masuk ke dalam rumah


"Siap Bu Riri" pak Doni tersenyum


"Kita makan dulu yuk Ri" Gia membantu mendorong kursi roda Riri ke meja makan


"Aku turun aja ya, deket ini"


"Ahh kamu diam aja. Jangan memaksakan diri dulu. Lukamu kan masih belum sembuh benar. Kalau infeksi gimana?" Gia nampak cemberut


Riri memasang wajah sedih "Iyah deh Bu, duhh kapan aku bisa gerak bebas lagi"


"Nanti, sabar. Sekalian membiasakan diri untuk lebih feminim, pelan-pelan. Biar jiwamu yang perkasa itu sedikit memudar hehehehe"


"Ck! Feminimnya gak bakal kepake. Gimana mau kepake kalau ketemunya preman lagi- preman lagi. Untung aja aku bisa sedikit bela diri, kalau nggak mungkin sekarang nasibku lebih naas lagi yak" Riri terlihat merenung

__ADS_1


"Udah ah nggak usah dipikirin, sekarang fokus ke proses pemulihanmu dulu"


"Kalian ngomongin apa?" Tiba-tiba Sugi menyela obrolan kami di meja makan


"Riri udah nggak sabar pengin bergerak bebas" sahut Gia, ia lalu membantu Damar mengatur peralatan makan


"Kamu baru keluar dari rumah sakit Tari, jangan aneh-aneh" Sela Damar ditengah-tengah kesibukannya mengatur piring diatas meja makan


"Iyah kak" Riri menghela napasnya


Sugi mengambil tempat di sebelah Riri lalu mencuil hidungnya


"Tuh di kasih tahu segitu aja sudah cemberut. Mana senyuman manisnya? Pak Doni aja sudah dapat terimakasih, masa aku nggak?" ia berbisik lembut di hadapannya


Riri menatap Sugi beberapa saat lalu perlahan senyuman mengembang di wajahnya.


"Nah! kan, cantik. I love you" Sugi kembali berbisik


"Kayaknya penghuni rumah ini hanya mereka berdua deh, sedangkan kita ini mungkin sekarang kayak perabotan sama temboknya hahaha" celetuk Damar sambil terkekeh


"Sayang ah!" Gia menepuk lembut lengan Damar


"Wuihhh...udah mulai ketus nih...hehehe bagusss, tandanya sudah mulai sehat" Damar masih tergelak


"Saya cukup jadi lampu di pojokan aja deh" pak Doni menimpali sambil mengulum senyumnya


"Cocok pak sekalian sama temboknya, buram dan keras! Hahaha" Sahut Sugi sambil tertawa


Pak Doni seperti biasa hanya sanggup mencibirnya diam-diam


Yang lain hanya bisa tergelak melihat perubahan wajah pak Doni yang berubah kesal. Tak terkecuali Riri ia nampak menyemburkan tawanya mendengar jawaban Sugi


"Ya sudah kita makan sekarang, ini makanannya sudah mulai dingin loh" ujar Gia


"Iyah daritadi perut saya sudah mau mengamuk rasanya" pak Doni mengambil sendoknya bersiap untuk menyuapkan makanan kemulutnya

__ADS_1


"Silahkan...silahkan" sahut Damar sambil ikut mengambil sendoknya sendiri


"Dion sudah pulang duluan ya tadi?" tanya Gia tiba-tiba


"Iyah, padahal aku mau mengajaknya mampir sebentar kemari" Damar menahan tawanya sambil memperhatikan wajah Sugi yang nampak berubah dingin.


"Rio, nanti abis makan aku mau bicara" kata Sugi sambil mengunyah pelan


"Ok, aku siap kapanpun kamu siap, sayang" jawab Damar sambil tersenyum lebar


Sugi hampir tersedak mendengarnya, meja makan pun mulai riuh kembali. Canda tawa terdengar berderai tak habis-habisnya. Seperti yang sudah-sudah, makan malam kali ini juga berlangsung sangat menyenangkan.


Setelah makan malam berakhir, Riri kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri dibantu oleh Gia. Di ruang tamu, Sugi, Damar dan Pak Doni nampak mengobrol serius.


"Seperti yang aku bilang tadi, rencana ini harus berjalan secepatnya Rio. Aku nggak mau menunda-nunda lagi. Kamu tenang saja, keselamatan Riri akan aku utamakan. Beberapa orang akan berjaga disini mulai besok. Tentunya mereka akan berbaur layaknya seperti pemilik rumah ini. Agar kehadiran mereka tidak terlalu mencolok seperti pihak pengamanan yang sedang bertugas"


"Aku mengerti, tidak masalah untukku. Semakin cepat ini terungkap semakin baik. Sepertinya kamu perlu mengatakannya juga pada Tari. Kalau sampai hubungan kalian menjadi buruk hanya gara-gara ini, ya rugi lah" Damar menyesap bir di tangannya


"Aku tahu, nanti aku akan bilang padanya"


"Aku percaya padamu Sam, mudah-mudahan semua berjalan dengan baik. Aku harus berangkat besok, titip Tari ya. Jangan biarkan dia buru-buru kembali bekerja. Paling tidak tiga hari ini dia harus beristirahat total. Kamu kan tahu adikku seperti apa?!"


Sugi tersenyum "ya begitulah dia"


"Eh aku baru ingat, ada berita yang aku peroleh tidak sengaja dari seseorang yang aku temui tadi waktu membeli makan malam. Orang ini staf yang bekerja di perusahaan pamanku, pak Brata. Katanya perusahaan itu sudah dijual sepenuhnya. Dan yang membeli sepertinya orang yang sama waktu itu membeli sahamku dan Tari"


Sugi nampak terkejut "Masa? Tapi sudah kuduga akan seperti itu jadinya. Artinya sudah ganti kepemilikan ya, staf disana masih semua atau gimana?"


"Katanya hanya dipilih yang kerjanya bagus dan komit pada pemilik yang baru"


"Semoga saja perusahaan itu baik-baik saja di tangan pemiliknya yang baru. Sayang sekali yah pada akhirnya perusahaan itu jatuh ke tangan orang lain" Sugi memutar-mutar bir kaleng dingin ditangannya


"Masih kerasa sedih sih, terus terang waktu mendengarnya tadi aku merasa agak kecewa. Tapi ya sudahlah" Damar terlihat menerawang


"Tapi aku yakin kalau memang perusahaan itu nanti takdirnya harus kembali ke kalian yah pasti kembali. Ada aja jalannya"

__ADS_1


"Aku sih nggak berharap apa-apa. Saat ini aku sudah cukup senang dengan perkembangan bisnisku yang sekarang. Fokusku itu dulu sementara ini"


Sugi mengangguk setuju


__ADS_2