Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Damar tiba


__ADS_3

Damar baru saja menjejakkan kakinya keluar dari lift rumah sakit Sempurna untuk menuju ke kamar rawat inap yang ditempati oleh Riri. Langkahnya terlihat terburu-buru dengan wajah yang tegang.


"Srettt..." Suara pintu di geser perlahan


Gia, pak Doni dan Dion menoleh ke arah suara, ketiganya nampak tersenyum melihat kedatangan Damar. Gia bangun dari duduknya dan menghampiri Damar


"Sayang..." Panggil Gia berbisik lalu memeluk Damar dengan erat


"Gimana keadaan Tari? Dia sudah sadar?" tanya Damar dengan suara pelan sambil tetap melangkah menuju ranjang Riri yang berada di dalam. Ia lalu tersenyum dan mengangkat tangannya menyapa Pak Doni. Ia lalu menoleh kearah Dion dengan senyum yang sama


Gia mengamit lengannya "dia tadi sempat sadar tapi sekarang tidur lagi. Mungkin kelelahan, tadi sudah sempat di cek perawat disini. Jadwal visit dokter baru bisa dilakukan besok karena sifatnya nggak urgent"


Damar mengangguk, ia lalu menghampiri Sugi yang nampak sibuk dengan notebooknya disebelah Riri. Sugi menoleh kearah Damar dan meletakkan notebooknya diatas nakas


"Bro..." Sapanya kemudian berdiri dan memeluk Damar "Riri dalam keadaan baik, hanya sedang beristirahat karena kelelahan" ujar Sugi seperti mengerti kekhawatiran yang tergambar di wajah Damar


Damar mengangguk, matanya memperhatikan seluruh tubuh Riri yang kini nampak ringkih bergelung dibawah selimut dengan hembusan napas yang tenang dan teratur.


Damar menghela napas panjang sambil mengelus kepala Riri dengan lembut. Lidahnya kelu tak bisa mengatakan apa-apa saat melihat kondisi Riri saat ini. Kesedihan nampak sangat jelas tergambar dari raut wajahnya. Gia mendekatinya dan mengelus lengan Damar merasa mengerti perasaannya saat ini.


Setelah beberapa lama Damar nampak menoleh ke arah Sugi yang sedari tadi menunggu dibelakangnya


"Kita bicara diluar saja, biar Riri bisa lebih banyak beristirahat" ujarnya sambil merangkul Gia untuk menuju ruang tamu kamar ini. Mereka kemudian duduk kembali di sofa


"Siapa yang menyerang Tari, Sam?" tanya Damar dengan wajah dinginnya


"Aku pun belum tahu pasti mengenai hal itu. Saat ini masih diselidiki. Kita pasti mendapatkan informasi secepatnya. Tapi...aku punya firasat ini orang yang sama, dengan yang merekayasa skandalku " jawab Sugi


Orang-orang yang berada disana nampak terdiam mendengar jawabannya. Mereka menerka-nerka siapa orang yang dimaksud oleh Sugi


"Orang ini harus ditangkap, siapapun dia. Aku nggak mau kejadian seperti ini terulang kembali. Kalau sampai orang itu tidak tertangkap secepatnya, mungkin Riri akan aku ajak ikut serta tinggal diluar negeri untuk sementara waktu"

__ADS_1


"Kita lihat perkembangannya nanti bro" Sugi menjawab dengan perasaan tidak tenang


"Beruntung Tari masih bisa selamat, ku dengar ia diselamatkan oleh temannya. Siapa dia?"


"Ini orangnya, namanya Dion. Anak pemilik Shop n Shop" Sugi menoleh kearah Dion. Damar mengikuti arah pandangan matanya


"Kamu ingat kan yang punya kedai kopi artisan, yang waktu itu sempat berkenalan dengan Riri di acara orangtuaku" bisik Sugi ditelinganya, Damar berpikir sejenak dan kemudian mengangguk pelan


Damar menjulurkan tangannya


"Saya Damar, kakaknya Riri"


Dion yang sedari tadi nampak bersemangat, mengulurkan tangannya lalu menjabat tangan Damar dengan kuat


"Saya Dion, Dion Mahendra" jawabnya sambil tersenyum


"Saya berhutang Budi pada anda karena sudah menyelamatkan nyawa adik saya. Saya sangat berterimakasih untuk kebaikan yang anda lakukan untuk Riri. Nanti siapa tahu anda butuh bantuan kami, tidak usah ragu untuk menghubungi saya atau Riri. Kami pasti akan berusaha membantu semampu kami" Ujar Damar dengan tulus


Damar tersenyum "Bisa minta tolong diceritakan kembali pada saya apa yang sedang terjadi sewaktu anda tiba di kantor kami?"


Dion memandang wajah Damar beberapa saat dan mulai bercerita tentang apa yang ia lihat tadi siang


Damar mendengarkan dengan seksama sambil sesekali meremas tangan Gia yang kini dalam genggamannya karena gelisah


"Sepengetahuan saya jalanan pasti macet di jam-jam itu" ujar Damar


"Iyah benar, saya sampai memutuskan untuk menepikan mobil saya di tengah perjalanan dan membopong Riri sampai kemari"


Ia terdiam beberapa saat dan mulai kembali bercerita "Kalau boleh saya ceritakan disini, terus terang waktu itu saya merasa mulai panik saat melihat Riri tiba-tiba saja memejamkan matanya di jok belakang. Saya langsung saja membopongnya tanpa pikir panjang, entah saya mendapat kekuatan darimana? saya bahkan sudah lama tidak latihan fisik sama sekali. Mungkin karena di pikiran saya waktu itu hanya satu, ingin menyelamatkan Riri, itu saja"


"Saya akui tindakan anda sangat luar biasa berani. Kalau orang lain yang melihatnya berdarah-darah, kemungkinan tidak akan mau membantunya apalagi sampai membopongnya di jarak yang cukup jauh. Orang lain akan berpikir dua kali untuk melakukannya, belum lagi kalau sampai orang yang mereka tolong pada akhirnya meninggal di tengah jalan. Bisa-bisa yang menolong disangka penjahatnya oleh pihak berwajib"

__ADS_1


Dion hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Damar.


Damar terlihat berbisik di telinga Sugi "sainganmu boleh juga hehehehe" ia terkekeh


Sugi menyiku pinggangnya dengan wajah kesal. Damar meringis, namun hal itu tak menghentikan tawanya


"Pak Damar, kita dulu pernah bersekolah di sekolah menengah yang sama. Anda kakak kelas saya, mungkin anda lupa pernah menjadi pembimbing saya di ekstra silat" ujar Dion tiba-tiba, tidak bisa menahan dirinya untuk mengatakan ini pada Damar sedari tadi


Damar menghentikan tawanya dan memandang Dion sambil mengingat-ingat kenangannya di masa lalu


"Saya yang paling kurus, paling buruk kuda-kudanya. Tapi anda mengajari saya dengan sabar dan disiplin. Anda memanggil saya dengan sebutan pak De" Dion terlihat menahan tawanya


Wajah Damar terlihat kaget "Aaahhh saya sekarang mulai ingat. Wah kok bisa kebetulan begini?"


"Entahlah saya juga baru tahu tahu setelah mengobrol dengan Riri beberapa waktu yang lalu"


"Wah sekian tahun berlalu rupanya pak De banyak berubah" Damar tersenyum


"Saya boleh memanggil anda dengan sebutan Abang saja?"


"Oh boleh, panggil nama juga tidak masalah"


"Abang juga banyak berubah, saya juga sudah mendengar cerita masa lalu Abang dan Riri"


Mereka pun mulai berbincang tentang banyak hal di masa lalu, sampai mengenai bagaimana akhirnya Dion menjadi terinspirasi untuk merubah hidupnya


Sementara itu Riri tersadar dari tidurnya, samar-samar ia mendengar suara orang-orang berbisik mengobrol di ruang tamu. Dengan perlahan-lahan ia membuka matanya. Ia bisa melihat langit-langit kamar yang ia tempati ini berwarna putih. Sekujur tubuhnya terasa pegal dan ngilu, ia mencoba memiringkan tubuhnya kekanan, baru setengah jalan ia meringis.


"argh! Sakit" rintihnya dan ia pun mengurung kan niatnya itu. Pinggangnya terasa sakit dan perih seperti baru saja disayat-sayat. Riri kemudian menarik napas panjang bersiap untuk mengembalikan tubuhnya terlentang seperti semula.


"fuhhh..." Ia kembali mengatur napasnya menenangkan dirinya sendiri setelah berhasil kembali ke posisi terlentang.

__ADS_1


__ADS_2