
Pagi ini Damar baru saja berangkat ke bandara diantar oleh Gia. Ia mendapat jadwal penerbangan pukul sepuluh pagi. Aku sedang menikmati sarapanku dan sebentar lagi akan bersiap-siap untuk pergi ke kantor.
Aku kembali teringat dengan undangan makan malam dari Bu Rita, jantungku tiba-tiba saja berdebar karena gugup.
"Ck!, ini hanya makan malam biasa ya Riri. Hentikan kegugupanmu itu!" Gumamku sambil mengambil jaket dari dalam lemari. Aku memang berniat memakai sepeda motorku yang lama, agar terhindar dari kemacetan klasik di hari Senin.
Hari pertama di kantor, tidak banyak yang aku bisa kerjakan. Aku hanya mendata supplier yang di miliki oleh perusahaan dan merapikan file-file yang tadi pagi diserahkan oleh Kak Damar padaku.
Beberapa telepon dari supplier sudah mulai masuk satu persatu, lebih kepada urusan data-data yang kurang jelas untuk pengiriman atau hal-hal mendasar lainnya.
Ponselku bergetar, pertanda ada pesan yang masuk. Kulihat Sugi mengirimkan pesan untukku
"Sayang aku udah nyampe 😘♥️ I miss you already 🥹"
Dengan segera aku menjawab pesannya
"I miss you too ♥️😘 semangat ya babe"
Pesanku terkirim tanpa ada jawaban lagi setelahnya.
"Dia pasti sedang sibuk" gumamku sendiri sambil menatap layar pada ponselku. Aku memutuskan untuk fokus pada pekerjaanku hari ini. Demi mengurangi rasa rinduku padanya.
Di waktu yang sama Mita sedang berada di satu restauran bersama anak laki-lakinya. Ia menunggu Eko, salah satu teman dekat dari mantan suaminya.
Nampak seorang laki-laki berperawakan agak gemuk baru saja tiba, ia bergegas mendekati Mita yang sedang melamun.
"Mita, sori dah nunggu lama yah? Urusan pekerjaanku baru saja selesai" ujarnya sambil memeluk Mita yang berdiri menyambutnya
"It's okay, aku juga baru sampai kok belum ada sepuluh menit" jawabnya sambil tersenyum
Eko kemudian duduk dan memanggil pramusaji untuk memesan makanan.
__ADS_1
"Kamu sudah pesan?" Tanyanya sambil melihat menu yang disodorkan oleh pramusaji
"Sudah kok"
"Ok, mba saya pesan Sop buntut dan nasi putihnya satu. Minumnya air mineral saja" katanya
Pramusaji mencatat pesanan Eko dan mengambil kembali buku menu dari tangannya.
"Anakmu ganteng mit, nggak rewel" Eko melihat anak laki-laki itu sedang asyik menonton Chanel kesukaannya pada notebook di depannya
"Iya, mungkin karena dia tahu ibunya sedang banyak pikiran kali ya. Dari semalam dia sama sekali tidak merepotkanku"
"Erik tahu kamu kembali kemari?" Eko menatap wajah Mita yang sedang memperhatikannya anaknya
"Tahu, dan dia tidak pernah peduli apapun yang aku lakukan"
"Kasihan kamu Mita. Kalau aku tahu kau akan terus diperlakukan seperti ini mungkin sejak lama aku menjemputmu untuk pulang kemari"
Mita hanya terdiam menatap wajah Eko yang nampak berkerut berusaha mengingat-ingat masa lalu
Mita secara perlahan melepaskan genggaman tangan Eko "Eko, maafkan aku. Aku masih belum bisa memberikan jawaban atas tawaranmu ini. Aku tahu kamu orang yang sangat baik, selalu ada saat aku membutuhkan dan tanpa pamrih rela membantuku. Aku tidak akan melupakan kebaikan hatimu"
"Tapi sebenarnya aku kemari untuk mencari seseorang. Aku... Aku sekali lagi ingin minta bantuan mu" ujar Mita, wajahnya terlihat muram
Eko menghela napasnya "siapa orang itu?" tanyanya. Ada sebersit rasa kecewa dalam nada suaranya
Mita memperlihatkan sebuah foto di ponselnya pada Eko "orang ini, dia mantan pacarku sebelum menikah dengan Erik. Aku rasa kamu juga mungkin mengenalnya"
Wajah Eko berubah terkejut "kamu yakin itu orangnya?"
"Yakin, kamu mengenalnya?"
__ADS_1
"Tidak hanya aku yang mengenalnya Mita, tapi bisa jadi seluruh orang dikota ini, bahkan mungkin di seluruh negeri ini"
Mita nampak terkejut "apa sekarang dia menjadi terkenal? Aktor?"
Eko menggeleng "Dia orang terkaya nomor satu disini. Keluarganya memiliki banyak bisnis besar. Kamu pernah mendengar Wijaya Grup? Itu milik keluarganya"
Wajah Mita semakin terperanjat, matanya menatap Eko dengan nanar
"Urungkan saja niatmu bertemu dengannya, mungkin sekarang dia sudah melupakanmu. Orang kaya luar biasa seperti dia tidak akan mau mengingat hal-hal sepele seperti ini Mita. Jangankan kamu, aku saja yang sempat mengenalnya dulu, tidak pernah bertemu dengannya lagi disini. Level kami terlalu jauh untuk bisa bertemu lagi"
"Ternyata ia orang kaya... lebih kaya dari Erik. Pantas saja dia belum mau menikah, ia pewaris tunggal sebuah perusahaan besar" Mita menutupi matanya dengan kedua tangannya
"arghh aku salah memilih, kalau saja dulu aku lebih bersabar mungkin aku sekarang sedang bahagia bersamamu Sam" gumamnya dalam hati, kepalanya tiba-tiba terasa pening. Bayangan saat-saat bahagia mereka melintas di pikirannya
Makanan pesanan mereka pun datang
"Makan dulu Mita, jaga kesehatanmu. Cuaca disini sedang tidak menentu"
Ucapan Eko mengembalikannya kepada kehidupan nyata saat ini. Ia membuka matanya dan menghela napas. Dengan malas ia mulai mengambil sendok dan mengorek-ngorek makanan yang ada di depannya
"Apapun hasilnya nanti aku tetap ingin bertemu dengannya mungkin untuk terakhir kali. Aku ingin tahu apakah ia masih mengingatku dan kenangan kami. Aku mungkin terdengar bodoh masih berharap padanya, padahal aku sendiri yang meninggalkannya waktu itu" Mita menunduk
"Oke Mita, kamu coba saja berkunjung ke kantornya. Nanti aku berikan alamat lengkapnya"
Mita mengangkat wajahnya "terimakasih yah Eko. Kamu selalu saja baik padaku. Bahkan disaat-saat seperti ini"
"Aku hanya ingin menunjukkan padamu, kalau aku mencintaimu tanpa syarat. Dan aku masih menunggumu" Eko tersenyum dan mulai menyantap makanan yang ada di depannya
Sementara itu di kantor pusat Wijaya Grup, Dewi baru saja selesai mengirimkan pesan pada Silvi mengenai keadaan kantor dan melaporkan kegiatan harian Sugi. Termasuk mengabarkan kalau Direktur Utama perusahaan ini sedang berada di luar negeri.
Dewi sudah beberapa hari ini mengikuti keinginan Silvi untuk memata-matai kegiatan keluarga Wijaya. Termasuk kegiatan ibu Rita. Dua alasan ia mau melakukan hal ini, yaitu bayaran yang ditawarkan Silvi cukup tinggi dan satu lagi ia merasa dendam dengan Bu Rita karena telah membohonginya beberapa waktu yang lalu.
__ADS_1
"Ingat jangan sampai ketahuan. Aku akan memberikanmu bayaran yang cukup layak. Berikan aku nomor rekeningmu, akan aku kirim setengahnya sekarang" ujar Silvi padanya beberapa hari yang lalu
Benar saja sejumlah uang telah masuk ke rekeningnya seperti yang Silvi janjikan hari itu juga. Ia merasa senang bukan kepalang, niatnya untuk membalas dendam pada Bu Rita bisa ia lakukan secepatnya. Malahan ia merasa beruntung karena ia juga akan memiliki tabungan yang cukup untuk berhenti dari perusahaan ini apabila nanti terjadi sesuatu di luar dari rencananya. Senyumnya selalu merekah setiap kali ia mengirimkan berita pada Silvi.