Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Undangan


__ADS_3

Hari ini setelah sarapan, Riri berencana untuk ikut dengan Damar melihat kantor baru Damar. Mulai kemarin siang kantor yang berbentuk ruko tersebut resmi berada ditangan mereka berdua. Damar bergerak sangat cepat, beberapa tukang katanya juga sudah ia siapkan hari ini untuk membersihkan sekaligus menata ulang beberapa bagian dari kantor tersebut.


Mobil kami membelah jalan raya yang nampaknya mulai padat di jam-jam sibuk seperti ini


"Kak, dua hari lagi kita sudah harus ikut rapat pemegang saham itu loh" kataku pada Damar yang sedang berkonsentrasi menyetir


"Sudah kamu kabari kedatanganmu pada mereka?"


"Sudah tapi itu seminggu yang lalu, nanti siang aku akan menghubungi kantor mereka untuk mengingatkan kembali"


"Selesai dari kantor baru, aku hari ini ada janji bertemu dengan notaris untuk membantu kita menjual saham nanti. Kalau mereka menolak aku akan ajukan gugatan, nanti dibantu oleh pengacara yang dari Sam"


"Mudah-mudahan tidak ada kendala. Aku ingin semua dilakukan dengan cepat kak, jadi kita tidak ada urusan lagi dengan mereka"


"Iyah aku juga maunya seperti itu"


"Nanti aku pulang naik taksi saja ya, sekalian mampir ke supermarket aku mau membeli banyak barang. Isi kulkas kita amblas, kamu makannya banyak banget sih?!" Gerutuku padanya


"Hahahaha nggak cuma aku loh, kamu kan punya dua tukang makan lagi itu Sam sama pak Doni"


"Aku heran sama mereka kak, aku masak apa aja mereka nggak pernah komplain. Semalam tumis kangkung yang rencananya aku makan sendiri aja habis di gado mereka, padahal sudah beli makan diluar"


Tawa Damar terdengar menggelegar mendengar ocehan Riri "Hahahaha mereka merasa nyaman sama kamu, apalagi si Sam. Badannya kulihat belakangan jadi lebih berisi ya dibandingkan waktu awal aku datang"


"Iyah benar hahahaha, kamu juga loh kak"


"Masa?! Pantas saja rasanya napasku sekarang seperti agak berat. Wah gawat nih!! Hahahaha" Ujar Damar sambil tergelak


Mereka terlihat mengobrol dengan seru sepanjang perjalanan. Sampai akhirnya mereka tiba disana dan melihat beberapa tukang sudah menunggu di depan ruko.


Setelah masuk ke dalam Ruko, Damar nampak memberikan arahan pada mereka agar pekerjaan ini bisa selesai secepatnya.


Seperti dugaanku Ruko ini memiliki luas yang cukup lumayan. Letaknya juga berada di tengah kota yang situasi pergerakannya dinamis, jadi sangat cocok untuk usaha. Aku naik ke lantai dua untuk melihat keadaan diatas. Semuanya terlihat masih dalam keadaan baik dan bersih.


Usia menemani Damar, seperti rencanaku siang ini aku berangkat ke supermarket dengan menggunakan taksi online. Dalam perjalanan ponselku berbunyi, kulihat Sugi menghubungiku.


"Sayang lagi ngapain?" Tanyanya dengan suara berat yang khas


"Aku lagi dijalan, mau ke supermarket beli stok makanan"


"Sama Damar?"


"Nggak, Sendiri kok. Dia ada urusan sama notaris"

__ADS_1


"Pulangnya mau di jemput pak Doni nggak?"


"Nggak usah sayang, aku bisa pesan taksi lagi"


"Mmm Riri, besok malam ada acara ulang tahun pernikahan orangtuaku. Temenin aku datang ya!"


"Hah?!?" Aku terkejut mendengar tawarannya


"Mau yah sayang"


Perasaan ragu menghampiri pikiranku "gimana ya sayang?"


"Kok gimana, temenin aja sebentar. Nggak usah ngobrol-ngobrollah sama orang-orang yang datang. Diem aja disebelahku"


"Diem gimana? Pastilah banyak yang nanya-nanya. Ini siapa? Anaknya siapa? Bisnisnya apa? Duh malesnya" sudah terbayang dalam pikiranku betapa membosankannya acara itu


"Ayolah, karena acaranya membosankan itulah aku pengin ditemenin kamu. Ayolah pleaseeee!!" Ujarnya mengiba


"Ck! Moodku belanjaku langsung hilang loh"


"Yahhh kok gitu? Aku ajak Silvi nih!" Candanya


"Ajak ajalah dia, setelahnya nggak usah mampir-mampir kerumahku lagi!" kataku ketus


"Hahahaha tuh kan marah, Silvi pasti datang tapi kalau kamu nggak datang orang -orang pasti mengira dia calon istriku"


"Aku nggak peduli, aku tetap akan mengajakmu atau Silvi akan terus menempel padaku"


"Ck! Memang yah? Aku selalu nggak pernah punya pilihan lain kalau berdebat sama kamu"


Sugi tertawa geli "Hehehehe pilihanmu cuma satu. Aku!"


"Ya sudah, jam berapa besok? Ada dress code nya?"


"Aku jemput jam enam, untuk dressnya nanti aku kasih tahu"


"Secepatnya ya, aku kan nggak punya dress yang bagus, biar bisa aku cari mulai nanti sore"


"Iyah sayangku, kamu pakai apa saja tetap cantik kok. Apalagi kalau nggak pakai apa- apa hehehehe"


"Ihhh!!! kumat ya??" tanyaku sewot


Sugi tergelak "Hahahaha udah yah, nanti aku kabarin lagi. Senyum dong! pasti lagi manyun"

__ADS_1


Aku tersenyum mendengar kata-katanya "Iyah sayang, aku juga sudah sampai supermarket, mau belanja dulu"


"Ok baby I love you"


"I love you too" jawabku yakin


Dua jam kemudian akhirnya aku sampai di rumah kembali dengan belanjaan yang super banyak. Dengan dibantu sopir taksi online aku membawanya masuk ke dalam rumah.


Saat sedang sibuk mengatur dan merapikan belajaan, ku dengar bel rumah berbunyi.


Aku terkejut saat membuka pintu pagar, ada dua orang laki-laki dan perempuan sedang tersenyum berdiri di hadapanku. Yang laki-laki bergaya kemayu menenteng empat hanger yang di dalamnya kemungkinan set pakaian yang masih tertutup cover kain berwarna hitam. Sedangkan satu lagi membawa satu box besar yang entah apa isinya"


"Selamat sore mau mencari siapa ya?" sapaku ramah


"Selamat sore Bu Riri, Saya Jeany, ini teman saya Karmila kami berdua stylist kenamaan di kota ini. Kami kemari atas perintah Bapak Sugi untuk membantu Ibu memilih dress"


Aku ternganga mendengar ucapan laki-laki kenes bernama Jeany ini "aa...ok.. silahkan masuk mba, saya panggil mba aja ya" aku mempersilahkan mereka untuk masuk


"Boleh panggil mba aja. Bapak pasti belum bilang kalau kami akan datang kemari ya? Hahahaha duh manisnya pasti ini kejutan buat Bu Riri" katanya lagi sambil berjalan masuk. Mata mereka melihat sekeliling rumah


"Iyah makanya saya kaget. Kita coba di dalam saja yah" aku mendahului mereka sambil membuka pintu rumah


"Duh rumahnya seru ya Kar, kayak masuk ke villa di Bali. Tamannya ngingetin eik waktu nginep di Seminyak" Jeany menoleh kearah Karmila


"Iyah Jen, cantik banget. Aku juga pengin punya rumah yang kayak gini" sahut Karmila bersemangat


Setelah masuk, dengan hati-hati mereka meletakkan bawaannya diatas sofa dan mulai membukanya satu persatu. Ternyata mereka membawa empat buah dress berwarna putih dengan detail berbeda disertai beberapa sepatu dan tas senada.


"Yuk di coba Bu, saya bantu" kata Jeany mendekatiku


Dengan ragu aku memandanginya "saya boleh sama Karmila saja, ganti di dalam kamar?"


Jeany nampak tersenyum "tentu saja boleh bu, Ibunya pasti masih virgin Kar. Dibantu cus hahaha!!!" Suaranya meninggi, yang membuatku tersenyum geli


"Saya mau mencoba gaun yang itu" aku menunjuk satu gaun yang tertutup


"Kita akan coba semuanya Bu, semuanya sudah di pesan pak Sugi untuk Ibu"


"Semuanya?!" Aku membelalakkan mataku


"Iyah semuanya, untuk acara besok kan satu. Sisanya ya disimpan untuk acara penting berikutnya"


Karmila hanya terkekeh melihatku terkejut lalu mengikutiku masuk ke kamar Damar dengan membawa satu buah gaun panjang dengan model kerah Sabrina.

__ADS_1


Ketika aku keluar dengan gaun ini mata Jeany nampak berbinar menatapku.


"Astaga Bu Riri, gaun ini memang jodoh ibu. Cantik sekali. Saya sampai terpana loh. Pantas saja bapak sampai harus menghubungi saya secara personal. Bu Riri memang spesial" ujarnya sumringah


__ADS_2