Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Membeli properti


__ADS_3

Silvi terlihat sedikit kikuk dengan wanita bermuka datar disebelah kanannya ini. Tapi beruntung wanita yang duduk di sebelah kirinya nampak tersenyum kepadanya


"Silvi, salam buat ayah kamu ya! Bilang saja dari Bu Teti. Saya dan ayah kamu dulu bersekolah di sekolah menengah yang sama. Kita seangkatan, sekelas pula"


"Baik Bu, nanti saya sampaikan salam ibu pada ayah saya"


"Saya dengar putra jeng Rita sudah memiliki kekasih yang berbeda level dengannya. Sayang sekali ya?!" Ujarnya sambil tersenyum tipis


Silvi hanya bisa tersenyum mendengarnya


"Tapi menurut saya pribadi, Silvi lebih cocok bersanding dengan Nak Sugi" bisiknya pada Silvi


"Apa sih kelebihan wanita itu? Saya heran, bisa-bisanya dia memilih wanita yang seperti itu. Kalau saya jadi Silvi, saya mungkin akan melakukan segala cara agar dia berpaling dari wanita itu" bisiknya lagi


"Mereka susah untuk dipisahkan Bu" jawab Silvi ikut berbisik


"Tapi jeng Rita pasti lebih condong ke Silvi kan? Buktinya dia mengundang Silvi bukan wanita itu ke acara arisan ini. Tujuannya apa lagi kalau bukan untuk memperkenalkan calon mantunya pada ibu-ibu disini"


Senyuman Silvi mengembang "Saya memang masih memiliki kesempatan seperti yang ibu katakan tadi, itu kenapa saya mau datang kemari"


Bu Teti mendekatkan tubuhnya "Pepet terus, namanya masih single masih sah-sah saja kan?! Hehehehe" ia terkekeh tertahan


Silvi ikut tertawa kecil mendengarnya


"Keluarga selevel pak Karta kalau disandingkan dengan keluarga Wijaya pasti akan menjadi hal yang luar biasa. Mendengarnya saja saya sudah iri hehehehe... Sedangkan wanita pilihan nak Sugi pasti biasa-biasa saja, saya yakin dia hanya mengincar harta keluarga Wijaya"


Silvi menoleh ke kanan dan ke kiri, seolah-olah takut ada yang mendengar pembicaraan mereka.


"Saya dengar rahim wanita itu bermasalah karena tidak sengaja kena tusuk seseorang Bu" bisiknya pada Bu Teti


Wajah Bu Teti berubah ngeri, ia bergidik "kenapa mengerikan begitu sih? Pergaulan wanita itu benar-benar level bawah Silvi. Eh tapi dengan begini kesempatan Silvi jadi lebih besar kan?"


Silvi nampak berbinar "Bisa dibilang begitu Bu"


Bu Teti mengangguk tersenyum puas. Ia menjauhkan dirinya ke tempat semula. Tangannya meraih ponsel dalam tas tenteng berwarna pink mencolok dengan logo initial huruf besar desain terkenal di depan tas tersebut. Bu Teti nampak memasang wajah penuh senyum sibuk mengetik sesuatu di ponselnya


Silvi tidak mengetahui orang yang diajaknya bicara ini adalah biang gosip dari ibu-ibu sosialita. Rumor apapun yang menyangkut anggota arisan ini terutama keluarga Wijaya pasti ia sebarluaskan. Ia selalu merasa senang jika rumor yang ia sebarkan berdampak negatif pada orang yang bersangkutan. Itu kenapa tidak ada ibu-ibu yang mau terlalu dekat dengan Bu Teti. Mereka mau berbasa-basi dekat dengannya atas dasar kepentingan bisnis semata.


Riri saat ini sedang berada di kantornya. Tadi ia secara tidak sengaja melihat iklan villa yang sepertinya di jual karena pemiliknya membutuhkan uang cepat. Seperti yang ia baca, properti tersebut berada di pinggiran kota dengan view sungai yang sangat cantik. Ia jadi teringat dengan rencana yang pernah ia bahas dengan Sugi mengenai membuka tempat Spa waktu itu.


Setelah menelusuri beberapa foto dan sosial media dari villa itu ia memutuskan untuk menengoknya hari ini juga. Riri takut kalau ia menunda lebih lama lagi, kesempatan untuk mendapatkan properti yang sesuai dengan keinginannya akan lepas begitu saja. Setelah menghubungi pihak villa dan membuat janji bertemu, Riri juga menghubungi Gia untuk menemaninya.


"Halo Riri ku sayang" jawab Gia dengan suara centilnya


"Lagi sibuk nggak yak?"


"Nggak sih, kebetulan aku lagi santai. Ada apa Ri?"


"Anterin aku yuk!"

__ADS_1


"Kemana?"


"Ada deh, nanti aku cerita. Aku jemput sekarang ya?! "


"Ya deh, aku tunggu"


"Sip" Riri mematikan sambungan teleponnya


Riri nampak merapikan meja kerja dan mengambil tas kecilnya yang berada diatas meja.


"Lisa, saya mau keluar. Bisa jadi sampai sore, nggak usah menunggu saya kembali ya"


"Baik Bu, tapi nanti saya boleh menghubungi ibu apa tidak, kalau ada hal yang mendadak dan penting?" Jawabnya ragu


"Boleh telepon saja"


Lisa mengangguk "Iyah Bu"


Riri menghampiri pak Jon yang sedang duduk tenang berjaga di depan


"Pak Jon, saya mau keluar ada urusan. Saya kemungkinan tidak akan kembali ke kantor. Nanti kalau Lisa pulang, kantornya langsung di kunci saja pak"


"Siap! Bu Riri, hati-hati di jalan" jawabnya bersemangat seperti biasa


"Iya pak, terimakasih"


Riri nampak masuk ke mobil, dengan hati-hati ia melajukan kendaraannya menuju kantor Gia yang berada di pusat kota kurang lebih 30 menit dari sini.


"Gila lobby nya aja bagus banget Ri" Bisik Gia ketika mereka melangkah menghampiri laki-laki di lobby


"Tamannya cantik dan rapi ya" jawab Riri sambil melihat ke sekeliling


"Selamat siang, selamat datang di Villa Lembayung" Sapa laki-laki itu dengan suara berat sambil tersenyum. Senyum laki-laki itu terlihat ramah, berkulit agak gelap dengan rambut sebahu bergelombang. Ia mengenakan pakaian santai berupa kaos berwarna putih dengan celana pendek selutut berwarna coklat muda


"Selamat siang pak, saya Riri dan ini teman saya Gia" Riri mengulurkan tangannya


"Saya Gilang, pemilik Villa ini" jawabnya sambil menyambut uluran tangan Riri dan Gia


"Oh yang tadi menerima telepon saya pak Gilang sendiri rupanya?" tanya Riri berbasa-basi


"Iyah saya sendiri, mari saya antar untuk melihat-lihat villa ini" ia membuka tangannya mempersilahkan kami untuk masuk ke dalam


Kami berjalan beriringan memulai inspeksi villa Lembayung.


Sementara itu Sugi baru saja membaca pesan dari Pak Doni diponselnya. Ia saat ini sedang berada ditengah-tengah meeting makan siang dengan kepala Dinas Pariwisata.


"Pak, Bu Riri katanya pergi ke pinggiran kota bersama Gia ke villa Lembayung. Villa Lembayung saat ini sedang dijual di market place"


Ia meletakkan ponselnya kembali dan melanjutkan meetingnya dengan tenang. Usai meeting ia langsung menghubungi Riri saat telah berada di dalam mobil.

__ADS_1


Saat ini Riri dan Gia sedang asyik di balkon villa yang mengarah pada pemandangan sungai, mereka dikejutkan oleh bunyi ponsel Riri. Wajah Riri menegang, ia hapal nada dering itu.


"Maaf pak saya angkat telepon dulu sebentar" kata Riri pada pak Gilang


"Silahkan Bu" sahut pak Gilang


Dengan terburu-buru ia menjauh dari Gia dan pak Gilang.


"Hi" sapa Riri dengan suaranya yang khas.


"Hi sayang lagi dimana?" tanyanya berpura-pura tidak mengetahui keberadaan Riri saat ini


"Lagi diluar makan siang sama Gia" jawab Riri kebingungan menjawab pertanyaan Sugi


"Kenapa tiba-tiba keluar sama Gia?"


"Yah pengin aja, dikantor juga lagi santai kan"


"Makan siang dimana? Aku boleh nyusul nggak?" Suaranya terdengar dingin mengintimidasi, entah kenapa Riri sampai bergidik mendengarnya


"Mmm... bentar lagi selesai, aku mau langsung balik aja. Kalau mau ketemu nanti malam kan bisa"


"Nggak, aku mau ketemu sekarang!" tegasnya


Riri menghela napasnya "Aku...lagi di tempat yang jauh. Nanti deh aku ceritain ke kamu"


"Kenapa nggak Sekarang aja? Aku masih punya banyak waktu!" Ucapnya ketus


"Marah ya?"


"Iya, kamu mulai mencoba berbohong, sayang. Dan aku nggak suka"


"Aku pengin beli properti untuk bisnis spa yang kita pernah bicarakan waktu itu"


"Kenapa nggak bilang kalau mau kesana? Kan aku bisa ikut"


"Aku hanya nggak mau merepotkanmu lagi. Aku mau mengerjakan semuanya dari awal sendiri"


"Kenapa begitu? Kan aku bisa bantuin"


"Nah itu, aku ingin mendirikan bisnis ini dengan tanganku sendiri"


Sugi terdiam menahan kekesalannya karena merasa tidak dianggap oleh Riri.


"Sayang, nanti malam kita bicara ya. Aku lagi di tengah inspeksi bersama pemilik villanya"


"Ok" ia memutuskan sambungan teleponnya


Riri menggaruk kepalanya yang tidak gatal

__ADS_1


"CK! Pasti pak Dirut tersinggung. Haduh! Aku ingin usaha ini benar-benar tidak ada campur tangannya sama sekali. Aku juga berhak mendapat pencapaian atas kemampuanku sendiri kan?!" Gumamnya sendiri sambil melangkah menghampiri Gia dan pak Gilang


__ADS_2