
"Kak, sebentar lagi paman pasti turun. nanti kalau dia turun menemui kita jangan terbawa emosi lagi ya. Kita harus menyelesaikan ini dengan cepat dan tenang" bisikku sambil mengelus lengan Damar
Damar hanya terdiam mendengar ucapan Riri
"Ada apa Bu Riri? Siapa laki-laki tadi?" tanya Pak Yudi dengan wajah penasaran
"Dia sepupu kami pak" sahutku tanpa menjawab lebih lanjut
Pak Yudi menggangguk, pandangannya masih menyimpan banyak pertanyaan
Beberapa menit lift kembali terbuka, seperti yang diduga sebelumnya pak Brata turun untuk menemui mereka. Dengan langkah perlahan ia mendekat, Wajahnya nampak pucat dengan pandangan mata bingung melihat Damar
"sialan!! dia benar-benar anak brengs*k itu. Kenapa dia masih hidup sih?!" gerutunya dalam hati
"Ini benar-benar kamu Damar!" Ia terlihat tersenyum, namun senyum yang nampak seperti agak terpaksa
"Paman pikir, kita sudah kehilangan kamu. Syukurlah kamu dalam keadaan selamat dan selamat" ujarnya lagi saat berhenti di depan kami
Damar berdiri "Iyah paman, untung saja saya selamat. Saya selalu berharap orang yang mau mencelakakan saya dulu mendapat hukuman yang setimpal" sahut Damar sambil menatap Pak Brata dengan wajah kesal
Pak Brata memalingkan wajahnya sejenak, ia lalu menatap Riri dengan pandangan tajam.
"Ehem! Bagaimana kalau kalian tunggu di atas saja langsung. Ini kan kantor ayah kalian juga. Masak datang seperti tamu begini. Kalau paman tahu kau dan Tari datang awal seperti ini, sudah kusuruh orang mengajak kalian langsung naik ke ruang rapat diatas" ujar pamannya dengan kikuk
"Tidak apa-apa paman, nanti juga kami hanya akan menjadi tamu kok disini"
"Maksudmu apa Damar?"
"Kami datang kemari bermaksud memindahkan hak saham yang kami miliki, termasuk warisan saham orang tua kami"
Wajah Pak Brata terlihat kaget, ia terdiam cukup lama
"Kita bicarakan dulu diatas, yuk naik dulu sebentar" pak Brata mempersilahkan kami untuk memasuki lift yang akan membawa kami ke lantai tiga
Kami mengikuti ajakan pak Brata untuk ikut naik.
Sani yang sejak tadi berada di kantor depan hanya bisa melongo melihat semua ini. Ia pernah mendengar tentang cerita tragis pemilik perusahaan ini sebelumnya, termasuk cerita anak-anaknya. Ia tak menyangka ternyata anak pertama yang bernama Damar, yang sempat di beritakan hilang ketika mendaki gunung ternyata masih hidup dan dalam keadaan sehat.
__ADS_1
Suasana di dalam lift sungguh canggung, kami berdiri dengan jarak cukup jauh dari pak Brata. Bahkan pak Yudi pun seperti memahami sikap kami.
"Silahkan masuk" kata pak Brata ketika kami tiba di satu ruangan paling ujung di lantai tiga. Kami memasuki ruangan yang ternyata ruang meeting kantor ini.
"Ruang meetingnya paman pindah ke lantai tiga. Tempatnya lebih luas bukan?"
Damar hanya terdiam sambil melihat sekeliling ruangan
"Apa kalian mau paman antarkan melihat-lihat kembali perusahaan ini? Seingat paman dulu kalian senang sekali berkunjung kemari sesekali setiap bulan" ujar pak Brata dengan ramah mencoba berbasa-basi
"Tidak usah paman, kami kemari memang hanya untuk menawarkan saham yang kami miliki"
Pak Brata menghela napasnya "dan ini siapa?" Ia menoleh ke arah pak Yudi
"Saya Yudi pak, notaris dari pak Damar" ia mengulurkan tangannya hendak bersalaman
Pak Brata hanya mengangguk lalu berpaling pada Damar tanpa menghiraukan pak Yudi di depannya.
Pak Yudi menurunkan tangannya sambil tetap tersenyum merasa maklum
"Sudah biasa terjadi pada saya Bu. Tidak apa-apa" bisiknya disebelahku
Kami pun duduk, meja rapatnya berbentuk memanjang dengan sepuluh kursi kayu disisi-sisinya. Kami duduk saling berhadapan, pak Brata di sebelah sisi kiri dan kami di sebelah sisi yang kanan.
"Damar, coba pertimbangkan kembali niatmu itu. Ayahmu sudah sangat bekerja keras untuk membuat perusahaan ini menjadi besar. Kalau kalian menjualnya artinya kalian benar-benar melepaskan perusahaan ini sepenuhnya"
"Itulah keputusan kami berdua, paman"
Pak Brata menatap Damar "kenapa Damar? Bukankah setiap tahun kalian selalu mendapatkan hak kalian? Kenapa kalian memilih untuk menjualnya?"
"Tidak ada alasan, kami hanya merasa tidak ingin memiliki saham itu lagi"
"Kalau begitu, bagaimana kalau paman saja"
"Apa paman punya dana cukup? Kami mau pembayarannya penuh secepatnya" kata Damar dengan wajah datar
Pak Brata mengeratkan giginya "Paman yang mengelola perusahaan ini semenjak ayah kalian tiada, rasanya paman lah yang berhak atas saham yang kalian miliki sekarang"
__ADS_1
"Kalau paman bisa menunjukkan surat akta waris saham dari ayah, pasti akan kami berikan cuma-cuma. Sayangnya kami masih berhak atas warisan ini"
Tangan pak Brata terkepal
"Kalian tahu, menurut peraturan disini jumlah saham maksimal yang diperkenankan dimiliki oleh masing-masing pemegang saham hanya 20 persen saja kecuali pemilik perusahaan. Itu sebabnya ayah kalian bisa memiliki saham lebih banyak dan ia mampu memberikan kalian beberapa persennya"
"Karena sekarang kalian mendapat hak waris jadi jumlah saham kalianlah yang paling banyak saat ini, bukannya itu luar biasa sekali. Tapi Paman sendiri merasa tidak yakin akan ada yang mau membelinya dalam jumlah banyak"
"Tidak masalah, kami bisa menawarkannya pada orang lain"
Pak Brata menyingungkan senyum "begitu rupanya"
Ia teringat dengan informasi yang diberikan oleh Erika sebelumnya mengenai kedatangan Tari di rapat pemegang saham kali ini. Semenjak itulah ia sudah menduga kalau Tari berniat menjualnya pada pemegang saham yang lain. Ia sudah menyusun rencana mempengaruhi pemilik saham yang lain agar tak satupun mau membeli saham itu. Ia juga yakin sekali orang luar tak akan mau membelinya, karena laporan keuangan perusahaan saat ini sedang tidak baik.
"Kalian pada akhirnya akan memohon dan mengiba padaku untuk membelinya. Saat itulah mau tidak mau aku akan membelinya dengan harga murah". Gumam pak Brata dalam hati
"Baiklah kalau memang begitu keputusan kalian. Silahkan tunggu disini, sampai yang lain datang. Paman harus mengecek sesuatu dibawah" katanya sambil berdiri
"Baik paman" jawab Damar dengan enggan
Pak Brata kembali ke ruangannya dengan wajah kesal. Erika yang baru saja datang langsung menghampiri ayahnya
"Ayah, kata Hadi ternyata Damar masih hidup ya?"
"Iyah ayah juga kaget sewaktu melihatnya dibawah. Anak itu sekarang bahkan semakin mirip dengan ayahnya"
Wajah Erika terlihat sinis "kenapa dia masih hidup sih? bukannya ayah sudah memerintahkan orang untuk melenyapkannya waktu itu" batin Erika
Erika mengetahui hal tersebut secara tidak sengaja, karena sewaktu ayahnya menghubungi seseorang ia sedang berada di balik pintu kamar ayahnya yang sedikit terbuka.
"apa mereka akan menjual saham itu seperti dugaan kita yah?"
"iyah Er seperti dugaan kita. Tapi tenang saja tidak akan ada yang mau membelinya. Ingat kita sudah mempersiapkan hari ini cukup lama" ujar pak Brata dengan penuh keyakinan
"Tapi sudah seharusnya saham itu milik ayah yang telah bekerja keras disini" sahut Er menggerutu
"Sebentar lagi semuanya akan menjadi milik kita sepenuhnya Er" pak Brata tersenyum
__ADS_1