Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Kejutan


__ADS_3

Acara pun di mulai. Nampak Pembawa acara membuka acara ini dengan penuh semangat. Seperti biasa rangkaian acara formal berlangsung alot. Mulai dari pembukaan sampai ke sambutan-sambutan dari berbagai pihak.


Suara pembawa acara terdengar semakin bersemangat "Seperti biasa saat perayaan hari jadi Wijaya Grup setiap tahunnya, akan di umumkan promosi dan mutasi jabatan strategis. Tidak berbeda untuk kali ini. Sebentar lagi kami akan mengumumkan beberapa penghargaan dan promosi luar biasa yang diperoleh oleh karyawan yang berprestasi. Untuk informasi dan data lengkap promosi dan mutasi tahun ini, sudah bisa dilihat di grup chat masing-masing.


"Baik, kami akan umumkan prestasi pertama yaitu karyawan terbaik Wijaya Grup tahun ini jatuh kepada..."


Suara pembawa acara menjadi tenggelam ditelingaku, saat aku mulai membaca data yang telah aku perolah dari grup chat Villa Padi. Aku mencari nama Sugi dari sepuluh orang yang dipromosikan, tapi tidak kutemukan namanya.


Gemuruh tepuk tangan memenuhi aula saat nama- nama dibacakan.


Gia ikut membaca data yang ada di ponselku dengan seksama mencari nama Hartono, Kemudian dia terbahak


"Hahahaha kasian deh orang ini, lihat deh Ri Hartono ada di informasi mutasi. Dia dipindahkan ke lini bisnis peternakan unggas di daerah pedalaman sana"


Aku memperhatikan informasi mutasi seperti yang Gia sampaikan baru saja. Ada lima orang yang dimutasi tahun ini dan memang benar salah satunya Hartono, ia dipindahkan ke bagian operasional pengurusan peternakan unggas yang letaknya jauh di pelosok. Aku memandang Gia dengan pandangan jenaka, kami berdua kemudian terkekeh.


"Gimana nasib Suci yah?" Aku menoleh pada Gia


"Aku tanya pak Toni deh" Gia kemudian mengetik pesan di ponselnya untuk dikirim pada Pak Toni, yang ternyata juga hadir malam ini.


"Bahahahaha, Suci di turunkan posisinya ke tempat semula di kantor depan"


"Ihh perusahaan terlalu baik yah" kataku pada Gia


"Ah palingan mereka bakalan di olok-olok yang lain, kalau sudah tidak tahan yah artinya mereka akan mengundurkan diri kan?!"


"Iyah sih"


"Aku masih penasaran kemana Sugi di pindahkan yah? Harusnya sih mendapat promosi, karena menurutku dia bekerja dengan sangat baik" gumamku dalam hati


Suara pembawa acara kembali terdengar "Dengan bangga kami mengumumkan secara resmi penunjukkan Direktur Utama Wijaya Grup saat ini di jabat oleh....!!! Bapak Sammy Sugi Artawa Wijaya!!!. Kami persilahkan bapak untuk naik keatas podium. Iya, beliau adalah putra kandung dari bapak Danu Wijaya. Masih sangat muda dan gagah sekali. Selamat dan Sukses untuk Bapak Sammy Sugi Artawa Wijaya"


Sugi nampak berjalan dengan penuh wibawa menaiki podium. Semua Undangan nampak berdiri disertai gemuruh tepuk tangan yang panjang, kembali terdengar memenuhi aula ini.


Aku masih terperanjat dengan pengumuman yang baru saja aku dengar, sampai tidak fokus dengan apa yang terjadi. Gia menarik tanganku untuk ikut berdiri dan bertepuk tangan.


"Wahh ternyata Pak Sugi putra dari pak Danu Wijaya. Gila, jadi selama ini kamu bekerja bersama seorang calon Direktur Utama perusahaan besar" Gia berbisik padaku

__ADS_1


"Siapa yang menyangka yah Ri, pantas saja aku seperti pernah melihatnya. Aku baru sadar pernah melihat profilnya di salah satu majalah yang sering meliput kehidupan kalangan atas" bisik Gia lagi padaku yang saat ini masih mencoba mencerna semua yang terjadi.


Aku melihatnya dari kejauhan, pikiranku melayang ke momen-momen saat kami bertemu, kemudian aku mulai bekerja di Eat and Love sampai akhirnya dia menolongku beberapa kali bahkan sempat menyelamatkan diriku dari tangan kotor Hadi. Rasanya seperti mimpi mengetahui ternyata dia anak seorang konglomerat.


Saat kembali duduk pun Gia sampai harus menarik tanganku kembali.


"Kamu kenapa Riri? jangan-jangan menyesal yah kesempatan dekat dengan kelas kakap hilang begitu saja dihembuskan angin ****** beliung hehehe" Gia terkekeh mendengar ucapannya sendiri


Aku menoleh kearahnya "ck! Aku masih belum percaya pernah bekerja dibawahnya langsung"


"Ah sekarang pun secara tidak langsung kan masih kerja dibawah pak Sugi" ujar Gia tersenyum geli


"Hih!!" Aku mencubit kecil lengannya karena gemas


"Hahahaha" Gia tertawa melihat reaksiku


Bodyguard dan asisten Gia nampak kebingungan melihat Gia tertawa seperti ini sedari tadi. Karena biasanya Gia sangat galak ketika bekerja.


"Seru sekali obrolannya" Kata Bu Yuli yang sedari tadi sibuk melihat ponselnya terus menerus.


"Bestie Bu, lama tidak bertemu jadi ada banyak cerita" ujar Gia


Gia pun tampak terkejut mendengarnya.


"Saya Bu? Kan saya baru bekerja sebulan di Villa Padi" kataku sedih


"Tapi orang pusat minta begitu. Jangan menolak Riri, ini promosi loh. Tidak semua orang memiliki kesempatan ini, karena yang bekerja di kantor pusat adalah orang-orang pilihan. Saya yakin sekali kamu akan mudah beradaptasi disini. Kamu pantas untuk mendapat promosi. Karena selama sebulan di Villa Padi, saya sendiri sudah melihat kinerja kamu yang bagus" ujar Bu Yuli dengan penuh senyum


"Tapi nanti siapa yang akan membantu ibu di sana?"


"Kan bisa cari orang baru lagi, gampanglah itu. Selamat yah Riri saya turun senang dan bangga" Tangan Bu Yuli menepuk pundak ku


"Yay!!! Selamat, Riri hebat!" Kata Gia sambil memelukku erat


Aku hanya bisa tersenyum padanya. "Malam ini betul-betul malam yang penuh kejutan. Entah apa yang akan terjadi setelah ini, semoga saja aku bisa menghadapi apapun yang akan terjadi nanti" aku membatin


Acara dilanjutkan dengan perayaan hari jadi Wijaya Grup disertai pemotongan tumpeng oleh Bapak Danu Wijaya. Kemudian disambung dengan acara makan malam dan hiburan.

__ADS_1


Saat mengantri prasmanan, aku merasa harus ke kamar kecil.


"Gia dan Bu Yuli silahkan duluan, saya mau kekamar kecil sebentar" ujarku


"Ok" jawab Gia dan Bu Yuli hampir berbarengan


Aku melewati beberapa meja untuk sampai ke kamar kecil yang ternyata sedang penuh antrian. Aku berniat untuk mencari kamar kecil lainnya ketika ponselku berbunyi. Aku melihat nama Pak Doni melakukan panggilan. Aku mencari tempat yang agak sepi untuk menjawab teleponnya.


"Selamat malam pak Doni"


"Selamat malam Ibu Riri, sekarang posisi ibu sedang berada dimana?"


"Dekat toilet, ada apa ya pak?"


"Bisa keluar sebentar dari pintu kanan aula dan langsung ke lantai dua bu? Pak Sugi ingin bertemu"


"Dheg!" Jantungku mulai berdegup kencang ketika nama Sugi disebut.


"Tapi apa diatas ada toilet pak, saya kebelet"


"Oh ada bu, hehehe" pak Doni terkekeh mendengar jawabanku


"Saya kesana sekarang pak" aku menutup sambungan teleponnya.


Dengan terburu-buru aku menuju lantai dua seperti yang di sebutkan pak Doni.


Kulihat pak Doni menungguku di depan sebuah ruangan , ia tersenyum padaku


"Disebelah mana pak, ayo pak cepat". Kataku memburunya, karena sudah tidak tahan lagi


"Lewat sini Bu" tangannya membuka ruangan itu. Di dalam ku lihat Sugi berdiri di depan sebuah meja besar, ia tersenyum kearahku


"Selamat malam pak Sugi, permisi, maaf pak saya kebelet" kataku terburu-buru


"Di belakang sini Bu silahkan" kata Pak Doni mengarahkan aku ke sebuah ruangan kecil jauh dibelakang.


Sugi tertawa kecil sambil menggeleng melihat Riri yang terbirit-birit menuju toilet. Ia memandang Pak Doni yang masih memperhatikan pintu toilet dari kejauhan.

__ADS_1


"Pak! " Panggil Sugi


Pak Doni menoleh ke arah Sugi. Dilihatnya Sugi menggerakkan kepalanya ke samping, ia tahu arti isyarat itu, menyuruhnya keluar dari ruangan ini. Pak Doni tanpa bertanya lagi langsung keluar mengikuti perintah. "Ck! Tadi bilangnya bapak ikut masuk ke dalam yah! Eh sekarang malah diusir. Bilang aja kangen berduaan sama Bu Riri" gerutu Pak Doni dalam hati


__ADS_2