Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
makin mirip


__ADS_3

Sugi benar-benar tidak tenang karena Riri masih belum menjawab pesannya padahal sudah setengah jam berlalu. Ia memutuskan keluar dari kamar dan mengetuk pintu kamarnya.


"Tok!..tok!..tok!"


"Sayang, ini aku. Ngambek ya? Please buka bentar pintunya dong. Akunya jangan dicuekin" Sugi mencoba merayu Riri dari balik pintu.


Riri mendengarnya sambil menahan tawa.


"Aku tahu kamu belum tidur. Gini deh, hukuman sama permintaanku karena menang taruhannya aku batalkan. Kamu boleh minta apa saja asal jangan ngambek lagi" ujar Sugi kembali


Ia hampir saja putus asa karena tidak ada jawaban dari Riri dan berniat untuk kembali ke kamarnya dengan perasaan hampa


"Klek!" Pintu terbuka, Riri menatapnya dengan wajah datar tanpa emosi


Tanpa menunggu Riri mengatakan sesuatu, dengan gerak cepat Sugi menghampirinya dan menggendongnya masuk ke kamar.


Riri terperanjat, ia tidak menyangka Sugi akan melakukan hal ini


"Hei!!! Siapa yang memberikanmu ijin untuk menggendongku dan masuk kemari!!!" Kata Riri dengan suara berteriak tertahan, takut Damar mendengar suaranya.


Sugi menurunkan Riri di atas tempat tidurnya. Ia ikut duduk didepan Riri.


"Mau ngambek sampai kapan? Sebentar saja rasanya aku nggak tahan sayang" Sugi memasang wajah memelas


"Siapa suruh mengerjai ku. Kamu sedari awal sudah tahu yang mengirimkan pesan padaku itu Dion. Karena sudah sempat berkomunikasi dengan kak Damar sebelumnya kan?"


"Bukan aku kok, itu si pak Tua yang mengabarkan kejadian itu pada Kakakmu"


"Tetap saja kamu tahu kakak tidak akan menanyakan keadaanku lagi karena sudah dikabarkan terlebih dahulu"


"Iya... Iyah aku mengaku curang. Tapi siapa yang menyangka tebakanku benar? Tapi biasanya laki-laki yang suka mencari kesempatan memang cenderung begitu. Aku sering bertemu karakter seperti itu sehari-hari, jadi tindak tanduknya cepat terbaca"


"Kalau begitu karakterku memangnya seperti apa?" Tanyanya penasaran


"Saat merasa benar suka ngambek kalau dinasehati. Ngambek tapi menyesal dalam hati. Harga dirimu sungguh tinggi sayang hahahaha" ia terkekeh


"Ck!" Riri berdecak melirik tajam kearahnya


"Tapi kalau kamu ngambek akunya yang nggak bisa tenang. Nanti kalau kamu di culik Dion, gimana? Kemana aku harus mencarimu?" Sugi nampak berpikir keras


"Halah... Nggak mungkin kamu sampai bingung. Nggak nyampe sepuluh menit aku pasti ketemu. Siapa yang berani? Urusannya kan sudah sama baginda Sammy Sugiartha Wijaya pewaris tunggal Wijaya Grup...


Belum selesai Riri bicara, bibirnya dikecup mesra oleh Sugi, ia terdiam menatap langsung matanya.


"Aku lebih senang kamu bicara panjang lebar begini daripada ngambek. Kalau kamu diem aja justru bikin aku nggak tenang sayang" bisiknya


"Kami hanya khawatir dengan keselamatanmu. Kalau kamu kenapa-kenapa, aku bisa apa, Riri?" Ada rasa takut kehilangan dan perasaan sedih yang mendalam dalam ucapannya

__ADS_1


Riri mengelus lembut wajahnya "Maaf sayang" ucapnya sedih


Sugi mengangguk tersenyum


"Ya sudah, jangan kasih aku silent treatment lagi yah sayang. Itu sangat mengganggu pikiranku"


"Iyah"


"Aku mau tidur disini saja ah ditemenin sama kamu" ia merebahkan tubuhnya


"Loh?!" Riri terlihat kebingungan


Sugi menariknya jatuh kedalam pelukannya.


"Begini lebih baik, aku tidak akan macam-macam Riri. Mari kita tidur dengan nyenyak. Besok hari yang panjang untukmu" Sugi mengecup pucuk kepalanya dan mulai terpejam


"Pintunya belum ditutup" sahut Riri dengan jantung yang mulai berdebar


"Biarkan saja, kita kan tidak sedang melakukan hal-hal yang "itu" kan?" tanyanya sambil mengelus rambutku


Riri melepas pelukanku "aku tutup dulu, aneh rasanya tidur dengan pintu terbuka"


"Aku nggak siap malam ini, sayang. Aku lelah" Ujarnya sambil menahan tawa


Riri nampak memutar bola matanya sambil beranjak ke arah pintu kamar dan menutup pintu perlahan.


"Yuk, sini tidur sama pak Dirut hahaha" candanya terkekeh sambil menepuk bantal disebelahnya


"Iyah, Iyah" jawab Sugi sambil memeluknya dari belakang


Rasa nyaman yang Riri rasakan saat berada dalam pelukan Sugi ini mampu menurunkan kewaspadaannya. Beberapa saat kemudian akhirnya ia bisa terlelap, disusul oleh Sugi yang mulai bernapas dengan teratur dibelakangnya.


Seperti biasa aku selalu bangun lebih pagi dari yang lainnya. Dengan berhati-hati aku berjingkat turun dari tempat tidur, takut gerakanku akan membangunkan Sugi dan kemudian menuju ke kamar mandi.


Setelah berpakaian dan mengulaskan sedikit make up diwajah, aku turun terlebih dahulu untuk menyiapkan sarapan. Hari ini ia merasa sangat siap menghadapi apapun yang akan terjadi di perusahaan ayah.


Sejenak ia tertegun ingat akan masa lalu. Perusahaan ekspor impor yang dikuasai oleh paman memang dibangun oleh kakeknya, tapi yang membesarkan dan menjadikannya sukses adalah hasil kerja dari ayahnya. Kenangan ayahnya yang selalu pulang larut dari kantor berkelabat dimatanya. Wajahnya selalu tersenyum saat tiba dirumah, berbanding terbalik dengan kelelahan yang ayahnya sembunyikan dibalik senyuman itu.


Terus terang ia sedikit merasa bersalah karena harus merelakan jerih payah ayahnya selama bertahun-tahun lamanya.


"Aku yakin ayah akan mengerti keputusan kami ini" ia bergumam mencoba menenangkan dirinya sendiri tapi berakhir gagal. Air mata yang ia tahan jatuh juga menetes di pipinya. Entah kenapa pagi ini ia merasa sangat sentimentil.


Sugi terjaga dari tidurnya, tak ia dapati lagi Riri disebelahnya.


"Pasti dia sudah ada di bawah seperti biasa" gumamnya sambil bergegas kembali ke kamarnya dan bersiap-siap untuk hari ini.


Saat menuruni tangga, ia melihat Riri sedang termenung menatap setoples biji kopi ditangannya. Tiba-tiba saja ia melihat Riri mengerjap, seperti sedang menangis.

__ADS_1


"Sayang, ada apa? Kenapa menangis?" tanya Sugi terburu-buru mendekat


Aku kaget mendengar suara Sugi dibelakangku. Dengan cepat aku menghapus air mata di pipi dengan punggung tangan


"hmm nggak apa-apa kok. Hei tumben bangun sepagi ini?" aku mencoba mengalihkan pembicaraan


"Are you ok?" tanyanya dengan perasaan khawatir


Aku menoleh kearahnya "tiba-tiba inget ayah"


Sugi memeluk erat dan mengecup keningku


"Dia pasti mengerti dengan keputusan kalian, dan aku yakin dia juga pasti bangga padamu dan Rio" kata Sugi seperti paham dengan apa yang sedang aku pikirkan saat ini


"Benar begitu?"


"Benar, kalau aku jadi ayahmu sudah sedari dulu aku akan menyuruhmu menjual saham itu. Daripada harganya makin lama makin anjlok"


"Mmm...Aku buatin kopi yah" kataku sambil membuka setoples biji kopi ditanganku


"Biar aku saja, kamu duduk saja disana" ia menunjuk ke arah meja makan


Aku menatapnya


"Sudah, kesana dulu, duduk tenang sayang" ia tersenyum dan mengambil stoples ditanganku kemudian memutar badanku berlawanan arah menuju meja makan.


Aku menuruti ucapannya dan duduk dimeja makan dengan tenang.


Sejenak Damar nampak keluar dari kamarnya dengan wajah berseri-seri


"Wuih aku dapat kopi dari barista kenamaan nih!! Kopi mahal ini, buatan Dirut Wijaya Grup hahahaha" kelakarnya sambil tergelak


"Hahahaha apa aku buka bisnis warung kopi aja yah Yo? Biar bisa saingan sama laki-laki muda, ganteng, womanizer yang mengincar adikmu semalam" ujarnya sambil sibuk menggunakan mesin pembuat kopi


"Hahahaha" aku tergelak karena merasa geli dengan ucapan Sugi


"Wahh siapa?"


"Anaknya pemilik Shop n Shop"


"Darimana kamu tahu dia pemilik warung kopi?" Tanyaku padanya keheranan


"Aku tahu semua Riri, termasuk berapa keuntungan dari penjualan di warung kopi artisannya itu" Sugi nyengir kearahku


"Astaga, segitunya loh dia mencari informasi tentang anak itu" aku menggeleng makin heran


"Harus dong, kita kan pengin tahu kekuatan lawannya ya gak bro? " sahut Damar sambil memukul pelan lengan Sugi

__ADS_1


"Yo'i hahahaha" mereka tertawa menggelegar bersama


Aku makin heran dengan kelakuan mereka berdua yang semakin hari semakin mirip.


__ADS_2