Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Pembalasan


__ADS_3

Setelah makan siang, Mita mengajak anaknya pergi ke kantor pusat Wijaya Grup dengan berbekal alamat yang diberikan oleh Eko. Ketika sampai disana ia langsung menuju ke kantor depan.


"Selamat siang Bu" sapa seseorang di kantor depan


"Selamat...siang" jawab Mita agak ragu


"Iyah Bu, ada yang bisa saya bantu?"


"Saya kemari mau bertemu dengan bapak Sammy"


"Maaf nama ibu siapa? Apakah sudah ada janji bertemu sebelumnya?"


"Saya Mita Bu teman beliau sewaktu di luar negeri, saya belum ada janji bertemu"


"Beliau saat ini sedang berada di luar negeri untuk urusan bisnis, saya juga belum tahu kapan beliau akan kembali"


Mita terdiam cukup lama setelah mendengar informasi ini


"Ada lagi yang bisa saya bantu Bu? Atau ibu mau menitipkan pesan pada beliau?"


"Apa saya bisa mendapatkan nomor ponsel bapak Sammy yang bisa saya hubungi Bu?"


"Maaf Bu kami tidak bisa memberikan nomor beliau secara sembarangan"


Mita menghela napasnya "baik Bu, terimakasih" ia tersenyum dan berbalik badan berniat untuk pergi dari sana.


Di sudut kantor depan, Dewi yang kebetulan lewat untuk makan siang diluar mendengar pembicaraan itu. Ia duduk di ruang tunggu untuk menguping sambil berpura-pura menelepon seseorang.


Ia melihat wanita dan anak laki-laki itu melangkah keluar. Dengan terburu-buru ia mengikuti mereka dari belakang. Sambil melihat sekeliling untuk memastikan tidak ada orang yang melihat mereka di luar


"selamat siang bu" sapanya dari belakang


Mita menoleh kearah pemilik suara "Iya selamat siang" jawabnya bingung


"Saya Dewi, sekretaris disini" ia mengulurkan tangan menyalami Mita


"Saya Mita" ia menyambut uluran tangannya


"Saya dengar tadi anda mau bertemu dengan Bapak Sugi. Tapi sayang sekali beliau tidak sedang berada ditempat sekarang"


"Iyah saya tahu, tidak apa-apa Bu saya bisa kembali beberapa hari lagi"

__ADS_1


"Bagaimana kalau saya bantu komunikasikan dengan pak Sugi"


Ada semburat kelegaan di wajah Mita mendengar hal itu "apa tidak merepotkan Bu?"


"Ah tidak sama sekali, bagaimana kalau kita duduk dan mengobrol sebentar Bu. Saya kebetulan mau makan siang"


Mita memandanginya dengan wajah ragu


"Saya tidak ada maksud apa-apa sih Bu. Hanya berniat membantu saja. Dari cara ibu memanggil nama kecil bapak, saya jadi merasa kalau Ibu pernah sedekat itu dengan beliau. Siapa tahu hubungan kalian terpisah karena suatu hal. Kalau itu yang terjadi saya yakin pak Sugi pasti senang bertemu kembali dengan Bu Mita"


Mita terlihat berpikir cukup lama "baiklah" ujarnya kemudian.


Mereka akhirnya memilih satu cafe yang agak sepi di sekitaran kantor.


Sejam kemudian Dewi kembali ke kantor dengan wajah berseri-seri. Tanpa menunda lagi ia langsung mengirimkan pesan pada Silvi mengenai wanita bernama Mita.


Silvi yang baru saja bangun tidur memeriksa ponselnya. Ia membaca pesan dari Dewi yang dikirimkan sekitar lima jam yang lalu. Ia nampak sesekali menyunggingkan senyuman.


"Alright... Akhirnya ada celah untuk melakukan sesuatu pada keluarga sialan itu" gumam Silvi sambil mengetik balasan untuk Dewi


Setelah kejadian di Hotel saat acara orang tua Sugi beberapa waktu yang lalu, ia menjadi dendam pada keluarga Wijaya. Ia merasa sangat dipermalukan dan direndahkan oleh mereka. Ia yakin ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan pembalasan.


Sore hari pun tiba, Riri nampaknya sudah siap untuk pergi ke rumah Bu Rita guna memenuhi undangan makan malam dari Beliau. Setelah beberapa kali memperhatikan penampilannya di depan cermin ia akhirnya berangkat dengan sedikit perasaan gugup.


Saat sedang berkonsentrasi menyetir ponselnya berbunyi, ia melihat Sugi melakukan panggilan. Tangannya nampak mengambil headset wireless dan memasangnya di telinga.


"Hi baby" suara Sugi terdengar berat dan serak di ujung sana


"Hi sayang, baru bangun yah?" Tanyaku padanya, karena menyadari perbedaan waktu kami sekitar 12 jam


"Iyah aku baru bangun. Kamu pasti lagi dijalan mau kerumah ibuku kan?"


"Aku baru aja berangkat"


"Tenang ya sayang jangan gugup. Ibuku aslinya baik kok. Kamu pasti akan suka padanya. Aku yakin ia akan senang mengobrol denganmu"


"Semoga saja begitu, eh ibumu suka kue yang manis nggak? Aku beli brownies tadi untuk oleh-oleh"


"Cieee yang sudah mulai bawain calon mertuanya oleh-oleh hehehehe" ia terkekeh


"Ya namanya etika mampir kerumah orang tua kan memang begini, paling nggak harus membawa sesuatu. Ibumu suka nggak yah sama brownies atau jangan-jangan malah lebih suka yang gurih seperti martabak" jawabku agak panik

__ADS_1


"Ck! Ibuku suka kok yang manis-manis, seperti calon menantunya ini hehehe" goda Sugi sambil kembali terkekeh


"Ahhh jangan bercanda sayang, aku serius"


"Aku lebih serius lagi, kalau pun dia tidak menyukainya dia pasti menghargai niat baikmu sudah membawakan oleh-oleh untuknya. Keluarga kami sangat menghargai pemberian orang lain, sayang. Tenang saja"


Aku menghela napasku "baiklah sayang, aku mengerti"


"Take care yah baby, aku mau siap-siap dulu. Nanti kalau kamu sudah pulang kabari aku yah"


"Iyah nanti aku kabari"


"I love you"


"I love you too"


Aku melepaskan headset tadi dari telingaku dan mulai berkonsentrasi kembali pada jalanan di depanku. Sekitar lima belas menit kemudian aku akhirnya sampai di kediaman Bu Rita. Tak kusangka sama sekali ternyata rumahnya sangat luas, mirip seperti rumah-rumah orang kaya eropa yang ada si film-film.


Saat masuk tadi aku harus melapor pada penjaga yang ada di depan. Dari sana aku harus melewati jalan yang panjang untuk sampai di lobby. Ada sebuah air mancur di tengah-tengahnya untuk tempat memutar kendaraan mirip seperti hotel besar.


Dengan perasaan tidak menentu aku turun dari mobil lalu menuju ke bangunan utama rumah ini. Seorang laki-laki yang sepertinya asisten rumah tangga nampak mendekatiku


"Selamat sore" sapanya ramah


"Selamat sore pak, saya Riri. Saya kemari untuk bertemu dengan Bu Rita" jawabku sambil tersenyum


"Saya tahu bu, anda sudah ditunggu oleh beliau di dalam. Mari saya antar" ujarnya sambil mempersilahkan aku untuk mendahuluinya


"Terimakasih pak" aku mengikuti laki-laki itu ke dalam


"Selamat datang Riri" sapa Bu Rita sambil berdiri di ruang tengah dengan senyuman mengembang


"Selamat sore Bu Rita, maaf sudah membuat ibu menunggu". Ujarku merasa tidak enak


"Sebagai tuan rumah kan sudah sewajarnya menunggu. Lagipula ini memang belum waktunya makan malam. Riri datangnya malah lebih awal sedikit" ia mendekatiku dan mencium pipi kiri dan kananku


"Saya takut kena macet di jalan, untungnya tadi jalanan memang ramai tapi lancar. Oh iya ini saya bawa kue untuk Ibu Rita dan Bapak. Semoga saja saya tidak salah memilih oleh-oleh" aku tersenyum malu sambil menyerahkan sekotak brownies di tanganku pada Bu Rita


" Wahh saya suka brownies ini Riri. Sudah lama saya tidak membelinya"


"Pak Yanto tolong bawa ini ke dapur. Di potong-potong ya pak, nanti kita akan cicipi sama-sama setelah makan malam" katanya pada laki-laki yang mengantarku tadi

__ADS_1


"Baik Bu" jawabnya sambil mengambil kue itu dari tangan Bu Rita


"Mari kita duduk santai dulu disini, bapak belum turun masih siap-siap diatas" Ujarnya sambil menggandeng lengan Riri dengan luwes. Kami duduk bersebelahan.


__ADS_2