
"Tante Rita...hahahaha aku kangen banget sama Tante" Silvi memeluk Bu Rita dengan erat
Bu Rita nampak tersenyum dan membalas pelukannya
"Lama nunggu yah Tan? tadi sempat lama banget transitnya"
"Nggak juga sih, Tante baru saja sampai. Tadi sekalian berkunjung ke butik teman dekat sini" jawab Bu Rita berbasa-basi, padahal kenyataannya ia tadi sempat uring-uringan karena harus menunggu pesawat yang ditumpangi Silvi tiba di bandara.
"Aku malas pakai private jet punya ayah. Aku pikir kenapa nggak naik pesawat komersil aja ya? Sepertinya menyenangkan kalau bisa sambil menikmati perjalanan. Kan sudah lama aku nggak naik pesawat biasa Tan hahaha" ia tergelak
Silvi mengamit lengan Bu Rita tanpa canggung. Mereka berjalan bersisian menuju mobil yang telah siap menunggu.
Asisten baru Bu Rita yang bernama Pak Sastra nampak membantu Silvi menarik dua kopernya dibelakang mereka
"Gimana kabar bisnis ayahmu?" tanya Bu Rita tanpa terlebih dahulu merespon cerita Silvi tadi
Wajah Silvi berubah agak kaget kemudian berubah kembali seolah-olah keadaan bisnis keluarganya masih baik-baik saja
"Baik Tan, tapi belakangan stagnan. Mungkin karena pengaruh ekonomi dunia yang cenderung melemah, semua bisnis jadi masih meraba-raba akan kemana arahnya nanti"
Bu Rita mengangguk "oh ya? Untungnya disini belum kena pengaruh banyak"
"Wahhh artinya bisnis keluarga Wijaya makin bagus dong Tan? Aku ikut senang mendengarnya" Silvi tersenyum lebar
"Kita kemana dulu nih Tan?"
"Kamu mau makan dulu?" tanya Bu Rita sambil masuk ke dalam mobil, diikuti oleh Silvi di belakangnya.
Pak Sastra nampak sedang memasukkan koper Silvi ke bagasi mobil dibelakang
"Boleh tan, aku tadi nggak selera sama makanan di pesawat"
"Ok" jawab Bu Rita singkat lalu menunggu pak Sastra masuk kembali di belakang stir.
"Pak Sastra kita ke restauran Chinese food yang biasa ya"
"Baik Bu" ujarnya sambil menghidupkan mesin mobil
Mobil pun melaju membelah jalanan yang nampak mulai dipadati kendaraan menjelang sore hari ini
"Tan, nanti aku tinggal dimana?"
"Apartemen di dekat hotel Paradise, nanti pak Sastra yang akan mengantarkan. Jadwal Tante sama om tidak tentu Silvi. Kami takut kamu bosan sendirian di rumah. Kalau tinggal di tengah kota kan gampang kalau mau main kemana-mana"
Silvi terlihat kecewa "ok..." ujarnya lemah, ia berharap bisa tinggal bersama keluarga Wijaya seperti dahulu kala. Sepanjang perjalanan ia terdiam, pikirannya mulai menerawang jauh
Bu Rita terlihat tenang di permukaan tapi diam-diam ia memperhatikan gelagat Silvi saat ini.
Suara deringan ponsel Bu Rita mengalihkan lamunan Silvi
"Halo Sam.." jawab Bu Rita sumringah
Mendengar nama Sugi diucapkan oleh Bu Rita, Silvi langsung memepetkan wajahnya berusaha menajamkan telinga berharap ia bisa mendengar sedikit apa yang dibicarakan oleh Sugi
"...."
__ADS_1
"Iyah, Ibu lagi sama Silvi, pesawatnya baru saja landing. Sekarang kita mau makan si Chinese food langganan itu loh. Mau ikut nggak, Sam?"
"...."
"Ok kalau begitu, sampai ketemu besok pagi"
"..."
Bu Rita memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas jinjing hitamnya
Silvi sama sekali tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Sugi saat berbicara dengan ibunya tadi
"Sam, bilang apa Tan?" tanyanya penasaran
"Dia menanyakan tante lagi dimana? Mau diajak makan malam bareng sama dia, Tapi kan kita sudah punya tujuan sendiri. Tante ajak dia ikut kita, dianya nggak mau"
"Memangnya dia makan malam dimana Tan? Kenapa kita nggak menyusulnya saja? Mumpung belum reservasi meja" bujuk Silvi berharap Bu Rita mau mengikuti sarannya
"Dia di Penumbra"
"Hah?! mau dong Tan, kita susul yuk kesana"
"Dia lagi sama Riri"
Silvi mengigit bibirnya, wajahnya tiba-tiba berubah kelam "Sialan, enak banget sih wanita busuk itu diajak makan di Penumbra!!". Gumamnya dalam hati.
Ia tahu Penumbra baru beberapa bulan yang lalu mendapatkan michelin star, sejak ia mengetahui berita itu, ia ingin sekali mengunjunginya kalau ada kesempatan. Namun kesempatan itu sepertinya akan semakin jauh. Untuk bisa makan disana harus masuk waiting list yang panjangnya tidak masuk akal. Apalagi untuk orang yang sekarang sudah tidak memiliki pengaruh seperti dirinya. Sudah pasti akan sangat sulit untuknya masuk ke sana.
"Gimana? Benar mau kesana?" tanya Bu Rita saat menyadari perubahan wajah Silvi
"Nggak usah deh tan, lebih baik kita ke restauran Chinese food saja. Ke Penumbranya bisa kapan-kapan, hahaha gampang lah itu, bisa diatur kan" ia tergelak seperti menghibur dirinya sendiri
Bu Rita mengangguk sambil tersenyum
Mereka akhirnya sampai di restauran Chinese food yang dituju. Bu Rita tanpa banyak berbasa-basi langsung memesan makanan yang ia inginkan begitu juga Silvi. Mereka makan dalam diam dengan isi pikiran masing-masing
"Kamu baik-baik saja kan, Silvi?" tanya Bu Rita
"Iyah Tan aku baik kok, hanya sedikit lelah. Mungkin karena jetlag"
"Kalau begitu nanti usai makan kamu langsung ke apartemen ya biar bisa beristirahat. Tante sudah siapkan sopir untukmu selama disini"
"Iya Tan, aku mengerti" jawabnya dengan malas
"Besok pagi kita gerak cepat. Kita langsung saja menuju properti yang tante maksud"
"Besok Tan? Aku boleh beristirahat sehari nggak?" Silvi menatapnya
"Mmm ya sudah tidak apa-apa, kalau begitu kita bertemu dua hari lagi. Besok kalau kamu membutuhkan sesuatu atau bantuan jangan segan menghubungi Tante ya, Silvi"
"Iyah tan"
Bu Rita nampak berkemas-kemas dan telah siap untuk meninggalkan restauran tersebut. Silvi yang melihat hal tersebut ikut merapikan barang bawaannya.
"Sudah selesai Silvi? Kita pulang sekarang saja yah? Tante juga sudah sangat lelah, maklum faktor usia hehehe" gurau Bu Rita sambil terkekeh
__ADS_1
Silvi mengangguk "yuk tan kita pulang. Aku padahal belum seumuran tante, tapi kadang jam segini juga rasanya cape banget. Malahan kelihatan lebih fit tante dibandingkan aku"
"Ah kamu bisa saja memuji hahahaha"
"Eh beneran loh, aku jujur"
"Ck! Ada-ada saja. Ya sudah Silvi sampai ketemu dua hari lagi" ia memeluk Silvi dengan cepat
"Iyah Tante, sampai ketemu dua hari lagi" ia melepaskan pelukannya
"Tante antar sampai depan, mobilnya sebelahan kok sama mobil yang tadi"
"Ok" Silvi mengikuti langkah Bu Rita menuju tempat parkir
Mobil yang membawa Silvi baru saja menghilang dari pandangan matanya.
"Hahahahaha..." Bu Rita nampak mulai tergelak sendiri tak henti-hentinya. Pak Sastra yang berada disana hanya terdiam tak mengerti apa yang terjadi, namun tidak berani menanyakannya secara langsung.
"Pak Sastra, kita langsung pulang saja" ujarnya setelah ia mampu menenangkan dirinya sendiri
"Baik Bu" jawabnya lalu melajukan kendaraannya perlahan-lahan
Bu Rita mengambil ponsel dalam tasnya kemudian menekan nomor Sugi yang berada di urutan pertama pada kontaknya
"Iyah Bu" jawab Sugi di ujung sana
"Orangnya sudah menuju apartemen"
"Terus?..."
"Kamu tahu nggak, tadi ibu iseng bilang kamu ke Penumbra. Silvi malah minta menyusul kesana. Tapi waktu ibu bilang kamu disana sama Riri dianya nggak jadi. Wajahnya langsung kelihatan kesal loh tapi dia sembunyikan hahaha"
"Ck! ada-ada saja sih bu. Aku kan nggak terlalu suka restauran fine dining begitu"
"Dianya mungkin tahu restauran itu dapat Michelin Star makanya ngebet banget mau kesana hahahaha kamu harusnya tadi melihat wajahnya"
Sugi terdengar ikut tertawa
"Eh ini serius, walaupun ibu tahu kamu nggak suka tapi sekali-kali mainlah ke Penumbra biar kita tahu perkembangan restauran bagus seperti apa sekarang. Hebat banget mereka dapat Michelin star loh"
"Iyah Bu aku tahu, nantilah aku ajak Riri makan disana"
"Iyah Ibu tunggu reviewmu setelah itu"
"Siap Bu"
"Ok ya, oh iya besok kita nggak jadi ke properti seperti jadwal kita sebelumnya. Kata Silvi dia mau istirahat sehari"
"Artinya dua hari lagi ya?"
"Iyah"
"Ok"
Bu Rita menutup teleponnya dan tersenyum puas sambil memejamkan matanya bersandar pada sandaran jok
__ADS_1