
Riri melihat ponselnya beberapa kali. Ia merasa Sugi telah kembali hari ini. Namun beberapa kali pun di lihat tetap saja tidak ada pesan yang masuk ke ponselnya.
"Ya sudahlah, mungkin dia sedang sibuk dengan urusan kasusnya. Atau jangan-jangan dia sedang asyik mengobrol dengan Mita? Seingatku dia akan bertemu dengan Mita hari ini kan?!. Sabar Riri, apapun yang terjadi saat ini bukan urusanmu. Kamu sudah berjanji akan mendukungnya penuh bukan?! Gumamku dalam hati. Dengan gusar ia mulai berjalan mondar- mandir di depan mejanya.
"Riri!!" Sebuah suara mengagetkanku tanpa perlu melihat kearah suara ia tahu itu adalah suara Dion
"Mau kutendang atau keluar dari kantor ini insiatif sendiri?" Ujarku sambil kembali ketempat dudukku
"Duh! Belum apa-apa, sudah di usir. Aku bawa kue enak loh" tawarnya sambil meletakkan sekotak kue diatas meja lalu duduk di sofa seperti biasa tanpa di persilahkan
"Aku juga bawa kopi sendiri loh hehehehe" ia tertawa geli sambil mengeluarkan satu termos kecil dari dalam tas blacu yang dibawanya serta
Ia nampak membuka tutup termos kopi kecilnya itu dengan perlahan. Terlihat asap mengepul keluar dari dalam termos, aroma kopi mulai menguar ke seluruh ruangan ini. Wangi kopi yang semerbak mulai tercium oleh Riri.
Riri tertegun mencium wangi kopi yang terasa asing di hidungnya. Tepat seperti dugaan Dion, Riri langsung bereaksi dengan wangi kopi ini
"Ini kopi apa? Kenapa aku belum pernah mencium wangi kopi yang seperti ini?" tanyaku penasaran
"Mau coba nggak?" tawarnya sambil tersenyum
'Nggak ah, takut diracun" ujarku ketus
"Hahahahahaha" ia tergelak mendengar jawabanku
"Ya sudah kalau nggak mau" ia terlihat menuangkan sedikit kopi tersebut ke sebuah gelas kertas yang ia bawa sendiri lalu menyesapnya perlahan "nice"
Aku menatap kopi itu penasaran "itu kopi apa?"
"Ada deh... Aku akan menjelaskannya kalau kamu mau mencobanya terlebih dahulu" ia menaikkan satu alisnya
"Ayolah, aku bukan orang yang sejahat itu Riri"
"Ya mana kutahu! Bisa jadi kamu sudah mengisi penawarnya di gelas yang kamu bawa sendiri itu" ujarku sambil menunjuk gelasnya
"Bahahahaha...Riri! Kenapa kamu sebegitu curiganya padaku?" Ia kembali tergelak
"Aku hanya waspada, kalau kamu mengalami apa yang pernah aku alami di masa lalu aku yakin kewaspadaanmu akan bertambah 100 kali lipat"
Tawanya terhenti, wajahnya berubah serius "kamu pernah kenapa?"
"Bukan urusanmu"
"Ya sudah, bawa dua gelas kemari. Aku pastikan kopi ini bebas racun" ia menatapku yang masih terdiam
__ADS_1
"Please" sahutnya lagi sambil memasang wajah memelas
"Tunggu sebentar" aku beranjak untuk mengambil gelas kertas di pantry
"Nah gitu dong!" Seru Dion bersemangat
Ia menuang kopi tersebut ke dalam dua buah gelas kertas yang baru saja dibawa oleh Riri
"Silahkan Nona Riri" tangannya terbuka mempersilahkanku
Dengan ragu aku mengambil salah satu gelas
"Awas yah kalau aku kenapa-kenapa!" Kataku sambil menghirup kopi tersebut pelan-pelan. Wanginya lebih kuat dari wangi kopi yang sering ia gunakan dirumah. Begitu pula rasanya, tidak asam namun juga ringan dan lembut di mulutnya
Dion memperhatikan wajah Riri yang nampak berkonsentrasi pada kopi yang baru saja disesapnya. Ia tersenyum senang rencananya untuk menarik perhatian Riri kali ini lumayan berhasil.
"Gimana?" tanya Dion dengan antusias
"Aromanya kuat, rasanya ringan tidak asam. Teksturnya lembut waktu dihirup. Ini kopi apa Dion?"
"Ini Kopi Papua Wamena. Salah satu kopi favorit wanita di kedai ku. Aku menjual beberapa jenis kopi Nusantara. Enak ya kopinya? Sudah kubilang untuk mampir-mampir kesana, tapi kamunya nggak pernah mau"
"Terus terang saja Dion, pacarku sedikit posesif. Aku tidak mau timbul masalah baru"
"Jangan mengomporiku Dion"
"Loh benar kan?! Kamu yakin dia posesif karena cinta atau hanya untuk menekanmu? Siapa tahu ternyata dia yang suka bersenang-senang diluar sana"
"Dia bukan laki-laki yang seperti itu, aku yakin. Ada satu kejadian yang membuat aku menjadi sangat percaya padanya"
"Ya terserah sih, eh tapi kalau aku mempunyai pacar menarik dan memiliki *** appeal tinggi sepertimu, mungkin aku juga akan posesif berat. Bahkan untuk hal-hal kecil saja aku bisa tersulut cemburu. Karena aku sendiri tidak mau berbagi hal-hal yang aku sukai secara pribadi" ujarnya serius
Aku menatapnya tak percaya
"Aku serius Riri. Kamu susah untuk dijelaskan oleh kata-kata. Wanita yang cantik itu banyak, tapi yang seperti kamu itu jarang aku temui. Aku bahkan penasaran, seperti apa rasanya ******* bibirmu yang menggoda itu" ia menatap bibirku sambil menelan ludah. "DAMN!!" Umpatnya sambil mengalihkan pandangannya
"Ini rayuan nomor berapa?"
"Ck! Hahaha Aku bicara serius"
"Aku nggak akan heran kalau kamu memiliki banyak wanita di luar sana"
"Kalau aku bilang aku single kamu percaya?"
__ADS_1
"Nggak, rayuanmu saja beda kelas sama laki-laki lain"
"Hahahaha, imageku sudah separah itu ya?" Ia tergelak kembali. Aku melihat sebersit kesedihan dimatanya
"Kenapa memilih image seperti itu? Atau jangan-jangan memang kehidupanmu aslinya player?"
"Kamu percaya nggak? kalau aku bilang, aku kesepian?"
"Kenapa kesepian? Aku yakin dengan penampilan dan kepintaran mu bergaul seperti sekarang ini, hidupmu selalu diramaikan oleh teman-teman setiap saat"
"Teman untuk bersenang-senang memang gampang dicari Riri, asal kita punya uang. Tapi teman yang tulus, tanpa agenda itu susah ditemui"
"Tapi pasti ada diantara mereka yang seperti itu, aku yakin"
"Kamu tidak mengenal duniaku. Semua tentang Uang dan kekuasaan. Kadang aku juga lelah dengan itu semua" ia menghela napasnya
Tiba-tiba aku teringat sesuatu "Eh sebentar, ini sudah sore aku mau menyelesaikan pekerjaanku dulu" aku bergegas kembali ke mejaku dan memeriksa beberapa hal yang belum selesai hari ini
Ia nampak tersenyum dan menyesap kembali kopinya yang mulai dingin
Pikirannya melayang pada pertengkaran orang tuanya semalam. Itu adalah pertengkaran ke sekian kalinya bulan ini, bisa dibilang sudah menjadi menu harian di rumahnya. Ayahnya yang terkenal suka main wanita kembali berulah. Ia kedapatan memiliki wanita yang masih berusia belasan tahun. Ibu sebenarnya sudah tidak tahan dengan kelakuan ayah bertahun-tahun, ia bertahan karena keluarganya berhutang Budi besar pada ayah. Ibu saat itu sempat berjanji untuk tetap setia pada ayah, walau apapun yang terjadi.
"Ironis!" Gumamnya sendiri sambil tersenyum sinis
Bahkan ketika ia memutuskan untuk tinggal sendiri pun, Ibunya selalu saja datang disaat-saat ia butuh istirahat hanya untuk menceritakan kelakuan ayah yang makin memburuk.
Pergaulannya di luar rumah pun tak kalah buruknya, hampir semua orang yang ia temui ingin memanfaatkannya. Jadi ia lebih suka mengobrol dan bergaul dengan wanita-wanita kaya berumur, karena ia merasa terhibur setidaknya mereka tidak memanfaatkannya demi uang. Hal itu cukup mampu mengalihkan pikirannya di saat-saat kesepian mulai melanda.
Kehidupan percintaannya pun juga rumit, ia selalu bertemu dengan wanita yang hanya melihat kekayaannya semata. Hal itu yang membuat dia enggan untuk memulai hubungan baru.
Riri melihat Dion yang sedang melamun. Wajahnya tiba-tiba berubah muram "Dion, kalau mau kesurupan jangan disini ya?!!" Suara Riri mengagetkannya
"Ehh hehehehe " Dion terlihat sedikit salah tingkah
"Ini sudah sore, aku harus pulang"
"Besok-besok aku boleh kemari lagi kan?"
"Kayaknya aku mau pindah sewa kantor tempat lain aja deh!!" kataku ketus
"Jangannn... Ya deh sesekali aja kok, yah?? Please! Aku janji nggak akan menggangu pekerjaanmu. Juga hubunganmu dengan Pak Dirut itu, tapi kalau kamu mau, aku juga pasti mau hahahaha" ujarnya sambil terkekeh dan berlari terbirit-birit keluar dari kantor ini
"Idih!!! Orang gila!!!" Teriakku kencang
__ADS_1
"Bahahahaha" ia terbahak-bahak di luar sana mendengar teriakanku