Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Masukan


__ADS_3

Setelah pertemuan kami dengan pemilik villa Lembayung, dalam perjalanan pulang Aku dan Gia memutuskan untuk mampir ke suatu restauran Itali di pusat kota. Hari nampak semakin senja saat kami tiba disana.


"Harga yang ditawarkan sama pemilik villa kan lumayan bagus tuh. Terus kenapa kamu seperti nggak bersemangat sih Ri?"


Aku hanya menggeleng karena tiba-tiba saja malas membahas hal itu


"Lapar ya? bentar lagi pesenan kita datang. Kamu kalau lagi lapar berat kan suka gitu!" cibirnya untuk menggodaku


Aku tersenyum menatapnya


"Sugi marah yak, tadi siang aku nggak bilang kalau kita mau ke villa itu"


"what?! Jadi sebelumnya dia nggak tahu kamu mau beli villa Lembayung?"


Aku mengangguk


"Pantas saja dia marah. Dia mungkin merasa kamu mulai menomorduakan kehadirannya?" Gia menatapku dengan alis berkerut


Aku menghela napas untuk mengurangi rasa penat yang kurasakan di kepalaku


"Iyah, aku memang sengaja nggak bilang sama dia, yak!"


"Kenapa?! Apa Riri yang super mandiri dan introvert itu balik lagi?"


Aku menggeleng mendengar ucapannya "aku hanya ingin mengerjakan semua ini sendiri. Itu saja kok"


"Hehehehe Riri... Riri... Kamu memang beda ya. Di saat semua orang ingin dibantu demi kelancaran urusan bisnisnya, kamu malah memilih sebaliknya"


"Waktu aku bikin warung makan kecil itu aja dia serius sekali membantuku, apalagi kalau aku biarkan dia membantu bisnis Spa ini. Aku hanya merasa kalau apa yang aku kerjakan selama ini tidak sepenuhnya jerih payahku. Kamu ngerti nggak perasaan ini yak?"


"Nggak, ..... hahahaha iya- iyah aku mengerti" Gia tergelak


Aku memukul pelan pundaknya


"Aw! hahahaha" Gia kembali tergelak


"Aku ingin memiliki perasaan bangga atas pencapaianku sendiri" ujarku pelan


"Iyah aku tahu maksudmu. Tapi aku yakin pak Dirut kesayanganmu itu tidak akan membiarkan itu terjadi. Paling tidak kamu kan bisa jadikan dia penasehat bisnismu. Pasti dia akan dengan senang hati memberi 'ma...su..kan!' " alis Gia terangkat seperti menegaskan makna ambigu kata masukan tadi


"Ck! Hehehehe dasar!" Aku mencubit pipinya gemas


Gia meringis "Aduhh!! Sakit Riri, aku aduin ke Damar ya! Aku akan bilang padanya kalau kamu sering diberi 'masukan' oleh pak Dirut hahahaha. Cie Riri... gimana kesan dan pesan Bu Riri setelah hal itu terjadi?" godanya sambil tergelak, tangannya yang terkepal terarah padaku seperti seorang wartawan melakukan interview.


"Astaga...Gia! Hahaha" aku pun ikut tergelak mendengar lelucon ambigunya ini


"Kenapa wajahmu jadi memerah sih?! Apa jangan-jangan hal yang kamu inginkan itu ternyata memang sudah terjadi ya!!? Hahaha" ia makin gencar menggodaku


"Hahahaha stttt...jangan keras-keras, aku belum sampai sana Gia" aku berbisik lalu menutup mulutnya dengan tanganku


Pesanan kami akhirnya datang, seketika kami mulai menenangkan diri dari gelak tawa yang pecah tadi.


Gia berbisik "Makan yang banyak ya Ri, kamu sepertinya butuh tenaga ekstra. Aku takut malam ini kamu akan diberi banyak masukan pftt..." Gia menutup mulutnya menahan tawa


Aku memutar bola mataku "oh my God Giaa!.. hahaha" aku memekik tertahan sambil tergelak


"Hahahaha"


Tawa kami sore ini seperti tak ada habisnya. Ini selalu saja terjadi ketika kami berdua bertemu, ada saja hal-hal yang seru dan kocak untuk dibicarakan.


Tak terasa langit pun mulai gelap


Setelah menyelesaikan meeting terakhirnya hari ini, Sugi masuk kedalam mobilnya. Pikirannya kembali dipenuhi oleh Riri


"Riri masih disana, pak?" tanya Sugi pada pak Doni ditengah perjalanan mereka kembali ke rumah


"Bu Riri sudah sampai dirumah sejak sejam yang lalu. Apa bapak mau kesana sekarang?"


"Iya" jawabnya singkat

__ADS_1


Pak Doni sedetik melirik ke arah Sugi melalui spion atas, ia tahu kalau suasana hati atasannya ini sedang tidak baik.


"Kita tidak...makan...malam dulu pak?" tanyanya ragu


Sugi melihat jam di pergelangan tangannya, saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam.


"Saya belum lapar"


Pak Doni lalu terdiam kembali berkonsentrasi pada laju kendaraannya.


Saat telah sampai di rumah Riri, ia terlihat sedang membaca buku sambil mendengarkan musik menggunakan headset di ditelinganya. Pantas saja ia tidak menyahut kala ia memanggilnya tadi. Sugi duduk perlahan di sofa seberang.


Wajah Riri terlihat kaget, ia buru-buru melepaskan headset dari telinganya


"Sayang, baru pulang?" Aku berdiri lalu menghampirinya


Sugi mengangguk, ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa.


"Capek yah?"


Ia menatapku sambil kembali mengangguk tanpa senyuman


Aku ikut duduk disebelahnya dan memeluk pinggangnya erat lalu menyandarkan kepalaku di dadanya.


"Masih marah?"


"Menurutmu?" tanyanya dingin


"Kalau marah kamu nggak akan kemari" aku Bangun dan menatapnya. Bisa kulihat dengan jelas raut lelah di wajahnya.


"Aku ingin mendengar penjelasanmu" ujarnya pelan


Tanganku terulur menyentuh pipinya, ia menangkap tanganku dan meremasnya dengan lembut. Lalu mengecup tanganku dan meletakkannya di dada. Kurasakan getaran berbeda menjalar dari tanganku turun ke perut dan berputar-putar disana.


"I love you so much Riri" bisiknya dengan suara parau


"Terus apa yang kamu coba sembunyikan lagi?" matanya terlihat lelah


"Sayang, jangan tersinggung ya. Terus terang aku merasa kita masih berada di level yang berbeda. Kamu mengerti kan maksudku?"


Sugi melirikku tajam dan bersiap untuk membuka mulutnya untuk menjawab...


Aku buru-buru menutup mulutnya dengan tangan kiri


"Shhh...dengar dulu"


Ia menghela napas lalu menurunkan tanganku dari bibirnya.


"Bukan berarti aku meragukan dukungan, cinta dan kasih sayangmu selama ini. Hanya saja aku juga ingin memiliki sesuatu pencapaian untuk diriku sendiri tanpa campur tangan darimu. Kalau aku butuh pertimbangan aku pasti akan mengatakannya padamu. Tapi aku ingin sekali memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuanku sendiri membangun sesuatu yang aku sukai"


Ia nampak berpikir


"Bisnis spa itu cukup sulit, Riri. Aku hanya tidak mau kamu kecewa seandainya nanti tidak sesuai dengan harapanmu"


"Aku tahu, tapi kalau aku berhasil melakukannya setidaknya calon istrimu ini bisa berada di level yang sesuai di mata teman-teman dan relasi orang tuamu"


"CK! Sering ku katakan padamu, aku tidak peduli dengan pendapat mereka tentang pilihanku"


"Aku peduli, karena itu akan menyangkut citramu di mata orang lain. Aku tidak mau di cap sebagai wanita rendahan yang menyukaimu hanya karena harta yang kamu miliki"


Dia menatap mataku lekat


"Aku berjanji akan selalu mengabarkan padamu setiap detail yang aku lakukan untuk mewujudkan ini"


Sugi mengangguk-angguk "Ok,... aku percaya padamu. Tapi jangan terlalu memaksakan diri ya sayang. Aku nggak mau kamu jadi stres"


"Iyah kamu tenang aja, aku akan baik-baik saja kok" aku memeluknya erat


"Asal kamu bahagia. Kalau ini caramu untuk menaikkan jenjang hubungan kita, aku akan mendukungmu" ujarnya berbisik

__ADS_1


"Terimakasih sayang"


"Berapa harga yang diminta oleh pihak villa itu?"


Aku melepaskan pelukanku dan menuliskan sejumlah angka di tangannya dengan telunjuk


"Serius segitu? Kok bisa? Penawaran harganya bagus loh untuk lokasi sebaik itu?" matanya terbuka lebar


"Hehehehe jadi aku termasuk beruntung ya?"


"Mereka menjualnya melalui agen?"


Aku menggeleng "tadi aku bertemu ownernya langsung"


"Oh ya? Siapa ownernya?"


"Namanya Gilang Swardana"


"Ahhh dia..." Ia mengangguk seperti mengenalnya


"Kamu kenal?"


"Tahu tapi nggak kenal secara pribadi. Aku dengar orangnya cukup eksentrik, dia hanya mau berbisnis dengan orang yang dia anggap cocok dengan pandangan hidupnya. Pada dasarnya sih dia pebisnis yang handal, sayangnya saat ini ia sedang bermasalah dengan keuangan semenjak istrinya sakit"


"Orangnya ramah banget, kami banyak mengobrol tentang rencanaku nanti untuk sedikit merenovasi villa tersebut menjadi spa"


"Dia pasti merasa cocok dengan atmosfer positif yang kamu bawa saat bertemu dia tadi"


"Entahlah aku nggak ngerti, yang paling penting aku mendapatkan harga yang bagus. Ya kan?"


Sugi tersenyum sambil menggeleng "dasar..."


Aku kemudian merapikan buku dan headset yang tadi aku letakkan secara sembarangan.


"Makan malam dimana tadi?" tanyaku padanya sambil menggulung kabel headset


"Aku belum makan, sekarang baru merasa lapar. Gimana dong?!"


Aku melihat kearahnya keheranan "Kenapa tadi nggak takeaway aja"


"Hehehe aku kesel aja tadi sampai nggak pengin makan" ia cengengesan


"Terus sekarang gimana? Kulkasku lagi kosong, telur sih ada sama bumbu-bumbu tapi kan aku nggak punya nasi"


"Lapar" ia meringis


"Kita makan diluar, yuk" aku berdiri sambil menarik tangannya


"Aku cape"


"Udah tiduran aja di mobil, biar aku yang nyetir"


"Yay! You are my savior! Baby!!" Teriaknya sambil beranjak dan mengikuti langkahku


"Aku nggak usah ganti baju ya, pakai celana pendek gini nggak apa-apa kan?"


Ia melihat ke arah kakiku "cute kok"


"Ya sudah, eh bentar tunggu" aku berlari menghampiri meja makan dan mengambil sebungkus roti selai cokelat


"Ini biar cacingnya nggak terlalu panik" Roti dalam genggamanku sudah berpindah tangan padanya


"Cacing kecil ini sih nggak panik, justru yang besar yang sering panik" ia memandangku dengan senyuman lebar


Aku seperti kehilangan kata-kata saat mendengar ucapannya


"Ck! Ya sudah diam disini, aku pergi sendiri aja" aku melangkah dengan cepat meninggalkannya yang nampak mulai menyemburkan tawa


"Hahahaha aku bercanda sayang, jangan tinggalkan aku sendiri. Aku kan jadi sedih" ia berlari menyusul lalu merangkulku sambil tergelak

__ADS_1


__ADS_2