Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Kejadian pertama


__ADS_3

"Bu Riri mau turun disini atau kita lanjutkan perjalanan sampai di depan pintu masuk lokasi acara?" tanya pak Doni menoleh padaku saat berhenti di suatu tempat yang berada agak jauh dari lokasi yang dituju


"Saya turun disini saja pak, terimakasih ya pak"


"Sama-sama Bu, tapi Bu Riri nggak marah kan sama saya?" Wajah pak Doni terlihat sedih


Aku tersenyum padanya "menurut pak Doni?!" kataku sembari turun dan berlalu dari hadapannya


"Yaaahhh Bu Riri..." Ia terdengar kecewa


Aku berbalik badan dengan wajah pura-pura kesal lalu menunjuk padanya dan mengarahkan telunjuk ke bagian leherku sambil bersikap seperti melakukan potong leher ke arahnya


"hahahaha..." Aku tergelak sendiri kembali melanjutkan langkahku ke lokasi acara tanpa menoleh kembali padanya


Pak Doni menggeleng "hahaha ampun deh Bu Riri!!" Ia bergumam sambil terkekeh


Sementara itu Silvi baru saja sampai, ia langsung masuk ke function room. Matanya mencari wajah-wajah yang ia kenali, dan pandangannya berhenti pada segerombolan ibu-ibu yang juga baru saja sampai. Ibu-ibu ini adalah teman arisan Bu Rita. Dengan percaya diri ia mendekati mereka


"Selamat sore ibu-ibu" sapanya pada mereka dengan senyuman manis


Mereka menoleh dan beberapa nampak membalas senyuman Silvi


"Duh cantiknya nak Silvi" Bu Teti mendekat, matanya memperhatikan penampilan Silvi dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ia saat ini memilih mengenakan gaun maxi bertali spaghetti berwarna merah menyala.


"Ah Bu Teti bisa saja, ibu juga tidak kalah cantik. Kelihatan awet muda" jawab Silvi berbasa-basi


Bu Teti tersenyum tipis


"Eh Bu Teti, Bu Alina sama ponakannya kok belum datang? Katanya ponakannya calon mantu Bu Rita. Masa jam segini belum kelihatan sama sekali?!" Ujar teman Bu Teti sambil melihat kesana kemari memastikan kalau mereka memang belum kelihatan sama sekali


"Entahlah jeng, saya juga tidak tahu" Bu Teti menjawab dengan wajah tidak peduli


"Apa jangan-jangan calon mantunya malu tampil di muka umum?! Maklum kan mereka nggak selevel!" Ujar ibu-ibu yang lain


"Beda ya sama Silvi, lihat deh Bu. Masa Bu Rita setujunya sama yang begitu" ujar Bu Teti


"Saya dengar dia hanya pegawai biasa di kantor yang kecil. CK! Nggak habis pikir, milih calon istri kok yang biasa aja" bisik yang lain ikut menimpali


"Iyah saya dengar juga begitu, mana wajahnya juga katanya biasa saja. Jangan-jangan anak Bu Rita kena guna-guna ihhhhh... Ngeri kalau benar" ujar seorang lagi sambil berbisik-bisik


Senyuman Silvi mengembang kala mendengar pembicaraan mereka. Harapannya makin tinggi untuk bisa kembali masuk ke keluarga Wijaya


"Duh Ibu-ibu nggak usah ngerumpi disini deh, mendingan kita ke dalam." kata seorang ibu berpakaian mentereng berwarna pink fuschia. Ia cemberut seperti kurang suka mendengar obrolan tadi. Ia bergegas masuk tanpa menunggu ibu-ibu yang lain. Nampak dua orang ibu-ibu mengikutinya dari belakang.


"Ihhh gaya banget sih jeng Rini" celetuk seorang ibu yang berada di sebelah bu Teti


"Jeng nggak tahu ya? Jeng Rini waktu beli mobil di Jeng Alina kan dikasih diskon gede. Makanya dia begitu"


"Oh pantas!!! Katanya orang kaya, kok doyan diskon!" Jawabnya nyinyir sambil menggoyang-goyangkan kepalanya


"Bu Ibu!!!.... Waduh sudah datang semua ya?!! Hahahaha aku terlambat sendiri!!!" Suara Bu Alina yang sedikit berteriak mengagetkan mereka yang masih berada di luar. Tak terkecuali Silvi, senyumnya langsung memudar tatkala ia melihat Bu Alina mendekat ke arah mereka.


"Jeng Alina sendiri? Suami sama keponakannya nggak ikut ya?" tanya Bu Teti dengan wajah ramah dibuat-buat


"Suami saya sebentar lagi menyusul, namanya orang sibuk yah maklumlah sedikit terlambat. Kalau Riri katanya mau datang kemari sendiri, mungkin sebentar lagi sampai" ia terlihat mengedarkan pandangan berharap melihat Riri di salah satu kerumunan


"Kok nggak bareng sama nak Sugi, bukannya mereka sedang dekat?" tanya Bu Teti lagi. Semua mata memandang kearah Bu Alina untuk jawaban pertanyaan ini

__ADS_1


"Mereka masing-masing kan memiliki pekerjaan dan urusan pribadi sendiri, mungkin sudah sepakat untuk datang sendiri-sendiri. Saya sih nggak mau terlalu ikut campur urusan anak muda, biarlah berjalan apa adanya saja hahahaha" Bu Alina tertawa sumringah


"Sebentar ini sudah jam enam lewat, kita langsung masuk saja yuk Ibu-ibu" Ajak Bu Alina sambil melihat ke jam tangan putih yang melingkar di tangan kanannya


Bu Teti mengangguk, begitu pula ibu-ibu yang lain. Saat Bu Alina melewati mereka, Bu Teti berbisik pelan.


"Mana ada sih calon mantu keluarga penting datang sendiri, jangan-jangan hubungan mereka memang sedang renggang"


Ia lalu menoleh ke arah Silvi "Tuh Silvi, pergunakan kesempatan baik ini untuk menarik perhatian Nak Sugi dan orang tuanya"


"Iyah Bu saya tahu, doakan saya ya Bu"


Bu Teti hanya mengangguk dan berpaling sambil mengangkat wajahnya. Ia pun melangkah memasuki function room diikuti oleh yang lainnya. Ketika mereka masuk semua tamu sedang sibuk berbincang.


"Bu Teti saya mau ke toilet sebentar" Ujar Silvi lalu melangkah pergi


Wajah Bu Teti berubah cerah, ia tersenyum sumringah. Langkahnya terhenti dan berbisik pada ibu-ibu yang ada di sekitarnya


"Ibu-ibu malam ini pasti seru hahahaha, kita lihat apa yang akan dilakukan oleh Silvi untuk menarik perhatian nak Sugi dan keluarganya. Pasti persaingan ini akan sangat sengit, ya kannnn??!!! Hahahaha" Bisik Bu Teti sambil terkekeh


Ibu-ibu yang mendengar ucapan Bu Teti ikut tertawa dan terlihat antusias menunggu kejadian-kejadian tak terduga yang bisa saja terjadi malam ini


"Eh kita ke pak Danu yuk!!! kasih ucapan selamat" kata Bu Teti kemudian, ia melangkah tergesa-gesa menuju tempat dimana pak Danu berdiri


"Yukk!!" Sahut Ibu-ibu yang lain bergantian, mereka mengekor pada Bu Teti


Riri baru saja menapaki kakinya di lokasi acara. Beberapa orang terlihat masih asyik mengobrol di sana sini membentuk kelompok-kelompok kecil. Dengan tenang ia melangkah masuk ke function room. Tamu-tamu yang hadir juga nampak telah memenuhi ruangan.


Ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, berharap bisa menemukan Bu Alina tanpa harus meneleponnya. Karena ia tidak menemukan Bu Alina di antara kerumunan tamu, akhirnya Riri meraih ponselnya dari dalam tas tangan. Nada dering terdengar beberapa kali sebelum akhirnya diangkat.


"Baru saja sampai, Bu Ina posisinya di sebelah mana?"


"Bu Ina ada di dekat prasmanan lagi ngobrol sama teman, kamu kesini ya"


"Ok, tunggu sebentar aku kesana sekarang"


Sementara Riri sedang sibuk mencari Bu Ina, ada tiga pasang mata sedang memperhatikannya.


Silvi sedang tersenyum licik dari pojok ruangan sedang menghubungi seseorang.


Seorang pramusaji kemudian terlihat melangkah terburu-buru membawa minuman dalam gelas-gelas kristal dan beberapa canape diatas nampan. Dari gerak tubuhnya ia seperti sedang


fokus pada seseorang dari kejauhan.


Ketika akan melewati Riri, tiba-tiba saja kakinya seperti terantuk sesuatu. Pramusaji itu pun oleng tak terkendali.


Beruntung sejak masuk kemari kewaspadaannya meningkat tajam. Perasaannya mengatakan Silvi tidak akan tinggal diam di acara besar seperti ini.


Sebenarnya sedari awal ia sudah melihat pramusaji itu, karena langkahnya yang terburu-buru dan hanya fokus pada dirinya. Sedangkan si pramusaji sedang membawa banyak minuman dan makanan. Sangat mencurigakan bagi Riri.


Kecurigaannya terbukti, pramusaji itu nampak tersandung dan kini oleng kearahnya.


Dengan sigap Riri mengambil sebuah nampan besar yang dipegang oleh pramusaji lain yang kebetulan berada di sebelahnya.


Riri memegang kuat nampan tersebut sehingga aman ketika terhantap oleh pramusaji yang oleng.


"PRANG!!!" terdengar suara keras hantaman gelas dan nampan beradu

__ADS_1


Pramusaji yang menabrak Riri jatuh di hadapan Riri dengan pakaian berlumuran makanan dan minuman yang dibawanya.


Semua tamu yang hadir terkesiap dengan suara hantaman tersebut, sejenak suasana menjadi hening. Seorang laki-laki nampak berlari mendekat.


"Ya Tuhan Anton, kenapa bisa begini? Hati-hati kalau bekerja" katanya sambil membantu pramusaji yang ternyata bernama Anton untuk bangkit dan menyuruhnya kebelakang. Laki-laki tersebut juga memberikan tanda pada staf yang lain untuk membantu membersihkan ceceran minuman, makanan dan pecahan gelas yang berserakan.


"Maaf ya Bu, staf kami melakukan kecerobohan. Ibu tidak apa-apa?" tanyanya pada Riri


"Saya tidak apa-apa pak" jawab Riri dengan wajah datar. Ia merasa sangat kesal


"Beruntung saja Ibu bisa menghindar dari kejadian ini. Perkenalkan saya Agus manager FnB disini" ia mengulurkan tangannya


Riri juga mengulurkan tangannya "Saya Riri pak, saya berharap hal ini terakhir kalinya terjadi disini. Andai saja saya tidak cepat bertindak, saat ini mungkin saja saya harus pulang karena sekujur tubuh saya dikotori oleh makanan dan minuman. yang di bawanya"


Suara Beberapa kaki terburu-buru mendekat, Bu Alina, Bu Rita dan Pak Danu terlihat kaget melihat pemandangan di depan mata mereka


"Astaga Riri, ini kenapa?!" ujar Bu Alina sambil memegang lengan Riri


"Riri tidak apa-apa?" tanya Bu Rita dengan wajah Khawatir


"Saya tidak apa-apa Bu. Tadi pramusajinya tersandung, hampir saja menabrak saya" Riri melihat kearah Bu Rita dan Bu Alina


"Syukurlah kamu tidak apa-apa" Bu Ina memperhatikan Riri dari ujung kepala ke ujung kaki


"Sekali lagi saya minta maaf Bu, saya akan memberi peringatan sesuai prosedur Hotel pada Anton" kata pak Agus dengan wajah penuh penyesalan


Pak Danu berkacak pinggang "CK! Agus ini tanggungjawabmu sepenuhnya. Tolong ingatkan yang lain agar berhati-hati dalam bekerja. Saya tidak mau hal ini sampai terulang kembali


"Baik pak, saya mengerti" jawab Agus setengah menunduk


pak Danu berpaling ke arah Riri


"Riri tidak apa-apa? apa ada cipratan atau pecahan gelas yang mengenai Riri?" pak Danu terlihat khawatir


"Terimakasih atas perhatiannya pak.Semua Aman dan saya baik-baik saja" Ujar Riri sambil tersenyum


Pak Danu terlihat lega "Syukurlah, kalau begitu kita mulai saja acaranya" ujarnya sambil tersenyum. Pak Danu berjalan kembali ke tempatnya semula.


Bu Rita hampir saja menggandeng tangan Riri, ia menurunkan tangannya perlahan ketika ia teringat akan Silvi dan larangan Sugi untuk tidak terlalu akrab dengan Riri di acara ini.


Riri lalu menggandeng tangan Bu Alina dengan tenang melangkah ke tempat duduknya


Beberapa orang yang berada di dekat tempat kejadian terlihat berbisik-bisik


"Siapa perempuan muda yang cantik dan sigap ini ya?"


"Kenapa pak Danu langsung mengenalinya dan terlihat ramah padanya? apa hubungan perempuan ini dengan keluarga Wijaya?"


"Lihat kejadian tadi nggak? Cepat sekali perempuan cantik ini mengambil keputusan dan tindakan dalam situasi yang tak terduga"


"Hebat!! dia bisa tenang dalam situasi ini? kalau orang lain mungkin sudah memaki-maki pramusaji itu"


Bisik-bisik tamu di tempat itu terdengar semakin ramai.


Di sudut ruangan yang gelap Silvi menghentakkan kakinya karena kesal, ia mematikan ponselnya seketika usai kejadian.


"Sial rencanaku untuk mempermalukan dia gagal lagi. Tapi ini belum seberapa!! kamu tunggu saja permainan berikutnya" Gumamnya sendiri lalu kembali pada Ibu Teti

__ADS_1


__ADS_2