Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Milikku


__ADS_3

Pagi ini Sugi turun dari kamarnya dengan semangat tinggi. Ketika sampai di dapur tak ada Riri disana. "Biasanya dia selalu bangun pagi dan sudah berada di sini lebih dahulu. Apa Riri sakit ya?" Gumamnya lalu mendekat ke kamar Riri


"Tok..tok tok!!" Sugi mengetuk pintu kamar Riri


"Riri, sudah bangun? Riri!" Wajah Sugi terlihat heran " tidak biasanya dia begini. Jangan-jangan dia memang sedang sakit" terbayang dibenaknya Riri sedang terbaring lemah di ranjangnya


Dengan perlahan ia membuka kamar Riri dan masuk ke dalam. Kamar itu kosong tidak ada dia disana. Tangannya meraba ranjang Riri, "Ranjangnya dingin seperti tidak digunakan semalaman" Kening Sugi berkerut "kemana dia semalaman?"


Sugi keluar dari kamar Riri dengan tergesa dan mengetuk pintu Kamar Damar


"Tok!tok!tok! Rio, kamu sudah bangun apa belum?"


"Mmm sebentar" jawab Damar dari dalam kamar dengan suara serak


"Riri tidak ada dikamarnya, apa kamu mendengar sesuatu yang aneh semalam? Aku khawatir dia pergi tanpa memberitahuku" kata Sugi dari balik pintu


Di dalam kamar Damar membangunkan Riri yang masih tertidur dengan lelap "Riri, bangunlah"


Riri menggeliat "Mmm apa kak?" Jawabnya dengan mata yang masih setengah terpejam


"Bangun, Sugi mencarimu. Kamarmu kosong, dia pikir kamu pergi tanpa memberitahunya"


"Aku disini Sugi" kataku setengah berteriak dengan suara serak


Tangan Damar nampaknya terlambat menahanku "Hei!! dia bisa salah paham Tari" wajahnya memandang kearahku sambil menahan tawa


"Arghh aku lupa dia belum tahu" aku menutup wajahku


"BRAKKK!!" Pintu tiba-tiba terbuka dengan kasar


Mata Sugi menatap kami dengan tajam.


Damar mengedipkan satu matanya kearahku. Aku mengerti arti isyarat itu, Damar akan membelaku seperti yang sering dia lakukan dulu saat Ibu memarahiku.


"Kalian?!! Apa yang sedang kalian lakukan berdua disini?!!" Sugi setengah berteriak, wajahnya dipenuhi amarah


Aku turun dari tempat tidur lalu lari terbirit-birit menghindari Sugi sambil berteriak "Dahhh Aku mandi dulu!!!"


Damar nampak tertawa geli sambil menggeleng melihat kelakuan adiknya yang tidak berubah semejak kecil. "Dia selalu menghindari omelan ibu dan menyodorkan aku sebagai tamengnya. Persis seperti hari ini, bedanya yang sedang marah adalah Sam, dia pasti mengira dirinya dan Tari telah melakukan tindakan asusila dirumah ini"

__ADS_1


Tangan Sugi mencengkram leher bajunya "Kenapa kamu tertawa, kamu pikir ini lucu?! Apa yang telah kalian perbuat? Riri itu gadis baik-baik Rio. Aku tidak menyangka kalau kamu sebejat ini" Ujar Sugi yang hampir saja kehilangan kendali atas emosinya


"Tenang Sam, kami tidak melakukan apa-apa. Dia hanya tertidur dikamarku" Damar mengendurkan cengkraman Sugi pada leher bajunya


"Kenapa dia bisa tidur disini?"


"Karena dia rindu padaku" jawab Damar dengan santai


Amarah Sugi kembali memuncak karena merasa dipermainkan oleh Rio "Apa maksudmu??!!! Dia milikku Yo!!!"


"Yakin??! Apa kamu sudah menyatakan perasaanmu pada Tari?!


"Tari?! Siapa Tari?!!" Tanya Sugi dengan wajah bingung


"Gadis cantik yang seranjang denganku semalam. Masa' aku nggak boleh tidur seranjang dengan adikku hehehehe?" ujar Damar terkekeh lalu masuk kedalam kamar mandi.


Sugi terdiam sambil mencerna ucapan Damar. "Hah??? Adik?? Mereka bersaudara? Kenapa bisa?" Gumamnya saat keluar dari kamar Damar


Sugi terlihat bersandar pada dinding didepan pintu kamar Riri. Saat pintu terbuka perlahan, kakinya dengan cepat menahan agar pintu tidak bisa ditutup lagi.


Wajah Riri terkejut melihat Sugi telah berdiri di depannya. Dengan gerakan refleks ia berniat menutup pintunya kembali. "Ah sial, kakinya sudah lebih dulu menghalangi pintu" gumamku dalam hati sambil memperhatikan kaki Sugi dibawah.


Aku mundur perlahan dengan perasaan was-was "kali ini dia pasti sedang marah besar padaku" Tangannya kembali mendorong tubuhku perlahan ke arah dinding, kemudian badannya menghimpitku dengan ketat. Kedua tangannya menopang pada dinding disebelah kanan dan kiri tubuhku "Ya Tuhan sebelumnya dia tidak pernah berlaku seperti ini padaku" kurasakan jantungku mulai berdebar-debar.


"Kamu mau apa?" Tanyaku gelisah sambil menunduk tak mau melihat wajahnya yang sedang marah


"Jelaskan padaku apa yang terjadi?" Suaranya terdengar dingin


"Kak Damar belum menjelaskan padamu?"


"Belum"


"Hah? Belum?! Ehmm Dia itu ternyata kakak kandungku bernama Damar yang hilang beberapa tahun lalu Sugi"


"Kenapa aku harus mengetahui ini paling akhir?"


"Aku juga baru yakin tentang itu semalam" ucapku lemah dengan rasa bersalah


"Tapi aku tahu kamu sudah mengetahui ini semenjak awal dia datang kemari, bukan?"

__ADS_1


"Iyah, tapi aku belum yakin benar"


"Kamu menganggap aku ini siapa Riri? Orang lain yah? Sehingga hal-hal seperti ini harus aku ketahui paling akhir!!"


"Bukan begitu Sugi, kamu bukan orang lain untukku. Aku hanya.... belum sepenuhnya yakin. Aku takut kecewa karena harapanku sendiri"


Aku menengadahkan wajahku memberanikan diri menatapnya, kulihat ia menundukkan kepalanya sehingga matanya bisa menatap langsung ke mataku. Wangi aftershave menyapu hidungku samar-samar. Debaran jantungku kian bertalu-talu saat matanya makin tajam menatapku. Ingin rasanya aku memeluknya agar ia kembali tenang.


"Jangan marah padaku Sugi aku tidak bermaksud begitu. Semalam tidak sengaja kami bertemu di dapur. Setelah akhirnya kami sama-sama tahu, kami mengobrol cukup lama dikamarnya sampai aku ketiduran disana. Aku berani bersumpah" tanganku mengusap lembut dadanya


"Kamu bukan orang lain untukku, Aku... Aku..." Belum selesai bicara Sugi mendadak mendekatkan wajahnya dan mengecup bibirku.


Waktu terasa terhenti beberapa detik saat bibirnya yang lembut menyatu dengan bibirku.


"Kenapa... Apa yang kamu la..."


Kecupan kedua mendarat lagi dibibirku


Aku hanya bisa terdiam menatapnya tanpa bisa berkata apa-apa, lidahku mendadak kelu.


"Kamu millikku Riri. Aku ingin tahu semua hal yang terjadi di hidupmu. Aku tidak mau menjadi orang terakhir yang tahu tentang peristiwa penting semacam ini. Berjanjilah padaku untuk selalu memprioritaskan aku di hidupmu"


Lututku rasanya mendadak lemas mendengar ucapannya. Aku mengangguk lemah tanpa kusadari "apakah ini pengakuan cintanya untukku?" Batinku


Mataku terpejam saat Sugi mengelus lembut pipiku.


"Tari!!!" Suara Damar dari balik pintu mengagetkanku


"Urusan kita belum selesai" ucapnya lalu mengecup bibirku sekali lagi. Dia melepaskan himpitannya dan keluar dari kamar.


"Dia lagi sisiran" kudengar Sugi berbicara pada Damar diluar, sedangkan aku masih mematung di sini. Aku meraba bibirku merasa tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.


"Dia mengecup bibirmu berulangkali Riri!!! Dia menyukaimu!!! Hei sadar!!!" Aku meraba bibirku sekali lagi dan menepuk-nepuk pipiku untuk meyakinkan diriku kalau ini bukanlah mimpi.


Beberapa menit berlalu aku masih bersandar pada dinding kamar sambil mengatur napasku.


Kudengar berkali-kali derai tawa mereka diluar menandakan keadaan sudah baik-baik saja, berbanding terbalik dengan perasaanku saat ini.


"Ck! aku sebaiknya bersikap seperti apa diluar nanti? Ya Tuhan aku benar-benar bingung. Aku malu bertemu dengan Sugi setelah apa yang dilakukannya tadi padaku" gumamku gelisah

__ADS_1


__ADS_2