
Riri memutuskan untuk duduk di bangku panjang yang terbuat dari kayu di sisi pembatas villa dengan tepian aliran sungai. Air sungainya nampak jernih mengalir tenang berkilauan di tempa cahaya mentari pagi.
Ia kemudian mengeluarkan sebuah notebook yang ia bawa di tas selempangnya, dan mulai memeriksa beberapa email yang masuk termasuk laporan harian dari Lisa. Sesuai pembicaraannya dengan Damar sebelumya, mereka sepakat untuk menyerahkan operasional kantor DnW sepenuhnya pada Lisa. Riri hanya bertugas memantau kinerja Lisa dan kelangsungan perusahaan secara umum.
Riri kembali teringat betapa gembiranya Damar sewaktu ia mengabarkan akan membeli sebuah properti untuk diubah menjadi Yoga retreat dan Spa. Damar bahkan meminta dikirimkan informasi mengenai kemajuan-kemajuan yang terjadi selama Riri berada disini setiap harinya.
Ponselnya berdering, tanpa perlu melihat layar ia hapal siapa yang menghubunginya kali ini
"Hi sayang" jawabnya dengan suara manja
"Hi, lagi sibuk apa sayang udah sarapan?" tanyanya dengan suara tak kalah manjanya
Pak Doni yang sudah mulai terbiasa dengan kelakuan atasannya ini hanya bisa tersenyum sambil sesekali melirik ke spion atas
"Sudah baru saja selesai. Ini lagi baca laporan Lisa, bentar lagi aku juga mau menghubungi supplier bahan- bahan spa"
"Duh sibuk sekali sih, jangan lupa minum air putih yang banyak. Bulan ini mataharinya terik banget. Aku takut kamu kelelahan"
"Iyah sayang. Kamu pasti lagi dijalan mau meeting ya? Kayaknya urusanmu juga makin banyak"
"Iyah nih maaf ya sayang, belakangan aku juga jarang bisa ngobrol sama kamu, jadwalku tiba-tiba makin padat. Padahal aku kangen berat sama si mungil yang cantik ini"
"I miss you too sayang, besok deh aku balik sehari biar kita bisa ketemu"
"Jangan, Kapan aku kosong biar aku saja yang kesana"
"Ya sudah, hari ini fokus kerjaanmu dulu sayang. Kita kan bisa ngobrol kapan aja"
"Iyah, ...Oh aku hampir lupa ayahku ulang tahun hari Selasa depan, beliau menyuruhku untuk mengundangmu"
Aku terdiam memikirkan undangan itu, Ada jeda beberapa saat sebelum aku menjawabnya
"Ada apa? Kok diam?" tanya Sugi khawatir
"...Kamu yakin aku boleh datang? Maksudku nanti pasti banyak relasi penting yang datang kan? Aku hanya tidak mau membuat kehebohan yang tidak penting"
"Sayang... Undangan ini langsung dari ayahku. Bukan aku yang memaksa beliau untuk mengundangmu. Kalau kamu sampai tidak datang, ayahku pasti akan kecewa"
"tapi..."
"Tapi apa? Jangan berpikir yang bukan-bukan. Orang tuaku menyukaimu sayang"
"aku tahu, aku hanya khawatir kalau nanti semua orang mengetahui hubungan kita, aku takut mereka akan mencari tahu tentang kehidupanku. Aku tidak bisa bebas lagi untuk bergerak"
"Aku malah senang akhirnya semua orang tahu kamu milikku. Tidak akan ada lagi yang berani mendekatimu"
"Ck bukan masalah itu...aku hanya tidak suka kehidupanku terusik oleh orang yang tidak aku kenal sama sekali, belum lagi pihak yang tidak suka dengan keluargamu, aku akan jadi sasaran empuk mereka" ujarku gusar
__ADS_1
"Bagaimana kalau aku datang dan kalian tidak usah memperkenalkan aku siapa. Aku hanya datang sebagai tamu undangan biasa, bukan calon istrimu. Itu akan membuatku merasa lebih nyaman berada disana" lanjutku sambil berharap ia akan mengerti posisiku ini
Sugi terdiam beberapa saat
"Ok aku mengerti. Jangan khawatir aku akan membicarakannya pada Ayahku, beliau pasti akan mengerti kekhawatiranmu"
Aku menghela napas "baguslah kalau begitu"
"Tapi ada syaratnya, kamu tidak boleh mengobrol terlalu lama dengan laki-laki, siapapun orangnya" Jawabnya ketus
"CK! Iya iya... Itu lagi"
"Kalau sampai aku melihatmu asyik mengobrol , terutama dengan yang masih muda aku pasti akan turun tangan menggandengmu di depan semua orang"
"Baik pak Dirut saya mengerti, nanti aku harus bawa kado apa? Ayahmu sukanya apa?"
"Ayahku kolektor barang antik dan batu alam"
"Oh ok, nanti aku pikirkan apa yang harus aku bawa"
"Tapi nggak bawa hadiah dihari itu juga tidak masalah kok, kan hadiahnya bisa menyusul..."
"Maksudnya selesai acara baru bawa hadiah? Gimana sih? Aku bingung deh"
"Hadiahnya kita bisa buat bareng-bareng ...masa nggak ngerti?!" ada nada ambigu pada ucapannya
Aku jadi berpikir agak lama "kita buat barang antik sendiri? Atau Buat batu alam? Custom maksudnya? Ahh nggak ngerti!"
"Astaga....ihhh apa sih sayang"
Tanpa sadar wajahku jadi menghangat. Sudah pasti jadi memerah setelah mendengar hal itu. Ia pasti puas dan bahagia kalau saja ia bisa melihat wajahnya yang sekarang seperti kepiting rebus.
"Hahahaha" tawanya terdengar makin kencang
"Udah ah aku kerja dulu, ngobrol sama kamu jadi kemana-mana kan?!" Ujarku kesal
"Aduh pasti wajahmu jadi memerah ya, malu ya? Malu apa mau? Hahahaha" ia kembali menggodaku
"Yeeee...sana ngobrol sama pak Doni aja kalau gitu"
"Hahahaha ya Iyah aduh ngambek, I love you nanti aku telepon lagi"
"Iya..."
"Iyah apa?"
"I love you too"
__ADS_1
"Ciumnya mana?"
"Muahh"
"Muah...muah dah sayang"
"Dahh" aku menutup sambungan teleponnya sambil menutup wajah dengan satu tangan untuk menenangkan diri kembali
Sementara itu pak Doni tadi hampir saja mengerem mendadak saat mendengar Sugi mencium ponselnya kuat-kuat. Walaupun ia sudah terbiasa dengan perubahan emosi atasannya ketika berhadapan dengan Riri, namun tetap saja ia tidak selalu siap dengan hal-hal semacam itu.
Tanpa sepengetahuan Sugi pak Doni nampak sedikit bergidik sambil berusaha tetap fokus pada jalan raya di depannya.
Usai memeriksa laporan dari Lisa, Riri kemudian mengirimkan pesan pada Damar. Kebetulan Damar masih sedang bekerja di rumahnya, cepat-cepat ia menghubungi Riri
"Ya kak, udah baca pesanku kan?"
"Cie calon mertua ultah nih hahahaha"
"Hahahaha aku bingung mau kasih apa? Kakak tahu siapa supplier batu alam yang bagus?"
"Ada, nanti aku pilihkan yang bagus, Kamu tinggal terima beres aja"
"Serius kak?"
"Demi kebahagiaan adik yang paling manis yah aku usahakan dong"
"Hahahaha horeeee terimakasih kakakku yang paling ganteng sejagat raya , sealam semesta"
"Dasar, yang begini aja aku di bilang ganteng"
"Emang ganteng, adiknya aja cantik"
"Idihhh muji diri sendiri"
"Hahaha sori kak aku ganggu jam segini, kamu lagi istirahat ya? Apa lagi teleponan sama Gia?"
"Lagi teleponan tadi, bentar lagi lanjut. Gara-gara kamu jadi keputus deh"
"Pasti lagi phone s*x ya? Hahahaha"
"Hahahaha awas kamu yah, nyebelin banget. Aku nggak jadi bantuin kamu ah"
"Hahahaha ih kok gitu ya deh iya... Aku nggak ganggu deh bye"
Tanpa menunggu jawabannya aku menutup sambungan telepon sambil terkekeh sendiri.
ponselku bergetar, Damar mengirimkan aku pesan
__ADS_1
"Dasar bocil!!!"
Aku makin terkekeh saat membaca pesannya