Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Silvi datang lagi


__ADS_3

Silvi dengan wajah sumringah memasuki kantor pusat Wijaya Grup untuk menemui Sugi. Langkahnya terlihat ringan hari ini, Ia berharap bisa kembali mengajaknya untuk makan siang bersama. Ketika ia melewati meja staff di dalam kantor, semua mata tertuju pada Silvi. Dengan wajahnya yang cantik ditambah perawakannya yang tinggi bisa dipastikan perhatian akan tertuju padanya.


Kedatangan Silvi kembali hari ini tidak luput dari gosip internal staff disana. Hampir semua orang membicarakan kalau Silvi kemungkinan calon istri dari Pak Sugi, Direktur mereka. Bagaimana tidak? Ia bisa melenggang dengan bebas keluar masuk ruangan pak Sugi tanpa perlu mengatur janji bertemu terlebih dahulu.


Bisik-bisik itu sampai juga di telinganya secara sekilas saat melewati dua orang yang sedang mengobrol sambil berbisik di koridor, ia nampak tersenyum puas dengan gosip yang beredar.


"Selamat siang Dewi" sapa Silvi kepada Dewi sang sekretaris yang sedang membereskan mejanya bersiap-siap untuk makan siang


Senyumnya mengembang tatkala ia melihat ke arah suara yang menyapanya


"Bu Silvi, Selamat siang" sahut Dewi sambil berdiri


"Pak Sugi Ada?"


"Ada Bu, tapi tunggu sebentar ya. Coba saya informasikan terlebih dahulu"


"Kenapa begitu? Saya beneran nggak boleh masuk langsung ya!!?? Jawab Silvi dengan wajah cemberut


"Iyah Bu maaf, terakhir kali waktu itu saya hampir kena surat peringatan karena membiarkan Ibu langsung masuk"


"Ya sudah, yang cepat infonya ke dalam!!" Katanya sembari memalingkan wajahnya yang kesal


"Baik Bu"


Dewi terlihat mengangkat telepon dan menghubungi ruangan pak Direktur


"Selamat siang pak Doni, disini ada Bu Silvi ingin bertemu dengan Bapak Sugi"


"Oh begitu, baik pak. Baik nanti saya sampaikan"


Ia meletakkan kembali teleponnya


"Bu Silvi, anda disuruh menunggu di cafe atas oleh Bapak. Nanti beliau akan menyusul"


"Ok" katanya kemudian beranjak pergi ke lantai paling atas.


Setengah jam berlalu, Silvi yang nampaknya sudah bosan menunggu dengan raut wajah kesal memutuskan untuk mencoba menghubungi Sugi kembali. Tapi lagi-lagi seperti sebelumnya, telepon darinya tidak mau di terima oleh Sugi. Dengan perasaan marah luar biasa ia kembali turun menuju ruangan Sugi.


"Dewi!!! Coba telepon bapak, saya mau bicara!" Katanya dengan ketus


"Baik bu"


Dewi kembali menghubungi ruangan di dalam


"Pak Doni, ini Bu Silvi mau bicara dengan...."


Belum selesai Dewi bicara, telepon di tangannya dirampas oleh Silvi

__ADS_1


"Pak Doni ini saya Silvi, saya mau bicara sama bapak"


"Sebentar yah Bu" pak Doni menahan teleponnya sementara


"Beliau hari ini sangat sibuk jadi tadi tidak sempat menemui ibu diatas. Sekarang Bu Silvi boleh masuk. Pak Sugi sudah menunggu"


Tanpa menjawab pak Doni, ia menyerahkan kembali telepon itu pada Dewi


"Sudah pakai dua asisten kok masih saja sibuk" gerutunya


"Ibu pasti belum tahu kalau satu asistennya sudah resign"


"Yang cewek itu?"


"Iyah Bu"


"Kenapa?"


"Saya juga kurang tahu, tapi...."


"Tapi apa? Kalau cerita jangan setengah-setengah" dahi Silvi berkerut


"Bu sepertinya dia asisten kesayangan pak Sugi, Bu Rita saja sampai menyuruh saya memata-matainya. Tapi Bu Silvi jangan bilang siapa-siapa ya, saya hanya berani membocorkan hal ini pada Ibu. Karena saya merasa bapak lebih cocok sama Bu Silvi bukan cewek asisten itu" ujar Dewi dengan wajah sinis


"Siapa namanya?"


Senyum Silvi terlihat mengembang kembali mendengar cerita Dewi.


"Nanti kita bicara lagi, saya masuk dulu ya Dewi"


Silvi berlalu dari hadapan Dewi dan bergegas masuk ke dalam


"Akhirnya ada harapan baru untuk aku bisa masuk ke jabatan elit disini. Kalau Bu Silvi jadi sama pak Sugi aku yakin aku akan mendapat untung besar di masa depan" Dewi bergumam dalam hatinya


Ketika Silvi masuk, pak Doni langsung berdiri dan keluar dari ruangan tanpa diminta.


"Sam, kok sibuk banget sih?" Ujar Silvi manja sambil mendekati Sugi yang nampak sibuk dengan setumpuk laporan diatas meja


Sugi memandang Silvi dengan pandangan dingin


"Kenapa kemari?"


"Aku pengin makan siang bareng sama kamu Sam"


"Aku kan sudah bilang, aku tidak selalu punya waktu santai Silvi. Urusanku banyak, dan kamu kemari tanpa membuat janji terlebih dahulu"


"Aku minta maaf, jangan marah ya. Ibumu menghubungiki tadi. Ia minta agar aku kemari menemui mu. Katanya semalam kamu nggak ada dirumah. Kamu sepertinya menginap di tempat lain. Apa itu benar?" Silvi memegang lengan Sugi

__ADS_1


"Silvi, itu urusanku. Ibuku saja tidak berani menanyakan ini secara langsung padaku" jawab Sugi, ia melepaskan tangan Silvi dari lengannya perlahan


"Apa jangan-jangan kamu menginap di tempat mantan asistenmu si Riri itu?" Wajah Silvi terlihat penasaran


"Cukup Silvi, sudah ku bilang itu urusanku"


"Oh berarti dugaanku benar. Kasihan, Ibumu pasti tidak akan membiarkan ini terlalu jauh"


"Apa urusanmu Silvi? kamu berkelakuan seolah-olah wajar membicarakan kehidupan pribadiku seperti ini? Hubungan kita hanya sebatas teman kecil. Aku menghormatimu karena orang tua kita berteman baik. Aku harap kamu tidak melewati batas itu" ujar Sugi dengan tegas


Silvi nampak memandang Sugi dengan semburat kemarahan di wajahnya


"Sebaiknya kamu pulang, urusanku masih banyak


Kalau ibuku bertanya katakan aku sedang sibuk seperti yang kamu lihat" Sugi memalingkan wajahnya


"Apa dia sehebat itu Sam? Sehingga kamu mengabaikan aku dan Ibumu?" Suara Silvi terdengar mulai bergetar


"Iya!, dia lebih hebat dari yang kalian duga. Satu hal Silvi jangan coba-coba mengganggu kehidupan Riri. Kalau sampai aku tahu kamu dan ibuku melakukan sesuatu kepadanya aku tidak akan memaafkan kalian" kata Sugi pelan tapi cukup membuat siapapun yang mendengar tahu itu adalah ancaman serius


Air mata Silvi terlihat menggenang di pelupuk matanya yang bergetar. Dadanya terlihat naik turun, dengan susah payah ia menelan kembali tangis dan amarahnya lalu bergegas keluar dari ruangan itu.


Sugi menghela napasnya lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.


Bu Rita sedang menikmati waktu rehatnya dirumah. Dahinya berkerut saat membaca pesan yang dikirimkan oleh Silvi siang itu.


"Tante, aku sepertinya harus menyerah, Sammy ternyata mencintai wanita lain"


Dengan buru-buru ia menghubungi Silvi melalui telepon


"Silvi, Sammy tidak akan menikahinya. Tante akan mencari jalan supaya kalian bisa bersama. Kamu yang sabar yah Silvi" ujar Bu Rita secara tegas


"Tapi sepertinya Sammy sangat mencintai wanita itu Tan" suara Silvi terdengar lemah


"Kamu tenang saja, tante yang akan mengurus hal ini"


"Iya Tan aku mengerti"


Bu Rita memutuskan sambungan teleponnya dan nampak berpikir cukup lama


Ia teringat tentang semalam, ia menunggu Sugi dirumahnya sampai larut malam. Menurut keterangan Bu Widi semenjak Riri tinggal disana, Sugi hidup lebih teratur. Biasanya juga tidak pernah pulang terlalu larut malam. Walaupun Bu Widi tidak tinggal disana tapi ia kadang-kadang bisa melihat lampu kamar yang menyala di jam-jam tertentu dari rumahnya di belakang rumah sugi.


"Semalam dia kemungkinan tidak pulang, sudah pasti ia menginap di rumah Riri. Aku ingin tahu siapa wanita yang bernama Riri ini sebenarnya" gumamnya dalam hati


Bu Rita mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang "siang pak, saya butuh bantuan untuk mencari informasi seseorang. Nanti saya kirimkan foto dan namanya"


"Iyah, ok"

__ADS_1


Bu Rita memutuskan sambungan teleponnya.


__ADS_2