Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Minta Ampun


__ADS_3

Sugi menurunkan gorden menutupi jendela kamar Riri "hujan sayang"


"Oh ya? Sebentar aku mau lihat" Riri menahan tangan Sugi


"Sudah lama tidak turun hujan, pasti wangi tanahnya keluar semua malam ini" aku memandang ke arah luar jendela


"Mau keluar sebentar?" tanya Sugi


"Nggak deh, aku mau melihatnya dari sini saja"


"Aku mandi dulu ya" ia mengucek lembut ujung kepalaku lalu berlalu menuju kamar mandi


"Ok" jawabku singkat masih termangu disana


Sementara itu tanpa di ketahui Riri , pak Doni disaat yang sama sedang menunggui anak buahnya menginterogasi seseorang. Orang ini tadi ditangkap oleh mereka karena gerak-geriknya mencurigakan di depan rumah Riri.


Orang itu di ikat pada sebuah tiang dengan wajah babak belur karena di pukuli sedari tadi. Sekujur tubuhnya juga nampak basah karena siraman air agar ia tetap sadar.


"Gimana?" tanya pak Doni pada salah satu anak buahnya


"Dia bilang hanya kebetulan lewat pak"


Pak Doni memperhatikan perawakannya yang tinggi dan kekar. Ia sangat yakin orang ini dikirim oleh seseorang dengan tujuan tertentu


"Ok cukup, lepaskan saja dia. Kita pergi dari sini " perintah pak Doni


Anak buahnya langsung melepaskan orang tersebut dan pergi meninggalkannya sendirian


"Pak, kenapa orang itu di lepas?" Tanya satu anak buahnya yang ikut dalam mobil Pak Doni


"Percuma, dia tidak akan mengaku. Lagipula tadi foto wajahnya sudah aku ambil. Kita tinggal cari datanya saja kan?"


Ia nampak mengangguk


"Badannya kekar dan sehat, tanpa tato organisasi, tanpa ponsel dan senjata tajam. Tapi badannya dipenuhi bekas luka, belum lagi wajahnya tak sekalipun menunjukkan rasa takut saat kalian menyiksanya. Itu cukup mencurigakan"


"Iyah pak, saya juga punya pikiran yang sama tadi"

__ADS_1


"Bisa jadi dia dikirim oleh Silvi, atau bisa saja orang lain. Saya punya feeling dia dikirim oleh orang lain. Apa ada hal yang mencurigakan di sekitar kantor Bu Riri?"


"Belum ada pak, tapi tadi siang sempat ada cekcok sedikit dari dua orang pelanggan warung makan Bu Riri. Saya hampir saja menghampiri dan melerai mereka namun rupanya mereka hanya salah paham tentang tempat parkir"


"Besok kalau ketemu orang yang sama, coba ambil fotonya. Biasanya kalau ada sesuatu yang diluar kebiasaan itu patut dicurigai"


"Baik pak saya mengerti"


_____________________________________________


Sementara itu di dalam mobilnya Hadi nampak menunggu di pinggir jalan dengan gelisah. Tadi sore setelah meetingnya selesai ia kembali ke kompleks pertokoan dimana Riri bekerja. Ia memutuskan untuk membuntuti Riri saat pulang ke rumah dengan sangat hati-hati


Ia juga menyuruh sopirnya untuk memeriksa sekeliling rumah Riri sekaligus pancingan apakah ada yang menjaga Riri dari kejauhan seperti perkiraannya. Ternyata tebakannya benar, belum ada lima menit sopirnya disana, dia sudah ditangkap oleh kaki tangan Sugi.


Tadi sebelum beraksi ia sempat mengatakan agar menutup mulut perihal siapa bosnya dan tujuan dia ke rumah Riri. Sekarang ia gelisah setengah mati menunggunya kembali, ia mengira sopirnya sudah membuka mulutnya disana.


"Tapi itu tidak mungkin, aku yakin dia sangat setia padaku" gumamnya sendiri


Dari kejauhan ia melihat seseorang berjalan dengan langkah gontai terhuyung-huyung. Rupanya sopirnya telah kembali.


"Kenapa lama sekali?" tanyanya saat sopirnya masuk kembali ke dalam mobil


"Sudah kuduga mereka akan menyiksamu begini"


"Tenang pak ini tidak terlalu sakit. Coba tadi saya boleh melawan mungkin wajah saya tidak separah ini"


"Nanti ada waktunya kamu melawan balik orang-orang itu. Tapi kamu yakin tidak ada yang membuntuti mu?"


"Sudah saya pastikan tidak ada"


"Ok kita pulang sekarang"


"Baik pak"


Mobil pun melaju menembus kegelapan malam. Disepanjang jalan Pikiran Hadi dipenuhi oleh sosok Riri.


"Aku tidak bisa melepaskanmu begitu saja Tari. Seumur hidupku aku hanya mencintai satu orang dan itu kamu. Kamu tidak akan pernah mengerti tentang perasaanku ini,Tari"

__ADS_1


"Pak kita mampir ke Flamboyan sebentar"


"Baik pak" sopirnya berkata tanpa bantahan sama sekali. Ia merasa sangat berhutang nyawa dan harta pada bosnya ini. Saat dahulu masih aktif di satu organisasi yang menguasai peredaran obat-obatan terlarang nyawanya hampir saja hilang setelah dikeroyok oleh anak buah dari lawan bisnis atasannya. Tapi bosnya ini tiba-tiba saja muncul dan menyelamatkannya yang sedang sekarat di pinggir jalan.


Ketika mereka tiba di tempat tujuan, Hadi bergegas turun. Ia langsung disambut sumringah oleh seorang perempuan menor berbadan gempal yang merupakan mucikari klub malam tersebut.


"Wah bos besar datang, tunggu aku panggilan Nita dulu" ia terpogoh-pogoh berlari mencari Nita di dalam


Sejenak ia pun kembali dengan seorang wanita berperawakan mungil bernama Nita. Nita yang awalnya tersenyum kemudian memasang wajah gelisah. Badannya tiba-tiba saja gemetar saat melihat Hadi berdiri disana.


"Udah kamu layani bos besar kita ini dengan baik. Apa yang dia minta kamu kasihlah, pasti nggak babak belur kayak waktu itu!!!" Omelnya pada Nita


"Tapi..."


"Halah tapi apa? Udah bagus ada yang suka sama kamu Nit. Nggak usah pilih-pilih, hutangmu masih banyak sama aku kan? Sana-sana!!" Ia mendorong-dorong tubuh Nita mendekat pada Hadi


Hadi menarik paksa tangannya ke sebuah bilik yang cukup bersih namun sempit di belakang klub malam Flamboyan. Nita tidak punya pilihan lain selain mengikuti Hadi dengan perasaan was-was


Pintu bilik pun ditutup Hadi, lampu sengaja tidak dinyalakan atas permintaan Hadi. Ia mengeluarkan parfum dari dalam kantong celananya. Parfum yang wanginya mendekati wangi Riri itu ia semprotkan kesekujur tubuh Nita. Dalam kegelapan ia berbisik pada Nita "Tari!!.. mendekatlah padaku sayang"


Nita perlahan-lahan mendekat padanya, tangan Hadi menangkap tubuh Nita dan menyusuri setiap lekukan tubuhnya dengan kasar. Seperti kesetanan Hadi membuka paksa pakaian Nita dengan merobeknya dengan kekuatan penuh.


"Jangan melawanku Tari, aku tidak suka" bisiknya lagi sambil menciumi tubuh Nita bertubi-tubi


"Kenapa kau diam? Jawab ucapanku Tari!!" Teriaknya


"Iyah... Aku ...aku akan pasrah padamu..." Nita mulai ketakutan, ia terisak terbayang kembali pukulan dan jambakan yang ia terima beberapa waktu yang lalu oleh Hadi


"Kenapa menangis?? Hah!!! Kenapa??!!!" Ia menjambak rambut Nita dengan kasar


Tangis Nita pecah "maafkan aku..."


"Wanita S*alan!!! Bangs*t!!... Kamu mengkhianatiku Tari!! Teriaknya sambil menampar wajah Nita berkali-kali


"Apa laki-laki itu sudah menodaimu?? Apa seperti ini yang ia lakukan padamu!! Dasar wanita kotor!!! Kamu wanita kotor, Tari!!?" Ia membuka pakaiannya sendiri dengan tergesa-gesa


"Sekarang rasakan ini!!! Kamu akan meminta ampun padaku. Aku harus menghukummu Tari!!! Kau harus rasakan sakit hatiku ini!!!"

__ADS_1


Dari luar terdengar teriakan minta ampun disertai tangisan Nita dari dalam bilik itu. Mucikari yang mendengar teriakan itu tersenyum lebar "duit!!! Yang penting duit!!!" Ujarnya melangkah pergi


__ADS_2