Cinta Untuk Mentari

Cinta Untuk Mentari
Rio


__ADS_3

Sekitar sejam kemudian, terdengar suara mobil masuk ke dalam garasi. Riri yang baru saja selesai mandi dan mengganti baju buru-buru mengenakan masker dan topinya kemudian keluar dari kamar.


Sugi telah mendahului untuk menyambut temannya di depan. Nampak Pak Doni yang bertugas menjemput turun dari mobil terlebih dahulu. Riri berjalan perlahan mendekat ke arah mereka. Dilihatnya seorang laki-laki berperawakan tinggi tegap menyusul keluar dari dalam mobil. Badannya terlihat lebih berisi dan berotot jika dibandingkan dengan Sugi. Karena gelapnya malam Riri tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.


"Rio my Man!!!" Teriak Sugi sembari memukul ringan kepalan tangan yang di sodorkan Laki-laki itu.


"Hei Mann!!!" Kata Rio terlihat bersemangat


"Gimana perjalanannya?" Tanya Sugi sambil merangkulnya masuk ke dalam rumah


"Cape, pegel, kayaknya besok aku mau cari tempat pijat Sam" ujar Rio dengan suara berat dan sedikit serak


"Ok besok biar diantar Pak Doni"


"Nice!!, Eh bentar aku ambil koperku dulu dibelakang"


"Biar saya bantu" kata pak Doni menyusul dari belakang


"Tidak usah pak, saya bawa sendiri saja" tangannya dengan mudah mengangkat satu buah koper berukuran besar turun dari bagasi.


"Baik pak Rio" Pak Doni menjauh dari Rio dan mendekati Riri


"Nampaknya teman Pak Sugi yang ini baik, nggak sombong. Tidak seperti beberapa temannya disini. Dari tadi saya diajak ngobrol dijalan, orangnya lucu juga Bu Riri" bisik Pak Doni


"Baguslah kalau begitu pak, pekerjaan kita jadi lebih mudah"


"Gimana Bu Riri, betah tinggal disini?" Tanyanya dengan wajah penasaran


"Biasa saja pak"


"Pak Sugi sering marah-marah nggak?"


"Nggak pak"


"CK! Kalau sama saya ada saja yang salah. Tapi sebenarnya sih memang baik hanya agak pemilih dan keras kepala. Apa yang dia sudah putuskan, tidak bisa di ganggu gugat lagi"


"Hehehehe" Riri tertawa geli


Sugi menoleh ke belakang, dia baru ingat belum memperkenalkan Riri pada Rio. Dilihatnya Riri sedang asyik bersenda gurau dengan pak Doni, hal itu membuatnya sedikit kesal "Riri kemari sebentar" panggilnya pada Riri


"Baik pak" jawab Riri lalu berbisik dengan cepat ke arah Pak Doni "tetap semangat pak Doni"


"Sama-sama Bu Riri" jawabnya cepat


Riri dengan tergesa-gesa mendekati Sugi yang sudah berada di teras depan rumah dengan pencahayaan lampu penerangan yang lebih baik.


"Rio, ini asisten pribadiku juga. Namanya Riri"


"Saya Rio" tangan Rio terulur dan mereka berjabat tangan secara singkat


"Saya Riri pak" jawabnya dengan tegas.

__ADS_1


Mata mereka bertemu, Riri nampak diam beberapa detik memperhatikan wajah Rio


"Riri!" Panggil Sugi khawatir


Riri sepertinya sedikit kaget "ya pak" dia menoleh ke arah Sugi dengan wajah bingung.


"Tadi siang saya sudah bilang ke Bu Widi untuk mempersiapkan satu kamar di sebelah kamar Bu Riri, tolong di periksa ulang" ujarnya Sugi


"Baik, saya periksa sekarang" jawab Riri kemudian berjalan perlahan seperti tidak bersemangat


Wajah Rio memandang kearah Sugi dengan pandangan penuh tanya.


"Iyah, dia tinggal disini" jawab Sugi seperti mengerti arti pandangan Rio itu.


"Sepertinya mencurigakan" canda Rio


"Nanti aku ceritakan"


"Ok" jawabnya sembari masuk ke dalam


"Wuih rumahmu bagus Sam. Gimana kalau aku beli rumah ini saja. Jadi tidak perlu mencari rumah yang lain" mata Rio terlihat menelusuri setiap sudut rumah ini.


Sugi berkacak pinggang di depan Rio "Nggak bisa!!! Aku saja susah payah mencari yang sesuai dengan seleraku. Belum Lagi renovasi di sana sini, memerlukan waktu yang cukup lama. Jadi maaf Rio ini rumah kesayangan"


"Hmm baiklah" jawab Rio mengangguk


Riri telah kembali "Kamar Pak Rio sudah siap pak" katanya pada Sugi


"Thanks yah Sam, ini sudah lebih dari cukup. Aku mandi dulu, nanti kita ngobrol lagi" kata Rio sembari mengatur pakaiannya di lemari


"Ok, aku tunggu diluar, oh iya kamu lapar Yo?"


"Iyah, tadi makan sedikit di pesawat. Mungkin nanti setelah mandi aku keluar sebentar. Aku nggak mau ngerepotin kamu lebih banyak"


"Ah ngerepotin apa sih, kayak sama orang lain aja. Kamu pengin makan apa Yo?"


Rio tersenyum "ya kalau begitu, apa saja boleh. Sudah malam begini kan agak susah. Mie instan pun tak masalah"


Sugi mengangguk "alright" katanya lalu menutup pintu kamar Rio


Riri dengan wajah muram nampak sedang melamun menyender pada tembok didepan kamar Rio


"Riri, kamu kenapa? Sakit?" Tangannya terulur ke arah dahi riri. Dengan punggung tangan ia memeriksa suhu pada dahinya "nggak panas"


Riri memperhatikan apa yang dilakukan Sugi, ia menggeleng "aku sehat Sugi"


"Tapi kenapa wajahmu begitu? Apa yang sedang kamu pikirkan"


"Tidak ada. Tadi katanya Pak Rio lapar yah? Apa aku keluar saja, mencari tukang nasi goreng atau apalah yang ada. Kasihan kalau hanya mie instan. Kalau pesan dari foodieride jam segini jarang ada yang masih buka" Riri menyebut layanan jasa antar makanan online


"Mau naik apa keluar kompleks ini?"

__ADS_1


"Aku kan bisa ke rumah Bu Widi pinjam motor"


"Ok, tapi hati-hati di jalan. Maaf ya Riri aku jadi ngerepotin kamu"


"Aku kan asistenmu, jadi ini masih bagian dari pekerjaanku. Sepertinya aku pernah melihat tukang nasi goreng di ujung jalan sana, lumayan ramai pembeli. Tapi apa tidak masalah kalau pak Rio makan makanan seperti itu"


"Rio itu berbeda dari teman-temanku disini. Orangnya asyik, diajak makan dimana saja dia tidak masalah asalkan tempatnya bersih"


"Ok kalau begitu aku pergi dulu yah"


"Aku nitip sebungkus yah Riri"


"Beneran mau makan nasi goreng pinggir jalan?"


"Iyah mau"


"Ok, aku jalan dulu" Riri berlalu dari hadapan Sugi


Setelah membersihkan diri, Rio keluar dari kamar. Dilihatnya Sugi sedang duduk di sofa ruang tamu sambil menonton televisi


"Kok sepi, Riri kemana?" Katanya sambil melihat sekeliling


"Dia beli makan"


"Eh kasihan jam segini keluar sendiri. Tahu gitu aku melarangnya saja tadi"


"Nggak apa-apa dia aman kok di daerah ini. Riri itu lincah Rio. Kalau ada yang mengganggunya, taringnya pasti keluar hehehe" Sugi tertawa geli teringat gerakan Riri saat memukul seseorang di Sentral parkir waktu itu


"Dia bisa bela diri?"


"Bisa. Pencak silat, lumayanlah" jawab Sugi masih tersenyum


"Asistenmu dua-duanya hebat yah. Kalau Bisnisku jalan disini, aku boleh bawa satu nggak?"


"Nggak!, kamu carilah sendiri yang cocok. Enak saja!!" Sungut Sugi


"Hahahahaha" Rio tertawa menggelegar mendengar jawaban Sugi


"Pak Doni itu sudah seperti keluarga...."


"Kalau Riri sudah seperti istri yah?" Serobot Rio, Alisnya naik menggoda Sugi


Sugi terkekeh "hehehehe, dia spesial"


"Jangan-jangan kalian sudah...." Rio memutar bola matanya


"Belum, tapi aku memang menyukainya. Awas saja kau menikung. Jangan ganggu Riri!! Dia milikku" kata Sugi tegas


"Weeiii sabar, aku bahkan tidak bisa melihat wajahnya, mana bisa aku tertarik tanpa melihat wajah. Jangan-jangan dia memakai masker dan topi begitu atas perintahmu?"


Sugi mengangguk "memang!"

__ADS_1


"Astaga Sam! Hahahahaha kamu kekanak-kanakan sekali. Masa aku sejahat itu menikung teman sendiri"


__ADS_2