
Silvi yang tadinya memperhatikan Riri dari kejauhan nampak berbalik menuju ruangan VIP. Langkahnya terhenti saat ia mendengar Ibu Rita sedang berbicara dengan Sugi di dalam. Wajahnya tersenyum penuh kemenangan kala ia mendengar ucapan Bu Rita pada Sugi.
Silvi kemudian beranjak dari sana menuju ke koridor yang sepi untuk menghubungi seseorang.
"Namanya Riri, dia duduk disebelah pak Dirut"
"........."
"Iyah benar di meja depan dengan gaun putih, Iya lakukan dengan benar",
"........."
"hmm... Ok"
Ia memutuskan sambungan teleponnya dan memutuskan kembali ke tempat acara secepatnya.
Di mejanya Riri nampak menunggu dengan tenang, berbanding terbalik dengan perasaannya saat ini. Ia benar-benar merasa bosan dan ingin segera kembali ke rumah. Tiba-tiba seorang wanita dengan setelan berwarna hitam putih mendekatinya. Seingatnya ini adalah seragam untuk semua pramusaji di acara ini.
"Selamat malam Bu Riri, anda di minta pak Sugi untuk menemuinya di kamar 201" bisiknya disebelahku
Riri merasa ada yang aneh dengan panggilan ini, tapi ia merasa penasaran dengan apa yang telah menunggunya disana. Tanpa banyak pertanyaan ia mengikuti wanita tersebut dengan langkah panjang.
"Biasanya Sugi akan menghubungiku langsung atau lewat Pak Doni jika ada perubahan. Ini pasti ada hubungannya dengan Bu Rita. Dari nomor kamar yang dia sebut, sepertinya tipe kamar yang paling bawah, Sugi seharusnya mendapatkan fasilitas kamar presidensial Suite, atau Royal Suite. Ini benar-benar mencurigakan. Aku harus waspada" gumamnya sambil tetap mengikuti wanita tersebut dengan tenang
"Apa aku harus menghubungi Sugi tentang ini? Bisa jadi dia sekarang sedang berdebat panas dengan ibunya. Aku tidak mau menambah beban pikirannya saat ini"
Saat Riri pergi, Sugi telah kembali ke mejanya. Ia melihat sekeliling untuk mencari dimana Riri berada saat ini.
"Mencari asistenmu ya?" Tanya Silvi yang mendadak duduk disebelahnya
"Kamu melihatnya?"
"Dia tadi ke arah sana, mungkin ke toilet"
__ADS_1
"Kenapa kamu duduk disini?" Tanyanya Curiga pada Silvi
"Aku bingung harus duduk disebelah mana, karena aku melihatmu disini ya sudah aku ikut duduk saja. Tidak masalah kan Sam?"
"Silahkan kalau mau duduk dimana saja. Aku yang akan pindah" Sugi berdiri bermaksud untuk pindah dari sana
"Eh Sam, sebentar...." Tangan Silvi menyambar lengan Sugi dengan lembut
"Lepaskan tanganmu, aku tidak mau orang-orang berasumsi kita memiliki hubungan dekat" tatapnya tajam pada Silvi
Silvi pelan-pelan melepaskan lengan Sugi dengan wajah kecewa "aku boleh pinjam ponselmu? Ponselku hilang Sam, aku lupa dimana aku meletakkannya. Aku ingin mencoba menghubungi ponselku"
Dengan ragu Sugi memberikannya pada Silvi "jangan macam-macam, kamu akan tahu akibatnya" ancamnya dengan wajah dingin.
Silvi bergidik dalam diam, belum pernah ia melihat wajah Sugi yang sedemikian gelapnya seperti saat ini. Dengan tangan yang mulai gemetar ia mengambil ponsel dari tangan Sugi.
"Aku takut ketahuan, tapi rencana ini harus berjalan dengan lancar demi memuluskan hubunganku denganmu, Sam" batin Silvi sambil agak menjauh dari Sugi.
Hari semakin sore, di luar ruangan suasana sudah semakin gelap. Riri mulai meningkatkan kewaspadaannya saat ini. Jalan menuju kamar di lantai dua ini terlihat sangat sepi.
"Silahkan mendahului saya Bu, kamarnya di sebelah sana" tunjuknya ke arah satu kamar di ujung jalan
"Mbanya saja duluan, kan mau mengantarkan saya. Atau saya adukan sekarang ke pak Dirut" jawabku ketus
"M..mm b..baik Bu" jawabnya terbata-bata
Ketika kami sampai, ia mengetok pintu kamar tanpa mengucapkan salam atau memanggil orang yang berada di dalam.
"Oh iya maaf sebelumnya bu, saya baru ingat ternyata saya salah memberikan informasi pada ibu tadi. Pak Sugi belum ada di dalam, nanti katanya beliau menyusul" ujarnya dengan penuh senyum
Ia kemudian mendekatkan cardlock ke arah kotak sensor yang menempel pada pintu masuk. Lampu sensor menyala, pintu akhirnya terbuka. Ia bisa melihat kamar tersebut masih dalam keadaan gelap gulita. Dengan perasaan was-was Riri menunggu apa yang akan terjadi.
Tanpa diduga sebelumnya wanita itu tiba-tiba mencengkeram dan menarik Riri dengan cepat agar masuk ke dalam. Dengan refleks Riri menahan tubuhnya dengan memegang kusen pintu. Lalu ia bergerak cepat menyiku perut wanita itu dengan keras. Suara erangan kesakitan keluar dari mulutnya "aghhh!!" Sedetik Ia melepaskan cengkeraman dan kartu cardlock ditangannya
__ADS_1
Sadar Riri telah lepas dari tangannya, wanita itu tiba-tiba saja melakukan serangan pukulan. Untung saja Riri lebih gesit, ia bisa menghindar dari serangan tersebut dengan mudah. Riri kemudian mundur satu langkah lalu menendang bokong wanita tersebut sampai ia terjungkal masuk ke dalam. Riri dengan gerakan cepat kemudian menutup pintu tersebut.
Ia bisa mendengar suara ketukan di pintu dan teriakan wanita itu di dalam, menyuruhnya untuk segera membukakan pintu tersebut.
"Tolong Buka Bu, ibu salah paham. Saya tidak bermaksud jahat pada Ibu. Ini benar-benar salah paham Bu!!!. Saya tidak tahu apa-apa Bu tolong keluarkan saya dari kamar ini!!! Tolong saya Bu!!!...tolong Bu... Tolong!!!" Wanita itu mulai terisak sambil terus memintanya untuk membukakan pintu.
"Ini pasti ada sesuatu, kenapa sampai ia menangis hanya karena terjebak di dalam kamar ini. Kalau hanya terjebak seharusnya ia bisa saja menghubungi front office untuk membantunya keluar. Tapi kenapa ia harus mengiba seperti ini" batinku
Kemudian ia mendengar beberapa langkah kaki orang-orang berlari ditangga untuk naik ke lantai dua. Riri segera mengambil cardlock yang tercecer dibawah dan menyelinap bersembunyi dengan cepat di balik tembok toilet tidak jauh dari sana.
Dengan berjongkok Riri mengintip mereka. Nampak olehnya tiga orang laki-laki buncit berwajah garang, berumur sekitar lima puluhan berdiri di depan pintu kamar itu. Senyum mereka menyeringai sambil melihat sekeliling seperti bersiap akan melakukan tindakan kriminal. Dengan berhati-hati ia mengambil ponselnya untuk merekam ketiga pria tersebut.
Sementara wanita yang berada di dalam masih gaduh berteriak minta tolong sambil memukul-mukul daun pintu berulangkali.
"Ku dengar wanita yang berada di dalam adalah wanita kesayangan dari Pak Dirut. Dari suara teriakannya saja sudah membuatku bernafs* hehehe" kata satu laki-laki berkulit gelap setengah berbisik sambil terkekeh
"Wah aku sudah tidak sabar mencicipinya. Aku ingin tahu selera dari anak emas itu, pasti akan menyenangkan sekali hahahaha" kata laki-laki yang berkumis lebat disebelahnya.
"Kita harus berhati-hati, setelah melakukan ini kita pergi secepatnya sebelum wartawan datang kemari. Kameranya sudah siap?" Jawab seorang yang lain
"Sudah. Kata Bu bos kita hanya perlu mengambil foto wanita itu saat kita mengerjainya. Nanti aku yang akan mematikan ponsel wanita itu sebelum bersenang-senang"
Satu diantaranya mengeluarkan cardlock dari kantongnya "ayo kita masuk, siap-siap yah" katanya kemudian membuka pintu kamar dan bergegas masuk satu persatu dengan cepat. Wanita yang sedang berada di dalam terdengar berteriak lebih kencang
"AAaa!!! Kalian mau apa??!!! Kalian salah orang. Saya bukan Bu Riri!!! Kalian salah orang!!! TOLONG!!! Lepaskan aku !! AAAAA!!!! BU SILVIIII!!!"
Aku terperanjat mendengar teriakan terakhirnya
"Oh ini kerjaannya Silvi!!" Gumamku kemudian berlari untuk bergegas turun mencari staf sekuriti hotel.
"Pak dikamar 201 ada suara teriakan wanita yang mencurigakan pak, saya melihat ada tiga orang laki-laki masuk ke kamar tersebut. Saya takut terjadi sesuatu pada wanita yang ada di dalam" laporku pada sekuriti yang sedang berjaga diluar tempat acara
"baik Bu saya akan memeriksanya sekarang" jawab sekuriti tersebut sambil bersiap-siap menghubungi beberapa rekannya untuk ikut serta memeriksa kamar yang dilaporkan
__ADS_1