
Lima belas menit sebelum rapat dimulai empat orang nampak masuk ke ruang meeting. Damar mempersilahkan orang-orang tersebut untuk duduk. Ini pertama kalinya mereka bertemu orang-orang ini, karena sewaktu ayah mereka masih ada tidak sekalipun mereka pernah ikut menghadiri rapat semacam ini
Pak Brata nampak sudah kembali ke ruang rapat bersama Hadi dan Erika. Mereka menempati tiga kursi paling ujung tempat pimpinan berada.
"Selamat pagi untuk semua yang berkenan hadir di rapat hari ini. Sebelumnya saya ingin memperkenalkan kalian pada anak saya yang perempuan. Namanya Erika, ia yang akan membantu saya di perusahaan ini sebagai asisten pribadi bersama dengan Hadi seperti biasa.
Erika nampak berdiri "Selamat pagi, Saya Erika" katanya sambil mengangguk pada tamu di rapat ini. Matanya sedetik tertuju pada Damar dan Riri, kemudian memalingkan tatapannya ke arah tamu yang lain. Ia kemudian duduk kembali, tak tersirat keterkejutannya terhadap sosok Damar yang ikut hadir disana. Sikapnya itu disadari benar oleh Riri dan Damar.
"Saya juga ingin memperkenalkan keponakan saya, mereka anak dari mendiang bapak Supraja"
Seluruh tamu yang hadir terperanjat saat melihat mereka, terutama ke arah Damar. Dulu mereka juga sempat mendengar kabar hilangnya Damar saat pendakian.
Damar dan Riri berdiri "selamat pagi bapak-bapak, perkenalkan saya Damar Laksana dan ini adik saya Mentari Larasati"
Damar dan Riri kemudian duduk kembali.
Mereka sudah mengetahui kalau Anak perempuan mendiang bapak Supraja akan hadir hari ini tapi tidak ada satu pun yang mengira Damar masih hidup dan akan ikut serta dalam rapat ini
"Saya akan mulai Rapat hari ini dengan laporan-laporan" pak Brata membuka notebooknya "Saya sudah mengirimkan laporan-laporan tersebut ke email bapak-bapak, silahkan di cek, untuk Damar dan Tari ini print out laporannya"
Pak Brata menyerahkan beberapa lembar kertas kepada Damar. Kemudian ia mulai membahas laporan pertama yaitu laporan kegiatan perusahaan.
Sampai akhirnya ia membahas laporan terakhir yaitu mengenai laporan keuangan.
"Sekian laporan-laporan ini saya sampaikan, Silahkan kalau ada pertanyaan nanti sesi terakhir akan kami jawab sebaik-baiknya"
"Saya mendapat informasi dari Pak Damar, beliau ingin memindahkan hak atas saham yang dimilikinya, juga saham yang dimiliki oleh Bu Tari. Silahkan jika ada yang berminat" pak Brata tersenyum sambil menoleh ke arah Damar
__ADS_1
Masing-masing orang nampak berpikir, tapi sepertinya tak satupun yang merasa tertarik atas tawaran tersebut
"Selaku pemilik dari perusahaan ini, saya sudah merubah beberapa aturan kepemilikan atas saham. Salah satunya pemegang saham tidak lagi terbatas maksimal 20 %, hak ini berlaku untuk siapa saja bukan hanya pemilik perusahaan. Aturan ini sudah kita sepakati bersama beberapa waktu yang lalu" senyum pak Brata semakin mengembang
"Silahkan di pertimbangkan kembali tawaran tersebut, kalau sampai akhir rapat tidak ada yang berminat nanti silahkan Pak Damar bisa menawarkannya pada yang berminat diluar dari anggota rapat disini"
Tiba-tiba saja salah satu pemegang saham bernama pak Robert berdiri
"Maaf sebelumnya pak Brata, saat ini saya sedang dalam kondisi keuangan yang kurang baik. Saya juga berencana ingin memindahkan hak atas saham yang saya miliki. Tadi saya menunggu ada yang berminat atas saham pak Damar disini, tapi sepertinya tidak ada. Jadi saya baru saja berinisiatif menawarkan pada pihak luar dan orangnya setuju"
Wajah pak Brata berubah kaget mendengar penuturan dari pak Robert.
"Saat ini orang yang berminat sedang berada di luar negeri, jadi kehadirannya akan diwakilkan. Saya akan informasikan kembali kalau prosesnya sudah selesai"
Pak Brata terdiam sejenak, ia tidak menduga jika ada salah satu pemilik saham akan memindahkan haknya juga hari ini selain keponakannya
"Baik pak" pak Robert nampak tersenyum lega
"Pak Brata jika saya nanti menawarkannya pada orang lain dan ternyata berhasil artinya saya tidak perlu lagi datang ke kantor ini untuk melakukan prosesnya. Begitu yah pak?" tanya Damar
"Bisa dibilang begitu, nanti berikan saja kepada saya berkas salinan akta pemindahan hak atas saham itu dan informasi terkait lainnya"
"Baik kalau begitu saya mengerti"
Rapat itu pun dilanjutkan kembali pada sesi tanya jawab dan saran-saran menyangkut keberlangsungan jalannya perusahaan di masa depan.
Pak Brata terlihat menjawab semua pertanyaan dan keraguan dari pemegang saham dengan antusias dan penuh optimisme.
__ADS_1
Itulah salah satu kelebihan dari pak Brata, ia orang yang pandai memainkan kata-kata sehingga siapapun yang mendengar akan percaya sepenuh hati padanya. Kecuali orang-orang terdekat yang benar-benar tahu tabiat aslinya
Riri yang sedari tadi ingin berkomentar nyinyir setiap kali mendengar ujaran janji-janji manis dan optimisme dari mulut pamannya harus menahan dirinya lebih keras. Ia memilih untuk diam agar tidak ingin ada masalah baru yang timbul karena ucapannya.
"Pak Brata, maaf saya sedikit menyela. Pihak yang bersedia atas saham saya tadi ternyata tertarik untuk.membeli saham tambahan. Langsung saja saya tawarkan milik pak Damar dan Bu Riri ternyata beliau mau"
"Wah pak Robert terimakasih atas bantuannya" Damar memandang tersenyum ke arah pak Robert
"Sama-sama pak, untuk detail jumlah dan lainnya kita bicarakan secara pribadi ya pak" kata pak Robert
"Baik pak, nanti setelah rapat ini selesai kita bicarakan kembali" jawab Damar antusias
Wajah Pak Brata, Erika dan Hadi nampak pucat dan terkejut tidak percaya mendengar berita tersebut. Mereka tidak menyangka ada orang luar yang mau membeli saham sebegitu banyak dalam sekali waktu. Apalagi perusahaan ini sedang dalam keadaan keuangan yang kurang baik.
"Kalau ternyata orang tersebut serius, dia akan menjadi pemegang saham utama. Artinya dia memiliki lebih dari setengah hak suara di perusahaan ini dan memiliki kekuatan besar untuk mempengaruhi keputusan operasional utama" pak Brata bergumam dalam benaknya. Kepalanya tiba-tiba menjadi pusing seketika. Niat awalnya untuk menguasai perusahaan ini sepenuhnya, ternyata harus kandas di tangan orang yang tidak ia kenal. Dalam diam ia mengepalkan tangannya erat di atas paha si bawah meja
Rapat akhirnya selesai. Setelah berpamitan, Damar, Riri dan Pak Yudi bergegas keluar dari ruangan itu. Kemudian mereka nampak menunggu pak Robert dibawah pohon rindang
Tak berapa lama pak Robert nampak keluar dari perusahaan itu, mendekat ke arah mereka
"Pak Robert, apa sebaiknya kita bicara di tempat lain saja agar lebih nyaman" kata Damar ketika pak Robert telah sampai di depan kami
"Boleh, kebetulan hari ini saya sedang senggang" ia terlihat mengangguk
Akhirnya kami memilih satu coffe shop yang letaknya tidak jauh dari sana.
Dari pembicaraan ini dapat disimpulkan bahwa orang tersebut benar-benar serius dengan keinginannya. Mereka pun berjanji untuk bertemu kembali keesokan hari, untuk prosesnya.
__ADS_1