
Dua hari berlalu usai press conference pertama dilakukan, nampaknya belum mampu mengurangi frekuensi pemberitaan kasus ini. Malahan Gosip-gosip murahan sengaja ditambahkan setiap hari untuk menarik minat pembaca.
"Terungkap! Isu anak diluar nikah Dirut Wijaya Grup demi menutupi kabar miring penyuka sesama jenis!... bahahahaha"
Riri nampak tergelak saat membaca satu judul media online hari ini. Ia sengaja meneruskan berita tersebut pada Sugi.
"Mood booster pagi-pagi 😅"
Aku mengirimkan pesan tambahan untuknya
"Pagi-pagi kok udah happy aja sih?" terdengar sebuah suara dari ambang pintu
Riri terperanjat dan menoleh ke arah suara
"Ya ampun orang ini lagi!" Batinnya
"Kenapa kemari lagi sih Dion?! tanyaku ketus
"Minta kopi" jawabnya enteng sambil duduk di sofa tanpa di persilakan
"Kopi? Udah Jualan kopi kok minta kopi kemari"
"Hahahaha aku suka melihatmu ketus begini, bikin gemas. Coffe Shopku jam segini sayangnya belum buka, makanya aku kemari. Kopinya dapat, pemandangan cantiknya juga pasti dapat, double kill" ia tersenyum lebar
"Nggak ah, aku nggak mau buatin kamu kopi lagi" aku menggeleng
"Ck! Masa sama tamu begitu? Ya sudah biar aku buat sendiri" ia tiba-tiba berdiri
"Ehhh... Ehhh jangan... Sembarangan banget sih. Ini kantor, bukan rumahmu" aku menghampirinya sambil membentangkan tangan
Ia mendekatiku perlahan sambil tersenyum
"Jangan macam-macam ya Dion, aku terpaksa harus melakukan kekerasan kalau kamu kurang ajar" Ujarku sambil memasang kuda-kuda
"Okey... Tenang" Jawabnya saat melihat perubahan wajah dan bahasa tubuh Riri, kemudian mundur dengan teratur
"Aku baru mengerti kenapa Pak Dirut itu sangat menyukaimu. Kamu memang berbeda dari wanita kebanyakan, Riri. Aku sangat iri padanya" ia kembali duduk santai di atas sofa
Aku pun kembali ke mejaku "Kamu memangnya nggak sibuk ya? Jam segini sempat-sempatnya keluyuran" tanyaku keheranan
"Sibuk, aku kemari karena sibuk mikirin kamu. Jadi nggak konsen ngerjain yang lain hehehehe" ia terkekeh
Aku menghela napasku "terserah ya Dion. Aku hari ini banyak urusan. Jadi tolong jangan menggangguku"
Ia mengangguk perlahan "kalau begitu aku pinjam lantai dua kantor ini sebentar" ia berdiri dan mengambil salah satu bantalan sofa dan berlari menaiki anak tangga untuk menuju ke lantai dua
"Loh!!!..." Aku kebingungan melihat tingkahnya lalu memutuskan untuk ikut ke lantai dua
Lantai dua di kantor ini sementara masih berfungsi sebagai gudang. Kini masih terlihat lapang karena belum banyak barang yang mengisi. Ku lihat ia merebahkan tubuhnya di salah satu sudut dengan bantalan sofa yang ia bawa tadi sebagai penyangga kepalanya. Matanya terpejam, dengan satu lengan menutupi wajahnya.
"Dion, kok malah tidur disini?? Lebih baik kamu pulang deh terus beristirahat di rumahmu saja"
"Aku lebih nyaman disini Riri. Jangan menggangguku, aku sedang mengantuk. Urus saja pekerjaanmu dibawah" ujarnya dengan suara pelan, sedetik kemudian kulihat dadanya naik turun dengan irama yang teratur
__ADS_1
"Ini orang kenapa sih seenaknya saja?" Aku menggeleng sambil menuruni anak tangga untuk menuju kembali ke mejaku
"Sudahlah, daripada aku mengurusi orang aneh itu lebih baik aku mulai urusanku hari ini" gumamku sendiri sambil mengalihkan pandangan pada layar laptop.
Waktu berlalu, tak terasa hari sudah mulai siang. Saat kudengar suara hak sepatu wanita berjalan mendekat, kepalaku otomatis melihat ke arah luar kantor. Nampak Gia masuk membawa tentengan seperti kotak makanan.
"Kamu belum makan siang kan?" Katanya sambil tersenyum
"Belum"
"Yay!! kita makan siang bareng yuk, aku bawa nasi goreng sama ayam bistik" ia mengangkat tentengan ditangannya kearahku
"Okeh tunggu sebentar, lima menit aja" kataku sambil sibuk mengetik
"Aku tunggu di pantry ya" Gia melangkah melewati Riri dan meletakkan makanan yang ia bawa diatas meja makan di pantry belakang. Ia nampak sibuk mengambil dua buah piring, satu mangkok dan dua buah sendok dari dalam lemari gantung.
"Mari makan!" Aku berlari kecil ke arah pantry
Kulihat Gia sedang membuka bungkusan nasi goreng diatas piringnya. Aku pun melakukan hal yang sama. Kami menikmati makan siang hari dengan banyak cerita seputar gosip yang beredar tentang Sugi di media online.
Tawa kami berdua tak kunjung reda membahas gosip-gosip aneh tersebut. Ponsel Gia tiba-tiba bergetar, dengan cepat Gia membaca pesan yang masuk ke ponselnya
"Duh Riri, aku harus segera ke kantor. Ada orang penting yang sedang menungguku. Heran kenapa datangnya di jam makan siang begini sih! Ganggu banget!!" Gerutunya sambil memasukkan ponsel dan mengeluarkan kunci mobil dari dalam tasnya"
"Udahlah yak, hati-hati dijalan yah. Makasih loh makan siangnya. Bolehlah Sering-sering hahaha" ujarku sambil memeluknya erat
"Aku sih nggak masalah, tapi yang bikin kesel tuh kalau tiba-tiba ada panggilan dadakan kayak begini. Aku minta tolong ya, piringnya dibelakang belum aku rapihin" katanya khawatir
"Iyah... Iyah.. kamu tenang aja" aku mendorongnya pelan
"Siap Bu Gia" aku balas melambai padanya, Kulihat mobilnya sudah mulai nampak menjauh
"Ramai banget sih, padahal kalian cuma berdua" suara Dion mengagetkanku, aku lagi-lagi lupa kalau ia masih ada disini, entah kapan dia turun.
Aku menoleh, wajahnya kini berada sangat dekat dengan wajahku. Dengan gerakan refleks aku menjauhkan kepalaku.
"Kamu gampang sekali terkejut Riri" ia tersenyum. Matanya menyipit khas orang yang baru bangun tidur. Wangi parfumnya yang segar menggelitik Indra penciumanku.
"Nyenyak tidurnya?" aku bertanya untuk sekedar berbasa-basi sambil melangkah kembali ke pantry
"Banget, ternyata tidurku lebih nyenyak disini daripada dirumahku sendiri. Kenapa ya?" tanyanya sambil mengikutiku ke dalam lalu menuju ke wastafel. Kemudian ia nampak membasuh wajahnya dengan air keran dengan gerakan cepat. lalu mengelap air yang menetes di wajahnya menggunakan tisu.
Aku sedang meneguk air mineral saat Dion duduk di sebelahku, ponselnya ia letakkan diatas meja.
"Lagi makan siang ya?" tanyanya lagi, sambil mencomot satu potong kecil ayam bistik dan menyuapi mulutnya sendiri tanpa ragu
"Ini nasi gorengmu nggak abis?"
Belum sempat menjawab pertanyaannya, dengan gerakan cepat ia mengambil sesendok besar nasi goreng yang ada di depanku lalu menyuapkan sendok itu ke dalam mulutnya.
Aku kehabisan kata-kata melihat kelakuannya yang tidak sopan ini. Kubiarkan ia menikmati sisa makan siangku, ada terbesit perasaan kasihan melihatnya makan dengan sangat lahap seperti orang yang sudah lama tidak melihat makanan. Kulihat ponselnya yang silent, bergetar terus menerus. Ada seseorang yang melakukan panggilan dan mengirimkan pesan padanya, tapi tidak dihiraukan.
"Thank you ya Riri" ujarnya dengan wajah tak bersalah
__ADS_1
"Kamu kenapa sih, Dion? Ini aku masih sabar loh ya. Kamu nggak akan suka kalau aku mulai kasar" aku menatapnya tajam
"Ihh takut hehehe" ia tertawa geli
Ia akhirnya berhenti tertawa saat melihat wajahku yang kecut "Aku hanya sedang mengais sedikit rasa nyaman, Riri. Saat pertama kali melihatmu di acara itu, entah kenapa aku merasa seperti menemukan tempat yang teduh"
"Aku bukan pohon beringin!!!" Sahutku ketus sambil berdiri membereskan piring dan gelas dari atas meja. "Ini rayuan nomor berapa dari kamusmu? Nggak cape ya, nyiapin rayuan tiap waktu" Lanjutku dengan nada sinis
"Hahahaha" ia nampak tergelak "ini yang aku tunggu-tunggu... Kamu benar-benar frontal ya ternyata?"
"Lain kali tidak usah datang lagi. Aku tidak mau orang menjadi salah paham dengan kedatanganmu berkali-kali kemari. Kamu anak dari pengusaha kaya raya, Dion. jaga sikapmu sedikit. Aku malas kena imbas masalah yang bukan urusanku"
Dion menopang dagunya dengan dua tangan "Tapi aku kan tidak sering kemari, baru dua kali"
"Pokoknya kalau besok atau kapanpun kamu datang lagi jangan salahkan kalau aku akan menendang pantatmu keluar dari sini" ancamku dengan wajah serius
"Aku keterlaluan ya? Maaf Riri" ia menunduk
"Sudahlah, sebaiknya kamu pulang Dion. Lihat ini sudah jam berapa?"
"Baiklah sekarang aku pulang, tapi aku pasti akan berkunjung lagi. Jangan marah, Riri. Kalau kamu marah aku nanti bisa benar-benar jatuh hati loh" ia tersenyum dan beranjak pergi dengan langkah santai
Aku menggeleng "orang gila!" Gerutuku
Ponselku berdering, kulihat nama Bu Ina sedang menghubungiku
"Siang Bu Ina"
"Riri... Kenapa nggak bilang kalau Sugi kena kasus tuduhan serius begini sih?! Bu Ina jarang sekali baca media gosip, apalagi nonton televisi. Ternyata aku sendiri aja loh nggak tahu. Gimana sih kamu ini?!"
"Hahahaha maaf, aku pikir Bu Ina udah tahu dari awal berita itu muncul"
"Terus sekarang gimana?"
"Besok Sugi kembali, palingan test DNA terus klarifikasi. Selesai Bu"
"Tapi apa benar hubungan mereka sudah usai? Bu Ina takut kalau ternyata mereka masih berhubungan dibelakangmu" ujar Bu Ina terdengar khawatir
"Aku sih percaya Bu, tapi entahlah kalau ternyata mereka bermain dibelakangku. Artinya dia yang rugi kan?! Aku sudah siap dengan segala kemungkinan. Tenang saja Bu Ina, aku baik-baik saja kok"
"Ya sudah kalau begitu, ingat ya Riri, Bu Ina selalu siap menampung segala keluh kesah percintaan anak muda energik seperti kamu hahahaha" ia terkekeh
"Hahaha terimakasih Bu Ina, aku sayang sama ibu"
"Bu Ina juga, sayang, isi pikiran negatifmu jangan dipendam sendiri. Kamu masih punya Ibu Ina loh sekarang, jangan lupa"
"Iyah aku tahu Bu"
"Jaga dirimu baik-baik"
"Siap Bu Ina"
"Ya. Ibu tutup dulu teleponnya"
__ADS_1
"Iyah Bu"
Terdengar nada terputus di ujung sana