
Aku sedang bersiap pergi keluar untuk makan malam sekaligus berjalan-jalan. Tiba-tiba saja ponselku berdering, dari suara deringannya ia tahu itu bukan dari Sugi. Dilihatnya nama Gia melakukan panggilan
"Halo Gia"
"Ririku sayang lagi apa? Aku bosen banget, temenin aku jalan yuk!"
"Wah!! kebetulan sekali, aku mau yak. Aku tadinya malah mau keluar jalan- jalan sendiri"
"Aku jemput atau kita ketemu di satu tempat?"
"Posisiku ada di daerah selatan, kamu dimana?"
"Rumahku kan juga di daerah selatan, aku jemput aja deh"
"Boleh , aku kirim lokasinya sebentar lagi"
"Siap Bu Riri" kata Gia lalu memutus sambungan teleponnya
Setelah mengganti pakaian dan mempersiapkan masker, topi dan tas ransel, aku menunggu Gia di depan rumah. Tidak perlu menunggu terlalu lama, beberapa menit kemudian kulihat mobil berwarna merah jenis city car mendekat kearahku perlahan dan berhenti tepat di depanku. Kulihat kaca jendelanya turun.
"Kamu ternyata tinggal disini, gila ini kan kawasan elit Ri. Kamu Di gaji berapa sih sama Sugi?" Ujar Gia menyembulkan kepalanya dari dalam mobil
Aku masuk ke dalam mobil "Ini rumah Sugi, aku numpang tinggal disini" kataku santai
"Hah??!!!" Matanya melotot ke arahku "Kalian tinggal bareng? Waduh! Kalian pacaran? Sejak kapan? Jangan-jangan kalian malah sudah menikah?" Berondongan pertanyaan keluar dari bibir tipis Gia
Aku memutar bola mataku "kubilang aku numpang disini, dia menyuruh aku untuk tinggal bersama karena aku bekerja sebagai asisten pribadinya.
"Nggak masuk akal, kan bisa tinggal terpisah. Kenapa harus tinggal bareng?" Katanya lagi penasaran
"Gia, kita jadi berangkat atau mau interview dulu?" Ujarku dengan wajah malas
"Hahahahaha aku penasaran" Gia tergelak sambil melajukan kembali mobilnya.
"Eh kalian beneran hanya sebatas atasan dan bawahan? Aku kok nggak yakin" selidik Gia
"Memangnya kalau serumah harus ada hubungan spesial?"
"Harusnya begitu, coba kamu pikir yah setiap hari bertemu. Pulang bareng, menghabiskan hari-hari dirumah bareng lagi. Udah kayak suami istri hehehe" Gia terkekeh
__ADS_1
"Ck! Nggak seperti yang kamu pikirkan. Jadwal dia setiap hari itu padat. Bahkan di hari Minggu kemarin-kemarin masih saja ada jadwal. Kayak main golf, tenis atau sekedar makan siang yah seperti itu. Aku bahkan jarang bertemu dia di rumah. Yang mengantar jemput memang terkadang aku, tapi lebih banyak Pak Doni sih"
"Tapi aku yakin dia menyukaimu, walaupun mungkin dia belum mengatakannya"
Jantungku tiba-tiba saja berdebar, teringat kata-katanya semalam "tetaplah bersamaku sampai kapanpun" aku menghela napas panjang "Jangan mengada-ada ah. Kamu lupa ya, kami berdua berada di level yang berbeda"
Gia menoleh ke arahku dengan pandangan penuh arti "yang namanya perasaan cinta kan bisa singgah kapan saja tanpa banyak syarat"
Aku mengangkat bahuku "aku nggak berani berpikir sampai sejauh itu Gia"
"Sejauh apa? Ini tentang jatuh cinta aja kan? kita belum ngomongin pernikahan Riri, Takut banget sih?! Hahahaha" Gia terbahak puas merasa berhasil menggodaku
Aku tersenyum sambil menggeleng mendengar candaannya "terus Bu Gia yang paling berani jatuh cinta ini, sekarang sudah punya calon suami apa belum?" Aku balik bertanya padanya
"Eittt hari ini aku tidak mau membahas urusan percintaanku. Nggak hari ini yah, kita belum selesai membahas hubunganmu sama pak Dirut itu"
"Hubungan apa sih?!" Jawabku malas
"Aku ingin tahu, kalau kamu sendiri gimana? ada debar-debar gitu nggak sih kalau dekat? Nggak mungkin kan kalau ngobrol jauh-jauhan terus"
Aku menggaruk hidungku "Aku skip pertanyaan itu deh hahahaha"
"Kalau pun aku menyukainya, aku merasa nggak pantas Gia. Belum lagi orang tuanya sudah memiliki pilihan wanita selevel untuknya" Aku menghela napasku kembali
"Kalau pak Dirut maunya sama kamu gimana? Siapa yang berani memaksanya? "
"Ck! Kita ngomongin yang lain aja yuk" elakku
"Iyah deh iya, Eh Pak Dirut tadi ada dirumah ?"
Aku menggeleng "Dia keluar ada urusan"
"Dia tahu nggak? kalau kamu keluar sama aku?"
"Nggak tahu"
Gia menoleh dan tersenyum geli padaku "aku berani taruhan, begitu dia kembali dan tahu kamu tidak ada di rumah aku yakin dia akan kesal lalu menghubungimu"
Aku jadi teringat obrolan kami siang tadi "Kalau dia menelpon kemungkinan hanya khawatir kalau aku akan diculik lagi"
__ADS_1
"Hah diculik? Kapan? Kok kamu nggak ada cerita sih?" Tanya Gia dengan wajah khawatir
"Hmm sori Gia, waktu itu benar-benar kacau. Aku ceritain sekarang deh..."
Riri akhirnya menceritakan kejadian yang sempat menimpanya beberapa waktu yang lalu.
"Astaga... Kasihan kamu. Hadi itu brengsek sekali sih?! beruntung Sugi berhasil menyelamatkanmu"
"Nah, karena alasan itulah aku mau tinggal di rumahnya. Selain lebih aman aku juga merasa berhutang budi padanya, setidaknya aku bisa membantunya dalam hal-hal kecil seperti membuatkan dia kopi atau memijatnya saat dia lelah"
Gia memandangku dengan senyuman di kulum "oh sudah sampai sejauh itu rupanya"
"Kenapa?"
"Skinship, Sugi pasti sangat menyukai sentuhanmu. Aku dengar dia sedingin itu yah sewaktu bekerja?"
Aku menahan perasaan malu yang muncul dalam hatiku saat mendengar kata skinship
"Mmm kepribadiannya memang sangat berbeda sewaktu dia bekerja dan dirumah" jawabku dengan cepat untuk mengalihkan pembicaraan
Gia mengangguk-angguk seperti paham akan sesuatu
Perutku tiba-tiba berbunyi "aku lapar, kamu pengin makan apa?"
"Hmm aku ikut kamu aja deh"
"Aku pengin makan makanan Itali, pasta apa aja boleh deh" terbayang dipikiranku pasta yang lezat ditaburi keju permesan dan manisnya dessert tiramisu
"Ok, kalau begitu kita ke restauran Itali" jawab Gia yakin
"Yay!" Ucapku gembira
Sementara itu di suatu ruas jalan Sugi sedang mengantar Silvi kembali pulang setelah berkeliling mengantarnya melihat pemandangan kota saat ini.
"Terimakasih Sam, aku senang kau bersedia mengantarku berkeliling. Lain waktu mungkin aku akan meminta bantuanmu kembali" Kata Silvi tersenyum sambil memegang lengan Sugi yang nampak memasang wajah dingin
"Sama-sama Silvi, kemungkinan aku tidak akan bisa mengantarmu lagi. Mulai besok jadwalku akan kembali padat. Aku bisa mengirim salah satu asistenku untuk membantumu saat kamu perlu" jawabnya dengan nada suara datar. Dengan perlahan ia melepas tangan Silvi dari lengannya "maaf Silvi aku sedang menyetir, konsentrasiku bisa terganggu"
Silvi menarik tangannya, dia menyadari kalau Sugi tidak tertarik dengannya. Dari bahasa tubuh dan jawaban singkatnya saja dia sudah mengerti. Tapi dia bertekad untuk tetap mendekatinya.
__ADS_1
"Sugi, aku akan terus mencoba mengambil hatimu, sampai aku berhasil. Tak kusangka dia sekarang menjadi laki-laki yang semenarik ini. Sayang kalau dilewatkan" gumam Silvi dalam hatinya