
Seorang laki-laki berjalan tertatih-tatih dengan bantuan sebuah tongkat berwarna hitam nampak baru saja keluar dari suatu gedung perkantoran. Dari pakaiannya yang rapi sepertinya ia baru saja menyelesaikan pertemuannya dengan seorang yang penting.
Setelah perusahaan yang dipegang ayahnya berpindah tangan pada orang lain, hidupnya menjadi berubah 180 derajat. Ia harus merelakan hidupnya yang nyaman dan memulai kembali berusaha sendiri dari nol untuk menunjang kehidupannya kini. Ia tidak lagi bisa mengandalkan ayahnya seperti yang sudah-sudah. Tapi ia sendiri merasa cukup senang dengan keadaan ini, yang artinya ia sekarang bisa bebas melakukan apapun yang ia inginkan di tengah keterbatasan harta yang kini ia miliki.
Ayahnya semenjak bangkrut menjadi sakit-sakitan lalu memutuskan untuk tinggal bersama ibu di desa kelahiran ibunya yang berada jauh di pelosok. Beruntung adiknya mau membantu usaha baru yang sedang dirintisnya ini. Sehingga ia tidak perlu menggaji mahal staf baru untuk melakukan pekerjaan administrasi di kantornya.
Hari sudah beranjak siang, perutnya pun sudah berontak meminta untuk diisi. Saat ini ia memutuskan untuk langsung menuju tempat makan siang yang letaknya tak jauh dari sana. Ia mendapatkan informasi ini tadi secara tidak sengaja saat membaca selebaran yang tergeletak di atas tumpukan majalah di ruang tunggu perusahaan tempat ia melakukan pertemuan.
Sopir telah menunggunya sedari tadi di tempat parkir dengan wajah yang penuh keringat karena pendingin mobil ini sedang rusak.
"Kemana kita sekarang pak?" tanya sopir itu, saat ia telah masuk ke dalam mobilnya
"Kita ke warung makan di kompleks pertokoan yang di depan itu" ujarnya menunjuk ke arah yang dituju
"Ok pak" jawabnya sambil melajukan kendaraannya menuju ke seberang
Setelah sampai, sopir menghentikan mobilnya tak jauh dari warung makan yang diinginkan bosnya.
"Disini kan pak?" Tanyanya kembali
"Iyah" jawab laki-laki tadi sambil melihat ke sekelilingnya sebelum memutuskan untuk turun. Matanya kemudian menangkap wajah seseorang yang tidak asing lagi baginya. Ia mengurungkan niatnya untuk turun saat ini. Dari kejauhan ia memperhatikan semua yang dilakukan oleh wanita itu. Senyumannya mengembang kala mengingat kembali betapa cintanya ia pada wanita itu.
"Tari, akhirnya aku bisa melihatmu kembali. Aku tak pernah menyesal akan perbuatanku waktu itu. Andai saja aku memiliki kekuasaan dan harta yang lebih daripada laki-laki brengsek bernama Sugi itu aku yakin saat ini kamu sudah menjadi milikku selamanya. Iya selamanya..." Gumamnya dalam hati
"Pak Hadi!... Kita jadi turun atau bapak mau pindah saja?"
Suara sopirnya menyadarkan ia kembali
"Saya mau makan disini saja, pesankan saya nasi goreng spesial dan sebotol air mineral" ucapnya setelah mengingat-ingat menu yang ada di selebaran itu
"Baik pak" jawab sopir lalu turun dari mobil
Dengan ponselnya ia mengambil foto Riri dari kejauhan berkali-kali sampai ia mendapatkan foto wajah yang cukup jelas. Ia lalu mulai menciumi foto yang nampak pada layar ponselnya tersebut. Sambil memejamkan mata tangannya nampak bergetar. Ia sedang membayangkan tangannya mengelus wajah Riri yang halus. Napasnya terdengar memburu saat ia mengusapkan layar ponsel itu pada wajahnya sendiri seolah-olah ponsel tersebut adalah wajah Riri yang menempel padanya.
Sedetik kemudian ia tersadar, matanya terlihat awas seperti baru saja bangun dari mimpi indahnya. Tangannya mencengkram pahanya sendiri, kemudian memukul-mukul Jok mobil dengan membabi-buta.
"Bangs*tttt!!!!.. wanita murah*an!!!" ia memaki, napasnya terengah-engah. Sorot matanya seperti memendam amarah yang cukup besar
__ADS_1
"Hahahahaha apa yang sudah kamu lakukan terhadapku Tari.. Aku sudah gila... Aku gila karena mencintaimu... Hahaha apa yang harus aku lakukan Tari... semua ini karena ulahmu Tari" Ia tergelak sambil menutupi wajahnya sendiri dengan kedua tangan
"Apa... Apa lagi yang aku harus lakukan padamu. Tari mengertilah...Tari!!!!" Ia memekik sambil berbisik
Beberapa kali ia nampak menarik napas panjang berusaha untuk menenangkan dirinya. Dengan gerakan kasar ia membuka pintu mobil lalu membantingnya dengan keras. Dengan bantuan tongkat ia berjalan kesana kemari seperti orang yang sedang kebingungan.
Sementara itu tanpa Hadi sadari disebelah mobilnya ada sebuah mobil yang parkir lebih dahulu disana. Di dalam mobil tersebut ada Silvi yang juga sedang memperhatikan Riri. Konsentrasinya kini buyar saat suara berdebam keras muncul di sebelah mobilnya. Ia lalu melihat seorang laki-laki agak pincang turun dari mobil itu kemudian berjalan kesana kemari dengan tongkat hitamnya.
Silvi merasa sangat terganggu dengan gerakan mondar-mandir yang dilakukan laki-laki itu. Gerakannya sampai-sampai menghalangi pandangan matanya memperhatikan Riri. Karena kesal ia pun turun dari dalam mobil.
"Hei Pak, bisa diam tidak?! anda sudah mengganggu istirahat saya!!!" teriak Silvi pada Hadi
Hadi berhenti lalu menoleh kearah suara. Dilihatnya seorang wanita cantik sedang berdiri disebelah mobilnya
"Saya? Saya mengganggu? Saya hanya berjalan. Kenapa saya bisa mengganggu istirahat anda?" Jawabnya sambil berjalan menghampiri Silvi
"Saya terganggu karena anda mondar-mandir di depan mobil saya"
"Ini jalanan umum! Kalau merasa terganggu silahkan pindah dari sini" jawab Hadi dengan raut wajah kesal
"Tidak bisa, saya yang sampai disini lebih dulu. Anda kan baru saja sampai. Jadi anda yang harusnya pindah dari sini" ujar Silvi tidak mau kalah
Silvi mendengus dan masuk kembali ke dalam mobil "brengs*k!!" Gerutunya
Hadi memalingkan wajahnya, ia mengeluarkan ponsel dari dalam saku kemejanya dan mulai kembali mengambil foto Riri. Ia nampak tidak peduli dengan sekitarnya saat ia menciumi kembali layar ponselnya
Kelakuan Hadi yang janggal membuat Silvi mengernyitkan dahinya. Ia yakin sekali laki-laki aneh ini tadi sempat mengambil foto Riri.
"Dia seperti mengenal Riri? Siapa laki-laki ini? Kenapa ia menciumi layar ponselnya seperti orang tak waras?. Ah ini menarik... Aku harus mencari tahu" gumamnya dalam hati
Ia pun kembali keluar dari dalam mobil
"Hei pak... Saya lihat anda tadi mengambil foto wanita yang berdiri di depan warung makan itu. Apa anda mengenalnya?"
"Itu urusan saya!" Jawab Hadi ketus
"Anda sepertinya sangat menyukai wanita itu, benar kan?"
__ADS_1
Hadi tidak menjawab, ia masih sibuk memperhatikan layar ponselnya
"Laki-laki yang sangat saya cintai direbut olehnya, bukankah nasib kita sama?"
Hadi menurunkan ponselnya, lalu menoleh ke arah Silvi
"Laki-laki yang anda maksud Pak Dirut Wijaya Grup?"
Silvi mengangguk "Padahal sejak kecil kami selalu bersama, orangtua kami pun sudah menyetujui hubungan ini. Tapi dia memilih bersama wanita sial*an itu"
"Siapa yang anda bilang wanita sial*n? Jaga ucapan anda!" Seru Hadi
"Hahahaha anda sangat menyukai wanita itu ya? Sampai-sampai masih membelanya seperti ini" Silvi tergelak
Hadi mendengus kesal
"Ok, karena keadaan kita sama bagaimana kalau kita saling membantu. Anda mengambil milik anda begitu pula saya"
Hadi mengernyitkan dahinya
Silvi mengulurkan tangan "Saya Silvi"
"Saya Hadi" jawabnya juga mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Silvi
"Bagaimana anda bisa mengenal Riri?" tanya Silvi matanya menjelajahi wajah dan pakaian Hadi lalu berpindah ke mobil yang ia gunakan. Seperti menilai level kekayaan Hadi saat ini.
Sopir yang bertugas mengantar Silvi nampak sudah kembali membawa pesanan Silvi. Ia tadi diperintahkan Silvi untuk membeli makan siang di warung Priboemi.
"Maaf Bu agak lama, tempat makannya sedang ramai di jam makan siang" ujarnya
"Ok, tunggu saya di dalam mobil!" perintah Silvi
Sopir tersebut langsung masuk ke belakang stir tanpa menanyakan alasannya pada Silvi
"Saya masih ada pertemuan penting. Berikan saya nomor ponsel anda"
Hadi mengeluarkan kartu nama dari dalam sakunya kemudian menyerahkannya pada Silvi
__ADS_1
"Nanti saya yang akan menghubungi anda pak Hadi. Kita perlu berbicara tentang banyak hal" Silvi tersenyum kemudian masuk kedalam mobilnya
Hadi hanya terdiam memandangi mobil disebelahnya ini bergerak menjauh dari pandangannya